kartini kampung blagu (3)

Rumah itu tidak terlalu besar, halamannyapun tidak terlalu luas. Bentuknya cukup sederhana. Tapi, suasananya mampu membuat hati setiap yang mampir menjadi nyaman dan sejuk. Halaman yang kecil itu ditumbuhi tanaman aneka rupa yang tampak terawat dengan baik. Sama sekali tidak ada pagar, mengisyaratkan kalau penghuninya sangat terbuka dengan siapa saja.

Viron mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam. Tanpa harus menunggu lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Sambil menunggu sang tuan rumah keluar, Viron memperhatikan sekeliling ruang tamu itu. Tidak ada yang mewah dari perabotannya. Sejenak matanya tertumpu pada sebuah pigura dengan foto dua sosok manusia yang sangat dikenalnya. Terasa sekali aura ketulusan cinta pada foto itu. Viron tersenyum bahagia memperhatikannya.

“Viron…!, what a surprise!”

“Amanda!”

Dua sahabat itu saling berpelukan, melepas kerinduan, karena sudah terlalu lama tidak berjumpa.

“Kemana aja lu, dah kelar petualangan elu mencari cinta?”, Viron memulai pembicaraan.

“Elu membaca semuanya di blog gue kan?”, Amanda mencoba menjelaskan. “Iya, gue selalu mengikutinya. Elu gila juga ya, bolak-balik Jogja-Semarang-Gunung Kelir”

“Itu kecelakaan perjalanan namanya Ron…”

“Jujur, gue paling suka bagian cerita elu yang itu, keliatan banget elu yang gampang dibawa angin. Kata orang kampung gue nih, mirip pimping di atas bukit…”

“Ah elu… gak segitunya kali”

“Trus, ngapain elu balik ke sini lagi?”

“Sejauh-jauh burung terbang, dia juga bakal pulang ke sarangnya Ron. Gue juga begitu. Gue butuh tempat ini untuk melabuhkan jiwa gue yang lelah”, jawab Amanda sambil memandangi foto di dinding tadi itu.

Obrolan dua sahabat itu terputus dengan kehadiran sesosok perempuan yang membawa baki berisi minuman dan makanan ringan.

“Deuh… yang udah lama gak ketemuan”

“Dokter Henna…”, Viron berdiri dan menyapa perempuan itu.

“Ayo, diminum dulu Ron, mumpung hangat”

“Makasih… Oya, maaf banget atas kejadian kemarin ya Dok. Saya benar-benar tidak sengaja”

“Sudahlah, kok masih diingat tho? Justru kita harus berterima kasih pada kejadian itu. Berkat tubrukan itu, kita bisa kumpul lagi”

“Ya betul, tubrukan yang membawa berkah, hehe…”, Amanda menimpali. “Eh, elu terusin aja ngobrol sama Mama ya, gue mau mandi dulu. Selama perjalanan, gue kan jarang mandi, jadi selama ada di rumah, gue sering-sering mandi, haha…”

“Pantesan dari tadi gue mencium bau yang gak sedap di sini, ya sudah, sana”

Mereka bertiga tertawa dengan akrabnya.

“Tak terasa ya Bu, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya merasakan kebanggaan Amanda dalam pidatonya terhadap Ibu ketika kami diwisuda”

“Tuhan telah mempertemukan kami di saat yang tepat Ron. Di saat saya nyaris rapuh karena kehilangan suami dan anak karena kecelakaan pesawat, dan di saat Amanda terlunta di jalanan”

“Amanda sering menceritakannya di kampus dulu Bu. Dia bersyukur sekali dipertemukan dengan Ibu. Tak terbayangkan olehnya akan jadi seperti apa hidupnya sekarang, bila Ibu tidak datang menyelamatkan nyawanya dan akhirnya mengangkatnya sebagai anak. Itu luar biasa sekali Bu”

“Ah, itu karena Tuhan ingin membalas kebaikan Amanda dengan menurunkan bantuan-Nya melalui tangan saya. Dia anak baik Ron, sangat baik malah”.

Pembicaraan terputus seketika, karena di televisi yang berada di ruang tengah menampilkan berita tentang sesosok politisi yang berniat jadi Presiden. Entah berapa banyak uang yang telah dihabiskannya untuk berkampanye. Hampir setiap hari iklannya muncul di seluruh stasiun tv.

Viron tidak tertarik dengan sosok politisi itu. Dia lebih tertarik memperhatikan raut wajah Dokter Henna yang berubah drastis. Sepertinya ada sesuatu yang bergemuruh di sana.

“Ibu kenal dengan orang itu?”, Viron membuyarkan lamunan Dokter Henna.

Dr. Henna buru-buru memalingkan mukanya. “Ah, eee… ii iya, saya kenal”

“Wah, hebat dong, Ibu punya kenalan orang hebat”

“Sebuah perkenalan yang menyakitkan Ron”

“Menyakitkan? Kenapa Bu?”

“Saya nyaris menikah dengan orang itu”

“Oya?”

Ayah saya yang pejabat pemerintah ketika itu, menginginkan saya menikah dengan anak sahabatnya yang juga pejabat. Saya menolak perjodohan itu. Tapi, saya tak sanggup. Adat begitu kuat membelenggu. Saya sebagai perempuan harus mengikuti apa maunya ayah. Dan akhirnya, saya pun dengan pasrah menerima perjodohan itu”

“Lantas?”

“Ketika hari pernikahan tiba, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya kepada kami semua”

“Apa yang terjadi Bu?”

“Ketika ijab Kabul akan dilaksanakan, tiba-tiba muncul sesosok perempuan muda. Dia mengamuk, sambil berteriak tidak karuan dan menunjuk-nunjuk muka Supriyanto, calon suami saya”

“Siapa peremuan itu Bu?”

“Ternyata, dia adalah kekasih Supriyanto. Dia marah besar begitu mengetahui Supriyanto akan menikahi perempuan lain, padahal dia sudah memberikan segalanya, termasuk rahimnya. Akibat hubungan laknat mereka, sudah empat kali mereka menggugurkan kandungan perempuan itu. Setiap kali melakukannya, Supriyanto selalu berjanji akan menikahi perempuan itu. Tapi, janji tinggal janji. Supriyanto begitu lihai menghindar, dan perempuan itu terlalu naïf untuk kembali jatuh kepelukan Supriyanto, dan terus mengulang kesalahan yang sama”

“Lantas, pernikahan itu…?”

“Ya batal! Bodoh sekali saya kalau mau dinikahi pria bejat itu. Ketika itu juga saya berontak, dan berbicara dengan lantang di depan hadirin yang terdiri dari orangtua dan kerabat saya. Saya katakan bahwa saya adalah manusia yang memiliki kesamaan hak dengan pria. Saya juga punya otak yang bisa berpikir. Adat itu adalah ciptaan manusia, ia bisa berubah kapan saja, sesuai dengan perkembangan zaman”

“Apa reaksi kedua orang tua Ibu?”

“Mereka membisu, tak sanggup berkata sepatah pun. Rona penyesalan sangat tampak pada wajah ayah saya, sementara ibu saya hanya bisa menangis, entah shok, entah menyesal, saya tidak tahu”

“Kemudian…?”

“Dengan kejadian itu, saya memperoleh kebebasan untuk melakukan apa yang saya mau. Saya belajar sekuat tenaga dan akhirnya bisa menjadi dokter seperti sekarang ini”

“Bagaimana dengan Supriyanto selanjutnya Bu?”

“Saya sudah tidak mau tahu lagi dengannya”

“Apakah Ibu tidak bisa memaafkannya?”

“Saya sudah memaafkannya, tapi tidak bisa melupakan sakit yang ditorehnya… Terakhir saya dengar dia lagi mencari calon istri. Gak lucu dong kalau Presiden tidak punya istri, siapa yang akan dipanggil sebagai Ibu Negara nanti?”

“Hehehe…. Iya, saya ingat. Yang pakai sayembara segala itu bukan? Emang gila tu orang ya…”

“Yah, begitulah…”

Viron berdecak kagum di hatinya. Betapa luar biasa sosok perempuan yang ada di depannya ini. Perjuangannya untuk merebut kemerdekaan dirinya telah menjadi inspirasi setiap perempuan di kampung ini. Viron berniat akan mengajukan permohonan kepada kepala kampong blagu untuk memberikan semacam penghargaan kepada perempuan ini. Tapi, apakah itu penting? Entahlah!

“Oya, Amanda tadi mana Bu? Kok lama amat tu anak mandinya”

“Eh, iya… coba kamu lihat ke kamarnya sana”

Viron melangkah ke kamar Amanda, dan alangkah terkejutnya dia begitu melihat apa yang dilakukan Amanda.

“Woi… elu bukannya mandi, malah ngidupin laptop! Gue dari tadi nungguin tau…”

“Hehe… sorry bos, pas gue mau mandi, tiba-tiba ada pesan di YM gue, dari seseorang di Surabaya. Ya udah, gue jawab, eh… keterusan ngobrolnya. Biasalah, elu kayak gak kenal gue aja”

“Aih, siapa lagi perempuan yang khilaf mau ngobrol sama elu…!”

“Huahahaha….”

TAMAT

12 thoughts on “kartini kampung blagu (3)

  1. Jadi intinya yang jadi Kartini di Kampung Belagu itu Bu Dokter apa Ibu-Ibu Trio paduan suara itu Da? Hahaha… Tumben ditulisan bagian 3 ini cuma dikit yang diabsen??

    Da, karikaturnya dah kelar, cuma koneksi internet yg lemot menyulitkan aku ngirim email ke Uda.. Sabar ya…

  2. hahaha…
    kampung blagu jadi rame nih pake segala dokter henna yang punya anak angkat bernama amanda dan pernah sakit hati dibikin capres.
    wah, untung udah tamat. kalau masih nyambung, bisa-bisa ada adegan pembunuhan tokoh terkenal oleh seorang dokter, modusnya adalah sakit hati tadi. wakakakakkk…

    yak! yak! sering-sering nulis serial kampung blagu ya, da? silakan yang lain juga, ditulis… ditulis… sayang anak… sayang anak…

  3. wah rupanya kartini di kampung blagu semakin keren dan semarak nih hahaha saya komentar di yang ke tiga saja hehehe setelah yang 1 dan 2 serta terima kasih untuk tautannya
    sukses selalu untuk uda

  4. Kok Tamat sih da??? kan masih banyak tuh lanjutannya…hehehehehe…

    bener kata Mbak Imel dan Mas Dan…ini kok pake gw elu…aneh…huhehehehehe
    _____________________

    seri kartini yang tamat, kalo serial kampung blagu yg lain, tunggu aja tanggal mainnya… sekarang para pemainnya lagi melancong, hehehe…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s