adikku…

Acapkali rasa sayang itu muncul ketika sudah terpisah ruang dan waktu. Ketika bersama, seringkali pertengkaran dan kejenuhan mewarnai kehidupan kita. Ketika sudah tidak berjumpa lagi, rasa rindu itu selalu membayangi.

Rasa itupun muncul pada diriku, terhadap adik-adikku. Aku, yang terlahir sebagai sulung dari delapan bersaudara, dulu, merasa marah dan kesal dengan keberadaan adik-adik yang jumlahnya banyak itu. Apalagi dari kedelapan itu, tujuh di antaranya adalah lelaki alias cowok. Bayangkan, betapa hebohnya rumah kami ketika masa kecil dulu. Segala pertengkaran khas anak cowok kerap terjadi di rumah kami. Dan yang paling sering tejadi adalah, aku sebagai anak tertua, harus selalu menelan pil pahit yang bernama “mengalah”.

Dengan berjalannya waktu, satu persatu kamipun meninggalkan rumah, membina rumah tangga masing-masing. Hanya aku dan si bungsu yang merantau jauh ke Yogyakarta. Sementara adik-adikku yang lainnya, tetap di kota Duri, tempat kami dilahirkan dan dibesarkan. Hanya saja, mereka sudah berumah masing-masing, dan karena kesibukan pekerjaan, merekapun jarang berkumpul di rumah orangtua kami.

Mendengar kepulanganku ke Padang tempo hari, adik-adikku pun dengan gegap gempita memintaku untuk mampir ke Duri. Mereka bilang, ini sebuah pertemuan langka. Sebab, sangat jarang terjadi kami berdelapan bisa kumpul. Kebetulan pula, adik bungsuku yang ikut denganku kuliah di Jogja, lagi liburan. Sehingga, bila aku pulang ke Duri, berarti kami berdelapan komplit bisa bertemu.

Maka, dengan motivasi itulah akupun memaksakan diri untuk pulang ke Duri, meski terbayang di depan mata perjalanan yang akan panjang setelah itu. Sebab, aku berencana akan meneruskan ke Curup-Bengkulu, tempatku bekerja.Tapi, rasa rindu yang menggebu membuatku mampu mengalahkan semua itu.

Walhasil, akupun berada di Duri, di tengah-tengah mereka. Dan, benar sekali, aku merasakan bahwa aku sudah lama kehilangan suasana berkumpul seperti itu. Aku rindu dengan pertengkaran masa kecil kami, rindu dengan omelan Mama kami, dan rindu akan segala sesuatu tentang rumah kami. Kepulanganku kali ini, benar-benar terasa nikmat bagiku.

Inilah gambar-gambarku bersama mereka…

vizon n brothers01
Aku bersama empat orang adikku… Oh no, baru kusadari kalau aku paling pendek di antara mereka… 😀

vizon n brothers02
Adik perempuanku semata wayang… 😀

vizon n brothers03vizon n brothers04
Kiri: adikku yang ke-7, sang pembalap… Kanan: adikku yang ke-2, persis di bawahku, sangar ya wajahnya..? ya iyalah, dia kan bos sekuritih… hehehe… 😀

Tak terperi rasanya bahagiaku bisa bertemu mereka kembali. Baru kusadari, ternyata aku sangat menyayangi mereka. Kami tertawa habis setiap kali mengingat kenakalan masa kecil kami… Thanks all of my brothers and sister, I lop yu pull… 😀

Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada www.hardivizon.com

Advertisements

7 thoughts on “adikku…

  1. Saya ngebayangin repotnya Mama Uda Vizon kalau ke 7 jagoannya berantem ya..hahaha…
    Trus yang cewek satu-satunya pasti sangat manja. Yang cewek bungsu ya, Da?

    Yang cewek nomer 3 mbak… 😀

  2. Huwaaaaaaa..seneng bisa komennnnnnnnnnnnn 😀 😀 😀

    Uda, adikknya ganteng-ganteng!!! Coba tolong di kenalin ke temen-temenku yang masih single itu yaaaa!!! hihihihi

    By the way,
    Namanya adik, mau badung, mau baik…tetep aja di kangenin. Kemarin itu Reza sempet tanya…

    “Kak, kalo nanti gue jauh…lo kangen gue gak ya?”

    Simple question….

    Tapi sumpah ! Yessy terharu dia ngomong seperti ituuuuu…..Apalagi yessy cuam berdua sama Reza, masak gak kangen….ya kangenlahhhh..

    Kangen nyela, maksudnya 😀

    Yessy, maunya sih ngenalin sama temanmu yang di Surabaya ituh, tapi sayangnya, semua sudah tidak sendiri, alias punya buntut, kecuali si bungsu, hehehe…. 😀
    Adik kita walau bagaimanapun menyebalkannya, tapi ia tetaplah adik kita. sampai kapanpun pertalian darah tidak akan bisa diputuskan. semoga kita tetap dapat menjaga kasih sayang itu dengan baik sampai kapanpun ya Yess… 😀

  3. sip mas. memang rumah pangkal kehidupan. termasuk di dalamnya anggota keluarga. lebih sayhdu bila menjadi perantau. direkatkan oleh kerinduan, disatukan momentum lebaran, dipertemukan di rumah, ditumpahkan di meja makan beserta hidangan bersahaja.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  4. mantap mah da…. ambo anak suluang pulo tapi alun..sajauah pengalamn uda lai..tapi lah taraso bn kn namonyo taragak ka adiak2….

    salam kenal da..
    di jogja kuliah dima da? ambo di ELINS ugm ’06
    regards

  5. Pingback: Milikku seperenam « surauinyiak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s