Milikku seperenam

Ketika kau telah memutuskan untuk menikah, maka saat itulah dirimu sudah tidak lagi jadi milikmu sepenuhnya. Bagilah jiwa dan ragamu sebanyak anggota keluargamu.

Kita perlu memiliki kontrol akan diri kita, sehingga tidak mudah terperosok dalam liang kenistaan. Salah satu alat kontrol yang efektif menurutku adalah kesadaran akan adanya jiwa-jiwa lain selain jiwa kita yang menggelayut dengan diri kita, yakni keluarga.

Aku, setelah memiliki istri, bertekad dalam hati untuk membagi jiwa dan ragaku menjadi dua. Setengah untuk istriku dan setengah lagi untuk diriku sendiri. Namun, begitu punya anak, maka pembagian itupun berubah. Dengan empat orang anak yang kami miliki, maka itu berarti dalam rumah kami ada 6 jiwa; aku, istriku dan keempat anakku. Dengan demikian, maka aku bagi jiwa dan raga ini menjadi enam bagian. Lima perenam kuberikan dan kucurahkan bagi istri dan anak-anakku, sementara yang seperenam lagi barulah milikku sepenuhnya.

Oleh karenanya, sebagian besar dalam diriku ini adalah hak keluargaku, dan hanya sedikit yang menjadi milikku sendiri. Kesadaran ini sengaja kubangun sebagai benteng dan pengingat diriku ketika ada godaan mendekati. Sebagai contoh, ketika ada godaan untuk melakukan tindakan yang akan merusak kesucian diri, lima perenam diriku segera mengingatkanku untuk tidak melakukannya. Ada banyak suara di benakku yang melarang untuk itu. Seolah mereka berkata: “Ingat, ada lima jiwa yang akan terancam dan rusak karena perbuatanmu ini”. Dan alhamdulillah, godaan itupun dapat kutepis.

Pemikiran ini bukan muncul begitu saja. Ada yang menginspirasiku, yaitu Ibuku tercinta.

Ibuku adalah seorang perempuan kuat dan tegar yang pernah kukenal. Seluruh hidupnya diberikan untuk kami, anak-anaknya. Bahkan, di senja usianya pun, beliau masih memberikan waktunya untuk sang cucu.

Seperti yang pernah kuceritakan dalam postinganku berjudul “Adikku”, aku 8 bersaudara, 7 di antaranya adalah laki-laki. Terbayang kan betapa hebohnya rumah kami ketika masa kanak-kanak? Tidak ada satupun ruang di rumah kami yang bebas dari tangan jail kami. Di mana-mana ada saja yang berantakan. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran antara kami yang tentu saja dapat menyulut emosi orangtua kami.

Ibuku, menjalankan itu semua sendirian. Mengurus kami dan rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga sama sekali. Paling hanya urusan mencuci pakaian dan menyetrika yang beliau perbantukan kepada orang lain. Belum lagi beliau harus membantu ayahku di rumah makan kami, mengontrol juru masak atau hal lainnya yang berkaitan dengan kualitas masakan.

Namun, tak pernah kudengar keluhan dari mulut beliau. Suatu ketika, kucoba tanyakan mengapa beliau bekerja begitu keras dan nyaris tanpa istirahat. Beliau menjawab: “Jiwa dan raga Mama ini sepenuhnya untuk kalian”.

Kalimat itu terus terngiang di benakku, sampai saat ini. Dan kalimat itupun yang menginspirasiku untuk melakukan hal yang sama terhadap keluargaku.

Ibuku memang kuat dan tegar. Aku selalu merindukan berada di dekatnya. Duduk bersama di teras depan rumah kami ketika sore menjelang, menikmati secangkir kopi atau teh dengan panganan ringan yang selalu beliau sediakan adalah sebuah momen yang selalu memanggilku untuk pulang. Aih… semoga masih banyak waktuku untuk dapat menikmati cinta suci dari Ibuku, untukku…

“Mama, terima kasih atas petuah dahsyatmu. Terima kasih atas kehangatan cintamu. Terima kasih atas segalanya….”

(Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada: www.hardivizon.com)

Advertisements

One thought on “Milikku seperenam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s