man-ja

Karena di kota Padang saluran PAM putus, maka kami tidak bisa melakukan ritual bersih-bersih diri alias mandi selama dua hari. Jangan ditanya bagaimana rasa dan baunya badanku. Tapi, itu semua tidak jadi soal. Bukankah manusia se kota Padang pada hari-hari belakangan ini juga pada gak mandi alias man-ja (mandi jarang)? Hehehe…

Jum’at pagi, 9 Oktober 2009, aku diajak adik-adik relawan untuk mandi di sungai Lubuk Minturun. Tanpa tawar menawar lagi, ajakan itu langsung kusambut dengan gegap gempita (halah, lebay). Terbayang sudah nikmatnya membasahi tubuh dengan air sungai yang jernih dan berbatu itu.

gampo-45
Sebelum mandi, narsis dulu ah… 😀 Ok, jangan dekat-dekat ya, orang yang nampang itu asli bau banget… 😉 Foto yang lagi mandi, dipajang gak ya? Jangaaann… 😀

Selesai mandi, tubuh benar-benar terasa segar. Apalagi mandi di sungai dengan air yang mengalir dengan derasnya itu, membuat kita seakan dipijit. Badan ini terasa ringan kembali dan siap melanjutkan akitifitas di kota Padang.

Sebelum berangkat ke kota Padang, kami mampir dulu di sebuah pesantren yang terletak tidak jauh dari sungai tersebut. Pondok Pesantren Ar-Risalah namanya. Dan secara tidak kusangka-sangka, ternyata aku bertemu dengan sahabat lama yang menjadi pengasuh di sana. Aha, sekali lagi, perjalanan ini memberiku “bonus” bertemu dengan sahabat lama.

gampo-50gampo-51
Bertemu sahabat lama di Pondok Pesantren Ar-Risalah, Lubuk Minturun Padang

Memasuki kota Padang, terlihat kerusakan yang sangat parah di sana-sini. Bila di Pariaman yang rusak adalah rumah-rumah penduduk, maka di kota Padang justru yang rusak adalah gedung-gedung besar; ada mal, hotel, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan sekolah. Karena gedung yang rubuh itu tergolong berat, maka proses evakuasi membutuhkan alat berat yang tidak sedikit. Karena keterbatasan peralatan tersebut, maka masih banyak gedung-gedung yang belum dijamah sama sekali. Menurut informasi, tim SAR lebih mendahulukan gedung yang diduga di dalamnya terdapat korban manusia.

gampo-55gampo-62gampo-72gampo-85
Gedung-gedung besar yang hancur di kota Padang

Di beberapa gedung yang rubuh seperti Hotel Ambacang, aroma mayat tercium begitu kuatnya. Pertahananku nyaris jebol. Aku mual sekali. Tapi untungnya semua dapat teratasi, sehingga aku tidak perlu melakukan kesalahan tersebut.

Di kota Padang, posko bantuan tidaklah sebanyak dan seheboh Pariaman. Sehingga, kami tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam menyalurkan bantuan sembako. Dalam waktu singkat, 1,5 ton beras, mie instan, susu, air mineral dan minyak goreng terbagi dengan mudah ke posko-posko yang sudah kami data sehari sebelumnya.

Sore hari, aku meminta ijin kepada teman-temanku untuk melakukan perjalanan sendiri. Ada beberapa tempat yang ingin kukunjungi, di antaranya kampus IAIN Imam Bonjol, tempatku berkuliah dulu. Kampus tempatku menimba ilmu sekaligus menemukan jodoh, hehe… 😀

Kampus yang terletak di daerah Lubuk Lintah itupun tidak luput dari kerusakan akibat gempa. Salah satunya adalah gedung Fakultas Ushuluddin, gedung tempat aku berkuliah dulu. Menurut hasil pemeriksaan, gedung ini sama sekali tidak layak pakai. Aih, kasihan juga, gedung tua itu terpaksa dirobohkan. Semoga kenangan yang terajut di dalamnya tidak ikut roboh bersama robohnya gedung itu nantinya.

gampo-77gampo-78
Gedung Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol yang tidak layak huni lagi

Terakhir, akupun menuju ke Panti Asuhan Darul Ma’arif di daerah Naggalo Padang. Beberapa pengasuhnya adalah sahabat-sahabat lamaku. Dulu, aku juga pernah berkegiatan di panti asuhan tersebut. Sekali lagi, gempa juga ikut meluluhlantakkan panti yang berisikan 60 orang siswa ini. Demi keamanan, maka penghuni panti dipulangkan dulu untuk sementara ke rumah mereka masing-masing. Semoga panti ini segera terbangun kembali, sehingga anak-anak tersebut dapat ditampung kembali.

gampo-83gampo-84
Panti Asuhan dan SLB Darul Ma’arif

Untuk sementara, penyaluran bantuan kami cukupkan. Beberapa program recovery dan rehabilitasi sudah kami susun. Semoga segera dapat kami wujudkan dan sinergikan dengan berbagai lembaga lainnya. Terbersit harapan, agar Sumatera Barat segera pulih dan kembali bersemangat meniti masa depan. Ujian yang Tuhan berikan, sudahlah pasti telah disesuaikanNya dengan kemampuan kita. Sehingga, tidak mungkin kita tidak menemukan jalan keluar dalam mengatasi musibah ini.

gampo-52

Tetap bersemangat, sebagaimana harapan dari tugu ini yang terletak di perempatan Nanggalo Padang. Simpang ini kerap disebut sebagai “simpang tinju” 😀

Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama dari: www.hardivizon.com

Advertisements

One thought on “man-ja

  1. simpang tinju di nanggalo???
    simpang tinju di siteba ado lo mah da…
    tapi lah hancua dek karano gampo patang ko…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s