adikku…
Oktober 20, 2009
Acapkali rasa sayang itu muncul ketika sudah terpisah ruang dan waktu. Ketika bersama, seringkali pertengkaran dan kejenuhan mewarnai kehidupan kita. Ketika sudah tidak berjumpa lagi, rasa rindu itu selalu membayangi.
Rasa itupun muncul pada diriku, terhadap adik-adikku. Aku, yang terlahir sebagai sulung dari delapan bersaudara, dulu, merasa marah dan kesal dengan keberadaan adik-adik yang jumlahnya banyak itu. Apalagi dari kedelapan itu, tujuh di antaranya adalah lelaki alias cowok. Bayangkan, betapa hebohnya rumah kami ketika masa kecil dulu. Segala pertengkaran khas anak cowok kerap terjadi di rumah kami. Dan yang paling sering tejadi adalah, aku sebagai anak tertua, harus selalu menelan pil pahit yang bernama “mengalah”.
Dengan berjalannya waktu, satu persatu kamipun meninggalkan rumah, membina rumah tangga masing-masing. Hanya aku dan si bungsu yang merantau jauh ke Yogyakarta. Sementara adik-adikku yang lainnya, tetap di kota Duri, tempat kami dilahirkan dan dibesarkan. Hanya saja, mereka sudah berumah masing-masing, dan karena kesibukan pekerjaan, merekapun jarang berkumpul di rumah orangtua kami.
Mendengar kepulanganku ke Padang tempo hari, adik-adikku pun dengan gegap gempita memintaku untuk mampir ke Duri. Mereka bilang, ini sebuah pertemuan langka. Sebab, sangat jarang terjadi kami berdelapan bisa kumpul. Kebetulan pula, adik bungsuku yang ikut denganku kuliah di Jogja, lagi liburan. Sehingga, bila aku pulang ke Duri, berarti kami berdelapan komplit bisa bertemu.
Maka, dengan motivasi itulah akupun memaksakan diri untuk pulang ke Duri, meski terbayang di depan mata perjalanan yang akan panjang setelah itu. Sebab, aku berencana akan meneruskan ke Curup-Bengkulu, tempatku bekerja.Tapi, rasa rindu yang menggebu membuatku mampu mengalahkan semua itu.
Walhasil, akupun berada di Duri, di tengah-tengah mereka. Dan, benar sekali, aku merasakan bahwa aku sudah lama kehilangan suasana berkumpul seperti itu. Aku rindu dengan pertengkaran masa kecil kami, rindu dengan omelan Mama kami, dan rindu akan segala sesuatu tentang rumah kami. Kepulanganku kali ini, benar-benar terasa nikmat bagiku.
Inilah gambar-gambarku bersama mereka…
Aku bersama empat orang adikku… Oh no, baru kusadari kalau aku paling pendek di antara mereka…
Adik perempuanku semata wayang…


Kiri: adikku yang ke-7, sang pembalap… Kanan: adikku yang ke-2, persis di bawahku, sangar ya wajahnya..? ya iyalah, dia kan bos sekuritih… hehehe…
Tak terperi rasanya bahagiaku bisa bertemu mereka kembali. Baru kusadari, ternyata aku sangat menyayangi mereka. Kami tertawa habis setiap kali mengingat kenakalan masa kecil kami… Thanks all of my brothers and sister, I lop yu pull…
Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada www.hardivizon.com
Entry Filed under: keluarga. Tag: adik, duri, jogja, keluarga.
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)
1.
exort | Oktober 21, 2009 at 1:28 am
wahh…mas kalau dirmh saya, yg kecil yang ahrus ngalah, krn saya yg paling kecil jdnya ngaallllaaaaahhh mulu
2.
dewifatma | Oktober 21, 2009 at 5:40 pm
Saya ngebayangin repotnya Mama Uda Vizon kalau ke 7 jagoannya berantem ya..hahaha…
Trus yang cewek satu-satunya pasti sangat manja. Yang cewek bungsu ya, Da?
3.
yessymuchtar | Oktober 22, 2009 at 10:26 am
Huwaaaaaaa..seneng bisa komennnnnnnnnnnnn
Uda, adikknya ganteng-ganteng!!! Coba tolong di kenalin ke temen-temenku yang masih single itu yaaaa!!! hihihihi
By the way,
Namanya adik, mau badung, mau baik…tetep aja di kangenin. Kemarin itu Reza sempet tanya…
“Kak, kalo nanti gue jauh…lo kangen gue gak ya?”
Simple question….
Tapi sumpah ! Yessy terharu dia ngomong seperti ituuuuu…..Apalagi yessy cuam berdua sama Reza, masak gak kangen….ya kangenlahhhh..
Kangen nyela, maksudnya
4.
masmpep | Oktober 22, 2009 at 11:22 am
sip mas. memang rumah pangkal kehidupan. termasuk di dalamnya anggota keluarga. lebih sayhdu bila menjadi perantau. direkatkan oleh kerinduan, disatukan momentum lebaran, dipertemukan di rumah, ditumpahkan di meja makan beserta hidangan bersahaja.
salam blogger,
masmpep.wordpress.com
5.
tuanhendro | Oktober 23, 2009 at 7:29 pm
mantap mah da…. ambo anak suluang pulo tapi alun..sajauah pengalamn uda lai..tapi lah taraso bn kn namonyo taragak ka adiak2….
salam kenal da..
di jogja kuliah dima da? ambo di ELINS ugm ‘06
regards
6.
Abenk guevara | Oktober 24, 2009 at 4:31 am
assalammualaikum uda. alah lamo ndak bakunjuang. Sehat uda? semoga berkenag kembali melongok http://pincurantujuah.wordpress.com ….