jangan punya anak!

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu kunyalakan sepeda motor kesayanganku untuk sekedar memanaskan mesinnya. Sambil menunggu mesin panas, kuseka setiap bagian tubuhnya dengan kain halus bekas singlet anakku. Aku asyik dengan kegiatan itu, sampai sebuah suara datang dari arah belakang dan mengagetkanku…

“Papah, papah…!”

Aku menoleh

“Hai, nak… wah, sudah rapi nih… sini gendong dulu!

Seketika bocah kecil 1 tahunan itu menghambur ke pangkuanku. Kami bergurau sambil sesekali kutuntun ia untuk membaca doa di pagi hari. Keceriaan itu sesekali ditimpali suara seorang perempuan tua yang berdiri tidak jauh dari kami.

“Wis tho Le… Papah mau antar abang sama uni sekolah. Ayo turun. Nanti pada terlambat lho…”

Seolah tak mempedulikan kalimat itu, bocah tersebut terus menggelayut di gendonganku, sampai akhirnya dengan sedikit paksaan dari perempuan tua tadi membuat si bocah berpindah dari gendonganku ke gendongannya.

“Dadah sayang… pergi dulu ya. Nanti sore kita main lagi, insya Allah…”
“Dadah, dadah…!”, mengalir dengan lancarnya dari mulut mungil itu.

Setelah merapikan segala sesuatunya, akupun berangkat mengantar kedua anakku ke sekolah untuk selanjutnya akupun berangkat menuju kampusku. Terasa dengan jelas di belakang punggungku sepasang mata kecil menatapku tajam hingga akhirnya akhirnya akupun menghilang di mulut gang.

*****

“Saya sebetulnya sudah tak kuat Pak”
“Kenapa Bu? Sepertinya saya lihat setiap hari Ibu senang saja bermain dengan Endro?”
“Iya, saya sangat senang, dan sangat menyayangi bocah itu. Setiap kali bersamanya, semua penat ini terasa hilang”
“Lantas, apa yang membuat Ibu merasa tidak kuat?”
“Sikap Papa dan Mama Endro yang tak mau peduli dengan anaknya”
“Lho, bukankah mereka rutin mengirimkan uang belanja buat Endro setiap bulan?”
“Ya, dulu, di bulan-bulan pertama Endro bersama saya. Tapi sekarang, tidak lancar. Sering mereka mencicil uang belanja Endro, 2-3 kali dalam sebulan”
“Apa Ibu tidak berusaha untuk menegurnya?”
“Sudah… Malah saya dicurigai menantu saya, Mamanya Endro, menghambur-hamburkan uang jatah belanja Endro. Sedih sekali rasanya Pak. Tapi, sebetulnya bukan itu masalah utamanya. Toh, kakeknya ataupun tantenya Endro masih bisa mencarikan uang untuk keperluan Endro”
“Lantas apa Bu?”
“Papa dan Mamanya Endro seakan sudah tidak peduli lagi dengan Endro. Mereka tidak pernah menanyakan keadaan Endro. Mereka hanya mengirim pesan lewat sms, dan isinya cuma mengatakan kalau uang sudah dikirim. Apa tidak keterlaluan mereka itu Pak? Punya anak kok tidak diperhatikan. Bukannya bersyukur anak mereka saya rawat, ini malah saya yang disalah-salahkan. Kalau begini caranya, mending mereka tidak usah punya anak!

*****

Bu Surahman begitu berbahagia ketika mendengar bahwa menantunya akan segera melahirkan. Dengan segala bekal yang ada, dia pun berangkat ke Jakarta bersama suaminya. Mereka ingin menunggu kehadiran cucu pertama mereka. Terbayang, betapa bahagianya menimang cucu sendiri.

Masa itupun datang. Cucu tercinta hadir ke muka bumi. Seorang anak manusia berjenis kelamin laki-laki, sehat dan terlihat gurat-gurat wajah nan tampan. Terasa kebahagiaan yang luar biasa menyelimuti hati kedua orang tua nan sudah mulai renta itu. Penantian panjang selama ini akhirnya terlunasi sudah. Endro lahir dengan selamat.

Satu bulan di Jakarta, menemani sang anak dan menantu dalam merawat bayi mereka, hari-hari Bu Surahman terasa menyenangkan. Namun, masalah mulai muncul ketika sang menantu akan mulai masuk kerja kembali. Pengasuh yang sudah lama dipesankan ke yayasan, tak kunjung didapatkan. Berbagai usaha sudah ditempuh, namun yang diharapkan tak kunjung datang. Walhasil, akhirnya Bu Surahman menyediakan diri untuk merawat Endro dengan syarat si bayi dibawa ke kampung halaman mereka di Jogja. Karena, Bu Surahman tak mungkin meninggalkan Pak Surahman sendirian di kampung.

Kesepakatanpun diambil, Endro akan di Jogja sampai keduaorangtuanya mendapatkan pengasuh di Jakarta, dan setiap dua minggu sekali mereka secara bergantian akan mengunjungi Endro. Sebuah kesepakatan yang baik.

Namun, kesepakatan tinggal kesepakatan. Pengasuh yang dijanjikan tak kunjung didapatkan. Kedua orang tua Endro pun tidak pernah menunaikan janjinya untuk mengunjungi Endro dua minggu sekali. Mereka seolah tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan Jakarta. Dan kondisi itu terus berjalan hingga Endro menginjak usia satu tahun lebih.

*****

Kisah Endro ini, yang merupakan tetanggaku sendiri, patut dijadikan perenungan bagi kita semua, terutama pasangan yang sedang berencana memiliki anak. Bila tidak siap dengan segala konsekwensi yang harus ditanggung karena memiliki anak, lebih baik jangan punya anak. Egoisme kita demi karir duniawi, hanya akan menyisakan kesakitan pada orang lain. Dan bila yang disakiti itu adalah anak kita sendiri, darah daging kita, terlaknatlah kita…

Seberapapun besarnya kasih sayang yang diterima Endro dari kakek, nenek dan tantenya, tidaklah lebih baik daripada ia hidup bersama kedua orangtuanya, meski dalam keadaan berkekurangan. Semoga kita tidak menjadikan anak kita sebagai “Endro”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s