Ekspresi “Cinta” Pemkot Bukittinggi: “No Valentine-Day!”
Februari 14, 2008
Aku sangat surprise dengan pemberitaan seputar pelarangan perayaan Valentine Day oleh Pemkot Bukittinggi dalam beberapa hari ini. Patut kuacungkan dua jempol buat mereka. Jujur, ini sebuah langkah berani yang dilakukan oleh sebuah Pemerintah Daerah yang memiliki aset cukup besar dalam bidang pariwisata.
Alasannya cukup logis; tidak sesuai dengan budaya setempat dan dekat dengan maksiat.
Coba simak penuturan sang Wakil Walikota: “…..Jadi biarlah Bukittinggi ini sepi tanpa wisatawan dari pada banyak maksiat”.
Luar biasa! Sebuah sikap tegas yang patut ditiru. Mudah-mudahan ketegasan itu tidak hanya terhadap perayaan Valentine Day ini saja, tapi juga terhadap semua kegiatan pariwisata yang “membunuh” nilai luhur budaya setempat.
Sebagai orang Minang, aku cukup bangga dengan keputusan ini. Aku optimis, bila sikap pemerintah terus konsisten seperti ini, nilai-nilai luhur budaya kita akan tetap terus terjaga, meski gempuran budaya pop barat terus menghantam. Sebagai “tuan rumah” kita memang harus menghormati setiap tamu yang datang, tapi bukan berarti sang tamu boleh seenaknya di rumah kita. Ada jati diri kita yang juga harus dihormati sang tamu.
Valentine Day adalah hari untuk mengekspresikan rasa cinta seseorang kepada orang-orang yang dicintainya. Pemkot Bukittinggi telah mengekspresikan “cintanya” kepada rakyatnya lewat pelarangan ini. Salut…!
Entry Filed under: lingkungan, minangkabau, tradisi. Tag: bukittinggi, cinta, kasih sayang, maksiat, perayaan, valentine.
5 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
orang minang juga | Februari 16, 2008 at 5:01 am
waaahh…saya bahagia liat berita ini.. mudah2an bukan cuma bukittinggi aja..klo bisa SEMUA juga… Valentine yang jd lambang cinta dan kasih sayang itu hanya omong kosong belak..Valentine sering kali dijadikan kedok kemaksiatan..
2.
fauza | Februari 18, 2008 at 4:16 am
bravo…!! mudah2an ini bukan sekedar “basa-basi”… semoga terus konsisten menjaga kemurnian budaya…
3.
ubie | Maret 8, 2008 at 10:52 am
hebat .. salut buat pemkot ^__^
aq makin senang kalo gini
kampung qu nun jauh di mata T_T
4.
awis.wisnedi | April 7, 2008 at 3:07 am
Assalamualikum… Numpang nimbrung boss.. sebelumnya saya mohon maaf kalo sedikit lancang. Kalo mendengar atau menbaca tulisan yang bernada cekal mencekal,palang memalang , pemaksaan kehendak klolonialisme dan isme-isme sejenisnya, saya menjadi sedih kok masih ada yang berfikiran sempit diera globalisasi ini.
Saya rasa semua sudah maklum bahwa sekarang ini kita sudah berpacu dalam pertualangan global.Segala sesuatu sudah berjalan secara penghidangan cepat and online lagi. Kalo kita masih berkutat dengan metode-metode konfensional atau istilah kerenya ” primitif ” kita akan ketinggalan jauh.. hari gini masih tidur..! mati aja sekalian.. “Punya gadis cantik ,bapaknya Bulldog bin Herder. susah lakunya tu.. kasihan kan boss..
5.
marshmallow | Juni 3, 2008 at 1:51 pm
insyaAllah tidak ada kata terlambat buat berkomentar.
tulisan ini membuatku bangga punya darah urang bukiktinggi (urang awak palasua ko mah, darah se nan dibanggakan. ibu ambo dari koto marapak agam, ayah alm. dari kayutanam). oke se tu kan, tuan?
____________________