kartini kampung blagu (1)

Viron memperhatikan Ida, istrinya, yang belum juga selesai berdandan. Segala bedak aneka warna ditempelkan ke wajahnya, seolah-olah wajahnya adalah kanvas yang siap dilukis apa saja. Susah benar jadi perempuan, demi penampilan, mereka rela bersusah payah. Beda sekali dengan dirinya yang sangat nyaman mengenakan celana jeans yang dipadu dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek yang dikeluarkan. Simpel dan santai, gitu katanya. Malah, di kesempatan resmi pun, sering dia bergaya seperti itu, termasuk ketika memberi kuliah. Alasannya, biar mahasiswa tidak merasa tegang dengan tampilan resmi dosennya.

“Masih lama?”
“Bentar lagi, tinggal mengoleskan sedikit lagi lipstik, habis tu kelar”
“Kelar apanya? Lha wong jilbab belum dipasang. Biasanya itu kan bisa menghabiskan waktu hampir satu jam. Gak enak tuh sama teman-temanmu di depan pada nungguin”
“Ya udah, tolong temenin mereka dulu ya, ajak ngobrol dulu, biar mereka ndak merasa dicuekin”
“Tapi jangan kelamaan ya”
“Beres”

Viron menemui keempat sahabat istrinya itu. Mereka adalah Puan, Essy, Markela dan Lia. Mereka merupakan kelompok vokal yang tengah merintis karir di dunia musik dan mengusung nama D’Wedhok. Entah kenapa, sampai sekarang belum juga ada yang bersedia merekam suara emas mereka. Mungkin karena yang dicari oleh perusahaan rekaman itu adalah suara berlian, bukan suara emas… hehe…

“Hai D’Wedhok”
“Hai Uda…” balas mereka dengan serempak
“Wuih… kalian benar-benar kelompok vokal yang solid ya, sampai-sampai menjawab salamku saja serempak gitu, dan pakai pecah suara lagi… te-o-pe-be-ge-te deh…!”
“Iya dong Uda, itung-itung latihan” timpal Puan, dan disambut dengan anggukan serempak dari ketiga temannya, tampak seperti koreografi yang harmonis sekali.
“Oya, selamat ulangtahun ya Mbak Puan. Sorry lho, aku hanya bisa kirim ucapan lewat fesbuk, gak bisa kasih kado apa-apa”
“Gak papa Uda, saya sudah senang sekali. Gak nyangka ternyata ulangtahun saya kali ini begitu berkesan. Banyak ucapan dari sahabat-sahabat, entah di fesbuk, blog maupun sms. Saya semalaman menangis bombay, terharu banget, apalagi ketiga sahabat saya ini menghadiahi foto kami berempat yang lumayan sekseh itu”
“Itulah indahnya blogging ya, yang kata Om Pelatih “the beauty of blogging”. Btw, kenapa kalian kok ngotot banget pengen jadi penyanyi? Bukankah tulisan kalian di blog sangat dahsyat? Malah Markela sendiri sudah punya novel yang berjudul “Beling-beling Kehidupanku“?
“Ini sih buat nambahin profesi kami saja Uda”, sambut Markela. “Aku tu kepengen banget ada orang yang googling namaku di search-engine top dunia itu. Kalau sebagai penulis, jarang sekali orang yang mencari nama kita. Tapi kalau artis, so pasti banyak banget yang nyari. Apalagi nanti aku jadi berita di infotainment…”

Obrolan sejenak terhenti, karena istri Viron tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Sudah kelar rupanya dia berdandan. Viron nyaris tidak percaya kalau itu adalah istrinya. Cantik sekali! Aih, ternyata laki-laki begitu gampangnya dilenakan dengan rangsangan mata. Pantas saja perempuan rela mati-matian tampil cantik, demi memuaskan mata para lelaki. Tapi, bila terjadi pelecehan akibat tampilan mereka, laki-laki kembali jadi korban penyalahan dan dituduh melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan. Viron tidak habis pikir dengan keadaan ini, bukankah ini semua adalah konsekwensi dari Law of Attraction; hukum tarik menarik? Perempuan menarik lelaki dengan memperlihatkan pahanya yang mulus, lantas kalau lelaki tertarik untuk mengelusnya, apakah itu salah? Entahlah!

“Ok D’Wedhok, saya sudah siap, berangkat kita?”, sapa Ida, membuyarkan lamunan Viron.

Keempat perempuan itupun berdiri dan siap untuk berangkat.

“Wah, kalau kebayaan gini kalian benar-benar Indonesia ya”, celetuk Viron
“Kan dalam memperingati hari Kartini, Uda” jawab Essy
“Dirimu kalau berkebaya gitu anggun banget lho ternyata. Kalau gini, aku yakin suamimu gak bakalan cembetut kayak dulu lagi”
“Hehe… si Uda masih ingat ajah… Tapi sesekali aku pengen dicemburui suamiku. Tau tuh si ayah, susah banget cemburunya, padahal aku sudah pasang aksi yang jijai bajai ketika ngobrol dengan mantan pacarku di depannya. Tapi, dia tetap aja gak cemburu… duh, sebel deh!”, cerocosnya.
“Masing-masing orang punya cara dalam cemburu Sy, gak usah khawatir, suamimu pasti sayang banget sama kamu. Gak perlulah memancing kecemburuannya, malah nanti jadi masalah di keluarga, nikmati saja kebersamaan kalian yang sekarang. Gunakanlah logika, jangan perasaan mulu”
“Iya Uda, thanks”, sahut Essy
“Eh Lia, kamu kelihatan dewasa amat pake kebaya itu, padahal kamu kan yang paling bontot di kelompok ini?”, tanya Viron ke Lia yang dari tadi diam saja.
“Di sini aku memang bontot Uda, tapi kalau di rumah, aku kakak tertua. Uda tahu sendiri bagaimana rasanya jadi kakak tertua, ribet dan penuh beban. Nah, di kelompok ini aku manfaatin buat manja-manjaan dengan mereka-mereka ini, itung-itung pelampiasan, hehe…”
“Ya, ya kamu benar Lia, seseorang sesekali perlu juga merasakan posisi yang berbeda dari kesehariannya… Ya sudah, berangkat sana, nanti terlambat lagi. Oya, mbak Imerda tidak ikut?”
“Ikut, cuma dia berangkat sendiri. Dia mau memastikan dulu, apakah anaknya, Biru, sudah berangkat dengan aman ke sekolah, setelah itu menitipkan si bungsu Lai ke penitipan Marikemari”, Markela memberi penjelasan tentang saudara perempuannya itu. Memang sejak anak sulungnya masuk SD, dia sibuk sekali mengurus keamanan dan kenyamanan anak-anak sekolah. Kemarin saja, dia pasang stiker bertuliskan “110” di beberapa pintu rumah warga dengan tujuan agar anak-anak yang merasa terancam oleh orang asing, segera menuju rumah itu, dan mencari perlindungan. Sebuah gagasan cemerlang, dari seorang Kartini sejati.

Merekapun berpamitan, dan bergerak menuju Balai Mendayu di ujung kampung. Mereka menjadi peserta seminar perempuan yang akan disampaikan oleh Bunda Dian, seorang pengusaha perempuan yang sangat sukses, tapi tetap berkomitmen terhadap pendidikan kaum perempuan. Acara itu sendiri digagas oleh Bu Titi yang meski sedang sibuk dengan disertasinya, masih menyempatkan mengurusi acara-acara keperempuanan seperti ini. Katanya, ini sebagai wujud kecintaannya terhadap tanah air. Sebuah alasan yang sangat mulia.

Setelah melepas kepergian perempuan tadi, dari arah yang berlawanan Viron melihat sahabatnya Hedy Arwan berjalan sambil memegangi jari manisnya. Terlihat darah menetes. Viron segera menemui sahabatnya itu.

“Ente kenapa bro?”
“Jariku kejepit kepiting
“What?”, om Pelatih yang sedang duduk santai di teras rumahnya menyela obrolan dua sahabat itu, dan saking terkejutnya dia, tiba-tiba permen yang dari tadi ada di mulutnya mencelat dengan indahnya.
“Iya nih bos, jariku dijepit kepiting yang mau kumasak,” jawab Hedy.
“Kesini aja, di rumahku ada betadin”

Viron dan Hedy pun melangkah menuju rumah om Pelatih. Beberapa saat kemudian jari Hedy sudah terbalut plester.

“Makanya bang, jangan makan mulu yang dipikirin, olah raga sesekali. Tu lihat perutmu dah buncit begitu”, nasehat si Om.
“Iya bos, aku juga mau olah raga lagi, padahal dari dulu aku suka banget olah raga dan banyak yang aku kuasai, tapi gara-gara pekerjaan yang menumpuk, aku jadi tidak punya waktu lagi”, sahut Hedy.
“Ok, hari Minggu kita berenang yuk”
“Ayuk”, sahut Viron dan Hedy secara bersamaan.
“Tapi harus pakai pakaian renang lho ya, jangan kayak yang dulu, kalian pada pakai kaos. Nanti pada kebes njedindil gak karuan”, lanjut om Pelatih yang disambut tawa renyah mereka bertiga.

Keluar dari rumah om Pelatih, Viron berpapasan dengan Iboe. Di tangannya terlihat bungkusan plastik kresek hitam. Dijinjingnya dengan sedikit jijik.

“Apa itu Boe?”
“Tadi saya dan anak-anak jalanan asuhan yayasan kami bersih-bersih sanggar. Ternyata, banyak sekali binatangnya. Dan ini bangkai tikus, mau saya kubur di pinggir kali”
“O gitu… Ngapain bersih-bersih sanggar, mau ada acara?”
“Iya, besok kami mau mengadakan lomba mewarnai dan membuat cerita tentang Ibu bagi anak-anak kampung kita dalam rangka memperingati Hari Kartini
“Wah, bagus itu, kalau gitu besok saya ajak anak-anak saya ikutan, boleh kan?”
“Boleh banget Uda… Sampai besok ya…”
“Ok”

Viron melangkah menuju rumahnya, bersiap akan berangkat ke kampusnya. Tiba-tiba telpon genggamnya berdering.

“Hmmm… dari Mas Gun”, batin Viron
“Halo Mas, apa kabar…?”
“Uda, tolong saya…”, jawab Gun dengan suara bergetar.

bersambung….

Advertisements

18 thoughts on “kartini kampung blagu (1)

  1. haaaaa…..ini adalah cerita fiksi kesamaan tokoh dan tempat pada tulisan ini di senggaja…kikikikikikiki…

    Uda…mentang2 mo Kartinian nulisnya D’Wedhok…Uda tau gak…yang namanya Lia itu suaranya paling jelek di antara D’wedhok…paling pun kalo akhirnya berhasil terkenal si Lia bakalan jadi penari Latar aja…atau nyanyiin cuap..cuap..cuap…atau la…la…la… wakakakakakaka……

  2. Aku jadi teringat postingan DM tentang plesetan blogger dan karakternya beberapa waktu lalu. Ternyata bisa juga disambung2 ya…Meski sambungannya belum mulus, nggak masalah. Top markotop deh…

  3. Hmmm apa ciri khas orang bersuku sama kalo nulis kayak gini ya?
    Hebring deh……
    salut-salut

    ditunggu bagian ke 2 nya

    EM

    (LA…. next…biar asunaro lengkap lagi nih)

  4. Pose lagiiii …
    Pose lagiiii …

    Cihuiiii …

    Maap uda …
    Asunaro punya tradisi …
    Kalo komen berurutan
    Mesti ada yang nutup dengan …
    Pose … Pose Cheers …

    (dan ini kejadian langka sekarang … huahahhaha)

  5. Hehehehe….lucu sekali….ternyata tulisan tentang Kartini dimulai dari Satpam kampung Blagu (atau Humas ya), tulisannya serius dan sendu.
    Diteruskan oleh Uda Viron ehh uda Vizon….hehehe….

  6. hahaha…
    ternyata usulan saya disambut baik oleh uda viron.
    terima kasih, da. ceritanya bagus sekali, bahkan lebih bagus dari versi orinya.
    gak sabar deh nunggu lanjutannya.

  7. Wah, terimakasih Uda, saya sudah diabsen (loh, kok diabsen sih? Lala Markela, absen itu kan artinya nggak hadir! :mrgreen: )

    Tanggal 21 tinggal beberapa jam lagi nih, pakai konde dulu aaah …. (*buru-buru cari sisir*)

  8. Haduuuhhh……
    Sebetulnya dalam beberapa hari terakhir ini aku sedang tak bisa tertawa. Bahkan absen tertawa.
    Tapi begitu sampai sini, sampai rumah si Uda Viron ini, aku tak bisa membendung ngakak.

    Hadooohhh… D’Wedhok itu! Kalo aku direktur perusahaan rekaman dangdut, sudah kuminta rekaman mereka. Habis gimana ya, tampang mereka sudah pas sih :p

  9. @ Bunda Tuti:
    Hayah! Bunda bener! Gemana sih, Lala iiinniiihhh…

    @ DM:
    ADuh, makasih lho, Mas… karena udah melihat potensi diri kami berempat…..
    *ngasah clurit*

  10. hahahahahahah
    hahahahahahah
    hahahahahahah

    udah dong, soal binatang-binatang gak usah di lanjutin ya….

    the wedhok hahha, pecah suara, suara satu, suara dua, suara tiga dan suara monyet hahahahahahaa

    Gokil banget hajar terusssss

  11. Sejak lulus, untuk bisa ketawa lepas susah banget dan sekedar utk blogwalking pun malesnya minta ampun. Tapi setelah baca tulisan ini, aq ngakak habis. Kirain cerita beneran, eh rupanya fiksi. Dari awal membaca kok ada keanehan dengan tokoh yang dituliskan, rasanya kenal tokoh2 yang disebutkan..
    hahahahahahaha :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s