Ramadhan di Q-Tha

Kamis (18/09/08), pukul 06.30 aku berangkat bersama sahabatku Asep menuju desa Kalibening di Salatiga Jawa Tengah. Tujuan kami adalah sebuah sekolah yang bernama SMP Alternatif Qaryah Thayyibah (Q-Tha). Ini adalah kunjungan kedua kami setelah kunjungan yang pertama medio Februari yang lalu. Asep menjadikan Q-Tha sebagai obyek penelitian disertasinya.

Kami berangkat menggunakan sepeda motor, dengan alasan efisiensi. Letak desa Kalibening yang agak jauh dari kota, tentunya akan menyulitkan mobilitas kami, terutama dalam mencari makan… halah…! ๐Ÿ™‚ Awalnya agak sedikit khawatir melakukan perjalanan di tengah puasa ini, tapi karena Asep ingin memotret momen puasa di Q-Tha, maka rencana ini tetap kami laksanakan.

Perjalanan terasa mengasyikkan. Kami mengambil jalur Jogja-Jatinom-Boyolali-Salatiga. Sepanjang jalan kami menikmati udara segar dan bersih. Kami melewati pedesaan, sawah dan perkebunan. Aku benar-benar menikmati perjalanan ini, sehingga tak terasa dalam jangka waktu 3,5 jam kami sudah sampai di Kalibening.

Sesampai di sana, kami mendapatkan para guru pendamping Q-Tha sedang berkumpul santai di teras gedung pusat kegiatan mereka. Kami disambut dengan ramah, terutama oleh Pak Ridwan yang memang sudah kami kenal sebelumnya. Setelah bercerita sedikit, kamipun diantar ke kamar tamu di lantai dua gedung tersebut. “Karena seringnya tamu yang datang kemari, sekarang kami sudah membangun kamar tamu, agar bisa istirahat dengan nyaman“, demikian ungkap Pak Ridwan. Memang pada kunjungan pertama kami, Q-Tha belum memiliki kamar khusus buat tamu. “Berarti Q-Tha sudah ada kemajuan nih“, candaku dan disambut senyum simpul oleh Pak Ridwan.

Qaryah Thayyibah adalah sebuah sekolah alternatif yang diprakarsai oleh Bapak Bahruddin. Sekolah ini memberikan kebebasan kepada muridnya untuk memilih materi pelajaran yang dibutuhkannya. Selengkapnya tentang Q-Tha dapat dibaca melalui tulisan-tulisan berikut ini:

Seperti yang kuceritakan di atas, kehadiran kami di Q-Tha kali ini adalah untuk melihat bagaimana anak-anak Q-Tha menjalankan kegiatan mereka di tengah ibadah puasa.

Secara umum, tidak ada yang berubah. Anak-anak Q-Tha tetap menjalankan kegiatan mereka dengan bebas dan menyenangkan, terutama berselancar di jagat maya. Di setiap sudut ruangan maupun halaman terdapat segerombolan siswa Q-Tha yang tengah berselancar. Mereka sedang mencari segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan “proyek” mereka masing-masing. Bagi mereka, internet adalah jantung semua kegiatan mereka. Setiap proyek yang akan mereka garap, diawali dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet. Prinsip mereka, biar tinggal di kampung, mereka tidak ingin jadi kampungan. Sehingga, jangan heran bila kemana-mana mereka membawa laptop, meski dengan tampang urakan ala pemuda kampung.

Salah satunya adalah Mas Minan. Pemuda asal Lamongan Jawa Timur ini sedang fokus memperdalam tentang tanaman organik dan kesuburan tanah tanpa bahan kimia. Segala informasi tentang hal ini pada awalnya dia peroleh dari internet. Dari sana, akhirnya dia bertemu dengan seorang pakar dan praktisi tanaman jenis ini yang berdomisili di Jogja. Dia pun menyempatkan diri untuk belajar kepada sang ahli selama dua minggu. Hasilnya, dia terobsesi ingin mengembalikan kealamiahan tanaman buah dan sayuran di kampungnya. Bila berhasil, dia akan ajarkan ke pemuda di kampungnya untuk kemudian dikembangkan.

Di sudut lain, aku menemui sekelompok siswa yang sedang bermain alat musik. Mereka sedang menggubah lagu dengan tema Islami. Rencananya, hari ini (Sabtu, 20/09/08), mereka akan menampilkan karya mereka di hadapan teman-teman dan pengelola Q-Tha dalam acara Gelar Karya dan Buka Bersama. Mereka benar-benar menikmati “pembelajaran” ini tanpa ada beban sedikitpun. Tidak ada beban nilai yang harus mereka kejar, karena memang Q-Tha tidak meminta itu.

Tak terasa waktu sudah semakin sore, dan maghrib-pun menjelang. Karena Q-Tha tidak memiliki sarana kantin, maka kamipun memutuskan untuk mencari makan berbuka puasa di kota Salatiga. Aku sebetulnya ingin mencari pengalaman kuliner khas Salatiga, tapi karena waktunya sudah terlalu sore dan perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya kamipun terdampar di rumah makan urang awak, dan rendangpun menjadi sasaran pilihan kami (gak kreatif amat ya… ๐Ÿ™‚ )

Ketika kembali ke Q-Tha, waktu shalat Isya sudah masuk. Akupun buru-buru mempersiapkan diri dan melaksanakan shalat Isya di kamar untuk kemudian mengikuti shalat Tarawih di masjid yang letaknya berdampingan dengan gedung serbaguna tersebut. Tapi, aku segera mengurungkan niatku. Shalat yang dilaksanakan sebanyak 20 rakaat itu, dilaksanakan dengan cepat, nyaris tanpa thuma’ninah. Imam membaca surat al-Fatihah dengan satu tarikan nafas, dan surat pendek yang mengiringinya nyaris tidak terdengar jelas, saking cepatnya. Daripada aku ngedumel sepanjang salat, lebih baik aku melaksanakannya sendiri di kamar.

Selesai tarawih, aku lihat sekelompok siswa memanggul kamera video lengkap dengan peralatan lighting-nya. Akupun mengikutinya. Ternyata mereka sedang mengerjakan video klip lagu yang mereka gubah sendiri. Shooting mereka laksanakan di atap gedung tempat aku menginap. Dengan luwesnya mereka mainkan kamera-kamera tersebut. Dan proses shootingpun berjalan dengan lancar dan tentunya menyenangkan… ๐Ÿ™‚

Sahur, kami putuskan untuk ikut dengan anak-anak Q-Tha mencari makan di warung dekat sekolah mereka. Dengan diantar Mas Minan, kamipun berangkat ke warung yang dimaksud. Sayur tewel (nangka muda yang direbus) dan goreng tempe beserta teman setianya, goreng tahu, menjadi menu makan sahur kami. Dulu, sewaktu jadi santri, menu semacam itu sudah menjadi kebiasaanku. Tapi sekarang, lidahku sudah tidak terbiasa lagi. Mengingat besok kami akan kembali ke Jogja, dan itu butuh stamina, maka kupaksakan melahap makanan tersebut. Meski setiap kali suapan harus didorong dengan seteguk teh manis. ๐Ÿ™‚

Jum’at pagi, kamipun berpamitan untuk kembali ke Jogja.

Sementara, aku bisa berkesimpulan bahwa “kebebasan” yang coba disemaikan di Q-Tha tidak hanya meliputi pilihan materi pelajaran yang mereka inginkan, juga termasuk dalam hal ibadah. Tidak ada aturan siswa Q-Tha harus melaksanakan puasa maupun salat. Semuanya diserahkan kepada mereka. Sejauh pengamatanku, mereka semuanya melaksanakan ibadah puasa dan tetap berkegiatan. Pertanyaannya, bagaimana budaya kebebasan ini bisa memunculkan kesadaran keagamaan pada diri siswa? Inilah yang sedang diteliti oleh Asep. Kita tunggu saja jawabannya… ๐Ÿ™‚

Yang pasti, aku benar-benar terkesan dan terinspirasi

Advertisements

11 thoughts on “Ramadhan di Q-Tha

  1. LAH saya dr salatiga lho mas, cmn skrg tinggal di sidoarjo.
    ____________________

    banggalah anda menjadi orang salatiga, karena sebuah desa di daerah anda telah “mendunia” ๐Ÿ™‚

  2. Q-Tha memang luar biasa…
    Saya mengetahuinya dari cuplikan2 video ditambah membaca buku terbitan LKIS yang khusus membahas QT..

    Namun, sampai saat ini saya juga sebatas baru bisa berangan2 ke sana… belum sempat..

    Salam kenal Pak!
    _____________________

    apa mau ikut saya nanti habis lebaran, hehehe… ๐Ÿ™‚

  3. menarik !

    saya sudah lama bermimpi berkunjung ke sekolah2 alternatif macam ini, termasuk SMU Madania, Smart Ekskelasia DD, Muthahhari, YPI Bangil, dll

    thx for ur story
    i wait for the next one ๐Ÿ˜€
    _____________________

    semuanya memang dimulai dari mimpi,
    tapi, mimpi akan tinggal mimpi bila tidak ada usaha untuk mewujudkannya… ๐Ÿ™‚
    insya Allah habis lebaran saya mau ke sana lagi, mau ikut?

  4. Ini pernah beberapa kali masuk media massa, dan saya sendiri salut dengan sistemnya, tidak kaku dan tidak terikat dengan kurikulum pemerintah ๐Ÿ™‚
    ____________________

    yup… keunikan mereka telah mencuri perhatian banyak orang, termasuk saya… ๐Ÿ™‚

  5. membaca cerita perjalanannya saja saya merasa tertarik, apalagi kalau menyaksikan sendiri ya?
    atau naratornya yang bagus merawikan kisah perjalanan ini.
    hehehe…
    saya penasaran bagaimana sistem ini dikonversikan ke dalam nilai-nilai dalam kerangka kurikulum nasional ya?
    _____________________

    hehe… naratornya bukanlah perawi yang baik… ๐Ÿ™‚
    justru mereka mencoba untuk keluar dari pakem kurikulum
    menurut mereka, kurikulum hanya akan membebani otak anak yg tidak bisa dibatasi
    oleh karenanya, pada akhir tahun kemarin ada beberapa anak yg tidak mau mengikuti UAN, karena bagi mereka itu tidak perlu… ๐Ÿ™‚

  6. Riwayat yang menarik, Bro.
    Mudah2an mutawatir… He he…
    Btw, mereka nggak punya dapur umum ya?
    Makan di luar terus lebih mahal dong?
    Ngomong2 tentang tewel, dulu itu kok bisa ya kita makan tewel cuma pake kerupuk.
    Kalau dapet ikan pindang setelah jumatan senangnya bukan main.

    Btw, Warung Awak di Salatiga rasa rendangnya masih ikut pakem apa udah lari, Bro…

    Aku curiga rasanya sudah disesuaikan dengan lokalitas sehingga lebih manis. Tul nggak?
    ____________________

    q-tha itu bukan sekolah berasrama seperti pesantren, mereka tetap pulang ke rumah masing2, bila ada siswa yg dari luar daerah, mereka kos di rumah2 penduduk, biasanya di rumah teman sekelasnya, tapi ada juga yg ngontrak rame2 di samping sekolahan. mereka juga biasa masak sendiri, tapi sering juga makan di warung dg harga murah meriah, seperti aku sahur kemarin… ๐Ÿ™‚
    tewel…? itulah memori luar biasa yg pernah ku alami,
    rendang…? ngerti sendirilah ente bro: “rendang rasa gudeg”, hehehe…. ๐Ÿ™‚

  7. saya tahu Q-Tha dari pertama dari internet sekitar 4 tahun lalu apa ya? agak lupa. lalu saat ikut pelatihan di USC Satunama dg bbrp orang LSM ada bbrp fasilitator dan teman peserta yg cerita2. tapi sbg orang Yogya yg cukup dekat, belum pernah sampai ke sana.. mungkin sangat baik bagi generasi muda pemerhati pendidikan utk meluangkan waktu ke sana.. ๐Ÿ™‚
    _____________________

    kalau kang nur berminat mau kesana, ayo ikut saya… insya Allah kalau ke sana lagi, saya kontak kang nur… ๐Ÿ™‚

  8. ngemeng2.., banyak juga ya? yg peduli dengan pendidikan model ini. gimana klo para pecinta pendidikan ini, ya bisa disebut.. generasi penerus di setiap kabupaten. Soalnya kalo pendidikan model ini bisa diterapkan lebih luas lagi, dengan macam dan corak masing-masing daerah kan bisa lebih nambah warna pendidikan alternatif ini. Ada yang dekat pantai, hutan, sawah, kebun, dll. Ini saya kira, bisa dijadikan area perluasan buat kita para pemerhati pendidikan alternatif, ketimbang hanya bisa ngemeng2 tok…
    Jangan hanya bisa menjadi penonton,..gt kan brow

  9. selamat malam
    ada info lengkap tidak mengenai Sekolah Alternatif Q-Tha ini ??
    kalau ada tolong balas komen ini yah terima kasih

    Contac Person, Alamat Web resmi atau email resmi sekolah alternatif ini
    sekali lagi terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s