Kekuatan Doa Orangtua

Pagi ini aku dikagetkan dengan komentar dari seorang pengunjung baru bernama pincurantujuah di blogku ini. Permintaannya agak sedikit maksa untuk mengunjungi balik blognya. Terus terang, awalnya aku sedikit tidak suka dengan caranya mengundang, agak kurang sopan menurutku. Begini kalimatnya:

salam kenal..mohon kunjungi blog saya.. tolong kasih saran karena saya baru belajar..mohon sekarang…ditunggu kehadirannya…Tq

Karena penasaran, akupun kunjungi blognya. Begitu membaca tulisannya, terutama soal perjalanan hidupnya, aku menjadi kagum luar biasa terhadap dirinya. Sebuah perjalanan yang berliku…

Bagian yang menarik perhatianku adalah ini:

19 September 2006, semuanya luntur. Saya masih ingat pada malam satu hari jelang ramadhan itu bintang berhamburan di angkasa. Mereka seakan menemani saya yang sedang asyik-asiknya mengadu untung di meja judi. Waktu itu saya beruntung, menang banyak. Habis berjudi, dengan gitar ditangan, petikan saya mulai mengalun, menyanyikan lagu-lagu yang tidak percaya dengan Pemerintahan dan hukum. Hati saya senang dengan uang yang memenuhi saku celana hitam yang saya pakai. Namun itu tak bertahan lama, petikan gitar saya berhenti setelah satu mobil pengawas kota datang. Sialnya mereka mendengar nyanyian saya yang berlirik “Koruptor Anjing, Koruptor maling, perut buncit kayak kerbau bunting”. Petugas itu tersinggung dengan nyanyian nyeleneh yang keluar dari mulut saya.

Tanpa basa-basi satu pukulan telak nyasar di pelipis kanan saya. Buk, saya tersurut, sesaat saya diam tapi hati saya berontak, pukulan itu seolah hinaan dan saya anggap (waktu itu) trade mark penguasa dan aparat. Saya dipukul tanpa ba-bi-bu..Terang saja gejolak muda saya mendidih, satu sepakan kaki saya yang sudah terbiasa berlalu kencang tepat menghantam rusuk penampar itu, dia terduduk. Tak alang, kesempatan itu saya jadikan pelampiasan, dengan geramnya saya pukuli aparat yang berinisial “ZG” tanpa ampun.

Uhh..tanpa saya sadari..dua pasang tangan kekar berpakaian prema sudah memegangi saya dengan borgol yang siap sedia. Saya diseret ke dalam mobil tanpa celana..saya tertangkap..Sungguh kasihan sementara teman-teman yang selama ini saya anggap selalu bersama hanya memandangi saya dengan tatapan sangat menjijikan. Mereka tega membiarkan saya diseret dengan celana melorot.

Dalam mobil baru saya ketahui kalau lawan saya tadi adalah aparat, suatu kesalahan besar berkelahi dengan mereka..sangat fatal. Pukulan bertubi-tubi menghinggapi kepala bagian belakang saya..tanpa ampun..mereka seakan merdeka mempreteli saya diatas mobil itu. Saya jadi bulan-bulanan. Kata-kata kotor mereka ucapkan, sampai-sampai mereka bilang kalau ibu saya perempuan malam. Bathin saya teriris, namun mau apalagi, mereka yang berkuasa.

Penyiksaan belum berhenti..sampainya di Kantor mereka, saya diintrogasi sembari disuruh mengunyah puntung rokok marlboro. Rasanya sangat pahit. Tak ada yang menolong saya, yang saya ingat cuma ibu, entah bagaimana perasaannya ketika tahu saya ditangkap. Padahal dia masih terbaring lemah karena sakit yang dideritanya sepulang dari Batam.

Semua penyiksaan itu belum seberapa, malam itu saya dipaksa menginap dirumah berjeruji besi yang berbau menyengat. Saya tak boleh pakai baju. Malam itu saya akui harga diri saya terinjak. Bagaimana tidak, sepanjang malam saya disuruh menggonggong seperti anjing dan merangkak, kalau tidak mau saya diancam akan “dihilangkan”. Selain itu, saya disuruh berdiri terbalik, dengan kepala menempel di lantai penjara. Pukulan tak berhenti sampai-sampai darah segar mengucur dari mulut, hidung dan telinga. Para penjaga yang menyiksa saya hanya tertawa dan berkata “Malam ini kau adalah anjing penjaga “rumah” ini”. Hati saya hancur, tangan saya yang selalu ditakuti kini menciut dihadapan para aparat berseragam itu.

Sepanjang malam saya disiksa, para penghuni lainnya bahkan sudah memohon “mereka” untuk berhenti memukuli saya, namun itu semua tak dihiraukan…saya masih dipukul dan bertindak seperti hewan yang tak lupa menggonggong. Bogem-bogem mentah tak pernah berhenti..walaupun darah tak berhenti keluar dari mulut saya..namun saya tak menangis. Oh ya..saya ingat waktu itu, presiden SBY datang ke Batusangkar karena dinobatkan menjadi datuk.

Pagi harinya, entah angin apa, saya dibebaskan tanpa syarat. saya tidak tahu siapa yang menjamin saya, yang saya tahu “mereka” bilang “kamu hebat ya..bisa keluar,,,bapak mu pejabat ya..”. Ah mereka tidak tahu kalau bapak hanyalah seorang petani miskin. Dengan wajah yang membiru dan membengkak serta kening menggelupas saya tompangi angkot untuk pulang. Orang-orang memandang jijik pada saya yang hanya memakai celana sobek tanpa baju. Sampainya dirumah saya disambut raungan tangis ibu dan keluarga lainnya. Mereka tak kuasa melihat keberadaan saya yang sangat tak karuan. Untuk pertama kalinya saya menangis. (Saya tak ingat sebelumnya kapan terakhir kali saya menangis).

Setelah peristiwa itu, kesadaran akan arti hidup dia dapatkan. Dan sebuah perubahan besar terjadi pada dirinya. Sekarang dia menjadi wartawan di sebuah media cetak di kota Padang. Yang menjadi pertanyaannya sampai saat ini adalah, siapakah yang telah membebaskannya dari penjara?

Untuk menjawab pertanyaannya ini, aku berkomentar bahwa sesungguhnya yang telah menyelamatkannya adalah DOA kedua orangtuanya. Allah telah mengirimkan “malaikat” penolong kepadanya lantaran “permohonan” yang tiada henti dari mereka. Aku sangat yakin akan hal itu.

Ya, doa keduaorangtua sangatlah memiliki kekuatan yang luar biasa. Dulu, setiap kali mau mengikuti ujian, aku selalu minta doa dari mereka. Dan alhamdulillah, berkat doa mereka dan usaha dari diriku, semuanya berjalan lancar dan memberikan hasil yang tidak mengecewakan.

Ridha Allah terletak pada ridha keduaorangtua, murka-Nya terletak pada murka keduanya“. Kalimat ini memiliki dua sisi yang berbeda.

Pertama, bagi yang berstatus anak, senantiasalah berbuat baik kepada keduaorangtua, apapun keadaan mereka. Nabi Ibrahim tetap menghormati ayahnya, meski ayahnya seorang pembuat berhala.

Kedua, bagi yang telah berstatus sebagai orangtua, berhati-hatilah dalam berucap kepada anak-anak kita. Karena setiap ucapan kita adalah doa. Sering kita “ngatain” anak kita dengan kata-kata yang tidak baik ketika kita sedang marah, seperti: “anak tidak tau diuntung, anak tidak berguna, dsb”. Sadarkah kita, kalau di saat itu kita telah mendoakan mereka untuk menjadi seperti yang kita ucapkan? Jadi, jangan salahkan bila mereka besar nanti menjadi tidak tau diuntung atau tidak berguna. Itu semua berkat “doa” yang kita ucapkan.

Advertisements

13 thoughts on “Kekuatan Doa Orangtua

  1. maaf bang kalau kalau cara saya kurang sopan..tapi saya hanya ingin mendaptkan kritikn dari tulisan yang saya buat…sekali lagi maaf bang..saya juga berpikir kalau semua berkat orang tua say..Tq bang…
    _____________________

    gak apa2, justru saya berterima kasih telah “disuguhi” cerita yg luar biasa ini. teruslah bercerita, agar banyak orang yg tersadar… 🙂

  2. Setuju Uda …
    dan jangan salah …
    Doa anak kepada orang tua juga sama ampuhnya Uda …

    Ahhh ALLAH memang luar biasa …

    BTW …
    Ngundangnya asik juga ya …
    pake acara kata-kata … “mohon sekarang”
    khas banget …
    hehehe
    ______________________

    benar tuh Pak…
    justru dg “maksa” itulah saya jadi penasaran…

    ya… doa anak juga memiliki kekuatan, seperti yg dilakukan Nabi Ibrahim, beliau mendoakan ayahnya untuk dimasukan surga oleh Allah, hasilnya? wallahu a’lam… 🙂

  3. wah, menahan napas saya membaca cerita ini.
    jadi ingin pula mengunjungi blog dimaksud.

    setuju bahwa doa orang tua paling makbul dan bisa menembus arasy.
    bukan terkait pada cerita ini melainkan secara keseluruhan, apakah semua orang tua punya kans buat doanya makbul tak peduli bagaimana latar belakang keimanannya?
    (pertanyaan karena saya benar-benar ingin tau, da)

    hmm… lamo libur lebarannyo yo, da?
    maota awak setek, baa rayo di sinan?
    _____________________

    menurut saya, doa tulus dari orangtua, apapun latarbelakangnya, sangat besar kansnya untuk dikabulkan. orangtua adalah orangtua, yg tetap harus dihormati dan dihargai. firman Allah dalam al-qur’an: “bila mereka menyuruhmu kepada kedurhakaan terhadapku, janganlah taati mereka, tetapi tetaplah pergauli mereka dengan baik“. ini mengindikasikan kalau orangtua itu tetap mulia di mata Allah, apapun keadaannya.

    sebetulnya liburan lebarannya tidak lama, yg lama itu “liburan ide”, jadi lama gak posting. mungkin kebanyakan makan randang angek jo katupek gulai toco, sehingga terlena… halah… apa hubungannya… 🙂

    lebaran di jogja sebetulnya asyik juga, tapi tentu lebih asyik kalau di kampung sendiri, karena bisa “balas dendam” dengan kuliner sendiri… 🙂

    taragak pulo awak maota jo uni dokter ko… di YM sajo, id ambo: abou_afif

  4. cek TKP ahh………

    seperti nya gambar surau di header familiar deh :mrgreen:
    _____________________

    marandah sutan mah… kan alah dulu mampir di TKP dari ambo… 🙂

    gambar header itu adalah Surau Badano, Sungai Rotan, Pariaman Selatan, saya ambil dari uda fadli: http://zulfadli.wordpress.com/
    saya dah minta ijin kok… hehehe… 🙂

  5. Hai Uda

    Seperti kata Om NH18, doa anak sholih terhadap orang tua sama hebatnya dengan doa orangtua terhadap sang anak.
    Malah menurut saya, doa dari siapapun, asal memang niatnya baik, Allah tidak akan segan-segan untuk mengabulkannya…

    Tapi memang,
    sebagai orang tua, wajib hukumnya untuk menjaga perkataan. Karena seperti yang dibilang Uda, bahwa ucapan orang tua adalah doa.

    Soal cara perkenalan saat blogwalking… itu trik marketing, bukan? hihhi.. maaf ya pincurantujuah… (biar dia maen ke blog saya juga.. haha)

    Salam Uda
    Apa kabar? Sehat?
    _____________________

    salam juga La… alhamdulillah sehat, Lala juga kan…? 🙂

    benar, doa anak juga sama dahsyatnya dg doa orangtua, bahkan salah satu dari 3 hal yg tidak terputus pahalanya setelah seseorang meninggal adalah doa anak yg sholeh…

    memang benar, doa dari siapapun yg dipanjatkan dg tulus akan memiliki kekuatan, tapi menurut saya, doa orangtua tetap memiliki keistimewaan..

    iya tuh, pintar amat si P7 trik marketingnya… ditiru gak ya? 🙂

  6. Terima kasih sudah mengingatkan, terutama soal ucapan kepada anak-anak kita. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari perkataan yg kurang pantas terutama kepada anak-anak kita … Amin.
    _____________________

    sama2 pak…
    jadi ingat cerita malin kundang, meski itu hanyalah legenda, tapi menurut saya, tentunya itu tidak terlahir begitu saja, pastilah memiliki latar sosiologis dan antropologis di masanya… 🙂

  7. Ortu merupakan segalanya, tak dapat bisa digantikan dengan apapun, postingan menarik Om dan sangat menyentuh hati ..
    _____________________

    setuju… ortu tetap kudu dihargai, dimanapun dan kapanpun… 🙂

  8. Kisah yang menarik, Bro.
    Kumpulin aja kisah inspiratif seperti ini sekitar 30, bisa jadi buku tuh…
    Yup, doa dari siapapun kalau ikhlas pasti akan ada pengaruhnya.
    Apalagi doa dari orang yang teranianya…

  9. Menyentuh bange….tttt. Orang tua memang segalanya. Beliau tulus banget pada anak2nya. Tapi kira2 aq tulus gak ya ma ortuq?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s