Guru Rapat, Sekolah Libur

Juli 23, 2008

Dulu, sewaktu masih menjadi murid, ketika ada pengumuman sekolah dibubarkan lebih cepat dari biasanya karena guru-guru rapat, aku senang luar biasa. Sepertinya, hal itupun juga dirasakan oleh anak-anak sekarang. Mereka akan bersorak gembira begitu diumumkan sekolah dibubarkan lebih cepat dari biasanya.

Sebetulnya, kalau dicermati lebih mendalam dan jujur, tidak ada hubungannya antara rapat guru dan pembubaran sekolah lebih awal. Menurutku, rapat itu hanya alasan yang dibuat-buat. Karena, meskipun guru rapat, sekolah tidak harus dibubarkan lebih awal.

Sebagai contoh, pagi ini ketika mengantar anakku sekolah, di gerbang kami temui pengumuman: “Hari ini, murid-murid dipulangkan pukul 10.00, karena guru-guru mengikuti rapat Porseni di Balai Kota”. Dengan begitu, berarti murid-murid sudah kehilangan 3,5 jam waktu belajarnya di sekolah. Karena biasanya mereka keluar pukul 13.30.

Pertanyaan yang muncul di benakku adalah: Mengapa harus ada rapat pada jam-jam efektif belajar? Apakah semua guru terlibat dalam kepanitiaan tersebut? Apakah rapat tidak bisa diadakan setelah bubaran sekolah?

Dari rapat yang pernah aku ikuti, aku menyimpulkan bahwa rapat-rapat itu sangat bisa diadakan pada waktu setelah bubaran sekolah. Mengapa sering dilakukan pada jam-jam efektif? Karena guru-guru banyak yang tidak “ikhlas” pulang lebih lambat dari biasanya. Mereka lebih rela “mengkorup” jam belajar siswa daripada mengorbankan jam pulang mereka.

Kemudian, rapat yang diadakan di luar sekolah, semestinya itu bisa diantisipasi dengan tidak mengirim semua guru ikut rapat, dengan kata lain cukup didelegasikan saja kepada satu atau dua orang. Apalagi kalau acaranya hanya pengajian bulanan atau peringatan-peringatan hari-hari bersejarah.

Dampak negatif dari kejadian ini adalah: Murid-murid akan berkeliaran tanpa terkendali dan orangtua yang menjemput akan kesulitan, karena mereka juga memiliki jadwal yang ketat di tempat kerja mereka.

Yang bisa aku usulkan adalah; hendaknya rapat-rapat itu dilaksanakan setelah bubaran sekolah. Bila hal itu tidak bisa dihindari, maka harus ada guru pengganti yang “menggawangi” sebuah kelas sampai jam sekolah berakhir. Dan guru yang harus ikut rapat, hendaknya memberikan tugas yang bisa dikerjakan oleh murid-murid dengan pengawasan dari guru pengganti tadi. Dengan demikian, rapat tetap bisa dilaksanakan, dan belajarpun tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

Entry Filed under: pendidikan. Tag: , , , , .

4 Comments Add your own

  • 1. Wempi  |  Juli 23, 2008 at 2:37 am

    batua mah nyiak, tapi wakatu ambo esede dulu guru e saketek nyoh, pernah juo pakai delegasi tapi nan tingga ba 2 guru sae… anak murik sampai klas 6 ka di urus. untuak smp/sma mungkin bisa diterap kan, kalau untuk sd mungkin gak payah, pangana e bamain se, hahahah. beko bamain e kajalan di lantak e dek oto.
    ____________________

    di sinilah kretifitas guru dituntut…
    seorang guru yg kreatif akan mampu mengatasi situasi anak didiknya, apapun keadaannya.
    makanya pendidikan kita lama majunya, karena guru2 kita tidak kreatif dan dg cepat mengambil jalan “aman”… :(

    Balas
  • 2. agusampurno  |  Juli 26, 2008 at 1:39 am

    Rapat guru yang baik sudah direncanakan jauh-jauh hari.
    dengan demikian menjadikan orang tua dan siswa tahu bahwa akan ada hari aktif yang terpotong.
    Kegunaannya pun bukan untuk memperpendek jam kerja yang imbasnya membuat siswa dirugikan.

    Salam kenal Uda
    ____________________

    Pada umumnya sekolah2 menetapkan jam pelajaran yg lebih singkat di hari Sabtu. Mestinya, guru memanfaatkan waktu ini untuk rapat. Sehingga jam pulang mereka tidak terganggu dan jam belajar siswa pun tetap pada waktunya.

    Salam kenal juga, senang sudah dikunjungi, sering2 mampir ya… :)

    Balas
  • 3. marshmallow  |  Juli 31, 2008 at 5:14 am

    setelah sekian lama, akhirnya ada entry baru.
    waktu sekolah dulu saya juga senang bila harus pulang lebih awal karena rapat guru.
    mudah-mudahan para guru sebenarnya tak rela untuk pergi rapat, tapi karena memang tak mungkin mereka hindari.
    mudah-mudahan lagi, para guru tidak turut gembira seperti anak-anak didik mereka di saat-saat meninggalkan kelas lebih awal itu ya?
    _____________________

    iya nih… habis, kebanyakan “rapat” sih, jadi gak punya kesempatan buat bikin entry baru, halah… :)

    Balas
  • 4. Jeni Shannaz  |  Agustus 20, 2008 at 6:18 am

    mungkin rapat lebih “menarik”, karena ada uang transportnya …
    _____________________

    itulah “intinya”, guru2 kita masih memandang murid “sama” dengan barang dagangan, bila tidak menguntungkan, tinggalkan saja… prihatin… :(

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Just a nother way to know

vizon-vredeburg "Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings" (Konfusius)

Halaman

Coretan

Komentar Sahabat

yessymuchtar di kapok
Wempi di kapok
DV di kapok
Incekrajo di pemuda
frezyprimaardi di Ambo…
yessymuchtar di pemuda
frezyprimaardi di beauty of blogging
frezyprimaardi di pulang
frezyprimaardi di man-ja
frezyprimaardi di Ambo…

RSS www.hardivizon.com

RSS Tokoonline Mainan Bocah

RSS Hery Azwan

RSS Mr. Trainer

RSS Omar Bakrie

RSS Marshmallow

RSS Ikkyu_san

RSS juenglala

RSS bu enny

RSS bunda dyah

RSS bu tuti

RSS ajo imoe

RSS penganyamkata

RSS penulis kesepian independen

RSS yessy muchtar

RSS mbakpuak

RSS ria

RSS rang pasisia

RSS catra

RSS sawali tuhusetya

RSS suhadinet

RSS HP

RSS soni

RSS soyjoy

Meta

 

Juli 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031