Tour de Jateng: Tersesat

Hari telah menjelang sore. Pesantren yang akan dituju di daerah Magelang masih tersisa 4. Target menyelesaikan kunjungan di Magelang sebelum Isya sepertinya tidak akan tercapai. Aku dan Rahmawan-pun terlibat dalam diskusi; apakah akan menginap di Magelang atau pulang ke Jogja.

Sambil berdiskusi, kami tetap mengarahkan pandangan ke sepanjang jalan di daerah Payaman Kabupaten Magelang tersebut. Karena kami akan menuju sebuah pesantren yang bernama Sirojul Mukhlasin. Setelah agak lama mencari, tiba-tiba mata kami tertumpu pada sebuah papan nama di pinggir jalan: “PESANTREN DAKWAH SIROJUL MUKHLASIN (PAYAMAN II)”.

Dengan penuh keyakinan, kamipun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh papan nama. Dari jalan raya Magelang-Semarang, kami belok kanan, memasuki jalan desa Grabag. Sejurus kemudian, ada tanda lagi yang menunjukkan kalau kami harus belok kanan. Kamipun mengikutinya. Jalan yang ditempuh mulai mengecil.

Setelah agak lama mencari, kamipun menemukan petunjuk arah lagi. Kami harus belok kiri. Jalan yang harus ditempuh berupa jalan tanah yang cukup keras dan bersih. Kiri kanan jalan dihiasi pagar tanaman yang cukup tinggi, melebihi tinggi mobil pick-up yang kami bawa, sehingga kami tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik pagar tersebut.

Hanya dalam hitungan menit, kamipun memasuki area pesantren. Sontak kami sangat terkejut dengan suasana di pesantren itu. Bayangan suasana pesantren modern sebagaimana layaknya pondok alumni Gontor lainnya, sangatlah jauh dari kondisi di tempat itu.

Penghuni pesantren itu semuanya mengenakan pakaian ala wali tempo dulu; peci yang dililit sorban, gamis dan sarung yang menggantung di atas mata kaki dan tak ketinggalan jenggot yang dibiarkan memanjang serta kumis yang dicukur habis.

Ketika memasuki area itu, para santri sedang belajar berkelompok (halaqah) di sebuah gedung berbentuk aula. Masing-masing kelompok belajar dengan semangat dan antusiasme tinggi. Karena masing-masing kelompok belajar sambil meneriakkan secara koor apa yang mereka baca, maka cukup sulit bagiku untuk menyimak apa yang sedang dipelajari. Tapi, paling tidak ada satu kalimat yang dapat kutangkap dengan jelas, yaitu kalimat ALLAHU AKBAR

Kehadiran kami cukup menyita perhatian mereka. Sepertinya semua mata tertuju pada kami. Areal pesantren itu memang tidak cukup luas. Mungkin sekitar 2000 meter. Sehingga, setiap kejadian apapun dapat dilihat dengan jelas oleh setiap penghuni di situ, termasuk keberadaan kami yang jelas berbeda sekali secara penampilan dengan mereka.

Akupun mencoba untuk tenang, meski di hati ini ada sedikit kekhawatiran. Khawatir kalau-kalau tempat ini adalah tempat penggemblengan para militan yang siap melakukan apa saja dan bahkan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa mereka, untuk membela keyakinan yang mereka miliki.

Singkat cerita, kamipun berhasil bertemu dengan pimpinan mereka. Setelah bercerita panjang lebar soal kedatangan kami, barulah kami mengerti kalau kami salah alamat. Pesantren yang kami tuju sebenarnya adalah pesantren yang satu lagi yang memang bernama sama. Yang kami tuju seharusnya adalah PP. Sirajul Mukhlasin sementara yang ini bernama Sirajul Mukhlasin Payaman II. Posisi pesantren yang seharusnya kami tuju tidaklah jauh dari situ.

Setelah beramah-tamah sebentar, kamipun pamit. Begitu lepas dari area pesantren itu, pak sopir kami langsung mengambil nafas dalam-dalam dan segera menghembuskannya dengan ekspresi lega. Sontak aku bertanya, “Lho, kenapa Pak?”. “Lega rasanya Mas, seperti baru keluar dari sarang penyamun!”, begitu pengakuan polosnya. “Memangnya apa yang ada dalam pikiran Bapak tadi?”, lanjutku. “Saya khawatir aja, takut dikeroyok kalau ada sikap kita yang salah, kan mereka mau aja nyerang siapa yang tidak mereka sukai”, akunya.

Aku dan Rahmawan hanya terdiam mendengar pengakuan polos dari Pak Sopir tersebut.

Betapa buruknya citra saudara-saudaraku yang berpakaian seperti itu. Toh belum tentu mereka seperti yang dipikirkan oleh Pak Sopir tadi itu. Tapi pikiran Pak Sopir itu tidak bisa disalahkan. Sebagai masyarakat awam, pencitraan buruk terhadap ikhwan dengan kostum begitu sudah sangat kuat dalam memorinya. Hal ini dapat kupahami, karena begitu banyaknya kejadian terorisme di dunia ini yang dilakukan oleh kelompok Islam garis keras yang biasanya berpakaian seperti mereka tadi. Ditambah lagi sikap anarkisme yang dilakukan oleh para pengusung jihad di negara ini.

Menurut pengakuan Kyai Anshori, pengasuh PP. Sirajul Mukhlasin yang seharusnya kami tuju, kegiatan di Payaman II itu tidak ada unsur politik sama sekali. Mereka murni mendalami agama (tafaqquh fiddin, dalam istilah mereka) untuk kemudian berdakwah dengan cara berkelana (jawlah) dari masjid ke masjid. Memang tidak sedikit kecurigaan dialamatkan kepada mereka sebagai gerakan militansi. Bahkan pihak intelejenpun sudah sering menyambangi mereka. Dan ternyata, kecurigaan itu sama sekali tidak terbukti.

Pak Kyai Anshori menyebutkan beberapa nama petinggi kepolisian dan pemerintahan di Magelang yang sering menghabiskan akhir pekan mereka dengan “nyantri” di situ. Aku jadi semakin penasaran. Semenarik apakah kajian di pesantren itu, sehingga para petinggi itupun mau nyantri di sana.

Jadi ingin mencoba “nyantri” akhir pekan di sana… Hayooo… siapa mau ikut…?

8 thoughts on “Tour de Jateng: Tersesat

  1. Gak masalah kalau jalannya yang tersesat asal bukan ajarannya. Halah…Cerita selanjutnya ditunggu, Bro.

    setelah mendapat penjelasan dari kyai anshori, saya yakin kalau ajaran yang mereka bawa adalah “mendamaikan”, insya Allah saya mau ngaji di sana, dirimu mau ikut….🙂

  2. ada untungnya kan? ayo ditunggu, siapa tahu jadi ‘orang besar’ alias buya kalau keluar (belajar) dari pesantren itu.

    insya Allah segala sesuatu yang kita lakukan ada “untungnya”, sebagaimana halnya tersesatnya kami ke payaman ini. setidaknya memberikan inspirasi baru buat saya, mudah2an juga buat bapak ya…🙂

  3. he…he…

    assalamu’alaikum
    shobahul khair…terima kasih atas link artikelnya yg ditambahkan di blog saya…payamann.wordpress…

    saudara, menarik apa yg saudara tuliskan…btw perlu diketahui saya orang asli payaman, jadi alhamdulillah saya amat mengenal mereka para santri kyai yg katanya ‘seram’….
    he..he..

    saudaraku, tak kenal maka tak sayang…sebenarnya saya maklum kalau orang yg belum mengenal seakan kaum santri adalah para ‘teroris’ yg suka main kasar, alhamdulillah semua tidak benar saudara,,,btw mereka para santri sudah banyak mempelejari ilmu adab, akhlaq, dakwah, dimana dalam berdakwah pun ada akhlaqnya, jadi bukan seperti saudara ‘amrozi’ cs….
    insyaAllah kalau saudara berkenan menuntut ilmu di pesantren payaman, para santri kyai akan menyambut dengan ramah…he…he…karena saya sendiri walau bukan santri tapi tapi saya juga sering mengaji di tempat pak kyai…

    mengenai pakaian wali…itu adalah sunnah aja, mengkuti kanjeng Nabi saw….jadi tidak ada hubungannya dengan kekerasan…
    jadi laa tahzan walaa takhaf akhii…insyaAllah saudara semua tidak akan di’gebuki’…
    marilah mengaji bersama kami menuntut ilmu agama….

    mohon maaf bila ada salah…

    wassalam…

    insya Allah saya tidak khawatir lagi untuk berkunjung ke payaman, bahkan saya ingin sekali “mengaji” di sana barang 2 atau 3 hari.
    soal atribut ala wali mereka, itu juga menjadi salah satu pemikiran saya, kenapa orang awam jadi memiliki citra demikian jeleknya terhadap orang berpakaian seperti itu? menurut saya, semua itu karena sikap beberapa ikhwan kita yang telah melakukan aksi anarkisme atas nama agama yang kebetulan berpakaian ala wali tersebut. sehingga citra negatif itu melekat terhadap pakaian seperti itu.
    padahal bila kita runut ke belakang, sejarah mencatat bahwa para pembela tanah air ini dulunya, sebut saja pangeran diponegoro sebagai contoh, juga beratribut seperti itu. dan dapat saya pastikan, di zaman itu, orang yang beratribut seperti ini sangat dihargai dan bahkan dimuliakan, sebagaimana halnya para wali.
    saya berdoa, mudah2an ikhwan kita di payaman dapat kembali mengangkat citra atribut wali itu menjadi positif sebagaimana para wali songo dulu telah melakukannya…

  4. surau inyiak takana kampuang ambo da…..

    salam kenal da
    ____________________

    mudah-mudahan surau ambo ko bisa manjadi paubek taragak, tarimo kasih alah singgah…🙂

  5. Pengelanaan yang membawa ke kebenaran, Insya Allah. Yang penting tersesat bukan untuk sesat he he … Salam.
    ___________________

    Untuk memahami sesuatu tidak selalu harus belajar dari “kebenaran”, tapi juga mesti dari “kesesatan”, hehe…🙂

  6. pencitraan ini sebenarnya hanya melihat sebagian kecil dari luasnya keindahan dalam islam. hanya karena FPI, Jamaah Islamiyah, Amrozi Cs, Al Qaedah. Itu tidak memperlihatkan islam secara keseluruhan.
    _____________________

    kata orang bijak: “budaya penguasa adalah budaya pemenang”. saat ini, yang paling sering muncul kepermukaan adalah islam garis keras. sehingga pencitraan islam dg kekerasan tidak dapat dihindari. maka, untuk “melawannya” kita mesti memunculkan islam dg kedamaian sebanyak-banyaknya, di mana saja…

  7. pondok itu bukan terkenal d indo saaja
    bahkan d seluru negara yang kenal usaha da,wah…
    tadak asing lagi bagi orang luar negri..
    ada beberapa santri luar negri di dalamnya malaysia,cambodia,brunei.filipina,franch,singapore,thailand..dll.
    bahkan emegration jakarta bagi tau paling banyak student foreigner ada dalam madrsa da’wah
    yaitu d temboro kerja sama dengan pp sirojul mukhlasin..
    ayo saudara silaturrahmi ke sana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s