istanoku…

Dengan hikmat kuikuti prosesi penghormatan terakhir almarhum M. Guntur, kamerawan SCTV yang gugur dalam tenggelamnya KMP Levina 1, lewat layar SCTV. Sekejap aku ikut larut dalam duka keluarga dan sahabatnya. Nyaris airmataku menetes, tapi kutahan, “Nanti dikira cengeng”, batinku. Padahal menurut para ahli, perasaan hati mesti diekspresikan, biar lepas dan melegakan. Tapi itulah diriku, yang masih saja terkurung dalam budaya absurd, “lak-laki tidak boleh menangis…” Ya… aku telah terhipnotis oleh budaya itu, alam bawah sadarku masih menguasaiku untuk menahan tangis, padahal otakku membolehkannya…

pagaruyung_terbakar.jpgSejenak kualihkan chanel ke RCTI, dan yang kuperoleh adalah berita soal terbakarnya Istano Pagaruyuang di Tanah Datar Sumatera Barat. Aku benar-benar terkejut menyaksikannya. Warisan nenek moyang urang awak, musnah sudah. Hilang sudah kebanggaan, kebahagiaan dan kenangan indah yang pernah terukir di sana..

Padahal aku telah berniat mau pulang dalam waktu dekat ini, dan mengunjung istano tersebut. Ada sesuatu yang ingin kupelajari di sana, berkaitan dengan budaya leluhurku yang sampai saat ini masih sulit untuk kupahami. Tapi… apa mau dikata, istano telah jadi abu….

Advertisements

2 thoughts on “istanoku…

  1. “kullu man alaiha faan”

    Oiya, si Taufik Hulaimi , kemaren saya telpon ke HP nya. Aduh Hp ku ketinggalan lagi… ntar deh kukasih nomornya.
    Dia sdh S3 di Sudan, kemaren pingin gabung ke milis Classic, enggak tau caranya. Atau coba,,,hub encek )Muhtar Yakub,,ajak gabung sekalian., Pak Moderator..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s