pariaman laweh

Ada perasaan yang berbeda ketika aku menginjakkan kaki kembali di bumi Minangkabau pada Rabu 7 Oktober 2009 yang lalu. Bencana gempa bumi yang melanda ranah tersebut beberapa hari sebelumnya membuat kepulanganku kali ini dipenuhi emosi yang tak menentu. Rasa ingin segera bertemu dengan sanak famili serta sahabat-sahabat lama, bercampur dengan keharuan melihat kehancuran di sana-sini. Visualisasi yang ditinggalkan akibat pemberitaan di televisi telah mampu mempengaruhi emosiku.

Begitu bertemu dengan sahabatku Darmon, yang menjemputku di bandara, tak kuasa kubendung keharuanku. Kujabat erat tangannya, berharap agar dapat kubantu ringankan bebannya, meski sedikit. Dia termasuk salah satu dari korban gempa bumi itu. Rumahnya di Lubuk Alung tak luput dari kerusakan. Tapi, dengan tekad ingin membantu warga yang kesusahan, dengan segala kemampuannya, dia lakukan apa saja untuk itu, termasuk menghubungiku sehari jelang keberangkatanku ke Padang.

gampo-02gampo-21gampo-15gampo-35
Rumah, surau dan sekolah tak luput dari kerusakan akibat gempa ini

Setelah beristirahat sejenak dan menyusun rencana penyebaran bantuan, kamipun segera menuju Lubuk Alung. 1,5 ton beras kami gampo-06beli dan siap untuk didistribusikan. Karena Darmon sudah mensurvey beberapa hari sebelumnya, maka cukup mudah bagi kami untuk menentukan titik-titik mana saja yang patut kami kunjungi pada hari pertama tersebut.

Beberapa kampung di seputar Lubuk Alung dan Sungai Limau pun mulai kami telusuri. Di sana-sini kerusakan sangat jelas terlihat; ada rumah yang rubuh, sekolah yang rusak parah dan surau atau masjid yang tak bisa dipakai lagi. Bergidik aku melihat semua itu. Terbayang betapa akan sangat lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan itu semua.

Ada pemandangan yang mengharukan, tapi ada juga pandangan yang merisaukan. Di antaranya adalah beberapa kelompok pemuda dan bapak-bapak yang masih dengan santainya duduk-duduk beramai-ramai di posko, menanti bantuan yang datang. Dalam pikiranku, kenapa harus bergerombolan begitu mereka di sana. Tidakkah cukup dua atau tiga orang saja yang duduk di sana, dan yang lainnya melakukan gotong royong untuk membersihkan puing-puing rumah mereka yang rubuh? Ah, aku tak mengerti jalan pikiran mereka. Barangkali mereka masih syok, tapi masa iya selama itu?

Di sudut lain, kutemukan jejeran anak-anak yang mengemis di jalanan. Mengulurkan kardus bekas mie instan ke kendaraan yang lalu lalang, mengharapkan bantuan dari mereka. Aku sungguh terganggu melihat itu semua. Mengapa harus seperti itu mereka lakukan? Benarkah mereka tidak mendapatkan bantuan apapun? Ataukah mereka sedang menikmati “kesengsaraan” dan merayakan belas kasihan orang lain?

gampo-08gampo-28gampo-40
Haruskah mereka mengemis? Dan kenapa harus anak-anak?

Sejenak aku terpana melihat pemandangan itu. Tapi, buru-buru kutepis pikiran tersebut. Aku sadar, bahwa sesungguhnya mereka punya alasan melakukan itu semua. Dan semoga saja alasan itu adalah alasan yang baik.

Sebuah kejadian yang sangat menegangkan kami alami ketika melewati sebuah daerah (tak perlu kusebutkan namanya). Tiba-tiba segerombolan pemuda menghadang mobil pick-up yang kami bawa. Mereka dengan raut yang sok sangar dan suara yang dibuat berat memaksa kami untuk menurunkan sebagian beras yang kami bawa. Untunglah sahabatku Darmon cukup lihai mengatasi masalah. Dengan diplomasi ala Pariaman yang sangat dikuasainya, maka kamipun dapat meninggalkan lokasi tersebut dengan aman. Menurut kabar yang kuterima, ternyata ada banyak kejadian serupa yang dialami para relawan lainnya. Apakah ini efek negatif dari bencana ini ataukan ini akibat dari kelaparan yang mereka tanggung? Oh Tuhan, sungguh emosiku teraduk-aduk tak karuan melihat fenomena ini semua.

Menurutku, bencana alam ini adalah ujian bagi kita yang tinggal. Baik bagi mereka yang selamat dari ancaman maut akibat gempa itu maupun kita yang berada jauh di luar daerah tersebut. Bagi warga yang selamat, tentulah kesabaran mereka sedang diuji. Apakah mereka akan memanfaatkan kesusahan itu dengan berbuat anarkis dan tindakan tidak terpuji lainnya, ataukah bersikap arif dan bijaksana? Di sisi lain, bagi kita yang berada di luar daerah tersebut, tentulah perhatian kita terhadap mereka dan mengambil hikmah dari itu semua merupakan ujian bagi kita. Bila kita tak peduli dan tak menganggap itu semua ada, maka sudah barang tentu kita tidak lulus dari ujian besar ini. Semoga saja kita tidak terpuruk dalam keburukan sikap menghadapi bencana ini.

Beberapa kampung kami singgahi. Karena Pariaman memiliki area yang sangat luas, maka cukup sulit bagi kami untuk meraihnya. Beberapa jalan yang tertutup longsor pun terpaksa dilalui dengan hati-hati. Namun, segala keletihan perjalanan itu, terobati dengan senyum tulus dari mereka ketika menerima sedikit bantuan yang kusalurkan yang kuperoleh dari sahabat-sahabat di Jogja maupun sahabat-sahabat bloggerku. Semoga kebahagiaan yang kurasakan pun terasakan oleh para sahabatku itu.

gampo-09gampo-17gampo-19gampo-07
Senyum tulus dan tawa bahagia mereka, telah mampu menghapus segala kelelahan. Dan, itu semua terjadi berkat tangan-tangan ikhlas dari sahabat-sahabatku yang luar biasa, baik di Jogja maupun dunia maya. Terima kasih buat Anda semua…

Pukul 10 malam, perjalananpun kami akhiri untuk sementara. Kami memutuskan untuk menginap di kota Padang, di kantor IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) cabang Sumatera Barat. Rasanya, aku ingin mengguyur tubuh ini dengan air segar, tapi sayang, kota Padang tidak berair selama beberapa hari belakang ini, air PAM mati! Oh no, rupanya Tuhan tidak mengizinkan kami untuk bersenang-senang, kami harus ikut merasakan kegerahan, sama seperti yang dialami warga kota Padang.

Dalam keletihan dan bau badan yang tak karuan, akupun menerima kedatangan sahabat blogger yang sudah lama ku kenal namun belum pernah bertemu. Pukul 10.30 malam, Imoe datang menemuiku bersama dua orang adik-adik remaja asuhannya. Pertemuan itu ternyata sanggup memberi kesejukan bagiku. Cerita mengenai kopdar yang tidak biasa ini, nanti akan kusampaikan pada postingan berikutnya. 😀

Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada: www.hardivizon.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s