Ekspresi “Cinta” Pemkot Bukittinggi: “No Valentine-Day!”

Aku sangat surprise dengan pemberitaan seputar pelarangan perayaan Valentine Day oleh Pemkot Bukittinggi dalam beberapa hari ini. Patut kuacungkan dua jempol buat mereka. Jujur, ini sebuah langkah berani yang dilakukan oleh sebuah Pemerintah Daerah yang memiliki aset cukup besar dalam bidang pariwisata.

Alasannya cukup logis; tidak sesuai dengan budaya setempat dan dekat dengan maksiat.

Coba simak penuturan sang Wakil Walikota: “…..Jadi biarlah Bukittinggi ini sepi tanpa wisatawan dari pada banyak maksiat”.

Luar biasa! Sebuah sikap tegas yang patut ditiru. Mudah-mudahan ketegasan itu tidak hanya terhadap perayaan Valentine Day ini saja, tapi juga terhadap semua kegiatan pariwisata yang “membunuh” nilai luhur budaya setempat.

Sebagai orang Minang, aku cukup bangga dengan keputusan ini. Aku optimis, bila sikap pemerintah terus konsisten seperti ini, nilai-nilai luhur budaya kita akan tetap terus terjaga, meski gempuran budaya pop barat terus menghantam. Sebagai “tuan rumah” kita memang harus menghormati setiap tamu yang datang, tapi bukan berarti sang tamu boleh seenaknya di rumah kita. Ada jati diri kita yang juga harus dihormati sang tamu.

Valentine Day adalah hari untuk mengekspresikan rasa cinta seseorang kepada orang-orang yang dicintainya. Pemkot Bukittinggi telah mengekspresikan “cintanya” kepada rakyatnya lewat pelarangan ini. Salut…!

Advertisements

5 thoughts on “Ekspresi “Cinta” Pemkot Bukittinggi: “No Valentine-Day!”

  1. waaahh…saya bahagia liat berita ini.. mudah2an bukan cuma bukittinggi aja..klo bisa SEMUA juga… Valentine yang jd lambang cinta dan kasih sayang itu hanya omong kosong belak..Valentine sering kali dijadikan kedok kemaksiatan..

  2. Assalamualikum… Numpang nimbrung boss.. sebelumnya saya mohon maaf kalo sedikit lancang. Kalo mendengar atau menbaca tulisan yang bernada cekal mencekal,palang memalang , pemaksaan kehendak klolonialisme dan isme-isme sejenisnya, saya menjadi sedih kok masih ada yang berfikiran sempit diera globalisasi ini.
    Saya rasa semua sudah maklum bahwa sekarang ini kita sudah berpacu dalam pertualangan global.Segala sesuatu sudah berjalan secara penghidangan cepat and online lagi. Kalo kita masih berkutat dengan metode-metode konfensional atau istilah kerenya ” primitif ” kita akan ketinggalan jauh.. hari gini masih tidur..! mati aja sekalian.. “Punya gadis cantik ,bapaknya Bulldog bin Herder. susah lakunya tu.. kasihan kan boss..

  3. insyaAllah tidak ada kata terlambat buat berkomentar.
    tulisan ini membuatku bangga punya darah urang bukiktinggi (urang awak palasua ko mah, darah se nan dibanggakan. ibu ambo dari koto marapak agam, ayah alm. dari kayutanam). oke se tu kan, tuan?
    ____________________

    budaya kita adalah identitas kita, mari kita jaga bersama, kalau bukan kita yang menjaga budaya kita, siapa lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s