Syawalan; bukti Pluralisme

Satu lagi tradisi masyarakat Jogja yang aku suka adalah syawalan. Yakni, sebuah kegiatan dimana seluruh warga kampung, dari yang paling muda sampai yang paling tua, berkumpul di suatu tempat guna saling memaafkan dengan cara saling bersalaman. Kegiatan ini dilaksanakan tidak berapa lama setelah bubaran dari melaksanakan shalat ied di lapangan.

syawalan.jpg

Kali ini, di kampungku, syawalan diadakan di halaman salah satu warga yang cukup luas. Setelah seluruh warga berkumpul, seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan dalam bahasa Jawa. Sejujurnya, aku tidak mengerti apa yang disampaikannya, tapi inti yang dibicarakannya aku bisa tangkap, bahwa idul fitri adalah momen yang tepat untuk kembali menyambung tali silaturrahmi dan melebur semua dosa akibat tali silaturrahmi yang terputus.

Acara ditutup dengan bersalam-salaman. Dengan berbaris bersaf, satu persatu warga saling bersalaman, sambung menyambung. Cukup seru dan mengharukan. Semua lebur jadi satu. Tidak ada batasan antara tua dan muda, kaya dan miskin. Semua benar-benar cair. Aura keikhlasan sangat terasa disini. Ternyata salaman adalah terapi yang sangat efektif untuk menghapus hasad dan dengki. Nabi Muhammad berkata: “Bersalamanlah, akan hilang kedengkian dari dirimu”. Syawalan ini membuktikannya.

Ada satu hal yang menarik bagiku dari kegiatan ini. Ternyata, yang hadir tidak hanya warga yang beragama Islam saja. Para tetangga kami yang non muslim pun ikut berbaur dalam kegembiraan tersebut, semuanya… Luar biasa! Rupanya, toleransi antara umat beragama sudah lama ada dalam masyarakat kita. Mereka bukanlah orang-orang yang mengerti soal pluralisme, multikulturalisme atau apapun istilahnya. Mereka melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa sesama manusia harus saling memahami dan menghormati. Itu terlihat dengan jelas dari ekspresi keikhlasan mereka saling berjabat tangan erat, bahkan berpelukan… 🙂

Aku curiga, jangan-jangan pembahasan berkepanjangan soal pluralisme hanyalah wacana mubazir di tingkat akademisi dan politisi. Karena, fakta di masyarakat awam, paling tidak di kampungku, keberagaman agama bukanlah persoalan krusial bagi mereka. Dan itu sangat terlihat dengan jelas dalam keseharian mereka. Bahkan, tidak sedikit keluarga harmonis yang terdiri dari anggota dengan agama yang berbeda… Entahlah!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s