Belum bisa ngaji?

Mbak Sri dengan terbata-bata mencoba mengeja satu persatu huruf-huruf Arab yang ada dalam buku Iqro’ jilid satu yang ada di hadapannya. Sementara itu, Mbak Indri dan Mbak Nita menyimak dengan serius. Sesekali terdengar suara istriku membetulkan bacaan mbak Sri. Di tengah keasyikan mereka itu, tiba-tiba Mbak Rukmini datang, dan segera ikut bergabung.

Keempat ibu-ibu itu adalah tetangga kiri kananku. Sejak awal Ramadhan, setiap habis Subuh, mereka belajar membaca aksara Al-Quran bersama istriku. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an.

Kegiatan ini diawali dari obrolan istriku dengan mbak Rukmini yang sehari-hari membantu pekerjaan istriku di rumah. Mbak Ruk mengeluhkan soal ketidakmampuannya dalam membaca Al-Quran. Penyebabnya sangat klise, dulu semasa kanak-kanak, sehabis pulang sekolah dia harus membantu pekerjaan orangtuanya, sehingga tidak ada waktu untuk belajar membaca Al-Quran. Dan, dari pengakuannya, ternyata hampir separuh dari ibu-ibu dan bapak-bapak tetanggaku adalah orang-orang yang buta aksara Al-Quran.

Kenyataan ini membuat kami pritahin sekaligus tidak percaya. Jogja, sebagai kota pelajar yang menjadi barometer pendidikan Indonesia, rasanya mustahil kejadian ini akan terjadi. Ditambah dengan kenyataan bahwa metode Iqro’ digagas dari kota ini, yakni di Kotagede dan metode Qiro’ati berpusat di Pesantren Krapyak, membuat kondisi ini semestinya tidak harus terjadi.

Tapi… inilah kenyataannya, sebagian besar orangtua di lingkunganku buta aksara Al-Quran. Bukan tidak mungkin hal ini juga akan terjadi kepada anak-anak mereka. Sebab, sehari-hari kuperhatikan, sedikit sekali dari anak-anak itu yang mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) sepulang mereka dari sekolah. Bukannya tidak ada fasilitas itu di dekat rumah kami, tapi sepertinya para orangtua tersebut tidak begitu peduli dengan hal ini. Mereka lebih membiarkan anak-anak tersebut bermain ketimbang berangkat TPA. Menyedihkan sekali!

Istriku tergerak hati untuk berbuat sesuatu bagi para ibu-ibu tersebut. Maka, mulailah dia memprovokasi mbak Ruk untuk mengajak beberapa temannya belajar ngaji di rumah kami. Ahirnya, terwujudlah kelompok kecil ini. Aku bersyukur, istriku bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, meski baru sedikit.

Harapan kami, agar kelompok kecil ini terus menggelinding bagaikan bola salju. Sehingga nantinya, semakin banyak orangtua yang buta aksara Al-Quran secara sadar menyempatkan diri untuk kembali belajar. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk itu? Semoga…

Advertisements

6 thoughts on “Belum bisa ngaji?

  1. wah, provokasi yang positif seperti ini musti terus disuburkan, da vizon.
    syukurlah masih ada orang-orang yang peduli seperti uni membantu sesama muslimah untuk belajar ngaji.

    saya juga prihatin, kenapa orang lebih gencar baca koran dan fiksi, tapi gak dibarengi gencar mengaji ya?
    ini saya tujukan kepada diri sendiri juga lho.
    saya ngaji paling satu halaman tiap hari.
    tapi kalau baca yang lain wah, bisa kebablasan.

    (walaupun sebenarnya semua ilmu itu juga bertujuan untuk memperdalam keimanan dengan membaca tanda-tanda Allah, bagi orang yang pandai. begitu kan, da?)
    _____________________

    kayaknya provokasinya dah mulai memberi pengaruh. insya Allah besok pagi akan ada kelompok baru lagi. jadi, sekarang sudah ada dua kelompok kecil yg ikut belajar. ternyata, menularkan kebaikan bila dilakukan dg cara yg arif, akan membuahkan hasil juga… 🙂

    “membaca” bagi orang awam adalah mengeja satu persatu huruf dalam teks di hadapannya, sementara “membaca” bagi orang yg berilmu adalah memahami, dan bagi orang bijak adalah menghayati… uni dokter termasuk orang yg bijak (I sure!)

  2. hm… wempi sudah bertahun-tahun gak mengaji?
    sudah pandai membaca tapi sombong, hiks…
    _____________________

    mumpung ramadhan, ayo mulai lagi ngaji… 🙂

  3. Pak Vizon …
    Saya tersenyum membaca postingan bapak ini …
    Adem bener pak …
    yang jelas tidak ada kata terlambat untuk belajar kan ?
    abis bisa mengaji … lalu kita amalkan pula isinya

    Salam saya pak
    _____________________

    yup… setelah belajar, amalkan, dan itulah intinya…
    saya juga tersenyum baca komen bapak 🙂
    thanks…

  4. anak-anak sekarang emang susah,
    ponakan saya musti harus sekolah di SDIT yang mahal itu untuk mendapatkan pendidikan agama memadai. Manajemen TPA kita gak maju-maju sejak saya jadi murid.

    Padahal godaan-godaan tambah maju: TV, PlayStation, film, sinetron. Apalagi mindset orang tua2 mulai berubah: yang penting itu les matematika, sempoa, musik drpd ngaji. Nau’dzubillah min dzalik 🙂
    _____________________

    pertanyaannya adalah: apa yg bisa kita lakukan?
    barangkali jawabannya adalah: “ibda’ bi nafsik
    ya, mulai dari diri sendiri…
    jangan menyerah pada institusi, toh kita bisa melakukannya sendiri… 🙂

  5. Sorry Bro, udah lama nggak mampir.
    Wah, ternyata di kota pelajar masih banyak yang nggak bisa ngaji.
    Tapi kota pelajar kan pelajaran umum, bro…
    Kalau ngaji, entara dulu…
    Ngaji kan nggak bisa buat kaya.
    Barangkali ini yang mereka pikirkan.
    _____________________

    bukan sekedar kota pelajar, tapi di kota ini metode Iqro’ yg terkenal itu ditemukan dan dikembangkan. seharusnyalah jogja menjadi barometer kemampuan baca tulis alquran di indonesia.
    itulah susahnya kita hidup di zaman dg paham matrealisme ini, semuanya diukur dg ukuran materi, sehingga ngaji tidak menjadi penting, karena tidak bakal bikin seseorang kaya… 😦

  6. Pingback: THE BEST FROM MY FRIENDS #1 « The Ordinary Trainer writes …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s