Badindin; kambangkan budayo kito

Banyak ragamnyo
Budayo datang
Budayo kito
Kambangkan juo…

Itulah penggalan dari bait lagu pengiring tari Indang, yang juga sering disebut dengan tari badindin, asal Minangkabau (Sumatera Barat).

Sebetulnya, aku sudah cukup sering mendengarkan lagu ini. Tapi, entah kenapa, baru kali ini bait-bait lagu itu menjadi perhatianku.

Gara-garanya adalah dalam satu minggu kemarin, setiap sore, rumahku selalu ramai dengan bocah-bocah. Mereka sedang dilatih menarikan tari indang tersebut oleh istriku. Bocah-bocah itu adalah teman-teman putriku Satira. Mereka minta dilatih tarian tersebut buat tampil dalam acara pentas seni 17 agustusan di kampung kami, Kweni Rt. 03 Bantul.

Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Masa di kampung Jawa menampilkan tarian Minang? Whatever-lah, yang jelas aku lihat bocah-bocah itu berlatih dengan semangat. Istriku pun ikut-ikutan semangat. Muncul lagi deh hobi lamanya. Aku patut acungi jempol buat istriku, bakatnya buat “menaklukkan” anak-anak top banget. Hanya dalam beberapa saat, bocah-bocah centil itu dengan mudahnya manut dengan arahan istriku. Wajarlah, kalau di sekolahnya dia selalu dapat prediket guru favorit… 🙂

Kembali ke laptop syair lagu indang… Karena setiap hari aku mendengarkan lagu tersebut, akhirnya aku hampir hapal. Dan di antara syairnya, yang paling berkesan adalah syair yang di atas tadi.

Pesan itu sungguh luar biasa menurutku. Karena, budaya kita sedikit demi sedikit sudah mulai tergerus oleh budaya-budaya dari luar, terutama budaya barat. Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar generasi muda sekarang tidak memahami dengan baik budaya aslinya. Mereka lebih bangga menjadi “bule” ketimbang jadi “thole”.

Berita berikut ini patut untuk direnungi:

169 Bahasa Daerah Terancam Punah

KOMPAS, Senin, 11 Agustus 2008
Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang. selengkapnya klik [disini]

Melihat dari perkembangan bahasa anak muda sekarang, bisa dipastikan bahwa ancaman kepunahan bahasa daerah akan menjadi nyata. Ini perlu menjadi renungan. Contoh terdekat bagiku adalah anak-anakku sendiri. Tidak satupun dari mereka yang fasih berbahasa Minang. Padahal, setiap hari aku menggunakan bahasa tersebut bersama istriku. Tapi, aku tidak terlalu sedih-sedih amat. Ternyata, mereka sangat fasih berbahasa Jawa, terutama si Uni, putriku satu-satunya. Seringkali dia kujadikan penerjemah dadakan kalau ada kosakata Jawa yang aku tidak mengerti. Lucu juga ya… 🙂 Yah… setidaknya, anak-anakku masih menguasai salah satu bahasa daerah Indonesia.

Jagat hiburan memberi kontribusi terbesar menurutku dalam proses pemunahan bahasa daerah. Kita bisa lihat betapa Cinta Laura yang digadang-gadang menjadi ikon anak muda dengan lidah bulenya, selalu mendapatkan peran dalam sinetronnya sebagai anak orang kaya atau sejenisnya. Sementara, di sisi lain, peran-peran di sinetron yang menggunakan logat daerah tertentu, selalu merupakan tokoh tertindas. Contoh, tokoh pe-er-te selalu berlogat Jawa, tukang kebun yang lugu diperankan dengan logat Sunda, tokoh penjahat seringkali berlogat Batak dan tokoh licik disuruh berlogat Minang.

Dengan perlakuan seperti ini, tentulah sudah tertanam suatu paradigma dalam masyarakat bahwa bila ingin menjadi orang modern, kudu berlogat ala Cinta Laura, tapi kalau tetap berlogat daerah, siap-siap tetap menjadi orang kampung yang tidak akan maju.

Barangkali pendapatku ini salah, tapi setidaknya ini bisa dijadikan renungan buat diriku sendiri terutama. Semodern apapun era yang sedang dihadapi, hendaklah budaya kita tetap dipertahankan dan dikembangkan.

Pernah dalam sebuah seminar internasional, salah satu panelis bule ketika itu berkomentar; “Saya heran, kenapa orang Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk bisa menuturkan bahasa Inggris seperti kami, padahal yang terpenting bagi kita adalah bagaimana bisa saling memahami maksud satu sama lain, tanpa harus menyamakan cara pengucapan…”

So….? 🙂 #@$%^&*

Advertisements

9 thoughts on “Badindin; kambangkan budayo kito

  1. Assalamualaikum, wr, wb.
    terima kasih mas, sudah mengunjungi blog saya, saya sudah baca komen dari mas, dan sayapun sudah baca artikel “badindin, kambangkan budayo kito”, sejujurnya saya asli darah minang, ibu dan saya orang padang pariaman, dan saat ini saya sedang kuliah di sumatera selatan tepatnya di kota palembang. karena saya sudah cukup lama tinggal di palembang jadi saya masuk ke komunias blogger wong palembang yaitu WONGKITO.

    menurut pribadi saya, saya sangat banga sekali dengan budaya indonesia yang sangat beragam, apalagi budaya asli daerah saya, yaitu budaya minang, dimana selain masakannya yang ada disetiap daerah dan menjadi favorit di setiap rumah makan, bahas padang juga cukup saya mengerti, karena di rumah sehari2 nenek saya sering menggunakan bahasa daerah. di palembang juga begitu, bahasa daerah juga menjadi bahasa yang lazim digunakan, namun mencermati tentang fenomena artis kita Cinta Laura yang merupakan anak dari pasanga yang berbeda bangsa, saya cukup mengambil nilai postif nya. seperti yang kita ketahui BAHASA INGGRIS merupakan bahasa DUNIA, yang klo kita bisa ber bahasa itu, maka di belahan dunia manapun orang pasti mengerti akan bahasa itu, makanya BAHASA INGGRIS dimasukkan di salah satu kurikulum di sekolah. Namun logat yang ke barat2 baratan sesungguhnya bukan di sengaja oleh artis kita si Cinta Laura, (bukannya mau membela cinta) tapi ketidak biasaan cinta akan bahasa indonesia menjadi nilai minus bagi kita orang indonesia melihat cara berkomunikasi si Cinta Laura, namun perlu kita ketahui, upaya masyarakat Indonesia melestarikan bahasa daerah dan Budaya kini sudah cukup tinggi, hal ini bisa kita lihat dari program wisata yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, salah satu contoh yaitu “VISIT MUSI 2008” yang diadakan oleh pemda sumsel, VISIT MUSI pun dinilai berhasil karena sudah berhasil mendatangkan wisatawan lebih dari 3 ribu orang. dari sanalah kita bangsa indonesia meperkenalkan budaya kita baik dari bahasa daerah, makanan khas daerah, budaya daerah dan lain2. memang untuk dunia hiburan seperti film dan sinetron belum banyak melayangkan budaya kita, namun ada jenis sinetron tertentu yang menurut saya sudah cukup menampilkan budaya kita, sperti sinetron “DONGENG” yang menampilkan dongeng2 indonesia yang fenomenal. Ajang pemilihan PUTRI INDONESIA pun juga membantu kita untuk memperkenalkan budaya kita ke dunia internasional. mungkin yang belum kita benahi adalah membekal generasi muda seperti anak2 dengan budaya dan bahasa daerah indonesia. walaupun ada sedikit program anak seperti SI UNYIL yang juga terkadang turut memperkenalkan budaya indonesia. Mungkin kalo dari segi Dunia Hiburan, fenomenal BULE emang cukup memiliki dampak negatif bagi budaya kita, namun perlu kita ketahui, dibalik itu semua ada juga dampak postif dari fenomena itu, tinggal kita saya yang bisa memilah dan mengajarkan kepada yang lebih muda, betapa ragamnnya budaya INDONESA dan perlu di lestarikan dan dibanggakan
    ____________________

    bagi saya, wawasan harus internasional, tapi hati dan prilaku tetap indonesia.
    rasa kebangsaan itu harus ditanamkan sedini. stasiun tivi memberi kontribusi untuk itu. anak2 yg masih dalam tahap penanaman jati diri, memerlukan contoh yg baik. karena tv adalah “makanan” sehari2 kita, maka sudah seharusnya acara2nya mengandung unsur2 positif untuk kemajuan bangsa…

  2. thx ya pak udah mampir 😛
    wah….saya tidak sampai berfikir ke arah situ (mengenai logat cinta laura)…setau saya sih …mereka2 yg suka ngikut2in cinta ini hanya untuk lelucon saja…..
    ternyata….bapak jeli sekali ya….hehhehehe
    ____________________

    awalnya bisa jadi buat lucu2an, tapi lama kelamaan akan menjadi kebiasaan…
    terima kasih… 🙂

  3. Bahasa jawa apakah juga akan punah ya?
    ____________________

    bisa saja, bila melihat fenomena saat ini. para pelajar di jogja merasa bahwa pelajaran bahasa jawa adalah pelajaran yang menjadi momok. mungkinkah ini pertanda akan musnahnya bahasa jawa secara perlahan?

  4. seperti biasa, artikel-artikel di sini menarik dan menggugah pemikiran.
    saya setuju bahwa budaya harus dilestarikan.
    bukankah itu yang menjadi identitas bangsa.
    saat ini bukan zamannya lagi penjajahan fisik terhadap suatu bangsa, namun penjajahan budaya.
    kita jangan mau terjajah lagi.
    ____________________

    betul itu bu dokter…
    krisis identitas inilah yg saat ini melanda kaum muda bangsa kita
    salut buat org indonesia yg bermukim di luar negeri, tapi tetap meng-indonesia… 🙂

  5. pak, seperti nya kita soulmate, eeh,, maksudnya kita satu pemikiran untuk pelestarian budaya ini, hehehe agiah taruih pak!!!!!
    _____________________

    alhamdulillah, ado kironyo soulmate ambo… 🙂

  6. Sepertinya bapak rajin mengunjungi blog orang lain ya? Makasih juga udah beri komentar di blog saya. Tulisan bapak bagus-bagus, jadi termotivasi.. Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s