terima kasih guru

Hari ini, 25 November 2009, adalah hari guru. Terus terang, meski berprofesi sebagai guru, aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari guru. Kalau bukan karena anak-anak libur dikarenakan para guru se-DIY berupacara di Stadion Mandala Krida, tentulah aku takkan tahu kalau hari ini adalah hari guru. Huh, sungguh keterlaluan diriku ini… 😉

Guru sebagai pendidik adalah seseorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa, maupun maju-mundurnya tingkat kebudayaan tersebut, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.

Menjadi seorang guru memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sebab, ia berhadapan dengan obyek hidup, yakni para siswa (generasi). Bila terjadi kesalahan dalam mendidik, maka akan mengakibatkan terlahirnya generasi yang salah didik. Hal itu tentu tidak dapat diganti walau dengan uang dalam jumlah besar. Berbeda dengan pekerjaan lainnya yang berhadapan dengan obyek mati. Mekanik mobil contohnya, bila terjadi kesalahan dalam pekerjaannya, maka yang rusak adalah mobil itu, yang sudah barang tentu dapat diganti dengan sejumlah uang.

Dalam kesempatan ini aku ingin berterima kasih secara terbuka kepada beberapa guruku yang telah menginspirasiku hingga saat ini:

Pertama adalah guru agama-ku di SD dahulu. Beliau sangatlah sabar dan penuh kreatifitas dalam mengajar. Sehingga, pelajaran yang dianggap biasa-biasa saja dapat menjadi sangat luar biasa di tangan beliau. Aku dan teman-temanku sekelas sangat menyukai belajar dengan beliau. Karena beliau hanya mengajar agama, maka kami semua memanggilnya dengan “Buk Agama”. Dan nama itu melekat hingga sekarang, bahkan akupun sudah lupa nama asli beliau… 😀

Kedua adalah KH. Hasan Abdullah Sahal. Beliau adalah Kyai Pondok Modern Gontor, tempatku nyantri dahulu. Sangat banyak motivasi dan inspirasi yang beliau tularkan kepadaku. Kesederhanaan dan kesabaran merupakan inspirasi utama yang aku dapatkan. Beliau sangat rendah hati. Pernah suatu ketika aku dalam kelelahan jiwa raga yang amat sangat. Secara mengejutkan, aku mendapatkan sms dari beliau, menanyakan keadaanku. Argh… aku bergidik. Spontan kutelepon balik beliau, dan menceritakan apa yang menimpaku. Kalimat sejuk dari mulut beliau mampu membangkitkan kembali semangatku. Sungguh, sebuah kesyukuran yang luar biasa aku bisa memiliki guru sedahsyat beliau.

Ketiga adalah Prof. Dr. Edi Safri. Beliau begitu sabarnya membimbingku dan menuntunku sehingga aku berhasil memperoleh gelar kesarjanaan. Tak pernah ada kata “nanti” dalam kamus beliau. Sepertinya, 24 jam beliau sediakan waktu untuk kami, para mahasiswanya.

Itulah ketiga guruku yang sangat luar biasa. Aku bersyukur karena pernah memiliki mereka. Bagaimana dengan Anda? Adakah guru yang paling berkesan di hati? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s