Belum bisa ngaji?
September 5, 2008
Mbak Sri dengan terbata-bata mencoba mengeja satu persatu huruf-huruf Arab yang ada dalam buku Iqro’ jilid satu yang ada di hadapannya. Sementara itu, Mbak Indri dan Mbak Nita menyimak dengan serius. Sesekali terdengar suara istriku membetulkan bacaan mbak Sri. Di tengah keasyikan mereka itu, tiba-tiba Mbak Rukmini datang, dan segera ikut bergabung.
Keempat ibu-ibu itu adalah tetangga kiri kananku. Sejak awal Ramadhan, setiap habis Subuh, mereka belajar membaca aksara Al-Quran bersama istriku. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an.
Kegiatan ini diawali dari obrolan istriku dengan mbak Rukmini yang sehari-hari membantu pekerjaan istriku di rumah. Mbak Ruk mengeluhkan soal ketidakmampuannya dalam membaca Al-Quran. Penyebabnya sangat klise, dulu semasa kanak-kanak, sehabis pulang sekolah dia harus membantu pekerjaan orangtuanya, sehingga tidak ada waktu untuk belajar membaca Al-Quran. Dan, dari pengakuannya, ternyata hampir separuh dari ibu-ibu dan bapak-bapak tetanggaku adalah orang-orang yang buta aksara Al-Quran.
Kenyataan ini membuat kami pritahin sekaligus tidak percaya. Jogja, sebagai kota pelajar yang menjadi barometer pendidikan Indonesia, rasanya mustahil kejadian ini akan terjadi. Ditambah dengan kenyataan bahwa metode Iqro’ digagas dari kota ini, yakni di Kotagede dan metode Qiro’ati berpusat di Pesantren Krapyak, membuat kondisi ini semestinya tidak harus terjadi.
Tapi… inilah kenyataannya, sebagian besar orangtua di lingkunganku buta aksara Al-Quran. Bukan tidak mungkin hal ini juga akan terjadi kepada anak-anak mereka. Sebab, sehari-hari kuperhatikan, sedikit sekali dari anak-anak itu yang mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) sepulang mereka dari sekolah. Bukannya tidak ada fasilitas itu di dekat rumah kami, tapi sepertinya para orangtua tersebut tidak begitu peduli dengan hal ini. Mereka lebih membiarkan anak-anak tersebut bermain ketimbang berangkat TPA. Menyedihkan sekali!
Istriku tergerak hati untuk berbuat sesuatu bagi para ibu-ibu tersebut. Maka, mulailah dia memprovokasi mbak Ruk untuk mengajak beberapa temannya belajar ngaji di rumah kami. Ahirnya, terwujudlah kelompok kecil ini. Aku bersyukur, istriku bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, meski baru sedikit.
Harapan kami, agar kelompok kecil ini terus menggelinding bagaikan bola salju. Sehingga nantinya, semakin banyak orangtua yang buta aksara Al-Quran secara sadar menyempatkan diri untuk kembali belajar. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk itu? Semoga…
Entry Filed under: pendidikan. Tag: aksara, alquran, buta, iqro', kotagede, krapyak, qiro'ati, yogyakarta.
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
marshmallow | September 7, 2008 at 3:24 am
wah, provokasi yang positif seperti ini musti terus disuburkan, da vizon.
syukurlah masih ada orang-orang yang peduli seperti uni membantu sesama muslimah untuk belajar ngaji.
saya juga prihatin, kenapa orang lebih gencar baca koran dan fiksi, tapi gak dibarengi gencar mengaji ya?
ini saya tujukan kepada diri sendiri juga lho.
saya ngaji paling satu halaman tiap hari.
tapi kalau baca yang lain wah, bisa kebablasan.
(walaupun sebenarnya semua ilmu itu juga bertujuan untuk memperdalam keimanan dengan membaca tanda-tanda Allah, bagi orang yang pandai. begitu kan, da?)
_____________________
2.
Wempi | September 9, 2008 at 2:57 am
hm… wempi sudah bertahun-tahun gak mengaji?
sudah pandai membaca tapi sombong, hiks…
_____________________
3.
nh18 | September 9, 2008 at 6:21 am
Pak Vizon …
Saya tersenyum membaca postingan bapak ini …
Adem bener pak …
yang jelas tidak ada kata terlambat untuk belajar kan ?
abis bisa mengaji … lalu kita amalkan pula isinya
Salam saya pak
_____________________
4.
sonny | September 11, 2008 at 4:20 am
anak-anak sekarang emang susah,
ponakan saya musti harus sekolah di SDIT yang mahal itu untuk mendapatkan pendidikan agama memadai. Manajemen TPA kita gak maju-maju sejak saya jadi murid.
Padahal godaan-godaan tambah maju: TV, PlayStation, film, sinetron. Apalagi mindset orang tua2 mulai berubah: yang penting itu les matematika, sempoa, musik drpd ngaji. Nau’dzubillah min dzalik
_____________________
5.
heryazwan | September 12, 2008 at 2:48 am
Sorry Bro, udah lama nggak mampir.
Wah, ternyata di kota pelajar masih banyak yang nggak bisa ngaji.
Tapi kota pelajar kan pelajaran umum, bro…
Kalau ngaji, entara dulu…
Ngaji kan nggak bisa buat kaya.
Barangkali ini yang mereka pikirkan.
_____________________
6. THE BEST FROM MY FRIENDS #1 « The Ordinary Trainer writes … | Desember 31, 2008 at 7:10 am
[...] Uda Vizon : “BELUM BISA NGAJI ?” [...]