kartini kampung blagu (2)

Jantung Viron berdegup kencang. Pikirannya tertuju kepada sahabatnya, Gun. Nada suara Gun yang penuh dengan kepanikan di telepon tadi membuat suasana hati Viron penuh tanda tanya.

“Ada apa Mas Gun? Coba bicara yang jelas”
“Ronny Da…”
“Iya, ada apa dengan Ronny?”
“Dia di rumah sakit”
“Apa? Rumah sakit?”
“Iya, rumah sakit”
“Tapi tunggu… bukankah dia sedang liburan bersama istrinya di Sidney?”
“Nantilah aku ceritakan, sekarang Uda kesini aja dulu”
“Ya sudah, tunggu sebentar ya…”

Viron bergegas mengeluarkan sepeda motornya, sambil berpesan kepada putra sulungnya, Alif, untuk menjaga rumah dan adik-adiknya.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Viron berpapasan dengan segerombolan anak sekolah. Ada yang tidak biasa kali ini, penampilan mereka tidak seperti biasanya. Mereka tidak berseragam, tapi berpakaian tradisional!

Viron baru ingat kalau hari ini adalah tanggal 21 April, yang selalu diperingati secara nasional sebagai Hari Kartini. Untuk mengingat jasanya yang besar dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, maka hari kelahirannya itu dijadikan sebagai hari special di Negara ini.

Sepertinya sudah mentradisi pada setiap peringatan Hari Kartini semua sekolah mewajibkan murid-muridnya berpakaian tradisional. Idenya cukup bagus, tapi apakah hal itu mampu menyentuh esensi peringatan itu sendiri? Entahlah, yang pasti anak-anak putri itu cukup tersiksa dengan kain jarik yang mereka kenakan.

Rumah sakit yang terletak berdampingan dengan kampus Institut Taruna Belagu (ITB) itu, memaksa Viron harus melewati kerumunan mahasiswa. Mata Viron langsung tertumpu pada salah seorang dari mereka. Dia cukup kenal dengan sosok mahasiswa itu. Viron menghentikan motornya.

Cakra…”, panggilnya.

Yang merasa punya nama itu pun berpaling ke arah suara. Setelah sadar siapa yang memanggil, diapun segera menemuinya.

“Uda… ada apa di sini?”
“Saya mau ke rumah sakit”
“Siapa yang sakit Da?”
“Ronny… Tadi Mas Gun telepon aku, katanya Ronny ada di UGD”
“Mas Ronny kenapa Da?”
“Aku ndak tau. Makanya, kamu ikut yuk”
“Waduh, maaf Da, aku gak bisa”
“Ada kuliah ya?”
“Iya, sebentar lagi bersama Pak Enda Gandis, dosen favorit saya”
“Setelah itu?”
“Setelah itu saya juga ada rapat konsolidasi dengan teman-teman mahasiswa”
“Konsolidasi? Emang kalian mau ngapain?”
“Kan sebentar lagi mau pemilihan pengurus UKM, Da. Jadi, kita mau mensukseskan jagoan kita”
“Jagoan… ayam kali…”
“Ah, Uda ini ada-ada aja…”
“Ya sudah, kalau kamu ada waktu, coba jenguk Mas Ronny di rumah sakit ya. Kan tinggal beberapa langkah dari kampusmu ini”
“Ok Da, salam buat Mas Gun dan Mas Ronny ya”

Viron pun segera menggerakkan motornya ke rumah sakit. Terkesan sekali dia dengan ucapan Cakra soal dosen favoritnya itu. Ya, Pak Enda adalah seorang Oemar Bakrie yang mampu membangkitkan semangat mahasiswanya. Beliau selalu menyemangati mereka dengan pertanyaan, ‘kamu kuliah untuk apa?’. Kalimat pendek itu cukup sakti menyihir semangat mahasiswa. Menurut Pak Enda, bila kuliah untuk mendapatkan ijazah agar gampang mencari pekerjaan, akan membuat seseorang dengan mudahnya menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dan biasanya, mereka inilah yang mengisi lowongan sarjana pengangguran. Semestinya, mahasiswa belajar untuk memperoleh kecakapan hidup. Karena, orang yang cakap akan memiliki kreatifitas tinggi, sehingga mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bergantung kepada ijazah yang dimiliki.

Ah… seandainya semua dosen seperti Pak Enda…

Beberapa menit kemudian, sampailah Viron di rumah sakit. Dia langsung menuju UGD. Ditemuinya Gun yang duduk dengan gelisah di depan ruangan UGD tersebut.

“Mas Gun, ada apa?”
“Ronny dikeroyok massa Da”
“Lho, kok?”
“Tadi saya menjemputnya ke bandara”
“Ooo, berarti dia sudah pulang dari liburannya”
“Ya… trus di tengah jalan, ada anak muda menabrak sepeda motor yang berada tepat di depan kami. Spontan kami turun dari mobil ingin melihat apa yang terjadi. Gadis yang menjadi korban itu pun dengan spontan kami bantu”
“Terus…?”
“Tiba-tiba ada yang meneriaki dan mengatakan kalau kami adalah pelaku tabrakan itu. Tanpa banyak tanya, mereka pun melakukan aksi main hakim sendiri. Saya cepat menghindar, tapi sayangnya Ronny…”

Gun tak sanggup melanjutkan ceritanya. Viron sudah dapat membayangkan bagaimana kejadian selanjutnya. Kejadian tidak adil itu memang sering terjadi. Niat baik, sering mendapat balasan buruk. Entah mengapa negeri yang terkenal dengan keramahan dan budaya ketimurannya ini sudah semakin berubah menjadi Barbar.  Main hantam, tidak kenal kompromi dan gampang menyalahkan. Prinsip musyawarah sudah tidak dipakai lagi. Yang ada hanyalah pemaksaan kehendak. Bila idenya tidak diterima, dia akan marah besar dan berusaha mencari celah kesalahan lawannya.

“Apa yang bisa saya bantu Mas Gun?”
“Saya mau ke kantor polisi, mengurus mobil. Sekalian saya juga mau cari orang yang telah memfitnah kami. Sampai ke lubang semut pun akan saya cari. Tidak tau dia kalau Kampung Blagu ini tidak terlalu luas”
“Sudahlah Mas, gak usah diperpanjang, akan bertambah masalahnya nanti”
“Saya emosi Uda”
“Ingat kata Mas Letho, emosi itu perlu dimenej dengan baik. Kalau tidak, akan jadi gelombang besar yang bakal menggulung dan melahap kehidupan kita. Beliau sudah membuktikan itu. Berkat menejemen emosinya yang baik, dia berhasil mendapatkan proyek besar dari Pemerintah”
“Iya juga sih… Ya sudah, saya ke kantor polisi saja dulu”
“Ok, hati-hati… Eh, gak perlu pakai acara ‘menempeleng’ polisi ya… hehe…”
“Ya, ya… tapi kalau terpaksa, mau gimana lagi… huahaha…”

Gun berlalu. Viron duduk menunggu perkembangan Ronny di ruang tunggu. Dilihatnya suasana rumah sakit itu sibuk sekali. Banyak orang berlalu lalang. Berbagai ekspresi dilihatnya; ada yang meringis kesakitan, ada yang tertawa lepas, ada yang berkerut keningnya, dan… he, sepertinya dia melihat seseorang yang dia kenal.

“Bang Andre…?”
“Uda…? Ngapain di sini?”
“Menunggu Ronny, dia di UGD. Abang sendiri ngapain di sini?”
“Ayah mertua saya dirawat beberapa hari di sini, dan sekarang sudah mau pulang”
“Kok kelihatannya capek sekali, kenapa Bang?”
“Iya nih, saya sudah puluhan kali mengelilingi rumah sakit ini”
“Ngapain, kok rumah sakit dikelilingi, mending Ka’bah saja, sekalian Thawaf”
“Ah, Uda ini bisa aja… Saya lagi ngurusin ASKES. Wuih… ribetnya minta ampun. Bolak-balik saya dioper kesana kemari. Heran deh, kenapa kok gak dilayani satu pintu saja ya. Mana pelayannya pada gak ramah lagi. Benar-benar capek, hati dan badan saya, Da”
“Tapi Bang Andre tidak marah-marah sama pelayannya kan? Mereka juga perlu dikasihani. Barangkali mereka marah-marah karena kecapean mengurusi segitu banyak orang”
“Uda pasti lagi teringat ceritanya si Murda ya…?”
“Iya, sejak dia cerita soal bagaimana pedihnya perasaan seorang customer-service, saya jadi berusaha untuk selalu menjaga perasaan mereka”

Lamat-lamat Viron mendengar panggilan: “keluarganya Bapak Ronny”

“Bang Andre, saya dipanggil. Saya kesana dulu ya… Salam buat ayah”
“Ok Da, salam juga buat Mas Ronny”

Viron segera menuju pintu UGD dan bertemu dengan suster yang memanggil tadi.

“Bapak keluarganya Pak Ronny?”
“Benar sus, saya keluarganya. Bagaimana?”
“Silahkan masuk. Pak Ronny sudah diobati dan sudah bisa pulang”
“Oh syukurlah, terima kasih ya Sus”

Dengan buru-buru Viron segera masuk ke ruangan itu, segera ingin bertemu dengan Ronny. Tanpa disadarinya, di depannya ada seseorang yang mengarah ke pintu itu untuk keluar. Viron tak dapat menghindar, dan dia pun menubruk orang tersebut.

“Aduh, maaf Ibu, saya tidak sengaja”, Viron meminta maaf sambil memungut barang-barang Ibu yang dituburuknya tadi yang berjatuhan di lantai.
“Yah… ga apa-apa, lain kali hati-hati ya…”
“Ini barang-barangnya Bu…”, Viron menyerahkan barang-barang tersebut. Dan alangkah terkejutnya dia demi melihat sosok yang ditabraknya tadi.

“Dokter Henna….!!??”

bersambung….

12 thoughts on “kartini kampung blagu (2)

  1. Ah…akhirnya Uda Vizon nyerempet ane juga….🙂
    Cerbung yang bikin penasaran dan ngabsenin semua bloggers kenalan Uda Vizon… Nice Try

    Pertamax kah???

  2. Apa betul itu yg jadi dosen namanya Pak Enda Gandis ? soalnya dulu pas ketemu saya dia memperkenalkan diri sebagai Endro Djati, katanya supaya dianggap orang jawa. Wis tambah mblabar ceritanya …

  3. Suka banget sama endingnya, Uda..
    bener2 kayak cerita misteri, eh, bersambung! Horee..

    *nyiapin kopi buat temen nungguin lanjutan ceritanya*

  4. Waduh! Kasihan sekali, Dokter Henna. Kok Viron tega amat menabraknya. Cepat ditolong, dong, Dokter Henna. Dibawa aja ke UGD rumah sakit terdekat, biar ditolong sama Dokter Hemma, trus disuntik biar cepat sembuh! Hi…..

  5. hahaha… Uda, Uda…bisa aja nih.
    ‘status’ku terbawa2 sampai sini ternyata.
    sip dah ! biar saya lanjutkan lapor ke pak pulisi😀

    eh, jangan lupa Uda, sambungannya ditunggu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s