apes

Seringkali kita berniat baik, tapi dianggap bersalah oleh orang lain. Atau sebuah kesalahan ditimpakan kepada kita, padahal kita tidak melakukan sama sekali, hanya gara-gara kita berada di tempat tersebut dan orang yang bersalah kabur dari tempat itu.

Sebagai contoh, apa yang disebutkan Mas Goenoeng Moelyo di status facebook-nya: “hhh… gara2 anak muda ugal2an, aku jadi ngganti kerusakan bemper belakang mobil orang. mana habis nyruduk, dia lari lagi. dan sekarang waktunya balas dendam. kucari kau sampai liang semut ! banyumanik nggak seluas yang kau kira”

Aku pernah beberapa kali mengalaminya. Salah satunya adalah ketika aku menolong orang yang mengalami kecelakaan tabrakan sepeda motor di jalan ring road selatan, jalan yang selalu aku lalui setiap hari dari rumah menuju kampusku.

Ketika itu, aku hendak ke kampus, karena pagi itu ada jadwal kuliah. Seperti biasa, aku melewati ring road yang merupakan jalan lingkar Yogyakarta. Jalan itu dibagi kepada jalur lambat dan jalur cepat. Sepeda motor diwajibkan melewati jalur lambat itu. Seperti hari-hari sebelumnya, jalan itu kalau pagi hari memang sangat ramai oleh kendaraan.

Tidak berapa lama setelah aku melewati perempatan jalan Parang Tritis ke timur, tiba-tiba dari arah belakang melaju sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang pelajar SMA yang membonceng temannya. Aku mengetahui mereka anak SMA karena mereka memakai seragam putih abu-abu. Mereka sepertinya berpacu dengan waktu. Barangkali sudah terlambat ke sekolah.

Entah karena tidak dapat menguasai motornya, anak muda itu tiba-tiba menabrak sepeda motor di depannya, yang kebetulan berada tepat di depanku. Gubrak…!! Motor yang ditabrak jatuh terjungkal, sedangkan anak muda itu berhasil menguasai sepeda motornya dan tidak ikutan terjatuh. Sialnya, mereka langsung kabur. Tinggallah aku yang tepat berada di depan korban tersebut.

Pengendara motor itu adalah seorang gadis yang membonceng ibunya. Sepertinya mereka akan ke pasar Giwangan untuk berbelanja. Ku simpulkan demikian karena aku melihat keranjang belanjaan yang mereka bawa. Spontan ku parkirkan motor, dan segera ku tolong mereka.

Si gadis terhimpit motornya yang jatuh ke sebelah kiri, sementara ibunya terlempar beberapa meter dari situ. Setelah ku angkat motornya, terlihat luka yang sangat parah pada kaki kiri si gadis, dan kemungkinan dia mengalami patah tulang, terlihat dia sulit sekali berdiri. Sementara ibunya yang terlempar terlihat shok sekali. Luka-lukanya tidak terlalu parah, hanya ada beberapa goresan. Tapi napasnya terlihat sangat sesak, barangkali karena keterkejutan yang luar biasa itu.

Sekonyong-konyong kuambil air mineral yang selalu ku bawa di ranselku. Dan kuberikan kepada mereka untuk menenangkan diri. Alhamdulillah, air itu sedikit bisa membuat mereka tenang. Kebetulan ada kenalan mereka yang berada di tempat kejadian tersebut dan ikut menolong. Aku minta dia untuk mencarikan taksi guna membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

Taksipun datang, dan kedua korban sudah berada di dalamnya. Ku minta si Mas kenalan mereka tadi untuk ikut di taksi dan mengantar mereka ke rumah sakit. Sepeda motor mereka ku titipkan di rumah warga yang ada di dekat tempat kejadian. Ketika semua sudah beres dan taksi siap berangkat, tiba-tiba si Mas tadi keluar dan berkata:

“Mas, njenengan kok gak ikut?”
“Maaf mas, gak bisa, saya sudah telat nih”
“Lho, njenengan kan harus bertanggungjawab”
“Tanggungjawab? Emangnya saya ngapain Mas?”
“Kan njenengan yang nabrak?”
“Oalah Mas, saya hanya mbantu, yang nabrak itu anak SMA, dia udah kabur. Kebetulan kejadian itu ada di depan saya, ya saya spontan mbantu”
“Yang benar Mas?”
“Kalau gak percaya, tanya aja sama mbak-nya”

Si Mas itupun menanyakan kejadian yang sesungguhnya kepada si gadis dan ibunya. Terlihat mereka terlibat pembicaraan yang agak serius. Beberapa saat kemudian si Mas itupun mendatangiku lagi.

“Ya udah mas kalau gitu, terima kasih ya… Maaf saya sudah salah sangka”
“Ya, tidak apa-apa. Maaf, saya tidak bisa nganter, soalnya saya ada jadwal kuliah, dan ini sudah telat”,
kataku sambil menyerahkan kunci motor mereka.

Untung saja aku bisa menjelaskan dan meyakinkan mereka akan kejadian yang sesungguhnya. Kalau tidak, bisa-bisa aku akan menanggung beban kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Dan bahkan perbuatan baikku akan dibalas dengan keburukan. Kalau itu sempat terjadi, alangkah apes-nya diriku… ๐Ÿ˜ฆ


Advertisements

23 thoughts on “apes

  1. hmmm bener Uda…

    karena itu di Jepang, meskipun di depan mata ada kejadian, TIDAK SEORANGPUN bergerak untuk menolong!!!!
    kok tega ya? kadang aku jadi sebal dengan kondisi itu. Tapi gen selalu bilang, jangan sampai kamu berbuat kesalahan waktu menolong, dan malah berbalik kamu dituntut. Kalau tidak punya license untuk P3K, jangan coba-coba menolong deh.

    Untung aku orang Indonesia….

    EM
    ___________________

    melihat orang terhimpit sepeda motornya di depan mata kita apakah kita diam saja? kayaknya hati kecil kita tak akan sanggup untuk membiarkannya… kalau soal mengobati saya setuju untuk tidak melakukannya, karena memang kita tidak punya kapasitas untuk itu…

    orang indonesia memang selalu untung neechan… gak ada kan orang jepang yg bernama untung, hehe… ๐Ÿ™‚

  2. Begitu tuntas menyimak cerita di atas, aku jadi tersenyum geli sendiri. Membayangkan, betul-betul membayangkan, Si Uda dengan baju kotak-kotaknya yang selalu dikeluarkan, lantas dengan wajah tergopoh-gopoh namun tetap tenang dituduh si penabrak. Weh, sedap juga. Hihihi. Tapi tentu itu bukan apes.

    Namun ketika membaca komentar Mbak Imelda tentang kondisi semacam itu di Jepang, weh, itu baru apes. Apes banget itu.

    Yah, terkadang kita memang terjebak pada kondisi yang tidak menguntungkan. Padahal, barangkali, maksud kita baik. Namun berada di kondisi yang tidak pas.

    Yah, mau gimana. Bukankah di situlah asyiknya hidup, eh? ๐Ÿ˜‰
    Tsah!!
    ____________________

    segitu dalamnya kah dirimu membayangkan diriku Dan…? sampai2 baju kotak2ku yg dikeluarkan pun dikau masih ingat? untungnya aku tidak pakai kemeja hitam dg kaos oblong putih di dalamnya dan celana hitam dg stoking hijau… kalau itu ku pakai, apes kali ya… ๐Ÿ˜€

    seburuk apapun perolehan kita, meski baik yg kita maksud, tetaplah harus diambil resiko itu. karena kata hati tidak bisa dipungkiri (benar kan La…? La… kamu di mana tho?)

    memang begitulah asyiknya hidup…
    Tsah!!

  3. Segitukah di Jepang? Tapi gak perlu terlalu dikhawatirkan bukan bu EM, soale di sana banyak polisi dan sepertinya bisa dipercaya oleh masyarakat. Kalau di Indonesia, soal seperti ini ke polisi, bisa bangkrut! Makanya orang Indonesia lebih senang bertindak sendiri daripada mengikutsertakan aparat yang berwenang. Gimana tidak, yang hilang kambing, kalau dibawa ke polisi malah bisa hilang sapi. Hihihi….

    Good job uda vizon!
    ___________________

    jadi, kalau yg hilang kijang, trus dibawa ke polisi, yg bakal hilang c-rv, gitu ya him…? hehehe… ๐Ÿ™‚

  4. kondisi yang tidak berpihak pertanda peringatan bagi kita, bahwa apa saja bisa terjadi, oleh karena itu selalu persiapkan diri…

    jangan segan membantu…karena suatu ketika pasti kita yang akan dibantu oleh tangan-tangan lain da…
    ___________________

    setuju ajo imoe… membantu tidak perlu segan2… hidup pembantu, eh membantu… ๐Ÿ™‚

  5. jadi teringat menolong seseorang waktu itu bersama temen2, memang sih memakai mobil kantor…ehhhh malah di sangkanya yang nambrak kita….huhuhuhu…untung segera setelah siuman di cewek bisa ngejelasin kalau enggak bisa kena SP1 dari kantor…

    mo nolong malah jadi buntung ya da’
    ____________________

    tapi, meskipun demikian, tidak berarti kita harus takut untuk menolong orang pada episode berikutnya kan ria…? ๐Ÿ™‚

  6. membaca komentar mbak imel, saya jadi teringat seorang dokter yang menolong korban kecelakaan namun “apesnya” karena hanya dibantu peralatan seadanya, si korban tidak terhindarkan mengalami cedera saraf spinal yang menyebabkan kelumpuhan. namun di sisi lain, bila tidak ditolong pada saat itu, si korban bisa dipastikan meninggal dunia. dilematis memang, dan kondisi dilematis ini juga bukan tak mungkin dialami oleh orang biasa seperti kita.

    memang dalam menolong seseorang penting sekali diingat untuk do no harm: jangan menolong sama sekali bila kemampuan tak memadai bahkan justru mencederai. kesannya sadis ya? namun ini justru melindungi tak hanya si korban, juga penolong yan baik hati seperti da vizon.

    blog saya ngerepotin lagi ya, da? duh, emang deh itu blog, udah hilang akal saya ngadapinnya. *hayah!* dicoba lagi ya, da? kalau berhasil kan bangga. hehe…. gak penting banget deh.
    ___________________

    menolong orang kan harus sesuai kemampuan kita uni. mengangkat motor yg menghimpit si korban apakah perlu kemamuan khusus? saya kira tidak. justru kalau tidak diangkat, bakal parah sakit korban itu. tapi, kalau untuk memberi pertolongan medis, saya setuju untuk tidak sembarangan, karena kita memang tidak punya kapasitas… eh, yg awam kayaknya saya deh, bukan uni, hehe… ๐Ÿ™‚

    blog uni gak ngerepotin, cuma nyebelin aja gak bisa ikut nimbrung komen, hehehe.. apa bedanya?
    eh, akalnya dah ketemu lagi kan? hilang di mana kemaren…? halah!

  7. Pernah suatu hari, usai melaksanakan tugas menikahkan, saya melihat tiga orang tergeletak di pinggir jalan, karena tabrakan 2 sepeda motor. Orang-orang berkerumun hanya sekedar untuk menonton. Polisi yang datang hanya sekedar mencari-cari identitas korban dan menanyakan proses kejadian. Tak ada yang sudi menolong, sekedar untuk memanggil ambulan. Saat aku minta polisi untuk membawa korban ke puskesmas terdekat, sang polisi justru ragu-ragu dan menanyakan, “Bapak yang nabrak, bukan?!” Yah, sialan! Saat aku hendak mengangkat ke dalam mobil sang polisi, ia bertanya lagi, “Bapak mau bertanggung jawab?!” Duh, Gusti! Dengan baju dinas yang bersimbah darah, aku pun bersedia bertanggung jawab atas perbuatan yang tak kulakukan dan membawa korban ke rumah sakit.
    ____________________

    subhanallah…!! salut sekali dengan kemuliaan hati mas racheedus… hati nurani kita memang tidak bisa mendustai keprihatinan kita atas kejadian yg ada di depan mata. namun, seringkali ia ditutupi oleh kepongahan dan ketakutan akan resiko duniawi… duh gusti!

    saya yakin, baju dinas mas racheedus yg bersimbah darah itu akan “mewangi” sepanjang hayat…

  8. Pernah dengar joke sadis ini uda?
    pengendara motor yang pakai jaket kulit terbalik (kancingnya di belakang)
    apes dia, kena kecelakaan, jatuh dari motor.
    lalu orang berebut menolongnya….
    “Wah kepalanya sampai terpuntir begitu, mari cepat kita balikkan ke posisi semula”
    dipuntirlah kepala itu yang sebetulnya tidak terbalik tentunya. FATAL.

    OK ini memang lelucon yang bisa terjadi di film kartun.
    Tapi bukannya tidak mungkin, dengan kita menggeser, memindahkan korban malah membuat luka dalam lebih parah lagi.

    Nanti saya coba tulis tentang satu lagi alasan orang Jepang tidak mau menolong. Dalam kebudayaan disebut GIRI dan NINJO. (mungkin afif malah lebih tahu) Dan dengan pengaruh asing, budaya ini mulai memudar.

    EM
    ___________________

    duh… itu joke apes banget neechan… ๐Ÿ™‚
    giri dan ninjo? kayaknya afif pernah melontarkan itu deh, ntar saya tanya… tapi lebih bagus lagi kalau neechan mengisahkannya di blog. kita tungguin ya… ๐Ÿ™‚

  9. Memang dilema, bro.
    Tetapi terkadang, apes dalam pandangan manusia, belum tentu apes dalam pandangan Allah. Seringkali apes yang kita alami berbuah manis setelah itu.
    ___________________

    ah ya… benar sekali bro…
    “berbuatlah, Allah akan melihat perbuatanmu itu”
    keikhlasan kita akan membahagiakan, insya Allah ๐Ÿ™‚

  10. baca postingan blog uda, jd ngerasa kasian kok malah uda dituduh jd tersangka. Tp liat komen2 di bawahnya jd lebih kasian lg klo ada org punya niat baik hihihi
    Tp memang benar adanya niat baik kita lom tentu jg dianggap baik oleh org laen. Saya pernah mengalaminya.
    Btw, uda jgn kapok yah. Teteplah nolong org laen.

  11. dan, kejadian itu sudah beres, Uda. memang banyumanik nggak seluas yg dia kira. hehehe… pokoknya beres deh. hari itu memang saya baru di puncak emosi. nah, jadilah dia yg ugal2an dan nggak punya sopan itu sasaran emosi.
    sesabar2nya orang kan ada batasnya, Uda. betul nggak ? ๐Ÿ˜€

  12. Kenapa aku jadi inget ceritanya Daniel Mahendra saat tokoh Dan nolongin gadis yang keguguran di dalam bis itu, ya? ๐Ÿ˜€
    hehehe…

    Eniwei,
    selagi memang mampu menolong, sebisa mungkin aku tolong deh.. InsyaAllah… mudah-mudahan nggak apessss… ๐Ÿ™‚

  13. belum pernah sih,,,,tapi jangan sampe deh. yang ada dulu pernah nyerempet mercy sampe lecet, wkwkwkkw

    tp untung orgnya baek, yg ada saya ditanyain sama yg punya mercy : ade gapapa ? ada luka luka?

    heuheu

  14. aku seh cuma berpikir jika kita berbuat baik, mudah2an banyak yang nolong kita jika kita dalam kesusahan.. di jkt sendiri ajah banyak yang cuma tanya “kenapa pak/bu” abis itu lewat ajah.. pengen jitak rasanya bilang “udah tau jatoh malah tanya” wahahaha

  15. Hehehe Uda, tulisanmu membuatku terkenang dua hal, Jogja dan kejadian yang persis sama dengan yang kau alami.

    Tentang Jogja, jelaslah aku jadi tambah kangen!
    Sekitar 3 taon yang lalu aku mengalami hal yang sama dan nyaris “di-massa” hanya karena yang kutolong itu kebetulan pingsan jadi ndak bisa ditanya…

    Mereka sudah meneriaki saya Cina padahal kenyataannya saya Jawa.. sumprit…
    Dah hampir dipukuli tapi untungnya ada saksi mata yang melihat bahwa saya bukan yang menabrak tapi yang menolong.

    Mereka sayangnya ndak minta maaf, tapi kuanggap itu adalah kelemahan mereka, mereka sangat susah meminta maaf..:)

  16. Yah Uda,, mestinya ni postingannya dipotong sampe kesalahpahaman orang itu aja. .
    Biar Uda mendapat simpati dari kita,, hehee ….
    Tapi kesian banget Mas Goenoeng ya ..
    *Noleh ke atas : “Salam Mas Goenoeng”*

  17. Beuh …
    Yang begini ini sering terjadi mas …
    Ya kalo cuma dia yang marah-marah ..

    Kalau sampai dia teriak-teriak …
    Maka tidak mustahil masyarakat sekitar akan menghakimi kita tanpa tau ujung pangkalnya …

    Dan itu sebabnya masyarakat kita menjadi “skeptis” dan tidak mau tau dengan kondisi seperti ini …
    Takut “ketempuan” … takut “kena batunya” …takut “apes” …

    Salam saya Uda …

  18. Kondisi inilah yang membuat orang, jika sendirian tak berani menolong, karena tak ada saksinya, salah2 malah digebuki duluan baru ditanya kemudian.
    Syukurlah uda Vizon masih bisa menjelaskan.

  19. uda…apa kabar nih ? Uni dan anak anak sehat semua ??
    Bunda baca ceritanya jadi mesam mesem…..
    ingat bebreapa waktu yang lalu,saya ,pak hz naik sepeda…eh…sepeda pak HZ ditabrak anak SMP…ngebut..nggak punya SIM pula ( lha wong umurnya baru 14 tahun )….
    Nah…setelah dinasehati…di minta lapor ke gurunya juga…trus..diantar pulang….nah dijalan oleh driver saya…dikasih tahu,bahwa yang ditabrak tadi pak Wali…he..he….dia pucat takut sekali..
    Tapi itulah Uda..memang cara berlalu lintas dijalan itu sering tidak pakai aturan dan etika sopan santun….Trus kalau ada yang menolong.jadi malah aneh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s