Pak Harto Wafat, Bantul “Bergoyang”

Sehabis Maghrib menjelang Isya tadi malam (27/01/08), kami bersantai-santai di ruang keluarga. Afif dan Satira sibuk dengan PR sekolah mereka, Nazhif bermain denganku, sementara Fatih masih “menggelayut” dengan Mamanya.

Tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan istriku; “Gempa!”

Aku yang tidak merasakan apa-apa, bengong saja. Istri dan anak-anakku berhamburan keluar rumah. Akupun menyusul mereka. Dan ternyata, para tetangga juga sudah berada diluar rumah mereka masing-masing. Kulihat dari raut wajah istri dan anak-anakku rona ketakutan. Rupanya, trauma gempa Jogja tempo hari masih tersisa dalam diri mereka. Aku maklumi.

Yang menarik kemudian adalah, obrolan para tetanggaku soal gempa yang tiba-tiba itu dan beberapa fenomena alam sejak hari Jum’at (25/02/08) yang lalu, yakni angin kencang, hujan deras yang disertai kilat-petir dan gempa malam itu. Pembicaraan itupun akhirnya mengerucut kepada wafatnya Pak Harto. Menurut mereka, ini semua pasti ada kaitannya. Ini adalah hal yang “tidak biasa”.

Dan ternyata, wacana semacam ini tidak hanya menjadi pembicaraan di tetanggaku. Beberapa media dan blog juga menguak fenomena ini, sebagai contoh coba simak di: Detik.com atau blog The Phenomena.

Penafsiran fenomena alam ini bukanlah hal yang baru dalam kerangka mitologi masyarakat Jawa. Kejadian-kejadian besar sebelum ini, seperti meletusnya Gunung Merapi dan Gempa Jogja 27 Mei 2006 silam, sangat sarat dengan tafsiran-tafsiran semacam ini.

Terhadap wacana ini, menarik juga untuk menyimak asumsi dasar yang dibangun Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam penelitiannya tentang Politik Tafsir Bencana Merapi, beberapa waktu silam:

Pertama, manusia dipandang sebagai animal symbolicum, atau makhluk yang memiliki kemamuan untuk menggunakan, menciptakan, dan mengembangkan aneka ragam simbol dalam kehidupannya. Simbol atau lambang di sini tidak diartikan sebagai “segala sesuatu yang bermakna”, tetapi sebagai segala sesuatu yang dimaknai, karena manusia adalah makhluk yang mampu memberikan makna terhadap lingkungannya, terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Jadi, dalam kehidupan manusia segala sesuatu menjadi bersifat simbolis, lambangi.

Kedua, perangkat pemaknaan dan hasil pemaknaan ini dalam kurun waktu tertentu dapat ditanggapi sebagai sesuatu yang relatif tetap. Anggapan ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia membutuhkan suatu kerangka acun yang agak tetap untuk dapat menafsirkan dan memahami lingkungannya. Tanpa perangkat semacam ini, manusia tidak akan mampu memberikan tafsir yang dapat dijadikan acuan bersama dalam proses komunikasi, dan tanpa proses komunikasi yang berpedoman pada suatu kerangka acuan bersama tidak akan lahir komunitas masyarakat, ataupun bentuk-bentuk kehidupan sosial lainnya.

Ketiga, keberadaan seseorang dalam suatu golongan atau kelompok sosial, atau posisi seseorang dalam masyarakat sangat besar peranannya dalam membentuk persepsi dan pemahaman orang tersebut atas dunia sekitarnya. Oleh karena itu, persepsi atau interpretasi seseorang atas suatu peristiwa, lingkungan, atau pun yanglain, akan berbeda dengan tafsir individu yang berasal dari kelompok social, atau posisi sosial yang berbeda.

Keempat, perilaku manusia terhadap dunia sekitarnya sedikit banyak dipengaruhi oleh pemahaman atau pemaknaannya atas dunai tersebut. Di lain pihak, perilaku ini juga bersifat simbolik, dimaknai, baik oleh pelakunya sendiri maupun orang lain. Pemaknaan-pemaknaan yang diberikan pada berbagai perilaku simbolik ini yang kemudian dilontarkan pada pihak lain untuk diperbincangkan dan diuji kebenarannya, merupakan dasar bagi berlangsungnya proses interaksi dan hubungan-hubungan sosial lainnya dalam kehidupan manusia.

Kelima, sebagai fenomena empiris, perilaku dan tindakan manusia merupakan fenomena yang hanya terwujud sekali, dan setelah itu tidak ada lagi. Untuk dapat memperbincangkannya, manusia perlu mempertahankan eksistensi fenomena tersebut. Oleh karenanya fenomena ini perlu “dibekukan” agar dapat disimpan. Ini dapat dilakukan melalui bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi, perbincangan dan tekstualisasi pada dasarnya adalah upaya-upaya manusia untuk “menangkap” dan “membekukan” segala sesuatu “yang mengalir” di sekelilingnya. Ketika pembekuan ini telah terjadi, fenomena sosial budaya yang “mengalir” tersebut berubah menjadi teks-teks sosial budaya yang dapat dianalisis, dipahami dan ditafsir kembali.

Pertanyaannya: “Bagaimana sikap kita terhadap tafsir sosial semacam itu?”

6 thoughts on “Pak Harto Wafat, Bantul “Bergoyang”

  1. Sebagai masyarakat yang beradab sudah sepatutnya kita mengucapkan selamat jalan kepada Soeharto, tapi sambil juga mengenang saudara-saudara kita yang malang, yang terbunuh akibat kekejaman rezim Soeharto.

    Bagi yang berminat, aku menulis tiga artikel terkait dengan topik ini, termasuk mempertanyakan pidato belasungkawa Presien SBY yang secara implisit menyebut Soeharto sebagai pahlawan bangsa. Baca disini :
    http://ayomerdeka.wordpress.com/

  2. sepertinya memang Allah sengaja memberikan kita sebuah ujian tentang keyakinan…………
    apa bener bener ada hubungan antara kematian suharto dengan gempa, hujan besar setelah kematiannya, kilat yang menyambar ketika liang lahat di gali………..memang dia itu siapa, bukannya saya tidak menghormati beliau. tapi yang jadi masalah kadang kala kita selalu mempercayai hal tahayul seperti itu, sedangkan Allah sedang menguji keimanan kita…………

  3. ayat-ayat tuhan tidak hanya tertulis dalam kitab-kitab suci, tapi juga terbentang luas di alam raya ini. fenomena alam memang patut untuk dipertimbangkan sebagai sebuah pertanda, tapi bukan untuk diyakini sepenuhnya. berhati-hati adalah sebuah keniscayaan, menjadi takut adalah sebuah kenistaan…🙂

  4. apapun namanya Jenderal kebanyakan bintang itu sudah menyalahi “pakem” bagiku semua kata tak mewakili…. .

    semuanya masih harus diganti dengan yang lebih galak
    juga boleh misalnya : “brekedet doljeduk pyar hambyar”

    Kaum kejawen (baca tempo) pun sudah memintanya mundur sejak 1982 karena wangsit para leluhur jawa mengatakan pasca kepemimpinan periode itu akan menjadi titik balik dari zaman keemasan suharto menjadi jaman
    kalabendu anak cucu dan kerabat serta kroninya terbentuik
    menjadi mafioso ekonomi dan politik yang “nggragas”

    keladuk kurang dedugo … maka tiga pandemen kejawen
    yang tersisa “romo diyat, romo merto…dkk mengirimkan sasmito agar suharto menerima lengser keprabon jauhh di tahun 1982 agar zaman keemasanya mengabadikan jasanya dan bukan sebalinya dikubur malapetaka kesalahan terus menerus….

    benar juga periode kekjaman dimulai dari DOM hingga
    warsidi semakin berdarah ….. inilah “buto mati ngadeg” “ngunduh wohing pakarti” (raksasa mati berdiri memanen akibat perilaku)

    suwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s