alif kecil
Juli 1, 2009
Anak kecil umur tiga tahunan itu masih ada di situ; di perempatan lampu merah KFC komplek kampus Universitas Gadja Mada (UGM). Masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu; berjalan di antara kendaraan yang berhenti, tanpa sedikitpun rasa takut, menengadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti. Ya, dia masih mengemis.
Ketika kami beradu pandang, aku masih melihat sorot mata yang tajam, masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu itu. Sorot tajam matanya itu menunjukkan ketegarannya menjalani hidup seperti itu. Dan masih seperti beberapa bulan yang lalu itu juga, aku tetap tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap iba kepadanya. Aku hanya bisa berontak di dalam hati melihat ketidakadilan itu. Aku hanya bisa diam, diam dan diam…
Alif, sebut saja begitu namanya, adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang tidak beruntung. Terlahir dari keluarga yang berekonomi lemah sekaligus berpikiran lemah. Berpikiran lemah yang kumaksud adalah ketidakmampuan orangtuanya mencari solusi yang lebih manusiawi demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Karena sesungguhnya, ada juga banyak orang yang berekonomi lemah tapi tidak melakukan tindakan bodoh, menyuruh anaknya mengemis.
Aku tidak ingin mencari-cari ruang penyalahan atas keadaan itu. Karena, banyak pihak yang terkait dengan persoalan itu. Hanya saja, aku ingin menyuarakan kekecewaanku terhadap para calon presiden di negaraku, yang saat ini sedang berusaha meraih simpati. Dari banyak paparan program mereka, secara konkrit tidak kutemukan program yang menyinggung persoalan anak.
Bisa jadi, mereka beralasan bahwa persoalan anak sudah tercakup dalam program-program besar mereka, terutama masalah ekonomi dan pendidikan. Tapi, benarkan demikian? Sepenuhnya aku tidak setuju. Persoalan anak, bukanlah persoalan sempilan. Ia adalah persoalan tersendiri, dan harus ditangani secara khusus dan serius. Karena, persoalan anak adalah persoalan generasi; generasi penerus kehidupan bangsa.
Sebetulnya, sudah banyak regulasi yang ditetapkan dalam urusan anak. Sebut saja Undang-undang Nomor 23 tahun 1979 dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hanya saja, regulasi yang banyak itu, seolah tidak mendapat perhatian optimal dalam pelaksanaannya. Buktinya, ada banyak alif-alif kecil yang menghabiskan masa kecil mereka di jalanan, tanpa perlindungan, tanpa kasih sayang dan tanpa masa depan.
Meski pesimis, tapi aku tetap menaruh harapan kepada presiden terpilih di negaraku nanti, agar persoalan anak menjadi perhatian khusus. Bahkan kalau perlu, dibuatkan kementrian khusus perlindungan anak, sebagaimana urusan wanita juga dibuatkan kementriannya, yang bernama mentri peranan wanita. Perhatian terhadap anak, janganlah hanya sebatas seremoni pada peringatan hari anak, setiap 23 Juli, semata. Tapi, perhatian yang utuh, tanpa tersekat ruang dan waktu.
Semoga!
Alif Kecil – Snada
Ketika malam datang mencekam
kulihat si Alif kecil yang malang
duduk tengadah kelangit yang kelam
meratapi nasib diriKilat menyambar hujanpun turun
semakin basah hatinya yang resah
kapankah semua kini kan berakhir
dijalanan penuh duriYa Allah tunjukkan jalan-Mu
pada si Alif kecil
Agar dia dapat menahan cobaan dan rintangan
yang datang menghadang
Entry Filed under: lingkungan. Tag: calon presiden, perlindungan anak, uu 23/1979, uu 23/2002.
12 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
fadillahcinta | Juli 1, 2009 at 10:09 pm
wah, lagu alif kecil.. jadi ingat masa SMA dulu..
terima kasih mas, tulisan ini menggelitik saya karena semasa SMA dulu banyak kejadian lucu..
jadi ingin dengar lagu itu lagi..
2.
Ikkyu_san | Juli 1, 2009 at 11:18 pm
Kasihan anak-anak
dia lahir tanpa dia inginkan
tapi setelah dia lahir apa yang dia dapat?
miris
3.
DV | Juli 2, 2009 at 7:07 am
Setuju dengan komentarnya Imel, anak kecil tak bisa memilih untuk lahir menjadi kaya atau miskin…
Sebenarnya capres manapun akan mudah untuk mencuri simpati rakyat jika ia memasukkan agenda yang sebenarnya telah menjadi tugas negara sejak negara ini dibentuk.
KFC UGM itu kan perempatan Jakal ya, Uda?
Hmmm jadi smakin rindu Jogja
4.
tutinonka | Juli 2, 2009 at 8:07 am
Masalah anjal (anak jalanan) ini memang cukup rumit. Beberapa waktu yang lalu saya membaca di koran Yogya, bahwa Pemkot menghimbau agar masyarakat jangan memberi uang kepada anjal, karena itu tidak mendidik. Jika ingin berderma kepada mereka, salurkanlah uang kita ke lembaga-lembaga yang sudah ada, yang memang bergerak untuk mendidik anak jalanan.
Memang kita sering iba melihat anak-anak kecil mengemis di jalanan. Tapi, sering kali anak-anak itu cuma dipekerjakan oleh orangtua mereka, atau ‘organisasi’ tertentu di belakang mereka. Akhirnya uang yang mereka peroleh itu bukan untuk mereka sendiri, tetapi untuk pihak lain yang kita tidak tahu, apakah benar-benar pantas menerimanya …
5.
Wempi | Juli 2, 2009 at 9:52 am
alif kecil, jadi ingat iya kecil. suka kemesjid karena namanya sering disebut imam.
iya kana’ budu wa iya kanas ta’in.
6.
nh18 | Juli 2, 2009 at 10:47 am
Mereka mungkin merasa tidak punya pilihan …
sehingga anak-anaklah yang jadi korban …
padahal sebetulnya … mungkin … masih ada pilihan yang lebih baik … celah kecil … yang memerlukan perjuangan keras …
Yang jelas …
Siapapun yang terpilih nanti …
Bisa lebih memperhatikan hal-hal seperti ini …
“Hidup itu harus diperjuangkan !!!”
“Rejeki tidak datang dari langit …”
“Ikhtiar itu harus !!!”
(lha kenapa aku jadi teriak-teriak begene …)(maap uda )
7.
p u a k™ | Juli 2, 2009 at 11:15 am
Aku juga miris bila melihat anak2 apalagi masih sangat bayi sudah berkeliaran dijalanan. Tidak cukup satu hati saja yang peduli. Negara nya lah yang dipertanyakan?.. akan sampai kapan?
8.
imoe | Juli 2, 2009 at 6:13 pm
Negara harus bertanggung jawab terhadap itu, karena Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan Anak telah menempatkan tanggung jawab negara sebagai to fulfill, to promote, to protect hak-hak anak. Kegagalan kehidupan anak hari ini akan berdampak terhadap kehidupan masa datang. Kegagalan anak hari ini cerminan kegagalan orang dewasa dan pemerintah juga. Semoga alif-alif kecil mendapatkan dunia yang layak bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang.
sepenuhnya ini adalah tanggungjawab negara… tapi, tangan-tangan tulus dari aktivis dunia anak, cukup mampu mengurangi beban negara. salut deh buat para aktivis tersebut…
9.
AFDHAL | Juli 2, 2009 at 7:44 pm
masalah yang tidak pernah diselesaikan (dan mudah2an terselesaikan dengan CEPAT)
*bukan kampanye lebih cepat lebih baik lho*
harapan dan doa selalu dipanjatkan agar pemimpin yang baru bisa mencari solusi terbaik buat masalah ini
*berasa udah kayak pengamat sosial nih*
perempatan kcf-mirota kampus :
*mumpung minggu ini mudik jogja*
10.
edratna | Juli 2, 2009 at 9:34 pm
Saya berharap agar Capres terpilih memberi perhatian pada anak yang kurang beruntung ini.
Bagi masyarakat menjadi serba salah, jika ingin memberi ternyata anak-anak hanya dimanfaatkan oleh orang yang lebih tua…namun jika tidak…nurani kita tak bisa menerima, sehingga tetap mengulurkan tangan untuk membantu
11.
Anderson | Juli 9, 2009 at 10:47 am
Wah…Alif-ku dibawa-bawa nih…hehehe.
Aku sependapat sama Uda soal orang tua yang berpikiran lemah… Bahkan ngga jarang para peminta-minta di lampu merah itu kalau aku perhatiin sekilas, secara fisik lengkap, ngga ada kekurangan apa-apa. Emang sih kita ngga tau, apakah dia udah berusaha maksimal memenuhi kebutuhan hidupnya, namun masih gagal, sehingga terpaksa menadahkan tangan begitu… Tapi ngga tertutup kemungkinan mereka menadahkan tangannya, dan bahkan melibatkan alif-alif kecilnya, hanya karena malas untuk berusaha…
Oiya…jagoannya di pilpres menang ga, Uda?
12.
Jilaany | Juli 21, 2009 at 7:59 pm
Sedih bangeeet stiap liat anak2 itu..kadang aku ngerasa terganggu krn beberapa dr mrk mencari perhatianku dg cara yg gak santun, pernah sekali waktu aku ktika sdg memilih peci buat anakku di emperan, dua anak menunggu pemberianku.. Aku ga temukan uang kecil (aku terlalu pelit…) lantas aku masuk ke mobilku dg maksud ambil lembaran kecil utk mrk (biasanya aku slalu sedia buat parkir)…tp mgkn aku juga yg salah krn ga blg dl sm mrk kl aku ke mbl bkn ingin menghindar, satu dr mrk memaki aku tp dg suara pelan ” udah cacat pelit lg !! ” (aku pake tongkat penyangga…). Stlh mrk pergi aku pandangin lembaran kecil di tanganku..aku gatau apa airmataku ini tanda aku marah? Sakit hati? Atau apa… Lalu aku plg. Aku peluk anak2ku Jam2, Janur, Jagga dan Jilly.. Aku jadi takut..gbs mendidik anak2ku…