surau pusaka

Masjid Pusaka Gontor
Di Pondok Modern Gontor, ada sebuah masjid tua bernama Masjid Pusaka. Masjid yang terletak di tengah-tengah komplek pesantren itu merupakan salah satu gedung tua yang tersisa. Ia adalah masjid yang mengiringi sejarah pesantren itu sendiri.
Dulu, ketika jumlah santri masih dapat dihitung dengan jari, segala kegiatan dipusatkan di masjid ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah santri meningkat. Dari yang jumlahnya hanya puluhan, menjadi ribuan. Maka, diperlukan sebuah masjid yang jauh lebih besar, agar dapat menampung seluruh santri dengan bermacam kegiatan.
Dengan alasan tersebut, akhirnya berdirilah dengan megah sebuah masjid besar yang bernama Masjid Jami. Banyak kegiatan yang dilakukan di masjid tersebut. Tidak hanya kegiatan ibadah, tapi juga kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Namun, sungguhpun begitu, Masjid Pusaka tetap tidak dilupakan. Ia sama sekali tidak dirubuhkan. Bahkan setiap tahun diadakan peremajaan, tanpa meninggalkan bentuk aslinya. Meski fungsinya sebagai tempat ibadah sudah jarang digunakan, tapi berbagai kegiatan masih sering diselenggarakan di sana.
Suatu saat, Pak Kyai pernah mengatakan, bahwa jejak sejarah seseorang harus selalu diabadikan, entah dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk peninggalan fisik. Begitu juga dengan Gontor. Masjid Pusaka adalah saksi sejarah perjalanan pesantren itu. Agar spirit perjuangan para pendiri dulu tetap ada, maka masjid kecil itu harus tetap utuh, sehingga bisa selalu mengingatkan generasi selanjutnya akan tujuan berdirinya pesantren tersebut.
Begitu juga dengan “surau”-ku ini.
Blog yang kuberi nama “Surau Inyiak” ini pada awalnya adalah sebuah wahana ekspresi yang tidak serius. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai merasakan manfaat besar dari keberadaan blog. Banyak ilmu yang kuraup, banyak pengalaman yang kuteguk, dan tentunya banyak sahabat yang kuperoleh. Aku benar-benar menikmatinya, dan terlalu sayang untuk ditinggalkan. Oleh karenanya, aku mulai menganggap bahwa blog perlu diurus secara serius.
Sebagai wujud keseriusanku, maka pada hari ini, 11 Juli 2009, bertepatan dengan bertambahnya bilangan usiaku, aku luncurkan “surau”ku yang baru. Motivasiku mendirikan “surau” yang baru itu hampir mirip dengan pendirian Masjid Jami di Pondok Modern Gontor, yakni memberikan ruang yang lebih luas bagi berbagai kegiatan. Dan sama juga seperti Masjid Pusaka di Gontor itu, surauku yang ini, akan tetap ku fungsikan, meski sesekali. Aku tidak ingin menghapusnya, karena ia adalah bagian dari sejarahku di dunia perblogan. Ini adalah Surau Pusaka-ku…
Sekarang, aku undang semua sahabat untuk datang ke surauku yang baru di:
Kutunggu Anda semua di sana…
18 comments Juli 11, 2009
hiatus
Sahabat…
Dengan semakin meningkatnya tanggung jawab dan bertambahnya kebutuhan hidup, maka perlu membenahi diri dan fokus.
Saat ini aku sedang membenahi kegiatanku di jagat maya, agar bisa lebih efektif dan berdayaguna. Demi kelancaran itu semua, mulai hari ini aku menyatakan diri hiatus untuk sementara. Tidak lama!
Insya Allah aku akan kembali pada hari Sabtu, 11 Juli 2009 yang akan datang. Aku sangat menghargai dan menikmati persahabatan kita yang terjalin melalui blog ini.
Semoga kehangatan itu akan terus terjalin. Kutunggu kehadiran sahabat semua kembali pada 11 Juli 2009. Terima kasih
Aku Pasti Kembali – Pasto
Waktu tlah tiba
Aku kan meninggalkan
Tinggalkan kamu
‘tuk sementara
Kau dekap aku
Kau bilang jangan pergi
Tapi ku hanya dapat berkata
Aku hanya pergi ’tuk sementara
Bukan ’tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti ’kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali…
![]()
Juli 5, 2009
bungsu
Sebagai anak sulung, tentu aku tidak pernah akan bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi anak bungsu. Tapi, dari mengamati perilaku adik bungsuku dan beberapa anak bungsu lainnya, aku sedikit dapat menyimpulkan bahwa secara umum anak bungsu lebih manja, lebih lucu dan lebih sehat. Hal itu bisa jadi karena posisinya sebagai anak terakhir, membuatnya menjadi pusat perhatian. Perhatian akan semakin besar baginya, bila jarak antara dirinya dan kakaknya terpaut cukup jauh.
Menurut pandangan para ahli, pada umumnya anak bungsu itu:
- Lebih santai dan tidak terlalu merasa bertanggung jawab dan seringkali tidak berbelit-belit dan tidak rapi, tapi baik hati dan lucu, bahkan seringkali sangat romantis atau senang membuat orang tertawa
- Dibandingkan saudaranya, bersifat fleksibel, egois tapi juga pasif, mudah menyerah, tidak mandiri dan ambil jarak. (lagi…)
11 comments Juli 4, 2009
ssstt.. ada gosip!
Secara kebetulan, tema khutbah Jum’at yang barusan aku ikuti di masjid, sama persis dengan kegelisahan hatiku belakangan ini. Kegelisahan itu berkaitan dengan semakin maraknya acara-acara gosip di televisi, dan diperparah pula dengan bertambahnya varian baru yang disebut sebagai reality show. Kedua jenis acara ini temanya nyaris sama, yakni membicarakan orang lain dan berusaha mengungkap aibnya.
Tema yang kumaksud adalah ghibah, yakni suatu tindakan menyebarkan atau menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang—biasanya sesuatu yang jelek dan rahasia—kepada orang lain dengan berbagai tujuan, dan biasanya kita kenal dengan istilah gosip. (lagi…)
12 comments Juli 3, 2009
alif kecil
Anak kecil umur tiga tahunan itu masih ada di situ; di perempatan lampu merah KFC komplek kampus Universitas Gadja Mada (UGM). Masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu; berjalan di antara kendaraan yang berhenti, tanpa sedikitpun rasa takut, menengadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti. Ya, dia masih mengemis.
Ketika kami beradu pandang, aku masih melihat sorot mata yang tajam, masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu itu. Sorot tajam matanya itu menunjukkan ketegarannya menjalani hidup seperti itu. Dan masih seperti beberapa bulan yang lalu itu juga, aku tetap tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap iba kepadanya. Aku hanya bisa berontak di dalam hati melihat ketidakadilan itu. Aku hanya bisa diam, diam dan diam… (lagi…)
12 comments Juli 1, 2009
king

Satu lagi film yang akan menggugah semangat juang meraih cita-cita dan nasionalisme ditayangkan pada masa liburan sekolah kali ini. Judulnya “King”, terambil dari nama seorang pebulutangkis legendaries Indonesia, Liem Swie King. Menurut Ari Sihasale, sang sutradara, film ini memang terinspirasi dari kisah hidup Liem dalam buku biografinya “Panggil Aku King”. (lagi…)
16 comments Juni 25, 2009
mandiri
Kemandirian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap anak. Dengan kemandirian, ia akan mampu melakukan banyak hal, ia akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa sedikitpun bergantung pada orang lain, terutama orangtuanya.
Kemandirian erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Kepercayaan diri ini tentunya ditumbuhkan sejak dini. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri ini. Di antaranya dengan memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi tanpa intervensi. Orangtua hendaknya memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk melakukan apa yang diingininya. Namun tetap dengan prinsip save, secure and trust.
Kemandirian juga bisa dibentuk dengan pembiasaan. Misalnya pembiasaan makan sendiri, pakai baju sendiri, dan lain sebagainya. Orangtua sering tidak sabar ketika, misalnya, melihat anaknya berusaha mengikat tali sepatu sendiri. Intervensi sering terjadi di sini. Dan cara teraman yang sering kita lakukan adalah dengan membelikan sepatu yang tidak bertali. Alasannya, biar cepat dan praktis. Padahal, tanpa kita sadari perbuatan itu telah membuat anak tidak belajar sama sekali tentang sebuah tantangan. (lagi…)
14 comments Juni 24, 2009
padusi
Sebagai masyarakat dengan prinsip matrilineal, membuat padusi (perempuan) dalam adat Minangkabau memegang peranan penting dan mulia. Prinsipnya–mengambil dari hadis Nabi Muhammad–posisi padusi di adat Minangkabau adalah bagaikan tulang rusuk bagi lelaki. Ia berada di sisinya, bukan di kepala, dan bukan pula di kaki.
Karena pentingnya peranan padusi tersebut, maka seluruh harta pusaka yang kebanyakan berupa tanah dan rumah, diberikan kepada mereka. Lelaki tidak memililki hak waris atas pusaka tersebut. Lelaki diharuskan mencari peruntungannya sendiri. Tidak boleh “bersembunyi” di balik harta orangtua. (lagi…)
26 comments Juni 20, 2009
garuda di dadaku
Setelah “Laskar Pelangi”, film”Garuda Di Dadaku” (GDD) patut dijadikan tontonan keluarga Indonesia. Meski film ini sederhana, tapi makna yang ditinggalkannya tidaklah sederhana. Makna yang mana tidak kutemukan dalam film “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB), film yang digadang-gadang sebagai film terdahsyat tahun ini, dengan biaya yang sangat fantastis, sama sekali tidak memiliki visualitas apapun di benakku setelah menontonnya. GDD memberikan banyak pembelajaran dan hikmah buat kita, terutama soal kerja keras untuk mencapai tujuan dan nasionalisme. (lagi…)
22 comments Juni 19, 2009
ayah
Pak Ponijo terkesiap ketika kusodorkan selembar limapuluhribuan ke tangannya. Matanya seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
“Wah, ndak ada yang kecil Pak? Saya ndak ada kembalian”
“Ndak perlu dikembalikan Pak. Ini untuk Bapak”
“Kebanyakan Pak”
“Ndak kok, sudah pas dengan kerjaan Bapak”
“Jangan Pak, separonya saja”
“Ndak, terima aja ini, udah rejeki Bapak”
Dengan sedikit memaksa, kumasukan lembaran itu ke saku bajunya. Pak Pon berusaha menolak. Tapi, aku tetap memaksa. Dengan penuh takzim dia haturkan terima kasih. Kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya yang gelap terbakar matahari.
“Terima kasih Pak”
“Sama-sama Pak Pon, besok kalau saya perlu antar barang lagi tak panggil ya”
“Iya, saya siap kapan saja, maturnuwun njih”
Pak Pon pun berlalu dari hadapanku dengan becaknya. Kulepas ia hingga masuk ke rumahnya yang terletak di depan rumahku. (lagi…)
24 comments Juni 16, 2009
"Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings"
(Konfusius)