angels and demons

Akhirnya, jadi juga nonton film Angels and Demons. Padahal, istriku sudah beberapa kali mengajak untuk menonton. Karena tidak ketemu waktu yang pas, maka tertundalah terus rencana itu. Kemarin sore, niat itupun terwujud. Hore..! (halah, berlebihan kali, hehe…).

Film ini akan terasa lebih nikmat bila anda sudah menonton film sebelumnya, “The Da Vinci Code”, film yang dulu pernah menjadi kontroversi karena berlatar ajaran Katolik. Sebagaimana Da Vinci, film ini juga mengisahkan petualangan memecahkan simbol-simbol yang lagi-lagi berhubungan dengan Katolik.

Dari awal sampai akhir, ada beberapa bagian yang aku kurang mengerti, terutama yang berkaitan dengan tradisi Vatikan dan istilah-istilah dalam ajaran Katolik. Tapi, suguhan visualnya membuatku berdecak kagum. Meski bukan diambil dari tempat aslinya, gambar-gambar yang dimunculkan berhasil memberikan gambaran yang indah di benakku tentang Vatikan.

Berikut sinopsisnya yang kuambil dari sini:

Sebuah tabung berisi antimateri telah dicuri dari CERN, sebuah lembaga riset nuklir di Prancis. Antimateri adalah sebuah bentuk hasil ilmu pengetahuan yang hampir menyerupai sebuah bentuk energi. Saat antimateri ini bertemu dengan partikel materi maka ledakan yang sangat dahsyat akan terjadi, semua yang dikenal sebagai β€œmateri” akan tersedot di dalam ledakan itu dan menjadikannya tidak bersisa. Seperti halnya pada proses penciptaan dunia yang dijelaskan dengan teori Big Bang.

Pada hari yang sama, tabung berisi antimateri itu sudah berada di bawah kota Vatikan dan siap meledak dalam 24 jam. Bersamaan dengan itu, pemimpin gereja Katolik Roma, Paus, meninggal dunia. Para kardinal sedang bersiap mengadakan konklaf, sebuah rapat tertutup untuk memilih Paus yang baru. Tapi keempat orang kandidat utama justru diculik oleh sebuah kelompok misterius, Iluminati. Kelompok ini jugalah yang bertanggung jawab atas pencurian antimateri dan rencana peledakan Vatikan.

Bermil-mil jauhnya dari lokasi ancaman bom antimateri itu, Robert Langdon (Tom Hanks), seorang simbolog dari Amerika, baru saja menyelesaikan beberapa putaran dari olahraga berenangnya, ketika seorang utusan khusus dari Vatikan meminta pertolongannya. Sebelumnya Robert memang sudah banyak menulis tentang kisah-kisah dibalik gereja Vatikan. Pengetahuannya tentang kelompok rahasia yang sudah menghilang selama 400 tahun itu menjadikannya sebagai orang satu-satunya yang bisa mengungkapkan pelaku dibalik ancaman bom yang bakal meluluhlantahkan Vatikan.

Berbekal sebuah tulisan unik bertuliskan Iluminati, Robert setuju untuk terbang ke Roma untuk membantu memcahkan kasus itu. Satu cetakan tulisan tersebut menarik perhatian ahli simbol ini karena dibolak-balik pun tulisannya akan tetap terbaca. Bentuk tulisan seperti itu biasa disebut sebagai ambigram. Salah satu ciri khas kelompok Iluminati.

Sesampainya di Vatikan, kemampuan Robert justru diragukan oleh komandan Swiss Guard, Richter (Stellan SkarsgΓ₯rd). Bahkan pimpinan kesatuan khusus itu selalu menatap penuh curiga terhadap pengetahuan Robert tentang kelompok rahasia ini. Namun, dibawah tekanan itu, simbolog ini membuktikan berbagai teorinya dengan berhasil membongkar lokasi pembunuhan empat kardinal yang sebelumnya diculik. Dengan bantuan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) dia bahkan bisa menemukan satu lokasi terakhir tempat antimateri itu disembunyikan.

Pesan penting dari film ini adalah hendaknya antara sains dan agama terjadi dialog yang harmonis. Sains dan agama, merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia. Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang.

Dua sisi ini, seharusnya disandingkan dengan manis, bukan dipertentangkan, apatahlagi dipurukkan dalam konflik berkepanjangan. Sejarah telah mencatat bagaimana “permusuhan” sains dan agama melahirkan tabir kelam yang menyelimuti umat manusia. Film ini, mencoba menggugah kembali ingatan kita akan permusuhan tersebut dan meminta kita untuk kembali duduk bersama, membincangkannya dengan tulus. Sehingga, sains dapat berkembang dengan pesat di bawah kawalan moral dari agama. Bila itu terjadi, maka tidak ada lagi produk sains yang kebablasan, dan sebaliknya, umatpun akan dapat menjalankan perintah agama dengan penuh kesadaran, bukan paksaan… πŸ™‚

Advertisements

30 thoughts on “angels and demons

  1. tipuan visual nya hebat, jauh dari cacat.
    awalnya tipuan visual jepang yang wempi sukai, sekarang film-film terbaru india pun juga tidak jauh kalah dalam hal tipuan visual.

    membuat kita sebagai penonton berdecak kagum

    benar sekali wem…
    saya benar2 merasa lagi berada di Vatikan
    ah, jadi kepengen ke sana suatu saat, tapi boleh gak ya?

    • kok tanya boleh ngga sih Uda? Maksudnya? Apa boleh muslim ke Vatikan? tentu saja boleh. Sedangkan masuk ke dalam gereja aja boleh kok. Tapi kalau tanya boleh ngga soal ijin dari keluarga/universitas nah itu kasus lain… apalagi kalau tanya boleh ngga pada sang dompet….

      Kalau ada rejeki dan bisa, saya sarankan pergi deh ke sana. Saya di sana 3 hari rasanya tidak cukup melihat-lihat semua bangunan bersejarah (Vatikan-Roma)

      terus terang nechan, aku punya obsesi ingin mengunjungi pusat2 keagamaan seluruh dunia, tapi rasanya bakal sulit diwujudkan…
      paling tidak mimpi dulu, bolehkan…? hehehe…

  2. Dulu, sewaktu melihat film pertama, ekspektasi saya kayaknya terlalu tinggi. film Davinci Code sepertinya tidak terlalu serius dibuat. Karenanya pas melihat pamflet prequelnya di bioskop malah saya tanggapi biasa saja. Dari penggambaran uda, cuma mau mengecek saja. Apa organisasi Illuminati itu digambarkan sebagai organisasi Arab? Karena di buku digambarkan demikian, dan term Arab dalam dunia terorisme betul2 marketable.

    Tentang hubungannya dengan keimanan Kristiani, sepertinya buku kedua Dan Brown ini merupakan antitesis dari buku pertamanya. Paling tidak, di bagian akhir, semua kecurigaan yang muncul seputar bidaah bermuara pada kesalahan manusiawi semata yang bisa dimaafkan. Tidak ada kesalah yang mengakut dalam. Hal ini merupakan penyelesaian yang bijak oleh si pengarang yang mendapat banyak protes dari kalangan agamawan.

    kelompok illuminati nyaris tidak tergambar dg eksplisit di situ. mereka hanya “wacana” yg dikambinghitamkan oleh seseorang yg berambisi menggantikan PAUS. di akhir film dia tampil sebagai “pahlawan” yg sebetulnya adalah otak dari kejahatan itu semua. jadi, sama sekali tidak ada kesan arab, atau bahkan muslim di situ. inilah yg saya suka dari film ini, tidak mendeskreditkan etnis atau agama tertentu…

  3. angels n demons filmya lebih keren daripada da vinci code.. ga terlalu banyak yang ilang dari buku menurut saya.. jadi yang nonton klo belum baca bukunya tetep bisa ngikutin dan ga bingung

    benar uni…
    saya saja belum baca bukunya, tapi tetap bisa mengikuti filmnya
    top deh… πŸ™‚

  4. Bukunya keren banget, Uda .. dan setelah nonton film-nya, tak seperti film adaptasian lain, saya gak terlalu kecewa, malah bisa bilang “keren”

    Da Vinci Code sebenarnya bukunya lebih bagus, tapi entah kenapa filmnya mengecewakan. Kalau Angels & Demons, cukup berimbang.
    Teman2 yang gak baca bukunya tetap bisa ngikutin, sementara film Da Vinci Code malah bikin mereka bingung …

    Dan Brown emang mantap πŸ˜€

    kabarnya memang begitu, filmnya tidak terlalu jauh melenceng dari bukunya. tapi, maaf, saya belum baca bukunya, hehehe… πŸ™‚

    Da Vinci menjadi terkenal karena pihak Vatikan mencoba melakukan counter terhadap film itu, sehingga berakibat film itu banyak diperbincangkan dan membuat orang penasaran untuk menontonnya, meski kualitasnya tidak terlalu bagus. oleh karena itu, kali ini pihak Vatikan tidak mau lagi “terpancing” untuk mengomentari film ini, biarkan saja masyarakat yg menilai, begitu kabar yg sempat saya baca di salah satu media.

  5. Saya suka ulasannya, Uda.
    Anda seorang muslim yang sangat terbuka dan menghargai perbedaan. Ini terlihat dari ulasan anda terutama paragraf-paragraf akhir yang sama sekali tidak mengetengahkan apa agamanya melainkan memandangnya dari sudut yang general.

    Saya berharap, muslim-muslim yang menyejukkan seperti Anda yang akan terus memimpin Indonesia.

    wah… tersanjung betul saya dg pujianmu Don… biasa aja kali… πŸ™‚

    dari yg pernah saya pelajari, “permusuhan” antara agama dan sains pernah terjadi pada berbagai agama. semua itu karena para agamawan dan saintis terlalu arogan untuk saling memahami…

    memimpin indonesia…? hei, boleh juga tuh… bagaimana kalau 2014 nanti kita maju Don? kayaknya bagus juga bila kita maju bareng, nama kita bisa digabung: “Vizon-Donny”, menjadi VINNY, huahahaha…. πŸ™‚

  6. Saya belum baca Bukunya
    Saya pun belum lihat Filmnya

    Sepertinya film yang bagus ini …

    Thanks Uda

    saya memang belum baca bukunya juga pak…
    kabarnya, film ini tidak terlalu melenceng dari bukunya, tidak spt da vinci…
    monggo pak diajak si bunda nonton, hehe.. πŸ™‚

  7. Ulasan yg menarik. Jadi pengen nonton juga nih … Mudah-mudahan lebih bagus dari yg Da Vinci Code ya …

    sepertinya memang lebih bagus dari Da Vinci pak…
    monggo buruan nonton pak, hehe… πŸ™‚

  8. Huaa…malah baru tau kalo Angels and Demons dah di film kan *segera menuju tkp*

    Lha..emang di pekanbaru dah masuk belum yah?? 😦

    di pekanbaru pasti sudah masuk son…
    bahkan sebelum beredar di bioskop2 ternama di indonesia, pekanbaru sudah ada duluan…
    gak percaya? coba pergi ke pasar bawah… huahahaha…. πŸ˜€

  9. Ulasan yang bagus Uda…anakku terkesan dengan dialog pastor di Vatikannya, terlihat berbeda dan bagus. Walau adegan di Vatikan tak banyak, tapi kita disuguhi hal lain yang lebih menarik. Saya ingin menontonnya liburan besok.

    O, iya, dalam bukunya, sebetulnya “Angel and Demon” terbit duluan, baru Da Vinsi Code. Namun filmnya dibalik, mungkin karena saat itu terjadi polemik untuk Da Vinsi Code, jadi ini dibuat dulu agar menarik pasar. Sya punya ketiga buku karangan Dan Brown, yaitu: Angel and Demon, Da Vinci Code , dan Deception Point.

    Sebetulnya antara sains dan agama, jika bisa dipadukan akan menarik sekali. Di buku Dan Brown saya juga belajar banyak hal, terutama hal-hal yang sebelumnya tak saya ketahui.

    ya, saya juga suka dialog itu… dan disitulah ungkapan hubungan harmonis agama dan sains diungkapkan…
    keren… πŸ™‚

    • Sebenarnya ada satu buku lagi yang diterbitkan oleh Serambi, kebetulan itu novel pertama Dan Brown, Digital Fortress. Saya punya keempatnya, kecuali Deception Point yang saya kasih ke teman saya karena ia suka. Di Wikipedia saya lihat ia juga mengeluarkan novel terbarunya pada tahun ini, saya tidak tahu kapan buku tersebut akan terbit di Indonesia.

  10. Saya ngga suka nonton sih jadi males aja hehehe. Soal buku? masih banyak buku yang berjejer minta dibaca. Sulit untuk membaca tenang dengan dua anak yang perlu diperhatikan …hiks..
    Dan satu-stunya waktu saya baca buku adlaah waktu naik kereta. Sayangnya sekarang cuman sekali seminggu naik keretanya hehhee.

    EM

    tapi kalau ngeblog suka dan masih punya waktu kan nechan…? πŸ™‚

  11. jadi miris karena ingat bahwa sudah sangat lama saya tidak menonton film. duh, kemana aja?

    terima kasih atas sinopsisnya, da vizon. mudah-mudahan bisa menjadi referensi tontonan dalam waktu dekat. dan hikmah mengenai keharmonisan sains dan agama itu… keren banget!

    ya uni, nontonlah… meski lagi banyak proyek, sesekali boleh dong berleha2, hehe… πŸ™‚
    btw, di medan ada bioskop kan…?
    *ditimpuk pake bika ambon*

  12. entah kenapa aku belum tertarik untuk nonton film ini uda, sama tidak tertariknya dengan davinci code dulu πŸ™‚ hehehe…

    ya, aku tahu sebabnya… karena ayah tangguh gak mau nganter kan? doi lebih senang mancing daripada nonton, huahahaha… πŸ˜€

  13. sayangnya kotab pekalongan tak lagi punya bioskop pascabangkrut lantaran krisis ekonomi dulu. jadi, berharapnya pada tempat persewaan cd/dvd.

    kayakny bagus ya da?

    oya? segitunyakah kota pekalongan? turut prihatin… 😦
    vcd atau dvd-nya saya yakin dah banyak beredar, tapi yg bajakan, hee… πŸ™‚

  14. sepertinya memang film yang bagus….
    selain dialog antara agama dan sains perlu juga dialog antar agama ya uda…

    pertama kali mampir…salam kenal da…

    yups… memang bagus dan menginspirasi…
    salam kenal juga πŸ™‚

  15. Terima kasih atas sinopsisnya uda. Saya belum nonton nih, lagi masa-masa Ujian hahaha.

    Saya ingin membaca novelnya dulu sih sebelum nonton film nya. Untuk The Da Vinci Code film nya sangat menarik. saya harap film ini lebih menarik lagi.

    oya, anak sekolah gak boleh nonton… ujian dulu sana, hush… hehehe… πŸ™‚

  16. sayang, di amuntai, tak ada bioskopnya. 😦

    duh, kasian amat pak guru…
    cari aja vcd-nya, pasti sudah banyak beredar yg bajakan, hehehe… πŸ˜‰

  17. asyik, udah dikasih tau bocorannya. lumayan buat bekal nonton.
    saya sangat suka dengan film2 genre begini, Uda. jadi bisa membayangkan kalo hal2 semacam itu bener2 terjadi di dunia nyata ini. woh, pasti menegangkan.

    mas goen… kayaknya salah satu tokohnya ada yg mirip mas goen deh…
    penasaran? liat aja ntar… hehehe…. πŸ™‚

  18. Waduh, saya kok merasa seperti pemuda-pemuda yang tertidur selama 300 tahun di gua … apa itu, Uda? Ketinggalan jaman banget. Belum baca novel dan belum nonton film Da Vinci Code, malah sudah ada Angels and Demons. Tapi Transteve kayaknya mau memutar Da Vinci Code, kalau nggak salah Sabtu malam besok. Saya mau menyempatkan diri nonton ah …

    pemuda2 itu namanya: Ashabul Kahfi bu tuti… πŸ™‚
    belum ketinggalan kok bu… monggo diajak bang mam nonton, hehehe…
    *siap2 nonton tranteve malam minggu besok*

  19. wah, pasti ini sebuah film yang menarik, yang menyajikan dialog antara sains dan agama. kedua ranah ini memang acapkali dipertentangkan karena pendekatan yang digunakan. konon, sains menggunakan pendekatan keilmuan, sedangkan agama sering diidentikkan dg dogma. padahal, seharusnya kedua ranah ini bisa bersanding dan bersinergi utk kemaslahatan umat.

  20. Betul, tanpa sains, agama jadi impoten. Sedangkan tanpa dasar agama, sains pun jadi tumpul.
    Kapan ya Deception Point difilmkan juga? Nggak sabar..

    Deception Point kapan difilmkan?
    sabar, ini saya lagi audisi untuk aktor utamanya, halah! πŸ˜€

  21. Kalau di buku, pembunuh bayaran keempat kardinal adalah orang keturunan Arab. Bahkan Robert Langdon sempat berkelahi dengan sang pembunuh di kolam saat kardinal keempat ditenggelamkan.
    Tapi di film, pembunuh bayarannya terlihat seperti orang Italia juga. Mungkin ini untuk mengurangi kontroversi dan ketegangan yang tidak perlu. Terus, kalau di buku, saat helikopter mau meledak, Robert Langdon ada di sana, dia terpaksa lompat tanpa parasut. Untunglah ada serpihan lempeng yang bisa membuatnya tidak terlalu cepat jatuh ke tanah. Untungnya lagi dia jatuh ke sungai (apa laut ya? aku lupa). Nah, di film mungkin dikhawatirkan scene ini terlalu absurd, hingga sang Camerlango sajalah yang ada di helikopter dan terjun dengan parasutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s