Liburan Lebaran di Monjali

 lebaran-di-monjali-10psd.jpg

Seharusnya, lebaran adalah saat yang tepat buat berkunjung ke rumah sanak saudara dan teman-teman. Tapi, hal tersebut tidak dapat kulakukan sepenuhnya saat ini. Karena keberadaanku di perantauan dan tidak memiliki sanak keluarga, maka silaturrahmi dengan mereka cukup lewat telepon dan sms. Hebat juga teknologi yang satu ini. Meski tidak bertatap muka, silaturrahmi tetap dapat dilakukan dan esensi bermaafanpun dapat terjadi. Aku merasakannya!

Karena tidak ada yang bakal dikunjungi, maka kuputuskan untuk mengajak keluargaku jalan-jalan saja. Setelah berembug, akhirnya kami memutuskan untuk berwisata ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) dan Kaliurang. Maunya sih ke tempat yang lebih seru dan jauh, tapi karena anggaran terbatas, pilihannya cukup dalam kota Jogjakarta saja… 🙂

Hari pertama, Jum’at 12/10/07, kami berwisata ke Monjali. Kami berangkat setelah shalat Jum’at.

Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.

Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.

Kebetulan saat ini sedang ada even special liburan dengan tajuk karnaval keluarga. Ada banyak permainan seru, seperti jetcoster, balon udara, flyingfox, dan berbagai permainan seru lainnya. Kami sekeluarga larut dalam kegembiraan. Senang rasanya, melihat anak-anak tertawa lepas bahagia.

Afif, putra pertamaku, bersama adik bungsuku Evan, mencoba keberanian mereka melayang menggunakan flyingfox. Awalnya sih, agak takut-takut, tapi begitu dicoba, kayaknya mereka ketagihan.

Lucunya, istriku, dia ingin sekali merasakan naik balon udara. Ingin menyaksikan Jogja dari ketinggian, gitu katanya. Dengan penuh percaya diri, dia mengajakku beli tiket dan ikutan antri untuk naik balon udara besar tersebut. Sembari menunggu dalam antrian, dia menyaksikan bagaimana cara kerja balon udara itu. Ternyata, angin sore itu bertiup lumayan kencang. Balon udara besar itu, meski sudah diikat di keempat sisinya, tetap saja melayang-layang kian kemari dimainkan angin. Hal ini menciutkan nyali istriku. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan naik balon udara itu, takut katanya… hihihi….

Setelah puas menikmati aneka permainan dan suasana malam di arena monumen tersebut, kamipun pulang. Di perjalanan, masing-masing larut dalam keheningan, larut dengan kesan masing-masing di hatinya. Tapi, aku kurang yakin, kalau anak-anakku larut dalam kesan mendalam, paling-paling mereka kecapean. Buktinya, semuanya ketiduran sepanjang perjalanan…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s