ibu prita

Kaget…! begitulah ekspresi pertama kali yang kurasakan ketika menyimak berita di televisi pagi ini. Seorang Ibu yang menyuarakan keluhannya tentang pelayanan sebuah rumah sakit melalui e-mail, digugat dan dibui!

Tidak berapa lama, e-mail dan facebook-ku dipenuhi dengan aksi mendukung Ibu Prita. Akupun tersentuh dan tergerak ingin ikut dalam aksi ini. Maka, sebagai wujud partisipasiku atas aksi ini, hari ini aku pasang banner yang kudapat dari sini.

Dari situs Ibu Prita, aku lampirkan sekelumit kronologi ceritanya sebagai berikut:

Dalam batas kemampuannya, seorang ibu menyuarakan keluhannya dengan berbagi pengalaman melalui sarana yang dia pahami dan kuasai. Dia kirimkan e-mail kepada beberapa temannya. Sebuah bentuk komunikasi yang lazim di antara warga masyarakat modern. Kemudian e-mail itu menyebar. Persoalan tak akan meluas jika pihak yang disebut dalam keluhan itu menyelesaikan persoalan secara bijak, dengan pendekatan yang manusiawi, kemudian mengumumkan bahwa persoalan telah diselesaikan bersama. Akan tetapi yang terjadi adalah kriminalisasi. Ibu dari dua anak balita itu, namanya Prita Mulyasari, oleh pihak yang dia keluhkan, yakni Rumah Sakit Omni International, Alam Sutera, Tangerang, dihadapi melalui gugatan perdata dan sekaligus pidana. Selama proses persidangan, ibu itu dikurung dalam bui di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, terpisah dari keluarganya, dari anak-anaknya. Seorang ibu, yang juga konsumen, dihadapi sebuah korporat dengan segala kelebihan yang dimilikinya melalui pendekatan kekuasaan. Padahal dalam praktik bisnis yang sehat lagi santun, keluhan seperti itu seyogyanya diselesaikan melalui komunikasi. Ada penjelasan, ada proses saling mendengar, ada upaya untuk mendudukkan persoalan melalui pengertian bersama. Cerita selengkapnya silakan Anda lihat dalam tautan. Persoalan kita sekarang ini adalah menghadapi kesewenang-wenangan sehingga secara bersama kita harus memperjuangkan kebebasan berpendapat. Kita ketuk nurani para penegak hukum. Kita ingatkan bahwa rasa keadilan melekat pada semua hamba hukum yang bernurani. Lebih baik membebaskan orang yang (belum tentu) bersalah daripada menghukum orang yang tak bersalah. Kita ingatkan RS Omni International, bahwa upaya penyelesaian seperti ini akan lebih layak jika ditempuh sebagai upaya terakhir setelah serangkaian komunikasi yang penuh pendekatan kemanusiaan telah buntu. Namun yang terjadi, seperti kita tahu, adalah gelar kuasa dalam posisi yang tak imbang. Kita tularkan dukungan dan perjuangan ini kepada seluruh pengguna internet melalui pemasangan banner dan penyiaran pesan. Hari ini Ibu Prita. Jika dibiarkan, esok adalah Anda. Padahal sebagai konsumen untuk produk dan layanan apa pun, Anda berhak bersuara.

Semoga kita dapat semakin belajar dari kejadian ini, untuk kita sebagai individu dan pemerintah sebagai pengendali negeri ini.

25 thoughts on “ibu prita

  1. tul…. konsumen mempunyai hak dalam menyatakan kepuasan dalam pihak produsen atau pelayanan jasa. knapa harus dipenjara?, memangnya dia membunuh?, merusak?, atau dengan sengaja berbuat anarkis.
    inilah hebatnya hukum di Indonesia, siapa yg kuat bisa membeli hukum, bagi yg lemah makin ditindas oleh hukum.

    http://www.tawvic.co.cc

  2. hmmm satu lagi contoh ketidakadilan di negeri rimba. Yang kuat semena-mena.

    BTW uda, linknya ngga bisa dibuka dari LN sepertinya (banyak situs indonesia yang tidak bisa dibuka di LN)

    EM

  3. Saya tidak bisa komentar apa-apa Uda … (sedih)

    Saya coba membandingkan dengan “SURAT PEMBACA” yang sering dikirimkan orang lewat surat kabar terkemuka Indonesia …
    Sering saya lihat tulisannya … jauh lebih menohok … tajam … dan kadang kasar …… ini juga dibaca oleh orang banyak … lebih terbuka juga bukan …

    Surat Pembaca ini menurut saya dampaknya … jaaauuuuhhhh lebih besar dibanding e mail atau milis …

    Mengapa Ibu Prita yang sederhana ini kok jadi korban ya

    Salam saya

    • setuju sama Om Trainer…surat pembaca di Redaksi yth jauhhhhhhhhhh lebih tajam dan panas di banding penuturan ibu Prita yang sederhana dan masih lebih fair.

  4. Saya mencoba agak menjernihkan (halah)…
    Menurut saya, kesalahan yang terutama adalah memenjarakan ketika proses pengadilan masih berlangsung.
    Seharusnya Prita dibebaskan hingga benar-benar ada keputusan pengadilan sehingga ia bisa kembali berkumpul dengan anak dan suaminya.

    Perkara ketidakadilan, ah itu biar dibuktikan di pengadilan saja mau apa lagi UU ITE sudah ditetapkan dan seperti halnya banyak UU yang lain ya seperti itulah lemahnya tata perundangan kita…

  5. *speechless*

    sungguh biadab bahwa keluhan jujur konsumen justru diputarbalikkan menjadi senjata untuk membungkam. sebenarnya tindakan RS tersebut justru semakin memperdalam kuburannya sendiri, karena dia telah memberikan gambaran yang semakin miring mengenai perusahaannya. dan di manakah hati nurani mereka yang semestinya bergelut dalam pekerjaan menyelamatkan jiwa manusia itu?

    ternyata hukum memang bisa dibeli. *miris*

  6. wempi baru tau info ini tadi pagi di trans7.
    jadi ingat artikel terakhir wempi ttg komplen😀

    kalo wempi baca tulisan bu prita, keknya bercampur emosi, hehehe… tapi di kompas banyak juga kok yang nulis keluhannya bercampur emosi. perusahaan/istitusi menanggapinya dengan tulisan di kompas juga – selesai.
    tidak seperti omni, menanggapi melalui internet, koran juga ke pengadilan, hahaha…

    prita tentu kurang alat bukti untuk membuktikan pengalamannya, karena semuanya ada di omni seperti medical record dan hasil tes lab. sudah barang tentu gampang di manipulasi pihak rs.

    makin gilo sajo peradilan di indonesia ko, onde mande…!

  7. Doh, … hukum rimba yang tetap berlaku di zaman modern ini.
    Nggak ada hal besar yang bisa di lakukan selain mendukung orang yang tertindas seperti ibu Prita..

    Hmmm.. sosok lain Indonesia yang ku benci.

  8. yap… hidup keadilan!! terserah kita dong, kita mau nulis apa, orang blognya punya kita!!!
    nb: makasih komennya bang, thanks to imoe jga

  9. welehhh…bikin tambah esmosi sama layanan rumah sakit ya mas…

    aku pernah ada kejadia salah satu anggota IT team, dia deman dan sakit perut terus dia ke kliknik katanya besok harus di operasi karena usus buntu ehhh begitu ke dokter lain ternyata cuman sakit perut biasa karena salah makan! duh!

  10. Saya baru tau cerita tentang Ibu Prita dari email uda. Memang sedih nasib ibu Prita harus meninggalkan anak2nya selama 6 tahun di dalam bui hanya karena complain terhadap pelayanan RS.
    Saya juga banyak dengar cerita dari orang2 serta lihat di TV tentang layanan salah satu rumah sakit yang lebih parah dari ini.

  11. mbak prita sudah dibebaskan…status tahanan kota. pihak RS Omni tidak menarik tuntutan….

    saya rasa dengan sudah ter-blow up seperti ini…apalagi dukungan ke mbak prita sangat banyak. mau bagaimanapun juga citra buruk sudah melekat ke RS Omni….dan sistem hukum kita juga tentunya yang keberpihakannya masih dipertanyakan…

  12. wahh kasus yang nge-hot ya’😀

    tapi saya penasaran seperti apa se kalimatnya yg asli, soalnya kalo saya lihat suara komplain di surat kabar / detik.com misalnya juga terkesan agak frontal namun kayaknya tidak pernah ada masalah …
    …hmmm ???!!

  13. Mau curhat kok malah masuk penjara ya, Uda ?
    Hehee …

    Menurut aku sih, seperti kata Om Trainer, kenapa surat Ibu Prita yang sederhana ini bisa membuatnya masuk penjara dari pada surat pembaca di surat kabar, ya mungkin karena penyebarannya menggunakan internet yang bisa menjadi luas dan berantai, walaupun Bu Prita mungkin tak berniat demikian.

  14. Beberapa pasal dalam UU ITE memang sangat karet. Bisa multitafsir. Kalau pengadilan tidak menguasai materi, urusannya bisa runyam. Dunia pers pun bisa terbelenggu karena pasalnya tidak tangguh. Tidak semua hakim memahami teori jurnalistik.

    Dalam hal ini Ibu Prita adalah korban. Tapi ia bisa menjadi lelatu awal untuk mendobrak tatanan yang rentan untuk digoyah. Semoga uji materi di Mahkamah Konstitusi tidak berbelit-belit mengenai pasal tersebut.

    Tatanan negeri ini bukannya makin cerdas malah makin mundur budayanya. Complicated.

  15. dukungan kepada bu prita bukannya menyurut, melainkan terus mengalir. saya barusan mengunjungi cause bu prita di facebook. saya jadi ikut terharu, demikian kuatnya dukungan teman2 blogger dan facebooker. semoga bu prita benar2 dibebaskan dari segalam macam tuntutan.

  16. Semoga kasus ini akan memberikan ruang untuk berpikir kembali apakah pasal-pasal dalam uu tersebut layak, dan jika terjadi multi tafsir diantara aparat penegak hukum sendiri, paling tidak ada keinginan untuk memperbaiki, memperjelas, sehingga jangan sampai mengorbankan kebebasan berekspresi masyarakat.

    Di satu sisi, kita juga dituntut untuk bertanggung jawab atas apa yang kita tulis.

  17. BREAKING NEWS !!!
    JAKSA AGUNG MEMERINTAHKAN MEMERIKSA PARA JAKASA YANG MENUNTUT PRITA, YANG MENURUTNYA
    TIDAK PROFESIANAL.

    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

  18. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

  19. Setahu saya, yang mendapatkan Askea adalah PNS dari Rumah sakit negeri, sedangkan Rumah sakit swasta tidak memberikan fasilitas kepada PNS, kurang tahu untuk masalah di Kejaksaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s