Ramadhan di Q-Tha
September 20, 2008
Kamis (18/09/08), pukul 06.30 aku berangkat bersama sahabatku Asep menuju desa Kalibening di Salatiga Jawa Tengah. Tujuan kami adalah sebuah sekolah yang bernama SMP Alternatif Qaryah Thayyibah (Q-Tha). Ini adalah kunjungan kedua kami setelah kunjungan yang pertama medio Februari yang lalu. Asep menjadikan Q-Tha sebagai obyek penelitian disertasinya.
Kami berangkat menggunakan sepeda motor, dengan alasan efisiensi. Letak desa Kalibening yang agak jauh dari kota, tentunya akan menyulitkan mobilitas kami, terutama dalam mencari makan… halah…!
Awalnya agak sedikit khawatir melakukan perjalanan di tengah puasa ini, tapi karena Asep ingin memotret momen puasa di Q-Tha, maka rencana ini tetap kami laksanakan.
Perjalanan terasa mengasyikkan. Kami mengambil jalur Jogja-Jatinom-Boyolali-Salatiga. Sepanjang jalan kami menikmati udara segar dan bersih. Kami melewati pedesaan, sawah dan perkebunan. Aku benar-benar menikmati perjalanan ini, sehingga tak terasa dalam jangka waktu 3,5 jam kami sudah sampai di Kalibening.
Sesampai di sana, kami mendapatkan para guru pendamping Q-Tha sedang berkumpul santai di teras gedung pusat kegiatan mereka. Kami disambut dengan ramah, terutama oleh Pak Ridwan yang memang sudah kami kenal sebelumnya. Setelah bercerita sedikit, kamipun diantar ke kamar tamu di lantai dua gedung tersebut. “Karena seringnya tamu yang datang kemari, sekarang kami sudah membangun kamar tamu, agar bisa istirahat dengan nyaman“, demikian ungkap Pak Ridwan. Memang pada kunjungan pertama kami, Q-Tha belum memiliki kamar khusus buat tamu. “Berarti Q-Tha sudah ada kemajuan nih“, candaku dan disambut senyum simpul oleh Pak Ridwan.
Qaryah Thayyibah adalah sebuah sekolah alternatif yang diprakarsai oleh Bapak Bahruddin. Sekolah ini memberikan kebebasan kepada muridnya untuk memilih materi pelajaran yang dibutuhkannya. Selengkapnya tentang Q-Tha dapat dibaca melalui tulisan-tulisan berikut ini:
- Mengenal Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga
- Sekolah Global di Desa Kalibening
- Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah
- Reportasi Live di Q-Tha
- Pendidikan Alternatif Yang Membebaskan
Seperti yang kuceritakan di atas, kehadiran kami di Q-Tha kali ini adalah untuk melihat bagaimana anak-anak Q-Tha menjalankan kegiatan mereka di tengah ibadah puasa.
Secara umum, tidak ada yang berubah. Anak-anak Q-Tha tetap menjalankan kegiatan mereka dengan bebas dan menyenangkan, terutama berselancar di jagat maya. Di setiap sudut ruangan maupun halaman terdapat segerombolan siswa Q-Tha yang tengah berselancar. Mereka sedang mencari segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan “proyek” mereka masing-masing. Bagi mereka, internet adalah jantung semua kegiatan mereka. Setiap proyek yang akan mereka garap, diawali dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet. Prinsip mereka, biar tinggal di kampung, mereka tidak ingin jadi kampungan. Sehingga, jangan heran bila kemana-mana mereka membawa laptop, meski dengan tampang urakan ala pemuda kampung.
Salah satunya adalah Mas Minan. Pemuda asal Lamongan Jawa Timur ini sedang fokus memperdalam tentang tanaman organik dan kesuburan tanah tanpa bahan kimia. Segala informasi tentang hal ini pada awalnya dia peroleh dari internet. Dari sana, akhirnya dia bertemu dengan seorang pakar dan praktisi tanaman jenis ini yang berdomisili di Jogja. Dia pun menyempatkan diri untuk belajar kepada sang ahli selama dua minggu. Hasilnya, dia terobsesi ingin mengembalikan kealamiahan tanaman buah dan sayuran di kampungnya. Bila berhasil, dia akan ajarkan ke pemuda di kampungnya untuk kemudian dikembangkan.
Di sudut lain, aku menemui sekelompok siswa yang sedang bermain alat musik. Mereka sedang menggubah lagu dengan tema Islami. Rencananya, hari ini (Sabtu, 20/09/08), mereka akan menampilkan karya mereka di hadapan teman-teman dan pengelola Q-Tha dalam acara Gelar Karya dan Buka Bersama. Mereka benar-benar menikmati “pembelajaran” ini tanpa ada beban sedikitpun. Tidak ada beban nilai yang harus mereka kejar, karena memang Q-Tha tidak meminta itu.
Tak terasa waktu sudah semakin sore, dan maghrib-pun menjelang. Karena Q-Tha tidak memiliki sarana kantin, maka kamipun memutuskan untuk mencari makan berbuka puasa di kota Salatiga. Aku sebetulnya ingin mencari pengalaman kuliner khas Salatiga, tapi karena waktunya sudah terlalu sore dan perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya kamipun terdampar di rumah makan urang awak, dan rendangpun menjadi sasaran pilihan kami (gak kreatif amat ya…
)
Ketika kembali ke Q-Tha, waktu shalat Isya sudah masuk. Akupun buru-buru mempersiapkan diri dan melaksanakan shalat Isya di kamar untuk kemudian mengikuti shalat Tarawih di masjid yang letaknya berdampingan dengan gedung serbaguna tersebut. Tapi, aku segera mengurungkan niatku. Shalat yang dilaksanakan sebanyak 20 rakaat itu, dilaksanakan dengan cepat, nyaris tanpa thuma’ninah. Imam membaca surat al-Fatihah dengan satu tarikan nafas, dan surat pendek yang mengiringinya nyaris tidak terdengar jelas, saking cepatnya. Daripada aku ngedumel sepanjang salat, lebih baik aku melaksanakannya sendiri di kamar.
Selesai tarawih, aku lihat sekelompok siswa memanggul kamera video lengkap dengan peralatan lighting-nya. Akupun mengikutinya. Ternyata mereka sedang mengerjakan video klip lagu yang mereka gubah sendiri. Shooting mereka laksanakan di atap gedung tempat aku menginap. Dengan luwesnya mereka mainkan kamera-kamera tersebut. Dan proses shootingpun berjalan dengan lancar dan tentunya menyenangkan…
Sahur, kami putuskan untuk ikut dengan anak-anak Q-Tha mencari makan di warung dekat sekolah mereka. Dengan diantar Mas Minan, kamipun berangkat ke warung yang dimaksud. Sayur tewel (nangka muda yang direbus) dan goreng tempe beserta teman setianya, goreng tahu, menjadi menu makan sahur kami. Dulu, sewaktu jadi santri, menu semacam itu sudah menjadi kebiasaanku. Tapi sekarang, lidahku sudah tidak terbiasa lagi. Mengingat besok kami akan kembali ke Jogja, dan itu butuh stamina, maka kupaksakan melahap makanan tersebut. Meski setiap kali suapan harus didorong dengan seteguk teh manis.
Jum’at pagi, kamipun berpamitan untuk kembali ke Jogja.
Sementara, aku bisa berkesimpulan bahwa “kebebasan” yang coba disemaikan di Q-Tha tidak hanya meliputi pilihan materi pelajaran yang mereka inginkan, juga termasuk dalam hal ibadah. Tidak ada aturan siswa Q-Tha harus melaksanakan puasa maupun salat. Semuanya diserahkan kepada mereka. Sejauh pengamatanku, mereka semuanya melaksanakan ibadah puasa dan tetap berkegiatan. Pertanyaannya, bagaimana budaya kebebasan ini bisa memunculkan kesadaran keagamaan pada diri siswa? Inilah yang sedang diteliti oleh Asep. Kita tunggu saja jawabannya…
Yang pasti, aku benar-benar terkesan dan terinspirasi
Entry Filed under: pendidikan. Tag: budaya, kalibening, kebebasan, puasa, qaryah thayyibah, Ramadhan, salatiga, smp alternatif.
10 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
jingga | September 22, 2008 at 3:52 am
LAH saya dr salatiga lho mas, cmn skrg tinggal di sidoarjo.
____________________
2.
Zulfi | September 22, 2008 at 4:16 am
Q-Tha memang luar biasa…
Saya mengetahuinya dari cuplikan2 video ditambah membaca buku terbitan LKIS yang khusus membahas QT..
Namun, sampai saat ini saya juga sebatas baru bisa berangan2 ke sana… belum sempat..
Salam kenal Pak!
_____________________
3.
sonny | September 22, 2008 at 7:46 am
menarik !
saya sudah lama bermimpi berkunjung ke sekolah2 alternatif macam ini, termasuk SMU Madania, Smart Ekskelasia DD, Muthahhari, YPI Bangil, dll
thx for ur story
i wait for the next one
_____________________
4.
Shin Muhammad | September 22, 2008 at 9:26 am
Ini pernah beberapa kali masuk media massa, dan saya sendiri salut dengan sistemnya, tidak kaku dan tidak terikat dengan kurikulum pemerintah
____________________
5.
marshmallow | September 22, 2008 at 11:34 am
membaca cerita perjalanannya saja saya merasa tertarik, apalagi kalau menyaksikan sendiri ya?
atau naratornya yang bagus merawikan kisah perjalanan ini.
hehehe…
saya penasaran bagaimana sistem ini dikonversikan ke dalam nilai-nilai dalam kerangka kurikulum nasional ya?
_____________________
6.
heryazwan | September 23, 2008 at 4:37 am
Riwayat yang menarik, Bro.
Mudah2an mutawatir… He he…
Btw, mereka nggak punya dapur umum ya?
Makan di luar terus lebih mahal dong?
Ngomong2 tentang tewel, dulu itu kok bisa ya kita makan tewel cuma pake kerupuk.
Kalau dapet ikan pindang setelah jumatan senangnya bukan main.
Btw, Warung Awak di Salatiga rasa rendangnya masih ikut pakem apa udah lari, Bro…
Aku curiga rasanya sudah disesuaikan dengan lokalitas sehingga lebih manis. Tul nggak?
____________________
7.
dedehsh | September 23, 2008 at 8:52 am
makasi sdh mampir ke MP sy… saya ada WP jg pak, buat belajar nulis
http://dedehsh.wordpress.com
8.
Kang Nur | September 27, 2008 at 12:18 pm
saya tahu Q-Tha dari pertama dari internet sekitar 4 tahun lalu apa ya? agak lupa. lalu saat ikut pelatihan di USC Satunama dg bbrp orang LSM ada bbrp fasilitator dan teman peserta yg cerita2. tapi sbg orang Yogya yg cukup dekat, belum pernah sampai ke sana.. mungkin sangat baik bagi generasi muda pemerhati pendidikan utk meluangkan waktu ke sana..
_____________________
9.
ricka | Oktober 4, 2008 at 12:38 pm
kereeeeen bro
10.
SUWARDI | Maret 22, 2009 at 2:24 am
ngemeng2.., banyak juga ya? yg peduli dengan pendidikan model ini. gimana klo para pecinta pendidikan ini, ya bisa disebut.. generasi penerus di setiap kabupaten. Soalnya kalo pendidikan model ini bisa diterapkan lebih luas lagi, dengan macam dan corak masing-masing daerah kan bisa lebih nambah warna pendidikan alternatif ini. Ada yang dekat pantai, hutan, sawah, kebun, dll. Ini saya kira, bisa dijadikan area perluasan buat kita para pemerhati pendidikan alternatif, ketimbang hanya bisa ngemeng2 tok…
Jangan hanya bisa menjadi penonton,..gt kan brow