mandiri

Kemandirian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap anak. Dengan kemandirian, ia akan mampu melakukan banyak hal, ia akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa sedikitpun bergantung pada orang lain, terutama orangtuanya.

Kemandirian erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Kepercayaan diri ini tentunya ditumbuhkan sejak dini. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya diri ini. Di antaranya dengan memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi tanpa intervensi. Orangtua hendaknya memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk melakukan apa yang diingininya. Namun tetap dengan prinsip save, secure and trust.

Kemandirian juga bisa dibentuk dengan pembiasaan. Misalnya pembiasaan makan sendiri, pakai baju sendiri, dan lain sebagainya. Orangtua sering tidak sabar ketika, misalnya, melihat anaknya berusaha mengikat tali sepatu sendiri. Intervensi sering terjadi di sini. Dan cara teraman yang sering kita lakukan adalah dengan membelikan sepatu yang tidak bertali. Alasannya, biar cepat dan praktis. Padahal, tanpa kita sadari perbuatan itu telah membuat anak tidak belajar sama sekali tentang sebuah tantangan.

Disiplin sedari awal kehidupan seorang anak juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kemandirian. Dengan disiplin anak bisa belajar tentang konsistensi, sebab dan akibat. Tapi, disiplin tidak harus keras dan kaku. Disiplin adalah tata aturan yang disepakati dan dilaksanakan secara konsekwen. Pelanggaran atas itu akan mendapat hukuman sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya.

Kemajuan zaman, sedikit banyaknya telah mengurangi percepatan kemandirian pada diri anak. Kekhawatiran orangtua akan keselamatan jiwa dan raga anak, telah membuat mereka menjadi semakin ketat mengawasi. Berbagai cara dilakukan, yang semuanya berakibat pada kemandirian yang tumbuh dengan lambat pada diri anak. Sebagai contoh, kemajuan di bidang transportasi dan komunikasi. Ada banyak anak yang diantar-jemput sekolah oleh orangtuanya, meskipun umurnya sudah cukup dewasa. Atau membekali mereka dengan telepon genggam. Meski ada manfaatnya, tapi di satu sisi, ia telah membuat anak bergantung pada alat tersebut sekaligus menanamkan ketidakpercayaan orangtua pada mereka.

Kesan ini muncul di benakku ketika dua hari yang lalu aku mengantar Afif ke Youth Centre di Sleman, tempat dia dan seluruh teman-teman sekolahnya, SMPN 15 Yogyakarta, mengadakan kemah akhir tahun selama tiga hari. Rata-rata aku lihat para orangtua yang mengantar, termasuk diriku sendiri, mencoba membantu anaknya, mulai dari mengangkut barang-barang bawaan, sampai memastikan kalau mereka telah berada di tempat yang benar-benar aman. Bahkan ada yang mengantar dengan formasi lengkap; papa, mama dan adik-adik…! Mirip orang naik haji saja 😀

Aku tidak hendak membicarakan orang lain, ini murni kesalahanku sendiri. Beberapa hari jelang keberangkatannya ke bumi perkemahan, Afif menyerahkan daftar barang-barang yang akan dibawanya. Karena alasan kepraktisan, maka aku dan istri membantu mencarikan semua barang-barang tersebut. Singkat cerita, semuanya tersedia dengan lengkap tanpa dia tahu bagaimana cara mendapatkannya.

Di hari kedua perkemahan, kami pun menjenguknya. Dan parahnya, kami pun membawakan makanan. Padahal sebelumnya kami sudah membekalinya dengan berbagai makanan ringan maupun yang instan. Kedatangan kami itu juga sebetulnya telah melanggar kesepakatan. Karena, sebelum berangkat Afif sudah wanti-wanti untuk tidak dijenguk. Tapi, ego kami sebagai orangtua yang tidak ingin dirudung rasa was-was, maka permintaannya itu kami abaikan.

Tindakan kami itu akhirnya kami sadari sebagai sebuah kesalahan besar. Pertama, kami tidak memberinya ruang untuk mempersiapkan sendiri segala kebutuhannya. Kedua, kami tidak mempercayainya bisa menjaga diri sendiri.

Aih… ada sedikit penyesalan. Tapi, bukankah dengan pernah berbuat salah kita bisa belajar untuk tidak melakukannya lagi? Belajar dari kesalahan, begitu kata orang pintar… 😀

Advertisements

14 thoughts on “mandiri

  1. Hehehe, kisahmu mengingatkanku pada masa kecil dulu, Uda.
    Waktu aku sedang ujian kenaikan tingkat sebuah aliran beladiri Jepang, aku diharuskan camping yang cukup jauh dari rumah selama tiga hari.

    Tapi apa mau dikata, tak sampai sehari, orangtuaku datang membawakan makanan dan ini dilakukannya berkali-kali selama kemah berlangsung.

    Pelajaran untuk kemandirian bagiku justru baru dimulai ketika aku memutuskan untuk bersekolah di De Britto Yogyakarta dimana aku harus hidup sendiri, mandiri di kota yang baru.

    Kadang semuanya butuh “hentakan” yang memang agak merepotkan tapi terkadang terbukti berhasil. 🙂

  2. hehehe…
    aku senang dengan program TK nya Riku dulu yang pernah aku posting tuh. Meskipun cuma satu malam, benar-benar membuat mereka mandiri. Padahal kalau mikir baru 5 tahun ….kok tega. Tapi memang harus tega kalau mau anak yang tangguh.
    (Meskipun mamanya ngga bisa tidur juga kepikiran, pas malam itu ada badai lagi hehehe)

    EM

  3. aku pernah di jenguk nenekku waktu aku jambore di Makassar waktu aku kelas 5 SD mas…dan aku ngamuk2 sampe mogok ngomong…kekekeke *dari kelas 3 SD – 2 SMP aku tinggal dirumah nenek, mama papaku pindah ke jakarta*

    cerita serunya waktu aku daftar ulang SMP, aku sampai harus meminjam mamanya temenku karena aku daftar ulang sendiri. Sedangkan harus di wakilin orang tua atau kerabat hehehehe….

    mandiri itu ada enaknya tapi ada juga gak enaknya mas 😀

  4. Itu wajar lah uda. Bentuk rasa sayang yang berbeda dari setiap orang tua. Kalau udah sekali merasa bersalah, tentu next time gak bakal diulang kan?.. hihihi..
    Salam ya buat Afif.

  5. Benar Da… kadang sebagai orang tua kita selalu berlindung dibalik alasan, ngga tega ngeliat anak kesusahan, ingin menyenangkan anak (versi ortu), dll yang sebenarnya justru membuat si anak jadi kurang fight. Takutnya disaat kita ngga ada disisinya, si anak jadi ngga kreatif menyelesaikan masalah yang ditemuinya..

  6. hohoho, malu nih ceritain kisahku, tapi begitulah adanya 🙂
    aku satu-satunya anak perempuan dari 2 bersaudara. Sejak SMP dan SMU selalu aktiv di pramuka. Wakt mewakili saka bhayangkara dari kotaku untuk berkemah selama 5 hari, spontan ibuku mendatangi ketua kwarcab yg kebetulan dulu murid beliau. Ibu minta untuk dimasukin ke dalam daftar pembina, dengan konsekwensi semua biaya beliau tanggung sendiri. hehehe… ibuku memang pejuang tangguh! miss U Mom 🙂

  7. Hehehe…itulah orangtua….
    Memang susah, kadang orangtua nggak tega, tapi sebetulnya malah kasihan anaknya.
    Kondisi saat ini memang membuat orangtua nggak tega, juga pembimbing atau guru lebih suka kalau ortu juga menengok sesekali..karena guru juga tak mau disalahkan.

    Saat saya membiasakan anak saya naik bis, angkot, bajaj, teman sekompleks ngrasani…kok tega ya…Sebenarnya nggak tega, tapi kan kita tak ada di setiap saat untuk mendampingi mereka.

  8. Uda, sebagai anak bungsu, aku kadang merasa tidak dipercaya oleh ortu. Rasanya tidak enak. Makanya aku senang sekali waktu kuliah boleh sekolah di Jogja dan belajar mandiri. Bagaimanapun ortu mesti berani melepaskan anak, ya?

  9. Iya euy, saya juga nggak tegaan sama anak-anak … jadi mereka kayaknya kurang mandiri. Tapi kalau ditilik memang sudah beda kok jamannya, mudah-mudahan saja bedanya menuju ke yg lebih baik ya ?

  10. Sampai udah segede ini ya, Uda .. Mamaku selalu aja ngomong nasihat yang sama kalo aku mau mudik.
    “Ati-ati, jangan bawa banyak barang.”
    “Dompet jangan sembarangan.”
    “Pake baju anget.”
    “Tiket disiapin dulu, dari pada bingung kalo nyari.”

    Sampai beberapa bulan lalu giliran Mama pergi keluar kota, aku ngomong hal yang sama, dan Beliau bilang. “Wah, anakku memang benar-benar sudah besar.”

    Lhohhh …??!

  11. kontemplasi yang jujur, uda.
    mungkin itulah sifat dasar orang tua, melindungi.
    kalau berlebihan akan menjadi over protective yang membahayakan, musti dihindari.
    tapi saya tau apa? nah, biarlah saya belajar dari pengalaman uda vizon di sini.

    soal hp untuk anak-anak itu, bagaimana sebaiknya ya, uda? di satu sisi keperluannya memang tak terbantahkan, namun di sisi lain juga memiliki mudarat, semisal memancing kejahatan, kurang menumbuhkan kemandirian, dan melatih gaya hidup hedonis bila berlebihan memfasilitasinya. saya ingat beberapa teman sampai musti membelikan gadget mahal buat anak-anaknya yang masih sd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s