padusi
Juni 20, 2009
Sebagai masyarakat dengan prinsip matrilineal, membuat padusi (perempuan) dalam adat Minangkabau memegang peranan penting dan mulia. Prinsipnya–mengambil dari hadis Nabi Muhammad–posisi padusi di adat Minangkabau adalah bagaikan tulang rusuk bagi lelaki. Ia berada di sisinya, bukan di kepala, dan bukan pula di kaki.
Karena pentingnya peranan padusi tersebut, maka seluruh harta pusaka yang kebanyakan berupa tanah dan rumah, diberikan kepada mereka. Lelaki tidak memililki hak waris atas pusaka tersebut. Lelaki diharuskan mencari peruntungannya sendiri. Tidak boleh “bersembunyi” di balik harta orangtua.
Padusi sangat berperan dalam menentukan baik-buruknya keturunan. Coba simak prinsipnya dalam kutipan yang kuambil dari blog Bundokanduang, berikut ini:
Kalau karuah aie di hulu
Sampai ka muaro karuah juo
Kalau kuriak induaknya, rintiak anaknyo
Tuturan atok jatuah ka palimbahan
(Kalau keruh air dihulu
sampai ke muuara keruh juga
kalau ibunyi kurik, rintik anaknya
cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan)
Sesuai dengan kedudukan dan peranannya, rumah tempat tinggal diutamakan untuk wanita, bukan laki-laki. Seorang bapak selalu mempunyai cita-cita untuk membuatkan rumah tempat tinggal anaknya yang perempuan, bukan untuk anaknya yang laki-laki. Bahkan menurut adat Minangkabau, sudah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini sangat mempengaruhi sistem perkawinan di Minangkabau, dimana setiap terjadi perkawinan si laki-laki menetap di rumah perempuan, sebaliknya apabila terjadi perceraian, laki-laki yang pergi dari rumah, perempuan tetap tinggal.
Sawah dan ladang merupakan sumber ekonomi, pemanfaatannya diutamakan untuk keperluan wanita karena wanita lebih lemah dibanding laki-laki. Sebaliknya kaum laki-laki Minangkabau diberi tugas mengurus dan mengawasi sawah ladang untuk kepentingan bersama karena laki-laki menjadi tulang punggung bagi wanita, namun tidak berarti bahwa kaum laki-laki tidak dapat menikmati hasil atau mendapat manfaatnya sama sekali.
Karena besarnya peran padusi di Minangkabau ini, membuat pasangan suami-istri harap-harap cemas bila hendak mempunyai keturunan. Seringkali setiap bertemu, urang awak akan bertanya sudah berapa anak yang dimiliki dan dari semua itu ada berapa padusinya. Tentu saja ini sebuah pertanyaan yang aneh, tapi memang begitulah kenyataannya.
Kondisi seperti itupun aku alami di tahun-tahun pertama pernikahanku. Aku sering ditanya soal anak padusi oleh para tetua kampung setiap kali pulang. Hingga akhirnya, pertanyaan itu tidak lagi menjadi momok setelah kami dianugerahi anak padusi, 9 tahun yang lalu, 20 Juni 2000.
Anak padusi itu, kami beri nama Aisha Satira Ardhi. Hari ini dia berulangtahun yang kesembilan. Tersirat harapan, agar kami dapat menjaganya sebaik mungkin, agar nantinya dia dapat menjadi wanita yang penuh manfaat bagi dunia ini.

Aisha Satira Ardhi, 20 Juni 2000-20 Juni 2009
Elok tapian dek nan mudo
Elok Kampuang dek nan tuo
Elok Nagari dek pangulu
Elok musajik dek tuangku
Elok rumah dek bundo kanduang
Entry Filed under: keluarga. Tag: bundo kandung, minangkabau, padusi, satira, ulang tahun.
26 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
Ikkyu_san | Juni 20, 2009 at 2:06 am
soal padusi, makanya perempuan minang itu kuat dan tegar ya?
Selamat ulang tahun yang ke 9 untuk Satira, semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua, nusa dan bangsa. Amin.
EM
2.
Eka Situmorang-Sir | Juni 20, 2009 at 3:32 am
Selamat Ultah ya Aisha Satira Ardhi
Tumbuh menjadi anak cantik yang berbakti kepada orang tua
Btw uda… berarti uda bertugas membelikan rumah buat Aisha ya
Saya baru tau filosofi matrinial dari tempat uda.
Menarik !
Dan terkandung kebijaksanaan yang dalam.
Thank u uda
3.
wempi | Juni 20, 2009 at 6:25 am
datauk 3 basaudaro indak ado padusi
kini alah maningga sadonyo
harato pusako antah kasia kaditurunkan
antah sia nan kamauruih.
dek budayo alah manipih, raso malu indak loh ado. harato pusako di parabuik an.
“den sasuku jo inyo”
“sawah baliau kan di kampuang siko”
manangih datuak dalam kubua.
4.
imoe | Juni 20, 2009 at 7:52 am
Happy B Day…….to youu….
Lai pandai bahaso minang ponakan ambo da hahahaha, kalau alah bisa, ambo ajaan tari piriang atau badindin lai a hehehehehe
5.
imoe | Juni 25, 2009 at 6:48 am
hahaha kalo nasib ka mambaok, pasti ambo anjang sampai di kweni tuh..kweni tuh samo jo kuini dek awak tuh da hahaha
6.
marshmallow | Juni 20, 2009 at 10:10 am
ondeh, tulisan yang informatif dalam rangka ulang tahun putri tercinta. berbeda dengan adat budaya kebanyakan, adat minang memang terkesan sangat mengutamakan wanita. tapi sesungguhnya karena kesadaran bahwa wanita adalah calon ibu yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan seorang anak. sehingga dengan memberi keutamaan bagi wanita, tidak ada ketakutan anak melarat selepas ayah tak ada, karena paling tidak tempat berteduh tak jadi kendala, sawah ladang juga ada, pendidikan jadi utama.
ah, indahnya tanah airku yang kaya ragam budaya ini.
selamat ulang tahun, aisha. semoga menjadi padusi yang sholihah, membawa orang tuanya ke surga.
7.
marshmallow | Juni 22, 2009 at 1:40 pm
etek hemma?
santiang!
8. Goro-goro | Twilight Express | Juni 20, 2009 at 3:32 pm
[...] 母系社会. Tapi kebanyakan semua ikut nama bapak. ( waktu aku baca tulisan Uda Vison tentang padusi, aku jadi teringat juga bahwa aku pernah menceritakan hal ini pada [...]
9.
Oemar Bakrie | Juni 20, 2009 at 5:34 pm
Selamat dan syukur ya Uda atas berkah dan karunia yg tiada taranya dari Allah SWT ini … Semoga Uda Vizon selalu bahagia bersama keluarga …
10.
Yoes Menoez | Juni 20, 2009 at 5:50 pm
Saya tidak terlalu banyak referensi ttg adat orang Minang, yg sering saya pengen tahu adalah bagaimana masalah hukum waris dalam Islam diterapkan di masyarakat MInang? (mayoritas penduduknya muslim kan?) Atau masyarakat Minang punya hukum adat sendiri ttg masalah ini?
Btw, Selamat Ulang Taon Aisha, wah…hanya beda seminggu tuh sama Tante…(Tante Bahasa Minangnya apa ya?), semoga sehat n hepi selalu dan selalu jadi kebanggaan orang tua.
11.
Muzda | Juni 20, 2009 at 6:49 pm
Awalnya saya pikir (karena tak berniat mempelajari lebih dalam), adat mengutamakan wanita di masyarakat Minang itu untuk memuliakan wanita, menganggap wanita lebih tinggi kedudukannya dari laki-laki.
Ternyata, berkebalikan ya….
Laki-laki tak mendapatkan hak istimewa karena ia harus berusaha sendiri, menjadi tulang punggung, dan menjadi pelindung wanita.
Salah kaprah yang parah.
Maaf Uda
12.
DV | Juni 20, 2009 at 10:47 pm
Wah dapat tambahan wawasan satu lagi. Ini menarik karena beda dengan di Jawa yg semua warisan slalu jatuh ke anak cowok dan malah sering bikin perang saudara.
Uda, sampaikan selamat ulang tahun buat anakmu yang ke 9.
Pastikan ia tetap bahagia dan tumbuh sebagai anak yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi baik.
13.
mascayo | Juni 20, 2009 at 11:49 pm
Sama seperti yang lain,
ini juga pengetahuan baru buat saya.
Berarti saya juga sudah punya padusi .. sekarang 5 tahun …
Met Ultah Kak Aisha .. salam dari Zia
14.
Ade | Juni 21, 2009 at 5:20 am
Selamat ulang tahun Aisha..
semoga jadi padusi yang sholehah.. Amiin..
15.
dyahsuminar | Juni 21, 2009 at 9:42 am
selamat ulang tahun Aisya….semoga jadi cendikia salehah ya..
Untuk Uda….Bunda tambah pengetahuan nih dari tulisan ini…maka dari itu…laki2 minang dimana mana berjuang dengan sekuat tenaga ya…untuk mencari kehidupan yang lebih baik….
Hal yang patut ditiru oleh yang lain ya…semangat kemandirian yang luar biasa….hebat…hebat…
16.
afdarizki | Juni 21, 2009 at 3:38 pm
Selamat hari jadi Aisha …semoga jadi anak yang berbakti bagi agama, orang tua dan negara
17.
nh18 | Juni 22, 2009 at 5:35 am
Selamag Ulang Tahun Aisha …
Semoga sehat dan bahagia selalu …
18.
Hery Azwan | Juni 22, 2009 at 6:39 am
Salamek ulang tahun, Satira.
Samoga menjadi padusi yang berguno bagi amak dan apak…
19.
edratna | Juni 22, 2009 at 7:06 am
Berbeda dengan Sumatara Utara ya Uda, disini yang ditanya anak lelaki karena perlu untuk penerus.
Saya bersyukur mendapatkan sepasang…jadi udah punya Padusi.
Selamat Ulang Tahun Aisha, semoga nantinya menjadi Padusi yang baik….
20.
tutinonka | Juni 23, 2009 at 7:22 am
Kalau mendengar kata ‘padusi’, asosiasi saya kok ke kata ‘padusan’ ya …
Nah, kalau padusan, itu bahasa Jawa yang berasal dari kata ‘adus’ yang artinya mandi. Padusan adalah kegiatan mandi-mandi sehari menjelang puasa Ramadhan, untuk membersihkan fisik dan rohani. Tapi sekarang padusan lebih banyak dilakukan sebagai tradisi senang-senang saja.
Tulisan Uda Vizon membuat saya paham hakekat sistem matrilineat yang sesungguhnya. Wah, mulia sekali ya. Saya mau deh jadi padusi (lho, gimana caranya? lahir lagi dari ibu wanita Minang?
)
Selamat ulang tahun untuk Aisha. Saya yakin Aisha tidak akan jauh-jauh dari Uni Icha yang pandai, halus budi, ramah, dan cantik ..
21.
Desi Junianti | Juni 23, 2009 at 9:01 am
Sebagai orang Minang beruntung Uda Uni udah punya Padusi ya.. saya juga orang minang belum kelar juga PR nya nih Uda, karena baru memiliki dua putra, sementara bagi suami PR siap gak siap boleh dikumpul tapi sebagai orang minang “kok dapek ado juo nan padusi andaknyo” :-/
Selamat Ulang Tahun Satira.. semoga selaludalam lindungan-Nya, amin.
22.
Panglatu | Juni 23, 2009 at 10:08 am
Selamat Ulang Tahun buat Aisha… semoga diberi kesehatan dan menjadi anak yang Sholeha ……
BTW diberi nama Aisha biar Islami Uda…?! ada unsur balas dendam ini Uda…?! he.. he.. he…
23.
~padusi~ | Juni 23, 2009 at 10:49 am
Assalamualaikum, wr.wb :
Perlu kita klarifikasi tentang masalah harta sebagaimana yang ditulis dalam blog ini.yan
- Harta yang dimiliki dan berasal dari kedua orang tuanya, maka harta itu dikelola sesuai dengan hukum faraid atau hukum islam.
- harta pusaka yang bersal dari nenek moyang, dan sudah ditetapkan sebagai harta pusaka tinggi, maka perempuan memiliki hak pengelolaan bukan sebagai pemilik.
Mengpa ?
harta pusaka tinggi tidak dapat diperjual belikan tanpa sepengetahuan saudara laki-laki.
- harta pusaka tinggi bersifat harta wakaf..
Dalam harta pusaka tinggi tidak ada keseimpulan bahwa laki-laki tidak dapat memiliki.
Wassalam,
Wassalam,
24.
Ria | Juni 23, 2009 at 10:51 am
Kok komentarku ilang ya uda?
kalo gitu aku ucapin lagi deh…Selamat ulang tahun Aisha…semoga jadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya…dan wanita sholeha masa sepan
25.
p u a k | Juni 24, 2009 at 7:11 am
Akhirnya bisa juga aku buka blog uda ini setelah sempat di blok gara2 ‘melayu online?’..
Anyway busway, selamat ulang tahun dek Aisha.. jadilah anak padusi yang Ayah banggakan.
26.
AFDHAL | Juni 24, 2009 at 9:36 am
met ultah ya satira…
om gak bisa ngasih kado nih, hehehe
kadonya doa aja ya, panjang umur, sehat selalu, dan nanti berbakti pada orang tua, agama dan negara
Aminnn