Tour de Jateng: Hospitality di Pesantren

April 30, 2008

Akhirnya, kelar juga perjalananku keliling Jawa Tengah. tadi malam (29/04/08), pukul 22.00 wib, aku kembali menginjakkan kaki di bumi Jogjakarta. perjalananku kali ini dalam rangka mensosialisasikan acara Gontor Go Green ke pondok-pondok alumni yang ada di Jawa Tengah dan koordinasi dengan pihak BP DAS (Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai) se Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Ketika sahabatku Akbar menawari diriku untuk terlibat dalam kegiatan ini, langsung kusambut dengan senang hati. Pikirku, kapan lagi bisa berpetualang ala backpacker seperti yang pernah ku jalani waktu di pondok dulu setiap liburan pertengahan tahun. Secara, sekarang ini diriku sudah memiliki buntut empat, tentu untuk bepergian seperti itu perlu alasan yang sangat tepat. kalau sekedar plesiran, tentulah protes besar-besaran akan bermunculan dari mulut-mulut mungil serdadu-serdaduku.. :)

Dalam daftar yang kuterima, ada 26 pesantren se Jawa Tengah dan Yogyakarta yg mesti kukunjungi. Awalnya kupikir ini bakal mudah, karena dalam bayanganku berapalah besarnya Jawa Tengah, paling-paling dalam tiga hari perjalanan semuanya akan tuntas. Bayangan sulitnya perjalanan di Sumatera membuatku sedikit meremehkan Jawa Tengah. Tapi ternyata aku salah besar. Medan yg harus kutempuh ternyata baru bisa tuntas setelah 2 minggu. Cukup melelahkan…

Dari pengalaman mengunjungi pesantren-pesantren itu, aku akhirnya memiliki tambahan pengetahuan yang luar biasa. Dengan membandingkan antara masing-masing pesantren tersebut ada beberapa poin yang ingin kubagi disini:

Hospitality

Keramahan dan kehangatan dalam menerima tamu tampak sangat mencolok antara satu pesantren dengan pesantren yang lain. Kalau dilakukan peringkatan, maka Gontor VI cabang Magelang, menempati tempat terbawah, alias paling buruk dan Pondok Pesantren Assalam Temanggung mendapat peringkat tertinggi, diikuti Pondok Pesantren At Tauhid al Islamy di Magelang.

Ketika kami memasuki areal Gontor VI, kami mendapatkan 2 orang santri berpakaian pramuka yg menjadi piket jaga. Sikap mereka sama sekali tidak ramah. Bahkan kamipun sengaja menghentikan mobil pickup bermuatan 2.600 batang bibit mete yg kami bawa di depan mereka. Sedikitpun mereka tidak bergerak untuk bertanya, ada urusan apa kami datang. Ketika kubilang mau bertemu dengan Pengasuh Pondok, mereka hanya menjawab singkat, “sedang keluar”.

Dengan sedikit kesal, akupun menghentikan seorang ustadz yang lagi berjalan melewati kami. Dan memintanya untuk menyuruh santri-santrinya buat menurunkan tanaman-tanaman tersebut. Singkat cerita, tanaman itupun sudah berpindah dari mobil pickup ke atas tanah Gontor VI. Dan yang lebih parahnya lagi, ustadz yg menerima kami tadi, sama sekali tidak menawarkan kami buat mampir dulu ke kantor atau ke ruangan manalah buat sekedar melepas lelah. Begitu bibit tanaman selesai diturunkan, si ustadz pun berlalu. aku hanya bisa tersenyum kecut. :(

Kondisi ini bertolak belakang dengan di PP. Assalam Temanggung. Sesampainya di lokasi, mobil kami parkir di luar pagar pondok, karena gerbangnya tertutup rapat. Ketika kami memasuki pintu pagar tersebut, secara spontan, santri-santri yang kebetulan lewat dekat kami langsung menyalami kami satu persatu sambil bertanya: “Mau ketemu siapa Pak?” Wah… sambutan yang luar biasa! Kami kira hanya kepada kami sikap itu ditunjukkan, ternyata tidak. Kepada setiap tamu yang datang setelah kami, merekapun bersikap yang sama. Sebuah keadaan yang kontras sekali dengan di Gontor VI bukan?

Lain lagi dengan di PP. At Tauhid al Islamy yang berlokasi di kaki gunung Merapi. Setelah pesan yang kami sampaikan dipahami oleh Pak Kyai-nya, kamipun berpamitan. Tapi, Pak Kyai langsung berkata: “al-ghaza awwalan!” (makan siang dulu), dan beliaupun mengutip perkataan almarhum Pak Zar, pendiri Gontor: “Daripada masuk angin, lebih baik masuk nasi, walau seadanya“. Dengan menu ketulusan dan kehangatan itu, makanan seadanya itu menjadi sangat nikmat, ditambah dengan suasana sejuk pegunungan, membuat kami ingin berlama-lama di situ. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, kamipun segera pamit..

Kejadian ini memberi gambaran kepadaku bagaimana didikan yang diberikan di masing-masing Pesantren tersebut tentang kehangatan penyambutan tamu. Sikap santri tadi tentulah menunjukkan secara tidak langsung bagaimana sikap para pengasuhnya.

berikutnya: Green and Clean

Entry Filed under: pendidikan. Tag: , , , , , , , .

3 Comments Add your own

  • 1. yanti  |  April 30, 2008 at 9:04 am

    Assalaamu’alaikum… wah mas kok pas banget ya… saya lagi “intip-intip” dunia pesantren… karena cita-cita saya… (kalau anakku setuju loooo) pengen anak laki-lakiku sekolah dipesantren… (masih 2 tahun ajaran lagi kok) Tapi saya ini “NOL BESAR” informasi tentang pesantren… Mbok tolong mas… dibagi-bagi informasinya… paling gak alamatnya + fasiltas pendukungnya… jadi waktu saya survey… (rencananya liburan panjang sekolah ini) gak nabrak-nabrak…
    Makasi ya mas…

    Oya terima kasih juga udah diijinkan mampir…, tolong dong kalau sempat klik balik… di http://maaini.wordpress.com

    Jazakallahu

    Waalaaikumsalam
    ______________________

    Terima kasih kembali sudah berkunjung
    Mudah-mudahan cerita saya tentang perjalanan ke beberapa pesantren dapat mengilhami
    Silahkan disimak dan dianalisa
    Bila ingin lebih detail, kita bisa komunikasi lewat email: hardi.vizon@gmail.com

    Balas
  • 2. yanti  |  Mei 2, 2008 at 6:01 am

    He he he… mana ceritanya maz????
    Sedang ditunggu di “bersambung” ya????
    Ya de… saya tunggu…
    Jazakallah

    Balas
  • 3. heryazwan  |  Mei 7, 2008 at 10:10 am

    Wah, senang sekali bisa keliling pesantren se-Jawa Tengah.
    Pasti banyak yang dilihat dan didapat. Pengalaman yang mengasyikkan…
    ____________________

    Yah… sambil menyalurkan hobi traveling, sekaligus cari “ilmu” baru
    Ternyata, dengan berpetualang, “belajar” jadi lebih mengasyikkan, meski melelahkan

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Just a nother way to know

vizon-vredeburg "Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings" (Konfusius)

Halaman

Coretan

Komentar Sahabat

yessymuchtar di kapok
Wempi di kapok
DV di kapok
Incekrajo di pemuda
frezyprimaardi di Ambo…
yessymuchtar di pemuda
frezyprimaardi di beauty of blogging
frezyprimaardi di pulang
frezyprimaardi di man-ja
frezyprimaardi di Ambo…

RSS www.hardivizon.com

RSS Tokoonline Mainan Bocah

RSS Hery Azwan

RSS Mr. Trainer

RSS Omar Bakrie

RSS Marshmallow

RSS Ikkyu_san

RSS juenglala

RSS bu enny

RSS bunda dyah

RSS bu tuti

RSS ajo imoe

RSS penganyamkata

RSS penulis kesepian independen

RSS yessy muchtar

RSS mbakpuak

RSS ria

RSS rang pasisia

RSS catra

RSS sawali tuhusetya

RSS suhadinet

RSS HP

RSS soni

RSS soyjoy

Meta

 

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930