contreng!

checkmarkIni bukan soal Pemilu, karena aku tidak pernah suka membicarakannya. Ini soal kesalahan kecil yang dilakukan guru di sekolah, tapi berdampak besar bagi perkembangan kejiwaan seorang anak.

Kemarin sore, putriku pulang sekolah dengan ekspresi yang tidak biasa. Gusar sekali dia sepertinya. Setelah kubujuk, dia pun menjelaskan apa penyebabnya. Ternyata, dia kecewa dengan hasil ulangannya. Dari 30 soal, dia salah 5. Akupun membesarkan hatinya.

“Uni tidak perlu kecewa seperti itu. Toh yang salah cuma lima, dikit kali kan? Coba bandingkan dengan jawaban yang benar, ada 25, jauh lebih banyak dari yang salah. Itu berarti Uni sudah bagus, dan Papa bangga sekali. Insya Allah lain kali Uni pasti lebih baik…”

Upayaku itu membuahkan hasil. Senyumnya kembali mengembang dan sepertinya rasa percaya dirinya kembali dia miliki. Syukurlah!

Putrikupun berlalu dan tinggal aku yang masih termangu memperhatikan lembar soal ulangan anakku itu. Kulihat lembar soal yang sekaligus jadi lembar jawabannya itu. Setelah ku perhatikan dengan seksama, kutemukan sesuatu yang menarik di situ. Dan aku yakin, inilah penyebab mengapa putriku menjadi sangat tertekan.

Cara gurunya memberi tanda terhadap jawaban yang benar atau yang salah-lah yang menjadi penyebabnya menurutku. Untuk jawaban benar, guru hanya memberi tanda contreng kecil di atas nomor urut soal, sementara untuk jawaban salah, sang guru memberi tanda silang yang sangat besar dengan spidol merah pada badan soal.

Aku tidak tahu maksud guru itu memberi tanda yang begitu mencoloknya terhadap jawaban salah. Barangkali beliau contrengmenginginkan agar sang murid memberi perhatian lebih kepada jawabannya yang salah. Tapi, menurutku, tindakannya itu tidak mendidik. Dengan tanda-tanda silang yang sangat mencolok itu telah melukai mental muridnya. Contohnya apa yang terjadi pada putriku. Kesalahannya yang hanya lima, seolah dibuat besar dan membuat dia merasa terhukum berat dengan itu semua. Padahal, jawaban benarnya sangatlah banyak, 25 dari 30 soal! Dan celakanya, ini justru tidak diapresiasi dengan tanda yang juga mencolok. Seolah-olah, jawaban benar yang 25 itu tidaklah penting.

Seharusnya sang guru memberi tanda contreng dan silang dengan ukuran dan bentuk yang sama. Sehingga sang murid dapat dihargai usahanya sekaligus dapat mengetahui kesalahannya dengan lebih adil. Menurutku, ada baiknya guru memberi “penghargaan” terlebih dahulu terhadap jawaban benar muridnya, meski jumlahnya sedikit, dengan maksud membesarkan hatinya, baru kemudian membahas jawaban salahnya. Dengan demikian, tentu tidak akan membuat anak merasa “terdakwa” atas kesalahannya itu.

Seperti yang dikatakan Dorothy Law Nolte:

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
JIka anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

maka, untuk menumbuhkan rasa percaya diri kepada anak kita, ada baiknya kita dahulukan memberi penghargaan atas capaiannya, kemudian memberi kritikan atas kesalahannya dengan cara bijak tanpa perlu melukai perasaannya.

Jadi, mencontreng ataupun menyilang, meski kecil, dampaknya bisa besar. So, berhati-hatilah dalam mencontreng… πŸ™‚

Advertisements

30 thoughts on “contreng!

  1. uda
    saya heran juga kenapa guru itu pakai tanda contreng untuk yang benar. karena dulu untuk jawaban benar pakai tanda seperti huruf R itu loh…

    Di Jepang tanda benar itu dengan bulat, kalau bagus bulatnya dihias menjadi bunga, kalau kurang tanda segitiga. Kalau salah memang pakai tanda X.

    Hmmm jadi ada ide nulis posting ginian heheheh

    BUT sampaikan ke uni nilainya kan 83, udah bagus banget dapat nilai di atas 80 πŸ™‚ gambatte.

    EM
    ____________________

    memberi tanda yg lucu2 dan menyenangkan itu sudah dilakukan istri saya waktu ngajar dulu… dia punya stempel orang tersenyum, stiker, dll, yg intinya ingin memberi apresiasi atas capaian prestasi… tapi gak tau nih, kok giliran guru anak saya malah memberi apresiasi lebih juga pada kesalahan kecil, duh… 😦

    oya, si uni satira sekarang sudah senang lagi kok, 83 memang nilai yg cukup bagus… πŸ™‚

  2. Sepakat. Yang paling penting di Sekolah Dasar adalah pendidikan, pengajaran no dua. Kenapa uda tidak bicarakan ini di forum Orangtua siswa nanti. Anak-Indonesia harus dididik untuk punya percaya diri. Hal-hal kecil yang bisa merusak itu…Kalau soal prestasi, kemampuan berfikir, saya tidak percaya anak Indonesia tertinggal. Keprihatinan kehidupan kita, adalah mata air yang membuat kemampuan befikir itu memiliki percepatan yang berlipat. Tapi soal percaya diri, kita memang harus banyak berbenah…
    ____________________

    pendidikan dan pengajaran memang dua hal yg berbeda, tapi musti dijalankan secara bersamaan…
    insya Allah saya akan bicarakan langsung kepada guru yg bersangkutan, terima kasih atas sarannya… πŸ™‚

  3. Maaf, lupa…dan maaf juga, memberi komen yang gak konteks dngan postingan. Kondisi pasia laweh, alhamdulillah semakin membaik. Hanya tertinggal PR buat pengambil kebijakan, untuk serius menangani Daerah aliran Sungai di sekitar marapi. Pemukiman penduduk harus ditata, untuk terlalu dekat dengan batang ayia. dan itu mensyaratkan ketersediaan air bersih, untuk menggantikan sungai yang selama ini mereka gunakan….

    Salam kenal da
    ____________________

    alhamdulillah, saya senang mendengarnya…
    pasia laweh punya kenangan tersendiri buat saya, insya Allah suatu saat saya akan merawikannya di sini… πŸ™‚
    salam kenal juga

  4. aku mencontrreng yang benar sana uda, tapi harus yakin benar bahwa jawaban itu benar πŸ˜€

    Si uni mungkin sedih ya di tanda silang besar2, padahal nih nilainya pasti masih besar 25/3 = 8 koma sekian…masih bagus banget tuh.

    salam sayang buat uni ya…:)
    ____________________

    dia sedih karena tanda silang yg berlebihan itu saja, soal nilai sih dia sudah biasa, karena kami berusahan untuk tidak memfokuskan penghargaan kepada nilai akhir, tapi pada proses yg dijalaninya…

    salam juga buat tante ria dari si uni… πŸ™‚

  5. Kalau saya memberi poin bintang untuk anak saya yang kelas 2 SD di rumah untuk range nilainya dari 7 sampai 10. Dan setiap minggu dilakukan akumulasi total pencapaian nilainya, dan akan ada reward.
    Dan setiap akhir semester akan ada reward lebih besar lagi.
    Tetapi untuk nilai di bawah 7 tidak diberi poin.

    Kira-kira ini mendidik nggak Da? πŸ™‚ Soalnya dengan cara begini terbuki bisa menaikkan prestasinya…
    ____________________

    aih… itu bagus sekali bang nardi…
    tapi, anak juga harus dihadapkan dg punishment atas kesalahannya, sehingga ada keseimbangan antara R & P.
    anak yg terlalu banyak dapat reward justru akan tumbuh menjadi sosok yg over pe-de, bahkan cendrung sombong…

  6. [ Jadi, mencontreng ataupun menyilang, meski kecil, dampaknya bisa besar. So, berhati-hatilah dalam mencontreng… πŸ™‚ ]

    saya pasti akan hati2, Uda.
    a-m-a-t-s-a-n-g-a-t-h-a-t-i-2 !
    bisa jadi malah nggak nyontreng nih, hihihi…

    buat Uni nantinya, asal Uda membekalinya dengan pengertian2 yg berhubungan dengan itu, walaupun ada contreng segede gajah, pasti nggak akan berpengaruh buatnya. salam buat Kampung Kweni, Uda. πŸ™‚
    ____________________

    mas goen gak nyontreng…? saya juga lagi mikir2 nih, hihihi…

    semoga saja pengertian demi pengertian dapat ditanamkan kepada anak2 kita, sehingga imunitas mereka semakin meningkat, dan dapat menjadi kebal atas segala terpaan yg datang kepada mereka… salam juga dari warga kweni buat mas goen… πŸ™‚

  7. benar sekali da, saya juga pernah komplai ke guru ponakan dengan cara-cara itu. seolah-olah kalo anak berhasil mengerjakan tugas dengan baik itu hal biasa yang tidak perlu diapresiasi, karena sudah menjadi kewajiban, sebalik jika banyak yang salah, malah dikomnetari sebagai sebuah ‘kebodohan’, dan segala macam caci maki. PENGHARGAAN kata kuncinya ya da…

    Coba lihat, jika anak dapat nilai 4 suatu kali kemdian dia belajar dan dapat 5, bukankah itu sebuah kemajuan. Lagian sebuah kemajuan itu tidak harus dinilai dengan anga-angka, seharusnya di nilai dari sejauh mana prosesnya bergerak kearah kemajuan.

    Lebih gawat jika hari ini anak dapat 10 lalu kemdian dapat 8 lalu kemudian dapat 6, itu harus jadi perhatian…..

    Anak semata mata tidak bisa disalahkan. Kegagalan seorang anak adalah bukti kegagalan orang dewasa sekitarnya…
    ___________________

    benar sekali, kata kuncinya “penghargaan”…
    ini juga gambaran dari sikap keseharian kita. sering kita tidak menghargai kemajuan seseorang, meski sedikit. tapi justru kita mencaci maki habis2an akan kesalahan orang lain… contohnya? lihat saja prilaku tokoh elit politik kita saat ini… πŸ™‚

  8. Wah, 5 silang besar menghapus 25 contreng yang benar…ciloko… bikin down itu… Wise papa nih si Uda. Thumbs up!!!

    OOT dikit Da… aku janji mo bikinin karikatur Uda, tapi msh belum kelar…maafkan aku ya. Aku janji untuk segera menyelesaikannya, sebisa mungkin sesuai kriteria Uda, dan FREE OF CHARGE karena uda adalah order pertama via website ku πŸ™‚ Apalagi kalo benar Uda berkenan menjadikannya header Surau Inyiak… (what an honour..)
    ___________________

    wah… senang sekali nih dapat “hadiah” dari bang anderson… ditungguin lho… soalnya surau ini sudah butuh penyegaran… πŸ™‚ thanks sebelumnya…

  9. Sepertinya si guru ingin memudahkan cara kerjanya (semata). Dengan menyilangkan tanda besar pada yang salah, ia dapat dengan mudah menghitung: berapa yang salah dan tinggal berapa yang benar.

    Rupanya ia hanya fokus pada dirinya semata, demi memudahkan teknis kerja memeriksa hasil ulangan. Ia lupa, hal demikian kecil bisa berefek negatif secara psikologis saat diterima anak didik. Si guru tak pernah anak-anak mungkin. Bisa jadi punya masalah dengan anak-anak. Yang lebih memungkinkan: masa kecilnya bermasalah (rasanya ini analisa dodol banget! :p ).

    Tulisan ini menarik. Jika ditarik lebih luas lagi akan menyoal psikologi anak serta pemilu itu sendiri. Contreng!

    (suka sekali dengan kalimat Uda saat berusaha membesarkan hatinya. Terdengar sweet!)
    ____________________

    kalau persoalan masa kecil si guru entahlah ya…
    yg pasti menurutku, si guru masih kurang paham soal psikologi anak,
    menjadi kewajiban kita untuk mengingatkannya…

    aku bisa merapal kalimat itu, kan berkat sering berkunjung ke PK, halah!

  10. kasihan si uni. untung sang ayah tanggap dengan perubahan emosi putrinya. bayangkan kalau seorang anak dibiarkan dengan kekecewaannya tanpa ada hiburan dan penguatan dari lingkungan sekitar, atau malah dipojokkan karena kegagalannya, akan bagaimana perkembangan psikisnya kelak.
    ____________________

    benar sekali uni…
    sikap ortu di rumah dalam menghadapi “kesalahan” anaknya, sering tidak tepat, dan justru seringkali menambah kejatuhan mental sang anak, dan akibatnya sang anak akan tumbuh dg rasa percaya diri yg sangat rendah…

  11. Kirain mau ngebahas pemilu..gak tahunya contrengan uni.
    Diluar mungkin uni tertekan, tapi di rumah ada penghiburan buatnya.
    ____________________

    kan udah saya bilang di awal, saya tidak suka membicarakan pemilu… πŸ™‚
    memang begitulah seharusnya mbak, rumah harus jadi surga buat anak,
    tempat dia menyandarkan segala kepenatan kehidupan di luar rumah,
    kalau rumah sudah jadi neraka buatnya, kemana dia akan pulang?

  12. Buat uni, semangat ya… Tak apalah salah lima kok. Bisa jadi pembelajaran di esok harinya. Mungkin maksud gurunya baik tapi tidak pada tempatnya, mosok jawaban betul di contreng kecil tapi salah di silang besar-besar. hehehe.
    Semangay ya uni, uni pasti bisa, besok pasti betul ke tiga puluh nya
    ___________________

    makasih om catra…
    om catra baik deh… hehehe… πŸ™‚

  13. Ketipu euy dengan judulnya, kirain content yang akan diceritakan mengenai pemilu, eh rupanya mengenai tanda dalam menyatakan betul dan salah dalam lembar jawaban uni. Untuk uni “jangan sedih ya!!!” Salutlah untuk uda Vizon..
    BTW kalo betulnya 25 dari 30 soal maka nilai yang didapatkan 8.3333, kalo dibulatkan maka jadi 8 (D E L A P A N). Angka yang sangat cantik sekali untuk diingat pada tanggal 9 nanti.. heheheheh πŸ™‚ just sugestion
    ____________________

    wah son…. mantap kali analisanya, huahaha… saya aja gak kepikiran sampai di situ…
    oya, 8 itu nomer apaan ya…? (soklugu.com)

  14. betul sekali, apapun
    yang dilakukan anak2
    perlu diapresiasi dan
    dikritisi dengan arif bijaksana
    btw, semoga nanti tak
    salah contreng….,
    mari mencontreng yang benar
    dan menghukum yang salah
    ____________________

    baik bang mike, nanti saya akan mencontreng dg baik dan benar…. πŸ™‚

  15. Sudah banyak yang berkomentar soal “inti” tulisan ini, tapi biarlah saya komentar soal “contreng” itu sendiri.

    Kenapa istilah yang dipake bukan “centhang” ataupun “checked” tapi malah “contreng” ya?

    Entah kenapa ketika dengar istilah “contreng” asosiasi pikiran langsung ke arah “Coreng” temannya “Bobo” πŸ™‚

    Uda nanti nyontreng apa?
    Saya ndak nyontreng apa-apa.:)
    ____________________

    istilah centang juga digunakan kok don…
    di jogja banyak baliho yg bertuliskan: “centhang ongko….”
    tapi kalau checked gak mungkin dipakai, itu kan bahasa inggris… πŸ™‚

    eh, coreng itu tokoh kesukaan saya masa kecil, dia itu kan adiknya bobo, bukan temannya…

    nanti saya nyontreng apa ya…? rahasia dong… hehehe… πŸ˜€

  16. HHmmm …
    Silang besar … merah pula …
    Ah ini memang sangat mengganggu …
    seberapa banyak contreng biru /hitam yang kita punya …

    INi menarik Uda …

    Salam saya
    ___________________

    saya juga tidak setuju dg angka merah di raport,
    sepertinya itu “hukuman” berat sekali bagi murid2

    terima kasih pak, bila ini menarik… πŸ™‚

  17. tul tuh da,………..hati2 dlm mencontreng……hahaha

    btw, baa kaba kini da? lai sehat2 ko?
    ____________________

    ya ya… hati2… πŸ™‚
    alhamdulillah Lex, lai sehat2 sajo
    alah lamo ndak singgah kamari, baa kaba?

  18. betul, gemas sekali dengan beberapa guru anakku maupun anak-anak temanku. kalau melihat bagaimana mereka membesarkan anak kita dengan cara yang tidak kita inginkan, rasanya ingin mendidik sendiri anak di rumah.
    *gemas sekali*
    mungkin inilah perlunya dialog guru-orang tua.
    tapi pak, tenang… sekarang juga banyak guru yang sudah punya visi ke depan bagus kok.
    semoga semakin banyak yang serupa ini.
    salam
    ____________________

    dengan semakin kritisnya para ortu, tentu akan semakin meningkatkan kinerja guru…
    toh sekarang ini perhatian pemerintah akan kesejahteraan guru sudah sangat baik, sehingga tidak ada lagi alasan mengajar ogah2an lantaran gaji yg sangat sedikit… πŸ™‚

  19. Ngomong-ngomong tentang guru, saya ingat waktu masih SD.. Saya pernah dilempar pake kapur …
    Gara-garanya …
    Saya terus-terusan menanyakan tentang pelajaran yang jawabannya tak ada di buku ..
    Ditimpuklah saya, dibilang berisik …

    Hufff …
    Saya malu,, sekaligus pengen marah ..
    Sampai di rumah, Ayah bilang .. “tak apa-apa, kalaupun Guru, Ayah, atau Mama tak bisa jawab, di buku lain pasti ada jawabannya.. makanya,, rajin-rajinlah kau membaca…”

    Saya bersyukur sekali tak punya Ibu seperti guru saya itu…
    ____________________

    itulah gaya guru tempoe doeloe; gak sudi ditanya macam2, atau lebih tepatnya gak sudi lihat muridnya lebih pintar dari dirinya, huh…!
    tapi, jaman sekarang gak bisa lagi seperti itu, murid dan ortu sudah sangat kritis.
    bersyukurlah mbak muzda punya ortu yg sangat pengertian seperti itu…
    belajar tidak hanya dari sekolah semata tho?
    membaca jauh lebih banyak faedahnya… πŸ™‚

  20. Kita selalu diingetin terus dengan kesalahan-kesalahan, bukan kebaikan yang kita lakukan..

    sebel juga sih..

    Eniwei,
    efek psikologis di lembar kertas ujian itu memang benar adanya. Dulu, saat usia sembilan tahun aku ikut les bahasa Inggris, guru lesku baik banget dengan memberikan penilaian berupa gambar-gambar yang lucu. Kalau jawabannya benar, tandanya icon dengan mulut tertawa, sedangkan kalau salah, iconnya sedih.

    Oh ya.. tentunya icon mulut tertawa itu ukurannya jauh lebih besar!
    ____________________

    mengingatkan akan kesalahan memang perlu juga, tapi tidak harus berlebihan…
    mengingatkan kesalahan dan merayakan kemenangan harus seimbang, sehingga hidup ini bisa lebih nyaman,
    kalau gitu, ini tak kasi Lala icon tertawa…. πŸ˜€

  21. Ah, ternyata tidak mudah jadi guru. Begini salah, begitu salah. Untung saya sudah berhenti jadi guru. Ya, gitu deh. Diprotes murid mulu. Apalagi kalau orang tua muridnya seperti Uda Vizon semua, wah, bisa-bisa mati berdiri saya sebagai guru.
    ___________________

    memang benar mas, jadi guru itu tidak mudah, karena obyek yg kita hadapi adalah makhluk hidup (baca: generasi), bila kita salah dalam mendidik, akan fatal akibatnya, tidak ada titik balik untuk memperbaikinya. beda halnya dengan profesi lainnya yg berhadapan dg benda mati (ahli IT misalkan), bila dia salah dalam melakukan pekerjaan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki atau bahkan mengganti alat tersebut dg yg baru.

    kita protes dg kinerja guru, karena kita peduli..
    jangan takutlah mas racheedus, saya tidak akan protes, kan mas racheedus guru yg hebat, hehe.. πŸ™‚

  22. menurut saya, sebaiknya anak diberi pengertian juga, bahwa cara orang memberi penilaian itu bermacam-macam, misalnya dengan memberi tanda silang yang besar.

    Saya pikir yang dilakukan gurunya wajar saja….dan bukan berarti di guru tdk mengapresiasi muridnya

  23. Hmmm…iya juga ya Uda..
    kita gak pernah berpikir…kenapa centang.. yang diajarkan pak guru dan bu guru .sekarang namanya jadi contreng…
    Tandai dengan centang pada jawaban yang benar….tandai dengan CONTRENG pada partai atau caleg yang cocok di hati…he..he…

  24. Uda, semua komentar sudah serius….jadi yessy komen yang gak seriusnya aja ya…hehee

    Jadi uda contreng apa hari ini πŸ˜‰ heheheh

  25. wah uni…anak yang pintar yah. Dulu zaman saya kecil saya ga peduli tuh mau dpt nilai bagus kek atau ga (tp untungnya selalu bagus hehehe, narsis :on)
    Tp trnyata salah 5 membuat hati uni sedih. Salam sayang yah buat uni πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s