senyum tulus

Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tersenyum adalah ibadah dan ianya sama dengan sedekah. Bahagia sekali rasanya bila dalam setiap kali bertemu dengan seseorang, ia memberi kita senyuman terindahnya. Dan tentunya kita juga merasa bahagia bila mampu memberi senyuman terbaik kita buat orang yang kita temui.

Senyum adalah ekspresi jiwa. Bila jiwa kita bahagia, akan keluar senyuman yang mengandung kebahagiaan di dalamnya. Karena ia adalah bahasa jiwa, maka yang merasakannya juga adalah jiwa orang yang diberi senyuman itu. Ketulusan atau keterpaksaan senyuman seseorang akan sangat terasa di jiwa kita.

Sebagai contoh, senyuman seorang Satpam di pintu sebuah bank atau senyuman seorang resepsionis akan sangat terasa oleh kita sebagai senyuman basa-basi. Sama sekali tidak menyejukkan jiwa, meski ditunjukkan dengan ekspresi yang paling manis.

Kenapa aku kok ujug-ujug membicarakan soal senyum? Apakah ini ada hubungannya dengan status facebook nyasarku tempo hari? Oh bukan… ini tidak ada hubungannya sama sekali. Ini adalah soal senyuman sok ramah yang kuterima beberapa hari ini dari seseorang yang membuatku jengah!

Adalah seorang guru baru di sekolah putriku Satira. Dia baru diangkat menjadi pegawai negeri dan ditempatkan di sekolah tersebut. Sebelumnya, ia cukup lama menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta. Ia resmi menjadi PNS sekitar 6 bulan yang lalu dan ditempatkan di sekolah putriku tersebut.

Selama 6 bulan sebelum ini, setiap kali ia bertemu denganku, tidak ada satupun senyuman manis tersungging di bibirnya. Ia hanya menganggukkan kepala sedikit, bila tanpa sengaja berpapasan denganku. Bahkan sangat sering ia pura-pura tidak melihatku bila setiap pagi aku mengantar putriku kesekolah dan Pak Guru tersebut sedang berdiri di depan gerbang menyambut kedatangan murid-muridnya.

Sebetulnya aku sama sekali tidak peduli dengan keadaan itu, sampai saat aku melihat perubahan sikapnya yang drastis kepadaku dua minggu belakangan. Secara mengejutkan, setiap kali bertemu, ia memberiku senyumannya paling lebar dan paling manis dalam versi dia. Bahkan setiap pagi, ketika aku mengantar putriku, dari kejauhan ia sudah mengalihkan pandangan padaku dan menunjukkan penghormatan yang lebay nian, tersenyum sambil membungkuk-bungkukkan kepala. Hatiku merasakan ketidaktulusannya.

Kejadian itu berawal ketika ia diminta Kepala Sekolah untuk menemuiku. Kebetulan ada sebuah dokumen penting yang harus aku tandatangani sebagai Ketua Komite. Memang sejak ia masuk ke sekolah tersebut, aku selalu berhalangan setiap kali ada acara seremonial. Sehingga sambutan Ketua Komite diwakilkan oleh wakil ketua. Makanya, si Pak Guru tadi sama sekali tidak mengetahui posisiku di sekolah tersebut. Ketika menyerahkan dokumen yang harus aku tandatangani itulah terlihat sikap salah tingkahnya.

Oalah… ternyata njenengan ini Ketua Komite kita tho?”
“Emangnya kenapa Pak?”
“Maafkan saya Pak, soalnya selama ini saya kira njenengan wali murid biasa”
“Saya memang wali murid biasa kok Pak, gak ada yang luar biasa…”

Dan… persis sejak kejadian itu, sikapnya berubah drastis kepadaku seperti yang kuceritakan di atas. Sama sekali aku tidak bangga dihormati secara berlebihan begitu olehnya. Lebih baik dia bersikap “dingin” seperti semula, daripada harus sok hormat, tapi bersebab… huh!

Mengapa ia harus membedakan para wali murid? Bukankah sebagai guru ia harus mengormati semua wali murid tanpa pandang bulu? Seharusnya ia tersenyum selebar-lebarnya kepada semua wali murid yang ia temui, di manapun dan kapanpun. Tapi ini… setelah ia mengetahui “siapa” aku, barulah ia bersikap yang benar-benar membuatku jengah…!

So… tersenyum memang ibadah, ia bisa disamakan dengan sedekah. Tapi, tentunya senyuman yang dimaksud adalah senyuman penuh keikhlasan dan ketulusan, bukan senyuman yang bersebab. Jangan hormati orang lain karena sesuatu yang disandangnya, tapi hormatilah ia sebagai sesama manusia…🙂🙂🙂

(Ini adalah mirror-pots dengan judul yang sama pada: www.hardivizon.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s