yatimkah dia?

Hari minggu kemarin, aku melakukan kesalahan kecil yang disebabkan oleh ketidaktahuanku. Tapi, kesahalan kecil itu, sangat membekas dalam di hatiku, dan membuatku memikirkan terus kejadian itu. Entah penyesalan atau kemarahan, lho kok? Begini ceritanya:

Pengurus masjid di kampungku berniat mendirikan Pondok Pesantren dan Panti Asuhan bagi anak yatim dan dhu’afa. Karena ini adalah program kemanusiaan, maka ketika mereka memintaku untuk ikut membantu, terutama mencarikan bantuan dana pembangunan gedungnya, aku langsung menyanggupinya.

Singkat cerita, akupun berhasil mendapatkan bantuan dari sebuah lembaga donor dari Qatar. Mereka menyanggupi membangunkan gedung tersebut, dari awal hingga selesai. Bahkan mereka juga menyanggupi untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim itu secara rutin setiap bulannya, yang akan dimulai pada bulan Januari 2009 mendatang.

Untuk itu, kamipun melakukan pendataan terhadap anak yatim yang akan menjadi asuhan Panti itu nantinya. Terkumpullah 50 orang anak yatim yang berasal dari sekitar kampung kami. Kepada mereka diminta untuk mengisi formulir pendataan dan diserahkan pada hari Minggu kemarin secara bersama-sama di masjid, sekalian diambil foto mereka.

Di sinilah kejadian yang kumaksud terjadi. Aku ditugasi untuk menerima formulir dari anak-anak itu dan menelitinya satu persatu, kalau-kalau ada yang salah isi. Satu persatu formulir itu diserahkan, dan sampailah pada seorang anak, sebut saja namanya Dani.

Ketika kuteliti formulir yang diserahkan Dani, aku menemukan kolom “data ayah” tidak diisi sama sekali.

“Mas Dani, data ayahnya kok kosong?”

“Ngng… saya tidak tahu Pak”

“Masak nama ayahnya sendiri tidak tahu?” Kan bisa nanya ke Ibumu siapa nama ayahmu. Dan yang lebih penting lagi tahun kematian beliau. Ya sudah, gini aja, sekarang Mas Dani pulang ke rumah, tanyakan ke Ibu siapa nama ayah, ya. Setelah itu, balik lagi ke sini buat diambil fotonya”

“Nggeh Pak…”

Dani pun berlalu, dan aku pun melanjutkan pekerjaanku. Akhirnya sampai pula aku pada dua orang kakak beradik, sebut saja namanya Yoga dan Siti. Ternyata, mereka berdua juga memiliki kasus yang sama dengan Dani, tidak mengetahui nama ayahnya. Akupun menyuruhnya untuk melengkapi lagi seperti yang ku katakan pada Dani tadi. Di bagian terakhir, aku juga bertemu seorang lagi yang berkasus sama, sebut saja namanya Yadi. Tentu saja akupun menyuruhnya untuk melengkapi data tersebut.

Dua jam kemudian kegiatan itu pun berakhir. Aku dan beberapa pengurus masih tetap duduk di masjid. Membincangkan beberapa hal sampai akhirnya salah seorang pengurus menghampiriku sambil menyodorkan beberapa formulir yang telah diisi.

“Pak, ini formulir keempat anak tadi diterima saja”

“Lho, k0k informasi tentang ayah anak-anak ini masih kosong Pak?”

“Ya benar… Soalnya mereka tidak mengetahui nama ayahnya”

“Kan mereka bisa nanya ke Ibunya atau walinya”

“Keluarganya juga tidak tahu siapa ayahnya, bahkan Ibunya sendiri juga tidak tahu siapa ayah dari anaknya tersebut”

“What….!!!??”

Bagai disambar petir, aku terdiam sejenak. Aku benar-benar tidak mempercayai yang baru saja aku dengar. Dan kemudian, cerita tentang ketiga anak itupun mengalir dari mulut para pengurus itu.

Dani adalah anak dari seorang perempuan yang mengalami cacat  sejak kecil. Ibunya tersebut memiliki kemampuan fisik dan intelektual yang terbatas, bahkan sama sekali tidak bisa berbicara. Dulu, kampung kami digegerkan dengan kehamilan Ibunya tersebut. Dari pengakuannya melalui komunikasi yang sangat terbatas itu dipahami kalau beliau telah digagahi oleh empat orang pria secara bergiliran! Benar-benar mengenaskan. Dan, Danipun tidak diketahui siapa ayah biologisnya, apalagi keempat orang terkutuk itu pun telah menghilang entah kemana sejak kejadian itu.

Sementara, Yoga dan Siti adalah dua orang anak yang lahir dari rahim seorang Ibu yang hidup dari satu pelukan pria ke pelukan pria lainnya. Dia tidak mengetahui sudah berapa banyak pria yang menidurinya dan siapa saja mereka. Maka, dapat dipastikan, dia juga tidak tahu, Yoga dan Siti dari benih siapa.

Yadi, adalah seorang anak yang lahir dari rahim seorang Ibu yang dulunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kehamilannya diduga kuat karena kelakuan majikannya, meski sang majikan sama sekali tidak mau mengakuinya. Tak lama setelah Yadi lahir, sang Ibu pun menghadap Sang Khaliq.

Aku pun menahan nafas mendengar cerita memilukan itu. Jantungku berdegup kencang. Antara bersalah dan marah. Bersalah karena aku telah menanyakan hal yang sangat sensitif  kepada anak-anak itu, meski itu karena ketidaktahuanku, marah karena membayangkan betapa kejinya perbuatan manusia-manusia tersebut sehingga akhirnya anak-anak ini menanggung akibat dari dosa yang tak pernah mereka lakukan.

Aku tak kuasa menahan aliran air mataku. Terbayang betapa beratnya hidup yang mereka lalui. Jangankan untuk merasakan kasih sayang seorang ayah, mengetahui siapa ayahnya saja tidak! Ya Allah! betapa tidak adilnya hidup buat mereka…!!

Kalaulah teman-teman mereka yang telah meninggal ayahnya dapat dikatakan yatim, sementara mereka?Aku tidak tahu, termasuk kategori apa mereka. Yang pasti, aku sangat merasakan kehampaan yang mereka lalui…

Kejadian ini membuatku semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan gedung panti tersebut. Dani dan kawan-kawannya yang senasib harus segera mendapatkan “rumah” yang nyaman dan merasakan kehangatan sebuah keluarga, meskipun hanya keluarga panti. Mereka berhak hidup layak sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka tidak boleh menderita karena dosa yang tidak pernah mereka perbuat…

Semoga kami segera dapat mewujudkannya. Mohon doa…

Advertisements

26 thoughts on “yatimkah dia?

  1. wah sedih nya…. si anak tidak tahu siapa ayahnya karena ibu nya yang cacat digagahi oleh orang lain.
    Anaknya normal kan pak? sedih memang, ketika dia pulang nanyain ke rumahnya bertanya siapa ayahnya.
    kasihan sekali dia pak
    ____________________

    alhamdulillah anaknya normal, cerdas malah…
    doakan ya cat, semoga kita dapat segera mengurangi kesedihan mereka…

  2. menyentuh sekali, da vizon. saya sampai tertegun membacanya. tapi yang paling membuat saya salut adalah ketabahan anak-anak itu. dari cerita ini saya tangkap kalau mereka tidak merasa patah hati atas kondisinya.

    mudah-mudahan panitia diberi kemudahan dalam menyelesaikan pembangunan gedung dimaksud. sungguh amal yang luar biasa bermanfaat bagi anak-anak itu, da.

    (jadi malu, saya hanya bisa nyumbang doa)
    _____________________

    benar sekali uni, mereka sangat tabah. keempat anak tersebut termasuk remaja yg sangat aktif membantu di masjid, terutama dani, hampir setiap hari dia membantu menyapu seluruh ruangan masjid.

    masing2 kita dapat berbuat sesuai dg kemampuan kita uni, dg memberikan doa saja itu sudah merupakan bantuan yg luar biasa. doa yg tulus, akan dikabulkan oleh Tuhan, insya Allah…

    terima kasih 🙂

  3. Waduh … beruntunglah Sampeyan membantu mereka yang benar-benar perlu dibantu. Sungguh mulia. Saya pikir itu bukan kesalahan, tapi … jalan untuk memahami. Teriring doa, dan sukses dalam proyek kemanusian Mas. Salam.
    ___________________

    benar pak, ternyata untuk memahami sesuatu, mesti ada kesalahan dulu yg dilakukan,
    terima kasih atas dukungannya… 🙂

  4. Uda …
    Maafkan saya Uda …
    Ketika membaca di bagian awal … saya terus terang telah berprasangka buruk pada anak-anak itu … terutama pada orang tuanya …
    Aku pikir ini adalah …(maaf) akal-akalan mereka untuk mendapatkan bantuan secara mudah … padahal Ayahnya masih ada … yang mungkin saja sedang enak-enakan nongkrong di tegongan … sambil ngerokok …

    Nggak taunya …
    Setelah membaca lebih lanjut .. saya tertegun … saya merasa sangat bersalah … betapa mudahnya saya berprasangka buruk …

    Saya hanya bisa berdoa … semoga ke empat anak-anak itu menjadi anak yang sholeh dan sholehah …
    sehingga mereka bisa membantu keluarga dan juga lingkungan sekitarnya nanti …

    Salam saya Uda …
    NH18
    _____________________

    benar pak, saya juga awalnya begitu; berprasangka buruk,
    semoga ini menjadi pembelajaran yg berharga bagi saya pribadi dan kita semua… 🙂

  5. What an inspiring story! Mendirikan rumah untuk anak yatim itu benar2 mulia. Semoga mereka bisa menemukan pelipur lara di lingkungan kecil itu.

    Great, I’ll follow your step one day.
    ____________________

    amin…
    I’m sure, you can do better then this… 🙂

  6. waduh, kasihan dedek Dani, Yoga, Siti dan Yadi. Mungkin sedih yah ditanyain sapa nama ayahnya sama Uda Vizon. Tapi semoga mereka tidak patah semangat dan terus berjuang melanjutkan hidup mereka yang masih panjang. Semoga kelak jadi orang sukses didunia dan bahagia di akhirat. Amin.
    ____________________

    terima kasih doanya mbak dewi…
    saya yakin, di luar sana, masih banyak anak2 yg bernasib sama seperti mereka,
    semoga mereka diberi keberuntungan oleh Tuhan…

  7. smoga pantinya nanti bener-benar jadi rumah baru yg menyenangkan bagi mereka…

    untuk bisa mendapatkan pelukan keluarga baru,
    untuk dapat menatap masa depan lebih cerah…

    hiks, membaca ceritanya, kok jd ngerasa kurang bersyukur yach….. 😦

  8. Alhamdulillah saudaraku, engkau berada di jalan yang benar, semoga Allah memanjangkan umurmu dan menambah kekuatanmu, dan memudahkan segala urusanmu. Aku hampir saja meneteskan air mata, ketika membaca berita ini. Aku berharap ada sekelompok komuitas yang terus memberikan kepedulian yang nyata bagi mereka yang secara faktual kurang beruntung. Syukurlah kakalu saudaraku telah memberikan perhatian dan mengerahklan segala kemampuan untuk peduli mengurus mereka.
    Memang, banyak realitas seperti itu di Jogja, dulu tetanggaku juga ada yang punya 2 anak, tapi banyaknya nggak jelas, bahkan menurut cerita masyarakat sekitar bapaknya masih tetangganya sendiri.
    Aku nggak tahu apakah mereka yatim atau diyatimkan, namun yang jelas mereka membutuhkan uluran tangan-tangan kuat, pemurah , lembut dan bersih, agar mereka dapat menuju harapan masa depannya.,sekali lagi salut untuk antum, semoga selalu dalam naungan ridoNya, amiin.
    _________________

    aku juga pernah dengar tentang tetanggamu itu, semoga suatu saat kami bisa “menjangkau” kampungmu itu…

    salam buat keluarga di palembang… 🙂

  9. thanks, zon. dalam upaya melatih kepekaan berkomunikasi, aku ngga
    ngebayangin “ada” kasus semacam ini. andai aku di posisimu, hampir pasti
    aku juga akan kepleset ngelontarin pertanyaan persis seperti yang
    kautanyakan kepada anak-anak itu: pertanyaan khas robot administrasi,
    yang kepalanya dipenuhi aturan dan keteraturan, nyaris ngga ada ruang
    buat empati dan kepekaan.

    thanks, zon, jadi nambah lagi satu perbendaharaan “kata” yang sensitif
    ditanyakan.

    moga-moga anak-anak itu tak sesensitif yang kita takutkan; moga-moga
    mereka mau kembali ke panitia pendata; atau, kurasa panitia sudah punya
    inisiatif buat mengunjungi mereka satu per satu?

    dz.
    ==
    __________________

    benar bro, terkadang kita mesti salah dulu baru mengerti…
    insya Allah mereka menjadi prioritas utama kami, dan mereka pun sudah tidak merasa “tersingkirkan” lagi… 🙂

  10. zon…….aku coment dikit aja yaaaKayanya setiap mahluk yang lahir dimuka bumi ini,tidak pernah tahu akan lahir dari RAHIM siapa?…… Tidak aja anak seorang pelacur,anak seorang kuli bangunan,dsb. ……… Termasuk KITA,SAYA,dan ANDA…….. Mungkin tidak pernah terlintas dalam otak kita,bahwa kita akan dilahirkan oleh seorang ibu yang biasa biasa saja…….. bukan ibu dari istri seorang pejabat,atau istri seorang penjahat,atau ulah pejabat atau ulah penjahat…. Setiap janin yang besemayam dalam Rahim Ibu,tidak ada dosanya….. dari mulai calon benih,benih, sampai dia lahir……. kalo vizon bilang dari dari seorang anu atau ini……… dia tidak pernah tau…. Maka pesan aku……… perlakuk an dia sama dengan yang lainnya….. walaupun secara biologis mungkin bapaknya masih hidup,namunsecara fisik dia tidak pernah tau……… karena sesunggunhya hidup kita hanyalah untuk IBADAH DAN IBADAH,soal apa dan mengapa serta KOMPENSASI YANG DIBERIKAN ALLAH ADALAH HAK MUTLAK DARI NYA
    selamat berjuang sobat selagi masih bisa kau rasakan nikmatnya embun pagi,dan hangatnya sinar mentari….. disana ada cahaya lembut yang menanti…..
    _________________

    insya Allah, kami akan perlakukan mereka lebih baik,
    thanks atas support dan doanya… 🙂

  11. mereka tidak yatim,coz mereka masih punya muslim2 lainnya yg sangat bertanggung jawab koq,dan itu telah dicontohkan oleh oleh Hardi n orang2 sekampungnya di zogza, yg yatim itu kalau anak2 itu bukan menjadi tanggung jawab2 orang disekitar itu.zemoga zukzez ya boz.
    _________________

    benar zekali boz, mereka memang haruz diperlakukan lebih baik dari zekedar yatim, mereka zuga layak dapat kebahagiaan…

    btw, zuzah zuga ya ngikutin cara ente mengganti s jadi z, hehe… 🙂

  12. uda……
    ky awalna jg sempat suuzon thd mrk lho…..
    astaghirullah…..ga tau tdk spt itu…..
    malah mereka memberi pelajaran baru tuk ky uda…..
    mdh2an mereka ttp kuat dan tabah……
    mdh2an jg pantina cpt selesai……
    slm buat mereka ya uda……
    hanya doa yg dpt ky berikan tuk mereka……(malu neh)

  13. Uda….
    sejak saya tinggal di Jepang yaitu sejak 16 tahun lalu,
    saya tidak berani menanyakan, “Siapa bapak kamu?”, “Siapa ibu kamu”. Bahkan kepada yang menikah, saya tidak bisa menanyakan,”Sudah punya anak?” “Kenapa tidak punya anak?”. Karena…. yah jawabannya sering seperti itu. Daripada saya menanyakan dan mereka tersinggung atau menjadi sedih.

    Kalau posisi Uda kan memang harus menanyakan, jadi wajar. Tapi dengan perkembangan jaman seperti sekarang, anak-anak yang benar-benar tidak tahu siapa ayah dan ibunya amat banyak. Bukan karena mereka malu dan tidak mau memberitahu, tapi yah karena mereka benar-benar tidak tahu.

    Dari awal cerita Uda, saya sudah mengira jawabannya. Meskipun mungkin letak kampung Uda rasanya tidak mungkin dengan kejadian-kejadian tersebut.
    Miris ya….

    Salam hormat
    EM
    ________________

    kemodernan memang punya konsekuensi; resistensi kultural
    bangsa kita sudah mengarah ke sana
    ajaran adhi luhur dari nenek moyang kita soal kehormatan, sudah tidak dipandang lagi sebagai sebuah keniscayaan.
    semoga kita dapat belajar dan mengurangi dampak dari kemajuan zaman ini terhadap moral generasi kita…

  14. Suatu usaha yg sangat mulia. Rasul sendiri pernah bersabda bahwa beliau nanti di surga akan berada di tengah-tengah anak yatim (kalau salah mohon dikoreksi). Saya juga hanya bisa ikut berdo’a semoga usaha mulia ini bisa segera terlaksana demi masa depan penerus kita … Amin.
    _________________

    tambahan lagi: “rumah yg di dalamnya dipelihara anak yatim dg baik, adalah rumah yg paling diberkahi”. terima kasih atas doanya pak… 🙂

  15. pak…bolehkan saya di kirimkan alamat adik-adik itu…siapa tahu ada beberapa teman saya yang bisa membantu nya, kalau bersedia pak kirim ke email aja : imoe77@yahoo.com di tunggu ya…kalo bisa berkunjung juga kesana…alamatnya dimana ya…..(bapak di SUMBAR juga kan…)
    ____________________

    ajo imoe… lokasinya di bantul yogyakarta, bukan di sumbar, maaf… hehe… 🙂

  16. Uda,
    Saya paling trenyuh mendengar kisah anak2 yang (sengaja) diabaikan oleh orang tua mereka.
    Alhamdulillah saya mendapat karunia buah hati yang cantik setelah menunggu 2 tahun lebih dari usia perkawinan.
    Kenapa ya, kok ada segelintir orang yang tega menciptakan bencana bagi anaknya sendiri.
    Semoga panti asuhannya segera cepat berdiri. Mohon di-share alamatnya apabila tidak keberatan
    ____________________

    terima kasih atas doa dan perhatiannya.
    lokasinya di dekat rumah saya, dukuh kweni, bantul yogyakarta… 🙂

  17. Uda….
    Bunda ikut ikut yang lain….panggil uda…
    Seringkali pada saat Bunda mengadakan acra untuk penjelasan Akte kelahiran….pertanyaan yang muncul…:” Lha kalo nggak punya bapak..nggak tahu dimana , boleh minta akte nggak Bu ??”…Bunda menahan napas….berapa banyak anak anak yang lahir dengan nasib seperti itu ?? sangat menyedihkan….Alhamdulillah Mas Vizon dan kita semua masih mempedulikan mereka….Mereka punya hak yang sama dengan anak yang lain…mereka tidak bersalah…
    _____________________

    Ga apa2 Bunda ikutan manggil saya “uda”, jadi panggilan khas gitu, hehe…
    Kenyataan ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk semakin gencar menyerukan “pengjagaan” moral generasi muda dari prilaku semacam itu. Semoga hal2 yg ditabukan nenek moyang kita, seperti seks bebas, tetap menjadi tabu sepanjang hayat. Karena, saat ini di kota2 besar, prilaku semacam itu sudah menjadi hal yg biasa saja… na’udzubillah…! 🙂

    salam saya bunda

  18. Saya ga bakalan tau kalo akhir cerita uda seperti ini.
    Bener2 cerita yang menyedihkan dan menyakitkan hati..
    Ghazul fikr itu memang membuat moral bangsa kita menjadi rusak dan hancur..

    Tugas berat nih utk melawan ghazul fikr dan menjaga moral generasi bangsa.. Semoga Panti Asuhan yang uda kelola diberi kelancaran dan kemudahan oleh 4JJI dalam operasionalnya.. Amin

  19. Pingback: ketamuan « surauinyiak

  20. Uda, ini anak-anak yang akan kita datangi besok tanggal 7 ya? Pengin membantu mereka, tapi kemampuan terbatas. Semoga banyak dermawan yang terketuk hatinya …

  21. Sangat sedih dan terharu membaca ceritanya. Begitu malang nasib ke empat anak2 itu yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Betapa jahat dan kejinya perbuatan laki2 yang tidak mau bertanggung jawab. Semoga suatu saat ke empat anak itu menjadi anak yang pintar, cerdas dan semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan melindungi mereka. Amiin…
    Salam kenal ya Uda…
    Nice posting… 🙂

  22. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Pertanyaan Riku di Yogya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s