Buku lagi, buku lagi…

“Pa, beliin Afif komik Conan 51, please….”, demikian rengek anak sulungku. Hampir tiap hari rengekan itu keluar dari mulut si Abang ini. Aku dan istri sampai capek mendengarnya. Sebenarnya bukan tidak mau membelikannya, tapi karena rute yang kulalui setiap hari berjauhan dengan toko buku Gramedia. Sehingga kalau mau ke sana harus benar-benar menyengajakan diri. Maka, setiap kali rengekannya itu pecah lagi, aku jawab, “Insya Allah, hari Minggu besok ya”.

Akhirnya, kemarin buku itu berhasil aku belikan. Bahagia sekali melihat ekspresinya ketika menerima buku itu. Dia meloncat kegirangan, seperti anak kecil mendapatkan permen, padahal dia kan sudah remaja… Duh… 🙂 Terbersit doa, semoga buku-buku itu akan memberi manfaat untuknya.

Melihat tingkah si Abang ini, aku jadi ingat masa kecil. Aku juga seperti dirinya; gila buku!

Dulu, di kota kecilku Duri (Riau), masih sangat sulit mendapatkan buku-buku dan majalah kegemaran. Ketika itu, aku suka sekali dengan buku-bukunya Enid Blyton, Hc Anderson dan majalah-majalah anak-anak seperti Bobo, Tomtom, si Kuncung, Kawanku, dll. Majalah-majalah itu sangat cepat kulahap begitu sampai di tangan. Aku bahkan tidak sabaran menunggu hari terbitnya majalah-majalah tersebut. Dua atau satu hari menjelang majalah itu terbit, aku sudah mengunjungi toko majalah langganan. Si Abang Majalah, begitu aku menyebut pemilik warung majalah itu dulu, sudah sangat hafal dengan kebiasaanku itu. Makanya, setiap kali aku sudah kelihatan tidak sabar menunggu keesokan hari, dia akan menawarkan beberapa komik atau novel terbaru. Dan, ini akan jadi “bencana” buat Bapakku. Sudah pasti aku akan merengek meminta dibelikan buku-buku tersebut. Kalimat yang muncul dari mulut para pegawai rumah makan beliau waktu itu adalah: “Buku lagi, buku lagi….” 🙂

Aku bersyukur, ternyata Bapak tidak perhitungan dengan permintaanku untuk dibelikan buku. Itu berlanjut sampai aku kuliah. Dan yang paling membuat terharu adalah ketika beliau berangkat haji bersama Ibu. Memang sudah menjadi kebiasaanku selalu menitipkan untuk dibelikan buku-buku kepada saudara-saudara yang berangkat haji. Aku minta mereka membelikan buku-buku teks berbahasa Arab yang sangat kubutuhkan dalam perkuliahanku di jurusan Tafsir Hadis.

Ketika giliran Bapak dan Ibu berangkat haji di tahun 1998, akupun menitipkan 6 judul buku. Nomor urut adalah menunjukkan prioritas. Bila buku di nomer pertama tidak ditemukan, maka buku di urutan kedua adalah prioritas berikutnya. Bila keenamnya tidak ditemukan, maka aku berpesan untuk tidak usah membelikan sama sekali.

Setelah beliau kembali ke tanah air, aku terkejut luar biasa. Betapa tidak, keenam judul buku yang dititipkan itu ternyata dibeli semua. Subhanallah! Aku benar-benar terharu, karena seluruhnya berjumlah 92 buah buku (kitab), karena masing-masing judul ada yang terdiri dari 10 jilid, 12 jilid dan bahkan ada yang 24 jilid. Tak terbayangkan betapa beratnya perjuangan beliau membeli buku-buku itu dan membawanya pulang ke tanah air.

Dan yang membuat lebih terharu adalah, ternyata beliau tidak membeli oleh-oleh apapun selain buku-buku itu. Aku jadi tidak enak pada adik-adik dan keluarga yang lain, sepertinya beliau hanya mementingkan aku saja. Tapi, ungkapan bijak dari beliau menjadi pengobatnya: “Kalau barang Papa belikan, dua atau tiga bulan akan rusak, tapi kalau buku Papa belikan, dia akan abadi dalam diri kalian”.

Alhamdulillah, ungkapan itu sampai saat ini senantiasa menjadi penyemangat. Sehingga akupun menularkannya kepada anak-anakku. Aku mungkin tidak akan bisa mewariskan harta yang banyak buat mereka, mudah-mudahan dengan buku dan ilmu mereka bisa hidup menjadi orang berguna kelak.

Aku sangat mendukung gerakan 1000 buku. Mudah-mudahan anda juga, silahkan kunjungi situsnya [disini]

Advertisements

5 thoughts on “Buku lagi, buku lagi…

  1. Detektif Conan memang membius mas. Aoyama Gosho memang piawai membuat cerita, gak heran kalau si Abang ngerengek-rengek mintak dibelikan, kita aja yang harus sabar hihi.. 🙂

    Etapi kalau Detektif Conan saya yg koleksi bukan anak saya (wong dia masih 10 bulan). Itu juga ngoleksinya udah lama sekali mas, sejak saya kelas 2 SMU kayaknya. Saya inget, Bulan Juni 1998 beli Detektif Conan No.1. Kalau sekarang dihitung berarti udah 10 taon lebih ketika saya beli Detektif Conan No. 1? Hihi..
    ____________________

    kalau saya pertama kali membelikannya tahun 2001, koleksinya nyaris lengkap, termasuk Naruto, dan komik jepang lainnya. barangkali dia bakal ngikutin langkah Bang Abe… 🙂

  2. wah, haru membaca kisah titipan buku itu.
    pastilah banyak perjuangannya membawa sekian jilid buku.
    tapi moga-moga tak percuma, karena seperti harapan beliau: ilmunya akan abadi di dalam diri pembacanya.

    hmm… si abang juga pasti suka karya-karya enyd blyton seperti ayahnya kan ya?
    apa masih ada ya sekarang?
    _____________________

    benar sekali, itulah “hadiah” terbesar yang pernah saya terima dari orangtua, semoga saya tidak mengecewakan…

    enid blyton adalah salah satu kegemaran si abang, meski bukunya udah butut… hehe… 🙂

  3. “Kalau barang Papa belikan, dua atau tiga bulan akan rusak, tapi kalau buku Papa belikan, dia akan abadi dalam diri kalian”.

    Betapa ayah yang bijaksana. Papaku juga demikian.
    Ahhh jadi kangen papa…. Mau mudik hiks.

    Salam kenal dan selamat menjalankan ibadah Puasa.
    saya akan segera meluncur ke 1000 buku.
    TFS
    ***EM***
    _____________________

    bersyukurlah bila kita memiliki orang tua yg bijaksana.
    semoga kita juga bisa menjadi orangtua yang bijak…
    salam kenal juga buat orang jepang… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s