debat dengan polisi

Tidak seperti biasanya, pagi itu aku tidak mengantar anak-anak ke sekolah. Aku minta istriku menggantikannya, karena makalah yang aku presentasikan di depan kelas nanti belum selesai aku print.

Setelah semuanya beres dan istriku pun sudah kembali dari mengantar anak-anak, akupun bergegas berangkat ke kampus. Di benakku sudah terbayang jalan yang  akan kulalui; sebelum ke kampus, mampir sejenak ke fotocopy untuk menggandakan makalah tersebut.

Tidak seberapa jauh berlalu dari rumah, aku bertemu dengan kegiatan rutin kepolisian; razia! Dengan penuh percaya diri, akupun membuka dompet untuk memperlihatkan STNK dan SIM  kepada Pak Polisi yang menghadangku.

Tiba-tiba jantungku berdegub kencang, wajahku sontak berubah pucat. Pasalnya, aku tidak menemukan STNK di dompetku. Akupun teringat, ternyata tadi aku lupa memintanya kembali dari istriku. Oh God, betapa lalainya aku..!

Pak Polisi itupun menyuruhku untuk menemui petugas yang mencatat penilangan, yang mengambil posisi di depan mobil mereka.

“Selamat siang Pak, ada apa?”

“Iya nih Pak, STNK saya ketinggalan, tadi dibawa istri, lupa memintanya kembali”

“Karena Bapak tidak membawa surat-surat lengkap dalam perjalanan, maka Bapak kami tilang. Apakah Bapak mau menghadiri sendiri persidangannya atau kami wakili?”

Akupun berpikir cepat, daripada harus repot-repot ke persidangan, lebih baik minta mereka mewakili saja.

“Ya sudah, diwakilkan saja Pak”, ujarku

“Kalau begitu, Bapak kami kenakan biaya Rp. 20.000,-“

Duh, melayanglah Rp. 20.000 pagi itu. Bagi diriku uang segitu terhitung besar, karena cukup untuk menggandakan makalah sebanyak rekan-rekan di kelasku. Tapi, mau diapakan lagi, terpaksa!

Sambil menunggu Pak Polisi itu menulis data-dataku di buku tilangnya, akupun berbicara kepadanya:

“Masa lupa saja tidak dimaafkan Pak”, ujarku sekenanya.

“Lho, kita saja kalau lupa salat tetap berdosa kan?”

Nah, jawabannya ini membuatku terganggu.

“Ya ndak tho Pak. Dalam hukum Islam, ada tiga golongan yang dimaafkan bila tidak melakukan ibadah, yakni anak kecil sampai ia baligh, orang tidur sampai ia terbangun dan orang gila sampai ia sadar”

“Lha, kan ndak ada tentang orang lupa”

“Orang tidur itu disamakan dengan orang lupa. Buat yang terlupa diberi keringanan (rukhshah). Misalnya, waktu maghrib sudah masuk, tiba-tiba kita ingat belum salat ashar, kita boleh segera salat ashar, tapi dengan syarat benar-benar lupa, bukan karena lalai”

“Yang benar Pak?”

“Iya, makanya kalau Bapak tidak memaafkan orang yang lupa bawa STNK, berarti Bapak lebih hebat dari Tuhan”

“Ini kan peraturan Pak”

“Peraturan Tuhan saja ada dispensasinya, masak peraturan manusia tidak? Hebat benar”

Tiba-tiba aku tersadar…!

“Lho, kok kita malah berdebat sih Pak” ujarku kepada Pak Polisi itu. “Ya sudah, ini Rp. 20.000, mana SIM saya”

“He, he, he… iya, iya, ini Pak, lain kali jangan lupa lagi ya…” kata Pak Polisi itu sambil menyerahkan SIM ku.

Akupun berlalu dari situ dan bergegas menuju kampus. Dalam perjalanan aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi. Kok mau-maunya kau terlibat dalam debat tidak penting tadi ya? Halah, biarlah, mudah-mudahan Pak Polisi itu bisa tercerahkan, meskipun sedikit… 🙂

Advertisements

15 thoughts on “debat dengan polisi

  1. hahaha… ada-ada saja uda vizon. Tapi Pak Polisi-nya lucu juga ya, masih mau meladeni uda vizon berdebat. Kalo disini langsung dibentak tuh, da: Diam, kamu! Banyak omong! Sini, bayar 50 ribu…! hehe… Pernah ngalamin kyk gitu soalnya…

  2. Waduh, kenapa ga sekalian aja dibiarkan untuk diselesaikan di pengadilan. Nah, di sana itu baru bicara macam ke polisi tadi kepada bapak ibu hakim terhormat. Pasti lebih seru tuh, debat sama orang pengadilan! 😀
    _________________

    kalau saya tidak segera “sadar”, barangkali akan sampai ke pengadilan, hehe… 🙂

  3. kok ya masih sempat-sempatnya ngajak debat pulisi … kalau saya sudah pengen cepat-cepat berlalu dari situ … hehehe
    _________________

    iya tuh Pak, saya juga heran, kok mau-maunya ya…? hehehe… 🙂

  4. Kalo naik Vespa aman da…
    cuma polisi kurang kerjaan yang mau nyetop…
    Salam kenal….
    _________________

    apalagi vespa yg sudah “kehilangan bentuk” ya, hehe… 🙂
    salam kenal juga

  5. ahhhh kalau saya malah bukan mengganggap itu sebagai debat. tapi sebagai sebuah diskusi agama yang menerangkan akal budi… ntah buat yang lain. Karena ternyata masih banyak yang tidak kita ketahui, dan bisa didapatkan dari orang-orang sekitar kita. Kalau saya polisi, mungkin ucapan Uda akan menjadi pemikiran di setiap langkah hidup. Bahwa manusia memang bisa lupa kok.Dan bahwa Tuhan Maha Pengampun…

    EM
    __________________

    Tuhan memang punya banyak cara untuk “mengingatkan” hamba-Nya,
    semoga debat saya itu bisa dipahami oleh Pak Polisi tersebut sebagai cara Tuhan mengingatkannya… 🙂

  6. HHmmm …
    Yang saya bersyukur …
    Polisinya tersebut tidak Arogan … membentak-bentak …
    dan mengeluarkan kata-kata saktinya “Sodara melawan petugas ya ??” (ini kata-kata favorit yang selalu keluar kalau mereka sedang merasa terjepit …)

    Eniwei …
    Pesannya adalah … jangan lupa bawa kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor … ini juga ditujukan untuk saya sendiri … maklum saya juga sering lupa … (hehehe)

    Salam saya Uda …
    _________________

    sepertinya kalau diteruskan memang bakal keluar kalimat itu pak, untungnya saya segera “sadar”, hehe…

    salam saya juga Bapak

  7. setuju dengan mbak imel, itu sih diskusi, saling berbagi pencerahan. justru bagus kan, da vizon?

    kalau tilang mau diberlakukan saklek sih sebenarnya gampang: surat tilang dikirim melalui pos dan pembayaran langsung dilakukan di loket-loket yang ditunjuk tanpa pengadilan yang merepotkan itu, seperti di kantor pos. toh ujung-ujungnya musti bayar denda ke negara. kenapa gak dibuat gampang saja. transaksi antara petugas dan yang didenda diminimalisir agar tak ada korupsi dan kolusi.
    itu sih berdasarkan pengalaman di sini, da. dan dendanya luar biasa besar, sehingga rakyat takut dan patuh. hehe!
    _________________

    hmmm… kapan ya negara kita bisa seperti itu?
    mari kita mulai dulu dg mimpi… 🙂

    btw, dah balik nih dari jalan2?

  8. semoga saja uda vizon gak pelupa lagi ya. hehehe! ngomong2 saya juga punya naluri debat kok pak, kalau di stop polisi, pernah saya distop padahal kendaraan saya standard semuanya lengkap helm pun ada. alasannya cuma Plat Nomor kendaraan saya pudar. Saya pun menjawab ini tidak pernah saya utak atik sejak diberikan pertama kali dari Samsat.
    yah, intinya cuma nyari2 kesalahan aja.
    mudah2an itu cuma oknum beberapa orang saja.
    _________________

    jadi debat itu naluri ya cat, hehehe… 🙂
    menurut saya, spontanitas kita untuk menyatakan tidak suka atas apa yg kita hadapi, itu mesti ditumbusuburkan, karena kebenaran, sepahit apapun itu, harus disampaikan… 🙂

  9. Menurutku itu santapan rohani pagi hari, Da Vizon. Diskusi bisa dengan siapa saja, termasuk antara polisi dan tertilang. Tapi negosiasinya itu lho. Haha!
    __________________

    biasanya orang kalau ngasi ceramah dapat duit, tapi sekarang malah ngeluarin duit, huahaha… 🙂

  10. Saya pernah diberi tahu teman, kalau kena razia polisi, mintalah surat tilang saja (formulir biru atau apa gitu, saya lupa). Denda yang kita bayar melalui bank itu benar-benar masuk ke kas negara. Kalau kita titip sama polisi, ya sudah jelas duitnya masuk ke kantong si polisi. Memang sih kita repot, tetapi dengan begitu kita mencegah korupsi (meskipun kecil-kecilan). Amar ma’ruf nahi mungkar.

    Saya sendiri sudah sepuluh tahunan nggak punya SIM (SIM lama habis masa berlakunya), padahal setiap hari wira-wiri di jalan. Alhamdulillah, belum pernah kena tilang (kendaraan roda empat memang jarang dirazia). Tapi tetap perlu juga sih bikin SIM lagi …
    _____________________

    ternyata iman saya masih lemah ya bu… masih mau nyari “aman”
    duh… perlu belajar lagi buat memperteguh keimanan
    terima kasih bu tuti… 🙂

  11. weees…ada ada saja…kok sempat sempatnya berdebat..
    Tapi…btw nggak apa apa…dari semua yang di stop.pasti nggak ada yang ngomong dan debat sama pak polisi…biar saja ya, hitung hitung Uda…sodaqoh…ngajak ngobrol,eh…debat..
    ____________________

    iya bun…. semoga ada manfaatnya buat polisi itu khususnya, hehe… 🙂

  12. Weh, tenyata “harga” nya ga jauh beda dengan di Medan; Rp. 20.000,- malah ada seorang temen “ngaco” yang menyelipkan cuman 5000 perak sebelum ia ngacir hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s