napaktilas

Sejak membaca tulisan Nechan Imelda tentang kebiasaan kita memperkenalkan tempat kerja ataupun segala hal yang pernah kita lalui kepada anak-anak, aku jadi terinspirasi untuk melakukannya. Memang ada banyak hal yang belum dipahami oleh anak-anakku tentang kehidupan yang pernah dan sedang kujalani. Sebagai contoh, kampus tempatku mengajar, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup, belum pernah sekalipun aku mengajak mereka ke sana. Ada banyak alasan yang menyebabkannya, salah satunya karena terpisah oleh jarak yang cukup jauh. (saran Nechan Imelda itu dapat di baca di sini).

Salah satu yang ingin kuperkenalkan kepada anak-anakku adalah pesantren tempat aku menuntut ilmu dahulu, yakni Pondok Modern Gontor, di Ponorogo Jawa Timur. Aku ingin mereka menyaksikan sendiri bagaimana situasi pesantren itu. Selama ini mereka hanya mendengar dari ceritaku saja.

Akhirnya, kesempatan itu datang…!

Dalam rangka merayakan Idul Adha, yang jatuh pada hari Jum’at, 27 November 2009, akupun mengajak seluruh keluargaku untuk berangkat ke Gontor. Karena hari itu liburnya cukup panjang, maka kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Anak-anakku (the fantastic four), istri, adik dan ibu mertuaku yang kebetulan ada di Jogja, menyambut gembira ajakan tersebut. Untuk menambah meriah suasana, aku ajak sahabatku Amin Ulwi dan Nashran yang juga alumni Gontor beserta keluarga untuk turut serta. Mereka menyambut gembira rencana itu. Jadilah akhirnya kami berangkat bersama-sama pada Kami malam sambil takbiran di jalan.

Karena kami berangkat habis Maghrib, maka kamipun sampai sudah hampir tengah malam. Kami menginap di Wisma Darussalam milik pesantren tersebut. Tarifnya lumayan murah, Rp. 85.000-Rp. 100.000,-. Fasilitasnya lumayan bagus, meski tidak bisa disandingkan dengan hotel berbintang. šŸ˜‰ Sebetulnya ada ruang tamu yang bisa kami gunakan dan itu semua gratis. Tapi, demi kenyamanan anak-anak, kamipun memilih untuk mengambil kamar di wisma tersebut.

Pagi hari, dengan semangat membara, kamipun mengikuti proses shalat Ied di depan Masjid Jami Pondok Modern Gontor. Ada suasana haru di hati ini begitu melihat ribuan santri duduk dengan khusyuk mendengarkan khutbah. Terbayang bagaimana diriku pernah melaluinya dulu, selama 6 tahun. Dan, setiap kali Idul Adha datang, ada sedikit perasaan sedih, karena kami tidak diperbolehkan pulang ke rumah dan memaksa kami untuk berhari raya jauh dari kehangatan keluarga.

adha09@gontor (22)adha09@gontor (21)adha09@gontor (27)adha09@gontor (24)
Shalat Idul Adha bersama ribuan santri dan tamu di Gontor memberi nuansa yang berbeda

Tapi, sesungguhnya perasaan itu tidaklah terlalu lama terasa. Karena, setiap perayaan Idul Adha, di Gontor selalu digelar berbagai kegiatan. Seperti yang kami lihat pada hari itu, ada kegitan pameran buku, lomba vocal group antar kelas dan tentunya penyembelihan hewan kurban.

adha09@gontor (67)adha09@gontor (71)adha09@gontor (121)adha09@gontor (84)
Pameran buku, lomba vokal grup dan penyembelihan hewan kurban adalah kegiatan rutin pengisi liburan Idul Adha di Gontor

Harus kuakui bahwa kreatifitas santri Gontor patut diacungi jempol untuk urusan pementasan. Dengan peralatan seadanya, mereka mampu menyuguhkan hiburan yang spektakuler. Ada berbagai event pagelaran di sana, dan yang menjadi puncak semuanya adalah pagelaran seni oleh siswa kelas 6 yang bertajuk “Panggung Gembira”. Himawan Pridityo pernah menceritakan soal itu. Silahkan dibaca laporannya di sini.

Karena penuh dengan aktivitas itulah, maka kesedihan jauh dari orangtua akhirnya terkikis habis. Tak tersisa sedikitpun ruang di Gontor untuk berleha-leha, apatahlagi bercengeng-cengeng ria. Kemandirian merupakan salah satu syarat mutlak kesuksesan belajar di sana. Dan aku sangat merasakan manfaat itu.

adha09@gontor (77)adha09@gontor (103)
Kiri: keluarga besar kami… Kanan: meski tidak dapat berjalan normal, ibu mertuaku tetap bersemangat

Setelah puas berkeliling areal pondok sambil menceritakan kepada keluargaku apa saja yang pernah kualami dulu di sana, kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, kami sempatkan untuk mampir ke Gontor Putri di desa Sambirejo, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.

Aku cukup punya kenangan dengan pesantren putri ini. Bukan karena santriwatinya lho… šŸ˜‰ Tapi, dulu, ketika aku duduk di kelas 6, mendapatkan kesempatan untuk menjadi panitia peresmian pesantren itu. Ya, Gontor Putri baru dibuka pada tahun 1990. Sebagai santri, mendapatkan kesempatan untuk tidak masuk kelas dan bersibuk-sibuk ria dengan sebuah kegiatan adalah sebuah kesempatan mahal. Kesempatan itupun aku pernah peroleh. šŸ˜€

Di samping itu, pada tahun 1993, setelah menjadi alumni, aku diminta oleh orangtua untuk mengantar adik perempuanku untuk bersekolah di sana. Karena ketika itu pesantren tersebut masih tergolong baru, maka para tamupun masih bebas keluar masuk area pondok, termasuk diriku.

Tapi sekarang, setelah melalui berbagai pertimbangan, tidak semua tamu bisa masuk dengan bebas ke area kampus. Untuk tamu, termasuk orangtua, sudah disediakan tempat khusus di luar area kampus. Bila ada orangtua yang ingin mengunjungi anaknya, cukup menunggu di ruang tamu tersebut dan sang putri akan datang mengunjungi mereka. Bila kita ingin melihat susana kampus, harus meminta izin terlebih dahulu ke pengasuhan santri. Biasanya, secara berombongan kita akan dibawa masuk dan melihat-lihat area pondok putri tersebut dengan dipandu oleh seorang pemandu, entah itu dari santriwati senior ataupun dari guru mereka.

Beruntung hari itu aku bertemu dengan seorang guru senior mereka. Beliau dulunya juga adalah salah satu ustadzku di Gontor Putra. Namanya Ustadz Ma’ruf. Aku cukup akrab dengan beliau, baik ketika menjadi santri maupun sudah menjadi alumni. Singkat cerita, dengan ditemani beliau sendiri, kamipun diberi kesempatan untuk masuk dan melihat-lihat area kampus Gontor Putri tersebut.

adha09@gontor (151)adha09@gontor (154)
Gontor Putri nan “cewek banget” šŸ˜€

Jujur, aku kagum dengan kampus putri itu. Tampak sekali perbedaan antara penataan yang dilakukan anak cowok dengan cewek. Di Gontor Putra cenderung lebih koboi, ada banyak tempelan di berbagai gedung, agak sedikit kotor. Tapi, kalau di Gontor Putri, semuanya kinclong… hehehe… Maklumlah, naluri bersih-bersih, perempuan lebih top! Aku akui itu. Sahabatku Dewi Yuhana yang alumni Gontor Putri itu pernah bilang begini kepadaku: “Gontor Putri itu lebih beradab dari Gontor Putra”. Iya deh… aku ngaku…! (puas Dew?) šŸ˜€

Pukul lima sore kamipun beranjak pulang kembali ke Jogja. Kulihat raut keletihan pada wajah keluargaku. Tapi, aku puas telah memberikan pengalaman berharga buat mereka. Meski mungkin mereka tidak akan mengikuti jejakku bersekolah di sana, tapi paling tidak mereka telah mengetahui bagaimana perjuanganku menuntut ilmu dahulu. Ya, hanya itu tujuanku… Semoga kesan itu ada pada hati mereka masing-masing… šŸ™‚

Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

Advertisements

One thought on “napaktilas

  1. hwehehehe…..
    kayak Tukul aja, pake nanya puas?
    gak usah pake nanya puas Da, soalnya emang begitulah adanya, hahaha… šŸ™‚

    btw, jd inget juga suasana Idul Adha di Mantingan dulu….
    sedih, tapi akan terus terkenang sepanjang masa.. ciee… ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s