FTV Natal: Sebuah Penantian

PENASARAN… Itulah motivasi utamaku buat menonton film televisi ini. Gara-garanya, beberapa minggu sebelum film ini diputar, telah beredar sms yang mengingatkan umat Islam untuk tidak menontonnya. Ditambah lagi, di berbagai mailing list, juga heboh didiskusikan. Bahkan, guru anakku pun memberi peringatan yang sama kepada murid-muridnya. Benar-benar bikin penasaran…

Akhirnya, dengan penuh rasa penasaran, aku dan istri menyempatkan buat menonton sinema elektronik itu. Dan ternyata, kami sungguh-sungguh kecewa. Ceritanya tidak sedahsyat beritanya. Tidak ada hipnotisme, tidak ada pemurtadan dan tidak ada yang aneh. Ftv ini tidak lebih dari sinetron biasa. Tidak ada yang istimewa.

Film ini hanya menceritakan seorang anak perempuan yang ingin seluruh keluarganya berkumpul di hari pernikahannya. Sang kakak yang sudah menghidupi keluarga tersebut semenjak ditinggal pergi oleh sang ayah, menolak kehadiran sang ayah kembali, meski sang ayah telah menyesali segala kesalahannya. Dan dapat ditebak, diakhir cerita semuanya berakhir bahagia. Tepat di hari pernikahan sang adik, sang ayah dengan tertatih-tatih mengantarnya ke altar. Ketika sang ayah terjatuh, tiba-tiba sang kakak datang membantu dan bersama-sama mereka berjalan ke altar.

Dari awal hingga akhir, aku berusaha mencari celah di mana letak hipnotismenya. Sekali lagi aku kecewa; aku tidak menemukannya..!

Di sela-sela kami menonton, tiba-tiba putra sulungku, Afif, masuk rumah untuk minum. Sambil memagang gelas minumannya, dia bertanya kepadaku: “Pa, apa artinya kalimat astaghfirullah?” Kukira dia menkroscek jawaban EHBnya tadi, maka kujawab dengan serius: “Aku mohon ampun kepada Allah”. Lantas, dengan ekspresi polos, dia berkata: “Alhamdulillah, Papa masih Islam…”, dan diapun berlalu, buat melanjutkan acara bermainnya tadi. Seketika meledaklah tawa kami, ha ha ha… aku dikerjai anak sendiri..!!

Isu hipnotisme memang cukup ampuh untuk “mengiklankan” film ini secara gratis. Salut buat kreatifitas “pengiklan” itu. Cukup mengispirasi…. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “FTV Natal: Sebuah Penantian

  1. Aku juga nonton sekejap. Rasanya memang gak ada apa-apa. Lebih seru nonton The Nanny, itu tuh reality show yang mengisahkan kiprah seorang Nanny dalam merevolusi sebuah keluarga yang anak2nya bandel nggak ketulungan. Kayaknya orangtua mending nonton acara ini deh di Metro jam 16.00-17.00. Kok jadi promosi gratis bagi Metro ya? Tapi kalau disuruh nonton biasanya malah ogah ya?

  2. He…he…ini mah hal biasa dalam bisnis Bro…badnews is a good news. Pesan yang dikirim berantai dari SMS hingga milis-milis akan menimbulkan “rasa ingin tahu” untuk menontonnya.

    Terlepas dari ada tidaknya pengaruh dari menonton pilem ginian, ane memang gak bisa nonton pilem ini. Pertama memang gak suka nonton sinetron Indonesia ntah namanya FTV atau tele-tele yg lain (dikampung ane tele ini udah sedikit miring nih ..he..he). Kedua memang channel TV yang nyiarin juga gak ke detek sama parabola di rumah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s