ijazah

Gara-gara baca postingan Hery Azwan soal ujian, aku jadi ingin bercerita soal pengalaman belajar di Gontor juga.

Di awal kehadiranku di sana, Pak Kyai sudah mewanti-wanti bahwa Gontor tidak memberikan ijazah. Kalau mau belajar di sini dan siap tidak berijazah, silahkan teruskan, bila tidak sudi, silahkan belajar di tempat lain.

Waw..! ketika itu aku sedikit ragu untuk meneruskan langkah belajar di sana. Sempat terpikir untuk kembali pulang. Tapi, demi mengingat perjuangan berat yang kulalui hingga akhirnya bisa sampai diterima di Gontor, membuat tekadku membaja; “aku harus terus maju, sekali layar terkembang, bersurut aku berpantang“. Aih.. semangat kali, hehehe… ๐Ÿ™‚

Seiring berjalannya waktu, aku menikmati kehidupan nyantriku. Segala kegiatan kuteguk dengan rakus, bagaikan musafir yang kehausan di tengah padang pasir. Kesenian, kepramukaan, organisasi, keterampilan, marching band, semua kuikuti, kecuali olahraga. Untuk olahraga, di samping karena aku kurang suka, aku juga tidak punya cukup waktu lagi, karena kegiatan lain sudah menyita waktu… halah alasan, bilang aja malas…! hehehe…. ๐Ÿ™‚

Hampir dapat kupastikan, semangat itu muncul karena pompaan motivasi dari Pak Kyai yang hampir setiap saat kami dapatkan. Di antara yang paling aku ingat adalah: “ijazatuka kafa’atuka” (ijazahmu adalah kemampuanmu). Artinya, ijazah yang sesungguhnya itu terletak di kemampuan yang kita miliki, dan itu tidak bisa dipalsukan oleh siapapun, tidak sama dengan ijazah dalam bentuk secarik kertas, yang akan dengan gampang diduplikat oleh siapa saja.

Agaknya, motivasi itu pulalah yang membuat seluruh santri mengikuti berbagai kegiatan dengan sungguh-sungguh, tanpa peduli dengan selembar sertifikat. Yang penting, punya kemampuan!

Karena keasyikanku mengikuti semua proses pendidikan, aku luput dari memikirkan masa depanku. Yang kumaksud adalah, kalau memang Gontor tidak memberi ijazah, lantas nanti kalau aku mau kuliah bagaimana? Aku sama sekali tidak memikirkan itu, sampai aku menyandang gelar alumni. Sementara, teman-temanku sudah mempersiapkannya sedari mereka nyantri, yakni dengan mengikuti ujian persamaan atau tetap mendaftarkan diri di sekolah-sekolah di kampung mereka. Aku…? benar-benar tidak mempersiapkannya. Aku pulang dari Gontor hanya bermodalkan selembar surat keterangan, bukan ijazah. Ijazahku ada di otak dan tubuhku.

Ketika status alumni sudah kusandang, aku mulai kebingungan, kemanakah aku akan melanjutkan studi? Kucari segala info. Di IAIN yang ada di Jawa, terutama Jogja dan Jakarta, tidak bisa menerimaku. Sebetulnya aku ingin sekali kuliah di dua kota itu. Singkat cerita, akupun terdampar di kota Padang.

Ternyata, IAIN Padang sama sekali tidak mempermasalahkan surat keterangan yang kumiliki. Akupun diterima kuliah di sana. Sampai akhirnya aku menjadi sarjana, ijazahku sama sekali tidak dipermasalahkan. Bahkan, ketika aku melanjutkan S2 dan diangkat menjadi PNS, ijazah sekolah menengahku tidak pernah ditanyakan. Apakah aku beruntung? Entahlah. Tapi yang pasti, beberapa temanku juga mengalami hal yang sama denganku.

Karena pengalaman inilah , maka di setiap kesempatan bertemu mahasiswa, aku selalu katakan petuah Pak Kyai tadi: “ijazatuka kafa’atuka” (ijazahmu adalah kemampuanmu). Maka, jangan melakukan segala cara demi meraih nilai-nilai palsu di secarik kertas yang bernama ijazah. Apakah mereka terbakar semangat dengan itu? Aku tidak tahu.

Terakhir, aku mau ucapkan: “Selamat Hari Pendidikan Nasional”, semoga generasi muda kita semakin memahami makna sebuah ijazah. ๐Ÿ˜€

Advertisements

30 thoughts on “ijazah

  1. wow, jadi tidak ada ijazah sekolah menengah ya? Tapi semestinya bagi para calon santri (mungkin oleh sempainya) bisa dikasih tahu jalan-jalan keluarnya. Iya kalau berhasil seperti Uda. Kalau tidak?
    Or semua alumnus gontor pasti berhasil? hehehhee

    EM
    ____________________

    sebetulnya selama nyantri, udah ada banyak obrolan soal itu oleh kakak2 kelas atau teman2… tapi dasar saya-nya aja yg nyaris tidak peduli…

    semua alumni gontor sukses? ya gak lah nechan…
    semua tergantung orangnya. pak kyai selalu menasehatkan: “sebesar keinsafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu” ๐Ÿ˜€

  2. Ngomong soal ijazah cukup menimbulkan kesan bagi saya.
    Tahun 96 saya masuk kuliah dan tahun 2000 harus berhenti kuliah tanpa sanggup menyelesaikannya karena kekurangan biaya dan harus mulai bekerja.

    Puji Tuhan, Dia memberi saya kepercayaan untuk membangun perusahaan dengan modal NOL rupiah sampai akhirnya ketika saya harus memilih untuk tinggal di Australia, saya baru sadar bagaimanapun juga saya tetap butuh gelar sarjana yang dimateraikan dengan selembar kertas bernama ijazah.

    Sept 2008 kemarin akhirnya saya wisuda setelah melalui kuliah yang sangat menjemukan dan hampir membuat patah arang. Segala macam godaan untuk membeli ijazah datang bermunculan, tapi pikiran saya satu, sama dengan Uda dan kyai uda, ijazahmu adalah kemampuanmu.

    Saya bangga pada akhirnya meski sangat terlambat, lulus, berijazah dan tidak perlu malu karena harus membeli ijazah seperti yang sekarang lagi ngetop itu.

    Tulisan yang sangat bagus dan (maaf) komen yang barangkali terlalu panjang ๐Ÿ™‚

    senang sekali saya baca komenmu Don…
    ternyata, dirimu adalah bukti nyata dari apa yg jadi idealismeku selama ini; berkarya tanpa ijazah! good!
    saya juga sangat bangga punya sahabat yg tetap jujur pada idealismenya, sehingga tidak perlu melacurkan kehormatan dengan membeli selembar kertas yg berjudul “ijazah”
    salut Don…

  3. wah, blog surauinyiak ganti tema!

    uda, saya punya pendapat yang sedikit berbeda.
    saya tidak menampik, bahkan sangat setuju bahwa ijazah yang sesungguhnya adalah kompetensi yang mampu ditampilkan oleh seseorang. namun di zaman sekarang, di mana hukum dan litigasi mengatur kehidupan bernegara, selembar tulisan hitam di atas kertas putih adalah hal yang tak kalah penting dibandingkan kemampuan itu sendiri. mungkin hal ini semestinya dipertimbangkan oleh pesantren gontor. sesuatu yang tidak sesuai dengan idealisme pribadi, namun bila tidak bertentangan dengan hukum agama, mustinya tidak dipantangkan sebegitu rupa.

    lagipula, cmiiw, di zaman rasulullah, adanya saksi (pada berbagai transaksi dan hubungan sosial) juga dimaksudkan sebagai dasar hukum. hanya karena dulu belum dikenal dokumentasi dalam bentuk lain saja.

    dulu, gontor memberikan kepada setiap alumninya semacam surat keterangan (ijazah) menyelesaikan studi di sana, tapi bukan ijazah yg dikeluarkan diknas. sehingga, kami tidak bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri di indonesia. biasanya, “ijazah” kami itu diterima di perguruan tinggi di timur tengah.

    dg bergulirnya waktu, gontor tetap berpegang teguh pada pendiriannya, sampai akhirnya negara sendiri yg mengakuinya, dan pada tahun 1998, mentri agama dan mendiknas mengeluarkan SK yg menyatakan kalau ijazah gontor disamakan dg tamatan SLTA lainnya dan bisa diterima di perguruan tinggi negeri baik umum maupun agama. oleh karenanya, alumni gontor setelah tahun 1998 itu mendapatkan ijazah yg diakui negara, sehingga alumni gontor saat ini banyak kuliah di fakultas2 umum…

    namun, sungguhpun demikian, filosofi ijazah tetap dipegang teguh oleh gontor sampai saat ini. mudah2an sampai kapanpun ya…

    mengenai dokumentasi di zaman rasulullah, memang sudah ada dalam bentuk tertulis. contohnya saja mushaf alquran yg saat ini ada pada kita. sejarah mencatat bahwa metode penyimpanannya disamping melalui hafalan, juga melalui tulisan para sahabat di batu, kulit maupun tulang2. jadi, memang tidak ada masalah dengan itu. yg menjadi masalah adalah, menjadikan “ijazah” sebagai tujuan pendidikan dan melupakan kompetensi… ๐Ÿ™‚

    • oh, baitu…
      saya jadi salut bahwa gontor telah membuat peraturannya “diakui” pemerintah, walaupun tidak mengikuti peraturan yang lazim.
      apa ini berarti gontor telah membuktikan bahwa ijazah (baca:akreditasi) institusinya ditentukan oleh kapasitasnya sendiri, sama seperti yang diharapkannya dari para lulusan?
      rasanya demikian.

      ya… memang gontor telah berhasil memegang teguh prinsipnya, sehingga pemerintah sendiri yg datang untuk memberi pengakuan, bukan gontor yg mengemis minta diakui… semoga terus konsisten seperti itu… karena yg terberat sesungguhnya adalah konsistensi atas sebuah idealisme

  4. Gara-gara soal ijazah Gontor tidak diterima untuk kuliah, saya tidak jadi berangkat ke Gontor, padahal sudah beli tiket kapal dan siap berangkat. Orang tua mengkhawatikan masa depanku. Ya, sudahlah, pasti ada hikmahnya. Saya menguburkan impian sejak kecil untuk nyantri di Gontor.

    seseorang pernah menasehati saya ketika saya gagal berangkat kuliah ke Mesir; “tidak penting dimana kamu belajar, yg terpenting adalah apakah kamu mau belajar“. dg nasehatnya itu, saya tetap bersemangat untuk mereguk pengetahuan, meski hanya di indonesia.

    menurut saya, tidak penting juga mas racheedus tidak bisa sekolah di gontor, yg terpenting adalah mas sudah berhasil menimba ilmu sebanyak2nya dan menjadi seseorang yg berguna bagi jagat ini… ๐Ÿ™‚

  5. Hampir mau nulis komen tentang perlunya Gontor bikin ijazah yang berkekuatan sama dengan ijazah di sekolah umum, supaya tidak membatasi kesempatan para santrinya .. ternyata sudah terjawab lewat comment Uni …

    Hmm,, tapi tanggung, saya musti comment nie …
    Apa yaa ..

    O ya, ada kenalan saya baru beli ijazah, Da .. sudah 10 tahun dia kuliah, orang tua sudah menyuruh pulang, pacar sudah minta nikahi, malu juga sama teman-teman seangkatan. belilah dia ijazah sarjana …
    hahaa …
    Iya, di Jogja .. dan universitas itu terkenal juga, dengan nama yang sangat muluk, bahkan ๐Ÿ™‚

    beli ijazah…? di jogja pulak? hmmm… perlu dilacak nih, malu2in aja, hehehe… ๐Ÿ˜€
    ssstt… universitas terkenal dg nama muluk itu apaan Muz…? ๐Ÿ˜‰

    • Terkenal zaman dulu, Da .. Sekarang sih bukan favorit lagi .. Ya mungkin karena bisa jual-beli gitu malah jadi turun kualitasnya. Atau karna kualitas turun trus mahasiswanya kurang, jadi mereka bisa / harus berdagang.

      *mengangkat bahu*

  6. Ijasah sekolah saya yg terakhir juga cuma semacam surat keterangan yg yg di-print pada selembar kertas A4 80gr begitu saja … Untungnya Dikti percaya karena mungkin sebagian besar lulusan tempat saya sekolah memang dikenal cuma seperti itu “ijasah”-nya sehingga saya punya surat keterangan ekivalensi … hehehe ๐Ÿ™‚

    DIKTI bisa percaya, juga karena melihat wajah bapak yg tanpa dosa itu. jadi, gak mungkin dong orang sebaik bapak memalsukan ijazah, apalagi ijazah doktor dari luar negeri… hehehe… ๐Ÿ˜€

  7. Ijazahmu adalah kemampuanmu …???

    Ah ini bener sangat uda …
    ini bener sangat …

    Kadang suka miris juga banyak yang beli ijazah …
    sampe berjuta-juta …
    untuk apaaaa coba ???

    Salam saya

    beli ijazah untuk apaa?
    ya untuk ngibul lah pak… hehehe…. ๐Ÿ˜€

  8. Temenku untuk menjadi seorang PNS, dia harus mampunyai gelar S2. Langkah tercepatnya adalah membayar 8 juta untuk sebuah ijazah dari instansi tdk terkenal. Sekarang dia sudah menjadi PNS dari ijazah kilatnya yang 8 juta itu.
    Hhh..miris aku. Segampang itu. Padahal belum tentu (bahkan tidak) dia memahami keahlian dari setiap point mata kuliah yang tercantum di ijazah itu. *sigh*

    menyakitkan sekali bila kita bersaing dg orang yg ijazahnya dibeli itu, trus kita malah “dikalahkan”
    huh… rasanya bagaikan dipukul godam raksasa… and, aku pernah mengalaminya… hiks!

  9. Masalah ijazah ini memang dilema.
    Jika ijazah dicuekin, akibatnya santri sulit kuliah.
    Tetapi jika, santri ikut ujian persamaan, nantinya orientasi santri berubah.
    Sekarang, kalau Gontor diakui pemerintah tanpa harus diintervensi oleh kurikulum pemerintah, rasanya ini solusi terbaik.
    Biarlah Gontor menelurkan alumni yang unik, tidak harus sama dengan alumni MAN atau bahkan SMA.

    dan… karena alasan itulah maka dirimu “mendahului” diriku bukan…? hehehe…
    alumni gontor memang unik… salah satu buktinya adalah orang yg komennya aku jawab ini… ๐Ÿ˜‰

  10. Susahnya di negara kita, dan mungkin juga dibanyak negara lain, ijazah adalah sumber legalitas formal yang dibutuhkan kalau kita mau nyari kerja. Kecuali kalau kita mencari nafkah dari sektor informal kayak yang dibahas disini: http://soyjoy76.wordpress.com/2009/03/12/lo-sekolah-buat-apa/
    Tpi alumnus gontor memang terkenal dengan semangat wirausahanya kan, Uda?

    aku sebel ketika tes PNS…
    masa soal untuk calon pegawai administrasi disamakan dg soal untuk calon dosen?
    sama sekali tidak ada ujian kompetensi, semuanya hanya berdasarkan kepada angka2 yg tercantum di ijazah. akibatnya apa? kita sering mendapatkan dosen yg tidak “sesuai”

    alumni gontor cenderung wirausahawan…?
    ah, gak juga… hanya, kalau dibilang alumni gontor pada kreatif, aku setuju… ahuhuhu…. ๐Ÿ˜€

  11. Uda, tulisan ini amat manis….bukan terletak di ijazahnya memang, Tapi di cara mendapatkannya, pola pikirnya dan waktu yang kita tempuh serta apa apa saja yang bisa kita petik dalam waktu menempun ujian itu.

    Aku tidak pernah mendapatkan kesulitan dalam mendapatkannya, tapi seorang teman yang bekerja sambil kuliah pernah mandapatkan tawaran membeli ijazah tersebut. Godaannya memang besar…tapi syukurlah dia bisa melaluinya hehehe…

    yg punya tulisan manis juga kan…? hehehe… ๐Ÿ™‚

    dirimu benar yess… “proses”, itulah kata kuncinya…
    analogiku seperti ini:
    dua pasang kekasih punya anak, yg satu lewat pernikahan dan yg satunya lewat “kecelakaan”… kedua pasangan itu sama2 punya “hasil” dari perbuatannya, hanya yg satu legal, sementara yg satu lagi dijagal… hehehe… ๐Ÿ˜€

  12. selama di tempat kita berpijak ini ijazah masih dielu2kan sebagai bukti kemampuan seseorang secara kasat mata, maka selama itu pulalah dia akan dikejar2 dan didambakan.

    bila saja semua lembaga pendidikan bersikap seperti IAIN Padang itu, Uda. pastilah jalur kilat mendapat ijazah akan terpenggal.

    nah, kalo ijab syah… itu lain perkara, hehehe…

  13. tul banget uda…. yang susah ยฒ keringet dingin ngadepin UAN untuk dapetin ijazah jadi dipandang sebelah mata dech… ๐Ÿ˜€ apa kabar, uda ๐Ÿ˜‰

  14. wahhhh bener kah itu uda ? jadi gak ada ijasah ya…waduhhh masa siy….
    bagi saya ijasah tetap penting, minimal sebagai bukti awal kalo kita sudah selesai sekolah, walalupun yang berijasah tidak jaminan dia bermutu ya gak….tapi ya itu tadi…untuk bukti awal aja..toh memang yang akan menentukan nantinya kemampuan kita juga…

  15. Hmm… tahun 98 memang ijazah Gontor disamakan. Saya sendiri yang lulus tahun 99 cukup beruntung bisa menggunakan ijazah tersebut untuk mengikuti UMPTN, meski tidak berhasil. Kalau ga salah, pernah sekali ijazah ini, di tahun 2002 dipermasalahkani. Tapi setelah lobi sana-sini, ijazah Gontor diakui kembali.

    Mendengar paparan uda mengenai tidak pentingnya ijazah ini, saya hanya bilang, hal tersebut berlaku selama kita masih berada dalam konteks pendidikan agama. Di luar itu, keabsahan dan tanda bukti adalah segalanya, terlepas dari cara memperoleh tanda bukti tersebut. Ketika saya bandingkan dengan posting bu Miyashita tentang standarisasi, saya malah berpikir mengenai konsep Gontor di masa depan. Kalau diperhatikan, keikhlasan pondok itu benarbenar sebuah idealisme naif. Saya yang pernah mengabdi setahun di pondok cabang tahu, betapa nikmatnya mendapat uang jasa 30.000 rupiah sebulan dari pondok. Padahal dengan penghasilan saya dari pekerjaan kemarin yang berpuluh kali lipat saja, nilai keikhlasan yang ada masih jauh dari yang 30 ribu itu.

    Tapi coba perhatikan lagi, nilai ijazah dan uang jasa yang kecil itu bukan perkara besar, selama kita masih berada dalam konteks keagamaan. Di luar itu, logika yang ada tentu saja berbeda. Gontor itu self sufficient. Dia punya aset. lembaga pendidikan di perkotaan butuh dana, apalagi setelah otonomi pendidikan. Jalan paling gampang adalah legalisasi segala suatu, biar ada uang kas dan dari sanalah kampus2 itu hidup. Dan karena itulah sangatlah wajar jikalau ijazah adalah hal yang pertama kali ditanyakan saat kita melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini adalah sistem yang menyokong institusi agar dapat bertahan hidup.

    Sebenarnya, saya menyayangkan posisi Gontor yang di luar sistem itu. Karena kalau mau, kalangan pesantrenlah yang seharusnya merancang sistem sertifikasi keagamaan untuk lulusan Madrasah, bukan sebaliknya. Mengenai kemampuan entrepeneurship anak Gontor, saya agak meragukan itu. Mungkin dulu iya, kemampuan ini dominan. Tapi sekarang, ketika lembaga negara semakin mapan, dan globalisasi semakin mencengkram, kita butuh kemampuan untuk bermain dalam sistem, bukan di luarnya.

    Terakhir, waktu berkunjung ke sana dan bertemu kawan lama yang telah mengabdi lebih dari 5 tahun di Gontor, saya bertanya, apa yang kamu lakukan selepas dari sini? Jawabannya, sama seperti dahulu saat saya keluar dari pondok. Aku tidak tahu. Yah, Gontor was an ideal place, but world is just not like that.

  16. Ijazah, saya punya ijazah sekolah dasar 2, 1 dari SD negeri dan 1 lagi dari madrasah karena pagi saya sekolah di SD negeri dan siang di madrasah ๐Ÿ™‚

  17. Setelah mengkhatamkan tulisan serta membacai seluruh komentar yang ada, akhirnya aku setali tiga uang saja: ijazahmu adalah kemampuanmu. Tiga kata, tapi rasanya sakti sekali. Dalam arti, pada hakekatnya di situlah pembuktian kita pada kehidupan.

  18. Saya malah baru tahu tentang Gontor tak mengeluarkan ijazah, padahal jaraknya hanya sekitar 30 km dari kota kelahiranku dan tempat dimana saya dibesarkan.
    Tapi mungkin perlu juga dicari jalan keluar, karena tak semua orang bisa seberuntung Uda.

  19. Oi Uda Hardi,

    Setuju kalau “Ijazatuka Kafa’atuka”. Tapi dalam kondisi yang lain, memang tetap dibutuhkan juga selembar kertas yang ..yah begitulah.

    Tapi bila harus berhubungan dengan izin kerja dan hal berkaitan dengan itu di negri orang, mau gak mau harus dipersiapkan Uda.

    Btw, kapan balik ke Duri ?

  20. Menurut saya, di negara seperti Indonesia ini, dimana semua masih diukur dengan legalitas dan formalitas, selembar kertas ijazah masih penting bagi kebanyakan orang. Bukan berarti nilai diri kita terletak pada kertas itu, tapi sekedar untuk memudahkan urusan saja. Nggak ada salahnya kan, kemampuan diri kita dilegalkan dalam selembar ijazah?

    Yang salah adalah jika ijazah lalu menjadi tujuan, apalagi bila dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sungguh menyedihkan mendengar caleg memakai ijazah palsu, bahkan guru-guru pun memalsukan sertifikat untuk memperoleh akreditasi. Lha kalau guru sudah menipu, bagaimana akan bisa mendidik murid-muridnya?

  21. saya yakin sebenarnya banyak orang sadar bahwa ijazah itu nggak perlu-perlu amat. tapi yg saya herankan adalah, kenapa ya orang sepertinya sekolah tinggi-tinggi hanya untuk cari gelar atau dg kata lain, mencari ijazah juga ujung2nya? dan perusahaan-perusahaan itu memang mau gampang dalam menyeleksi orang: lihat ijazahnya keluaran mana, berapa IP-nya, berapa lama kuliah. penting nggak sih?

  22. Pingback: Matematika Bahasa Inggris = Sukses « Teacher's Notebook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s