Martir Zakat

Ramadhan kali ini sedikit tercoreng dengan kasus pembagian zakat di Pasuruan Jawa Timur. Sebanyak 21 nyawa melayang percuma, hanya untuk memperoleh uang sebesar Rp. 30.000 (tiga puluh ribu rupiah). Dan di sisi lain, H. Syaikhon sang pemberi zakat sontak menjadi terkenal. Sampai saat ini, namanya masih menjadi pembicaraan, dari masyarakat kecil sampai presiden, termasuk aku, di blog ini… πŸ™‚

Dan seperti sudah menjadi kebiasaan kita, begitu ada kejadian, akan ada banyak reaksi. Para pakar mulai unjuk gigi. Masing-masing mengeluarkan berbagai pendapat dan teori. Pemerintah bereaksi keras dan berniat mengeluarkan peraturan tentang ini. Ulamapun tidak ketinggalan, mengeluarkan fatwa haram pembagian zakat dengan sistem langsung seperti yang dilakukan H. Syaikhon. Bahkan, istriku dan para tetangga ikut-ikutan diskusi soal ini, halah… πŸ™‚

Semua komentar itu mengarah kepada dua hal, yakni pelaksanaan pembagian zakat tersebut dan H. Syaikhon sebagai pemberi zakat. Tudingannya sama, kegiatan itu adalah salah dan tidak mendatangkan manfaat.

Coba simak pendapat Syafi’i Antonio di Kabar Malam TVOne tadi malam. Menurutnya, nampak negatif dari pembagian zakat secara langsung itu paling tidak ada 7 hal:

  1. Show-up semata, atau Parade Kemiskinan. Seharusnya mustahiq (penerima zakat) itu didatangi, bukan mendatangi.
  2. Tidak terdatanya mustahiq dengan baik karena kacaunya data. Sehingga, yang sudah mendapat di depan memungkinkan untuk kembali antri.
  3. Tidak produktif, karena jumlah yang dibagi cenderung menjadi lebih sedikit.
  4. Tidak mendidik.
  5. Membuat ketergantungan, karena ketika seseorang menerima zakat tahun ini, diharapkan tahun depan dia berganti menjadi muzakki (yang berzakat).
  6. Salah kelola dan sasaran.
  7. Lembaga zakat menjadi tidak termanfaatkan.

Terlepas dari dampak apapun yang ditimbulkan melalui peristiwa ini, menurut saya kita perlu berterima kasih kepada H. Syaikhon dan para korban. Mereka telah menjadi martir zakat. Peristiwa ini telah membukakan mata banyak pihak, terutama pemerintah. Hikmah yang banyak diungkapkan adalah:

  1. Berzakat haruslah ikhlas, tidak perlu show-up.
  2. Lembaga zakat yang sudah ada haruslah mampu membangun kepecayaan masyarakat dengan senantiasa menjaga amanah dan transparansi.
  3. Pemerintah harus memiliki regulasi yang jelas soal ini.

Untuk itu, menurutku kita perlu berterima kasih kepada H. Syaikhon dan para korban. Karena, tanpa kejadian ini, barangkali kesadaran kita tentang zakat yang ikhlas dan pengelolaannya secara profesional, entah kapan datangnya.

So, kematian mereka tidak sia-sia bukan?

Advertisements

34 thoughts on “Martir Zakat

  1. waduh…setiap kejadian bs ditarik hikmahnya, tp mengucapkan terimakasih kpd H Syaikhon, ironi kaya’ nya πŸ™‚
    mengenai pengelolaan zakat prof, perlu regulasi yang mengatur masalah ini, klo tdk salah sedang diperjuangkan tp lagi-lagi, apa-apa yg berbau ‘islam’ selalu berusaha dijegal, bahkan oleh segelintir muslim yang biasa bersuara vokal πŸ™‚
    _____________________

    kita tahu bahwa sesuatu itu baik, lantaran ada keburukan…
    yg dilakukan h. syaikhon itu adalah salah, lantas kitapun introspeksi.
    bukankah dg demikian secara tidak sengaja h. syaikhon telah “mengajarkan” sesuatu untuk kita?
    bukankah dg demikian kita pantas berterima kasih kepada beliau…? πŸ™‚

  2. Tapi Zon, bukankah itu gambaran bahwa masih banyak orang yang ndak percaya pada badan amil zakat, baik yang dikelola pemerintah, swasta, ataupun yang muncul bak jamur di musim hujan, saat pintu Ramadhan terbuka ?!

    Sangat paliatif dan spekulatif ! Banyak jasa jemput zakat ! Tapi masih banyak kecurigaan mereka terhadap lembaga pengelola zakat, infaq, dan shadaqah yang juga sudah banyak berdiri atau didirikan!

    Contoh kecil aja, ketika seseorang butuh santunan pada hari itu, dia harus menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mengambil haknya ! itupun kalo proposal di acc ! Padahal saldo dah plus plus plus dan seterusnya !

    Memang, kalo kita lihat korbannya, sungguh memilukan ! apalagi judul yang dibikin oleh teman2 wartawan juga serem: Pembagian zakat maut !

    Itulah wajah kita, Zon ! kebanyakan teori minus praktek !
    ujungnya…. reaksi beragam ! Wajah kita seharusnya merah karena tamparan sosial seperti ini ! Mungkin mereka lupa, bahwa teori tidak selamanya sama dengan kondisi lapangan !

    Harusnya kita kaji kehidupan sosial masyarakat Pasuruan! Harusnya kita introspeksi dan lebih melihat kedalam ! Kita masih sering su’udz dzon ! siapa tahu dalam hati H. Syaikhon, sementara kita sudah memberi lebel show up !

    Jujur Zon, aku bukan siapa-siapanya pak Haji !
    ( sorry ! gatel tangan, pengen komentar ae !) ada info apa bozz?!
    _____________________

    kita tidak su’udzon dg pak haji, tapi justru aku mengajak kita untuk berterima kasih, lantaran “pelajaran” yg dia berikan lewat peristiwa tersebut… πŸ™‚

    beneran nih, ente bukan siapa-siapanya pak haji…? πŸ™‚

  3. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini.

    Kalau masalah berita yang heboh soal masalah ini, ya memang saat ini kita masih terbiasa untuk membesar-besarkan sesuatu.

    Kalau kita mau belajar, maka insya Allah, peristiwa ini akan memberi hikmah pada kita tentang perlunya niat baik diikuti dengan cara yang baik

    Insya Allah
    Amin
    _____________________

    barangkali ini cara Allah untuk “menegur” kita… πŸ™‚

  4. berterimakasih kepada orang yg berbuat salah…? good idea!
    _____________________

    dari kesalahan orang lain kita mendapatkan pengetahuan, maka wajarkan bila kita berterima kasih?
    thanks… πŸ™‚

  5. Pak, kenapa pakai istilah martir? Kristen banget!
    _____________________

    memang benar kalau istilah martir lebih dikenal di agama kristen. kalau dalam islam dikenal dg istilah “syahid”. saya tidak terlalu mempermasalahkan darimana asal istilah itu, yg jelas maknanya sama, dan untuk sebuah judul, sepertinya itu menarik… πŸ™‚

    info lebih lanjut tentang ini dapat dilihat di:
    http://id.wikipedia.org/wiki/Syahid

    thanks… πŸ™‚

  6. tidak ada kematian yang sia-sia. namun jika yang masih hidup tidak mau dan tidak sanggup mengambil pelajaran (hikmah) dari kejadian ini, segalanya jadi tidak berarti, kan?
    _____________________

    insya Allah mereka tidak mati sia-sia, karena ada banyak orang yg terbuka matanya setelah kejadian ini… πŸ™‚

  7. Tapi harga nyawa 21 orang itu kan terlalu mahal… yang bener aja demi 30 ribu rupiah sampai segitunya…
    ____________________

    miris memang… tp, hikmah besar telah kita petik dari kejadian ini

  8. Saya melihat kenyataan yang sama dengan anda lihat: ada nilai dalam peristiwa zakat H. Syaikhon. Nilai itu bisa ditafsirkan dalam ragam wajah dan bentuk. Salam dan hormatku, Johnson
    _____________________

    salam dan hormat juga Pak Johnson… πŸ™‚

  9. Seperti yang saya tulis:

    kapan dunia akan bosan mempermainkan kita dan membuang kita ke tempat sampah?

    ……………

    ……..

    Tunggu…. biar saya koreksi:

    kapan kita akan bosan main-main dengan diri sendiri dan membuang diri kita ke tempat sampah?

    21 nyawa… harga yang mahal untuk sebuah pelajaran, bukan? Tapi memang 21 nyawa itulah yang membuat pelajaran ini betul-betul berharga.

    Setuju dengan anda, bro! Mungkin ini cara Tuhan menegur kita! (Jangan lupa kejadian adam air, tsunami, kerusuhan, dll)

    Sering sekali ya kita ditegur??

    Salam kenal…
    ____________________

    Allah sering mengakhiri firman-Nya dalam al-Qur’an dg kalimat: “afala ta’qilun (tidakkah kamu memahaminya)”, dsb… kejadian ini adalah salah cara Allah untuk membuat kita semakin sadar dan memahami. sakit memang teguran itu, tp itulah bukti kasih sayang Allah kepada kita. semoga kita benar2 bisa memahami… πŸ™‚

  10. semoga kita dapat hikmah dari peristiwa tersebut.. semoga Allah menerima amal kita di bulan yang penuh berkah ini.. amin
    _____________________

    amin…. πŸ™‚

  11. kl menurt sy serahin aja ke bazis,, biar gak trjdi kasus ky gne,, mslh nnti bazis tdk amanah tuk dosanya bazis,, yg penting kita ud ikhlas amal,, pahalany sama menurt ane..
    _____________________

    setuju…! yg pasti ini adalah pe-er untuk lembaga pengelola zakat agar bisa lebih mensosialisasikan diri mereka lagi ke khalayak dan benar2 bisa menjaga amanah… πŸ™‚

  12. Sebenarnya orang kaya kita rata-rata kaya tapi nggak siap kaya. Maksudnya, mereka pikir memberikan sesuatu harus tampak serba ekslusif sehingga mengundang banyak orang untuk mendatangi rumahnya untuk diberi Amplop.
    _____________________

    tapi saya siap kaya kok… hehehe… πŸ™‚

  13. ternyata ini blog bener-bener rancak. O, ya tarimokasih Uda, sudah komen di blog awak. Mau balas tapi ndak tau caronyo, soalnya baru beberapa hari ini belajar ngeblog. Kalo mau nyumbang kritik dan saran, amat sangat dipersilahkan….

  14. Kan ada juga istilah Indonesia seperti korban, tumbal dsb. hanya saja semuanya berkaitan erat dengan cara mati yang negatif. sejatinya, martir juga demikian, akan tetapi ia memiliki konotasi positif karena berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Syahid itu punya kriteria tersendiri, dan tidak dapat dipergunakan secara sembarangan. kalau ditanya status kematian mereka, syahid apa martir? mungkin saya lebih setuju martir, toh juga mereka harus dimandikan dan dikafankan, kalau syahid kan tidak perlu. Tapi kalau dibandingkan dengan tumbal atau korban? mungkin saya lebih setuju dengan istilah korban, yah karena setelah kematian mereka pun masih banyak juga yang nekat melakukan hal serupa. Akhirnya malah, muncul istilah mati konyol. Nah loh, apa jangan-jangan di negeri kita ini nyawa manusia sudah sedemikan murah? Hanya tiga puluh ribu rupiah saja!

    Tapi, satu hikmah yang bisa dipetik, orang miskin di Indonesia sangatlah banyak. Jadi, jangan ragu untuk berzakat.
    ____________________

    yang pasti, kejadian ini membuat orang semakin cerdas dalam berzakat… πŸ™‚

  15. @Himawan Pridityo:
    saya usul istilah: korban salah-kelola pembagian zakat. πŸ™‚
    syahid itu adalah utk sebuah kesaksian, entah kesaksian iman ato pun kesaksian atas fenomena sosial, saya kira. kalo yg ini mah kesaksian atas kebiasaan bagi2 rebutan raskin dan BLT yg memang seperti telah menjadi ‘dibiasakan’ oleh pemerintah (ato rebutan antri minyak)
    ato: mati konyol krn salah-kelola sang pemilik otoritas;
    seperti juga salah-kelola ini juga terlalu banyak dijumpai di negeri kita

  16. Semua harta kekayaan H. syaikhon tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan harga 1 orang korban meninggal. Apalagi 21 orang meninggal…
    Maka dari itu hukuman harus dijatuhkan kepada H. Syaikhon. dan keluarga H. Syaikhon harus meminta maaf kepada keluarga-keluarga korban.
    _____________________

    H. Syaikon sudah mendapat hukumannya; hukum sosial, termasuk dg kita membicarakannya saat ini… πŸ™‚

  17. sudah banyak komentar2 saya mengenai ini, speechless,
    yang saya sayangkan kenapa orang tidak percaya lagi dengan badan zakat
    _____________________

    barangkali karena badan zakat lebih banyak di berada di bawah instansi pemerintah. kita tahu bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap kinerja instansi pemerintah; sangat tidak percaya. oleh karenanya, masyarakat merasa badan zakat itu sama saja pengelolaannya dg instansi pemerintahan itu; sarat korupsi dan penipuan… πŸ™‚

  18. ZAkat akan Bisa ditangani secara pRofesional ketika di serahkan kepada ahlinya dan yang punya otoriter mengelola Zakat, Siapa Itu Baitul Mal Dibawah kekuasaan Amirul Mukminin Kholifah. Kalau itu belum ada,selamanya penyelesaian zakat tidak akan pernah optimal dan sempurna karena amil amil yang ada sekarang sejatinya dia bukan amil sebagaimana dipahami amil yang bertugas dan memiliki kewenangan mengelola zakat, untuk itu tugas utama adalah mewujudkan keberadaan Amirul Mukminin
    _____________________

    salah satu orang yg berhak mendapat zakat adalah amil, ini mengindikasikan bahwa zakat harus memiliki sebuah manajemen yg spesifik, tidak bisa dilakukan secara individu… πŸ™‚

  19. Salam ..
    Memang bisa dikatakan bahwa kebanyakan masyarakat kita sekarang ini masih belum bisa mempercayakan zakat sepenuhnya kepada bazis, dan saya rasa ini tidak semua adalah kesalahan masyarakat sendiri. Mungkin disini bazis kurang mensosialisasikan diri sehingga kurangnya pengetahuan masyarakat kita dlm hal ini. atau juga masalah transparansi yg mungkin menjadi pertimbangan utama bagi masyrakat kita. ada baiknya bazis lebih mengenalkan diri pd masyarakat. Wallahua’lam bissawab
    Wassalam:)
    ______________________

    semoga dg kejadian ini bazis bisa semakin mensosialisasikan diri kepada masyarakat,
    sehingga masyarakat bisa lebih mengetahui keberadaan mereka… πŸ™‚

  20. kebanyakan masyarakat kita juga kurang percaya kepada kinerja zakat yang dikelola oleh pemerintah, dengan alasan tidak transparan dan takut gak nyampek,.. terlepas dari hal tersebut untuk kasus masalah zakat dipasuruan ini memang salah kordinir dan terkesan riya (pendapat saya) apalagi dengar-dengar H.Syaikon menjadi salah satu CALEG di pemilu 2009,…. saat nya amal + simpati kampanye kemudian ketiban sial dan skrng dibayang2i 5 tahun penjara akibat kelalaian.

    demikian,….
    _____________________

    CALEG…?
    wah, wah… no comment deh… πŸ™‚

  21. wah..semua semua pihak sepertinya memandang perlu adanya undang-undang perzakatan.Kenapa tidak dibuat peraturan dilarang menerima barang gratisan..soalnya mental gratisan ini yang buntutnya selalu rame dan juga membuat orang jadi malas karena mengharap durian runtuh.
    _____________________

    intinya, zakat kudu diperhatikan lebih serius pelaksanaannya…

    tik… url mu mana? biar aku balik mengunjungi blogmu… πŸ™‚

  22. Memberi zakat/infaq sadaqah sebenar bukan hanya melakukan transfer uang atau barang melainkan memberikan ketulusan dan keikhlasan kepada para dhuafa. dengan demikian seharusnya para dhuafa dan mustahiq zakat itu di”hormati” dan “dilayani” dengan baik sebagaimana kita menghormati para tamu “ikramudhuyuf” . KOmentar Hj Saigon yang menyebutkan ” Mereka itu tidak saya undang…datang sendiri, jadi salah mereka sendiri…!” saya sempet kaget mendengar itu…apa jadinya kalo dunia ini tidak ada orang miskin…jadinya kayak Pak Jalal yang bingung mau sedekah saat semua orang sudah kaya…SO , Solusinya apa…banyak belajar manajemen zakat, karena bagaimanapun juga, zakat, infaq dan sedekah kita akan jauh lebih diterima oleh Allah SWT bila disampaikan secara ikhlas, benar dan menggembirakan semua pihak. Saya yakin tidak ada trade off dalam penyaluran zakat..
    _____________________

    seperti kata KH. Hasan A. Sahal, “hidup adalah ruang belajar kita”, untuk memahami makna ikhlas, Allah timpakan kepada kita musibah…
    Apa kabar bos? blogmu dibenahi tuh, hehe….

  23. iki jaman opo toh jane ?
    orang zakat caranya keliru
    atau memang tak ada lembaga amil yang bisa dipercaya
    atau orang tak misi suci zakat dan caranya
    lalu menganggap kesalehan dan surga harus meriah dan gegap gempita
    atau masih adakah surga tersisa bagi zaman kita
    untuk melihat kematian yang getir dan menusuk alam perasaan …

    inikah kutukan datangnya suatu zaman umat muhammad tak bisa lagi membagikan zakat”

    antara tak punya atau sudah semua kaya atau orang semakin bodoh mengerti cara dan tata kramanya
    masih ditambah lembaga amil yang getol menampung zakat
    tapi ampun susahnya kalau berurusan dengan penyaluran.. …

    masih harus memilih ini islam apa,
    suni apa bukan,
    kalAu sunni…. muhammadiyah APA Nu ,salaf atau apa,
    kalu NU PKB apa PKNU, apa PPP…
    kALAU PKB muahimin atau ali masykur musa
    ……halaaahhhh angele….(sory ini aku ngutip cak nun)

    Lah terus umat ini suruh percaya siapa
    apa yah mau bikin lembaga lagi yang lain sebanyak banyaknya
    wong takmir masjid juga sudah dikotak kotak berdasar warna jaket atau katok kolornya…. .
    hhaalahahh.. . opo neh

    “YANG KOTOR HATINYA” (ngutip pak sahal ini)

    salam
    _____________________

    waduh… si Rozi emosi jiwa, hehehe… πŸ™‚
    yg pasti aku masih percaya bahwa di negeri ini masih banyak orang yg bersih hatinya untuk tetap mengurusi umat ini… πŸ™‚

  24. dari pada si bangsat sebagian wakil rakyat yang tak kenal zakat ,tukang korupsi,suka makan harta rakyat.masih mending H Syaikhon yang peduli umat.kayaknya kurang bijaksana kalo smua kesalahan lari ke keluaraga pak haji,tanpa melihat sisi yang lain .apalagi komentar para artis yg sok…!!!kesannya membodohkan para panitia,emang elu siapa…belum tentu elu punya kemurahan hati seperti pak haji.baru jadi artis aja udah belaga,jual tampang doang brengsek lu smua….
    cuma komentar doang si artis ini.
    pengalaman adalah guru paling berharga.,bener boss kita harus terus belajar…
    _____________________

    yup…! tidak ada yg sia-sia di muka bumi ini, semua diciptakan Tuhan dg tujuannya, termasuk peristiwa ini… πŸ™‚

  25. memang sejatinya kita belajar dari semua kejadian dan pengalaman.
    tak hanya pengalaman baik, juga pengalaman buruk.

    mudah-mudahan ini juga jadi pelajaran bagi otoritas dan badan-badan terkait kenapa kita lebih suka menyalurkan zakat secara langsung dan tidak melalui badan-badan resmi yang ada.

    semuanya melakukan introspeksi ya, da?
    _____________________

    setuju…
    kata inyiak saya: “experince is the best teacher”… πŸ™‚

  26. Banyak faktor yang bisa diduga menjadi pemicu tewasnya 21 orang di Pasuruan kemarin. Tapi izinkan aku untuk bertutur.

    PERTAMA. Kejujuran identik dengan kebodohan. Jujur harus disertai kecerdasan, bahkan ketrampilan yang memadai. Supaya tidak memakan korban, 21 jiwa lagi.

    KEDUA. Boleh saja kita menilai Pak H. Syaikon itu ikhlas. Keikhlasan dalam berzakat infak, sadaqah, hibah itu mirip dengan orang yang BUANG AIR BESAR (BAB). BAB adalah wajib bagi setiap orang. Itu alamiah sifatnya. Karena tidak semua ‘makanan’ yang masuk dalam tubuh kita akan menjadi energi. Sebaliknya, dari semua makanan itu harus ada yang dikeluarkan (miniman) 2,5%. Benda-benda yang keluar itu bisa berupa keringat, upil, curek telinga, kotoran di ujung mata, air seni, dan kotoran yang bau. Bahasa agamanya zakat, infaq, shadaqah, hibah, hadiah.

    Bila tidak dikeluarkan, maka akan timbul penyakit dan bencana yang akan menimpa orang yang malas BAB (2,5%) tadi. Karena kotoran BAB itu bau, maka harus dilakukan secara sembunyi. Jangan sampai orang lain tahu.

    Dan gambaran orang yang ikhlas itu seperti orang yang habis keluar dari WC alias kamar kecil. Legaaaaa! Ploooooong! Ikhlassssss las las! Aku yakin, di antara kita jarang menyaksikan ada orang yang keluar dari WC marah-marah, kecuali ketemu dengan kecoak atau ‘benda lain’ yang tidak dibersihkan oleh orang yang meninggalkan. Itulah gambaran keikhlasan, bukan show up.

    KETIGA. Apa yang terjadi di rumah H. Syaikon adalah bukti bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tidak kuat. Padahal pemerintah telah menyediakan lembaga Badan Zakat, Infaq, Shadaqah. Lembaga itu ternyata tidak menenang orang-orang yang berzakat (BAB). Karena khawatir apa yang ‘dibuangnya’ tidak masuk dalam lubang ‘WC’ yang sesungguhnya.

    KEEMPAT. Pemerintah idealnya malu. Ini adalah sebuah fakta kemiskinan yang paling nyata di masyarakat kita. Kefakiran mendekati kekafiran. Terbukti mereka yang berebut zakat (30.000) tidak peduli alias masa bodoh (kafir) dengan orang-orang yang nyata terjatuh di depannya. Bahkan mereka menginjak-injak saudara mereka sampai tewas, 21 jiwa lagi. Mengenaskan!

    KELIMA. Fakta ini juga semakin menginspirasi sebagian kalangan bahwa dalam persoalan agama (terutama soal rukun islam) harus melibatkan pemerintah. Mungkin di antara kita ada yang tidak setuju. Tetapi fakta menunjukkan bahwa sebagian masyarakat muslim Indonesia mempunyai managemen yang lemah. Coba kalo semuanya diserahkan kepada setiap individu, wah berapa korban lagi yang akan menyusul.

    KEENAM. Lantas siapa yang bersalah? Bisa jadi semua pihak ikut bersalah, mungkin termasuk kita. Terus bagaimana dong? Ya satu-satunya cara adalah menawarkan pelatihan panitia zakat (yang omsetnya + 7 tiliun rupiah). Panitia ini perlu melibatkan banyak pihak (dari kalangan umat lain yang manajemen sudah ok). Panitia ini digaji secara profesional. Dan Pemerintah harus menjadi peloprnya. Bila perlu kita mengawalinya, bagaimana? Ini nyata.

    KETUJUH. Mari kita mengirimkan Fatihah kepada mereka yang telah wafat itu, semoga mereka tenang di sisinya. Khawatir saja kalo ngirim parsel tidak memandai. Berat diongkos Man!

    af abi ze
    ____________________

    perumpamaan yg cerdas: “ikhlas = org bab”
    good ide… πŸ™‚

  27. Saran, barangkali untuk pembagian zakat di kampung, door to door saya rasa akan jadi pilihan yang lebih efektif. Beberapa Amil zakat saja cukup, karena memang ada jatah menurut syari’ah untuk Amil zakat. Tapi kelemahan metode itu memang ada, si pemberi zakat tidak lagi heboh dan tenar sampe ke mana-mana. Masih mau zakat kan..?

    Pilih dengan hati bukan otak…!
    _____________________

    saya akan pilih dengan hati untuk tetap berzakat… πŸ™‚

  28. Berzakat memang haruslah ikhlas, tidak perlu show-up. Tetapi Lembaga-lembaga zakat saya kira perlu show up terutama menunjukkan sejauh mana mereka berhasil mengubah mustahiq menjadi muzakki. Bukan hanya menyatakan bahwa keuangan mereka selalu diawasi dan diaudit oleh akuntan publik.
    Salam kenal Mas Vizon.

  29. ehm… kayaknya hal yang baik pun kalau dilakukan dengan cara yang salah hasilnya jadi ga baik ya… tapi ya balik lagi… everythings happen for a reason.. mudah2an semua yang denger beritanya bisa ngambil hikmah terbaik buat dirinya masing2.. amin

    btw, thanks commentnya ya.. salam kenal… πŸ˜€

  30. Bener banget ini Uda …
    Tanpa bermaksud dan tendensi apa-apa …

    Memang kita harus bertanya pada diri sendiri …
    Apakah kita show-of … ?
    Apakah kita riya’ …?
    Apakah kita melakukan amalan … sudah karena ALLAH semata … bukan karena malu diliat tetangga … ?

    Thanks Uda …
    Cheers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s