ayahku juara nomor satu sedunia

Ayah mana yang takkan melambung jiwanya bila mendengar kalimat itu dari mulut anaknya? Ayah mana yang takkan bahagia melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Ayah mana yang takkan terharu bila sang anak meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya? Dan ayah mana yang takkan terbang melayang bangga karena sang anak berhasil meraih cita-cita tertingginya?

sang pemimpiAdegan-adegan mengharubiru yang mampu mengaduk-aduk emosi itu, dapat kita saksikan dalam film Sang Pemimpi, yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi. Dalam film ini, terlihat nyata bagaimana seorang ayah dapat menjadi inspirasi bagi anaknya. Kehangatan, kelembutan sekaligus ketegasan sang ayah telah mampu membentangkan dunia luas bagi sang anak sehingga berhasil meraih mimpinya.

Aku berhasil menonton film ini pada tayangan perdananya, 17 Desember 2009 yang lalu bersama dua anakku, Afif dan Satira serta istriku. Karena film ini cukup banyak yang menantinya, maka perlu sedikit perjuangan untuk mendapatkan tiket. Beruntung, aku dapat memperolehnya pada tayangan perdana.

Adalah tiga orang remaja asal Belitong bernama Ikal, Arai dan Jimron yang terpaksa bersekolah di Manggar karena hanya itulah satu-satunya SMA Negeri di daerah mereka. Petualangan demi petualangan mereka jalani. Mulai dari bekerja di luar jam sekolah demi kehidupan mereka sampai menghadapi masalah hormonal yang mulai membara; menyukai perempuan dan ingin menonton film yang sedikit “panas”.

Perjalanan hidup mereka layaknya remaja, penuh dinamika yang disebabkan oleh kelabilan emosi. Namun, kekuatan doa dan ketegaran jiwa yang disebabkan oleh mimpi-mimpi besar yang mereka bangun telah mampu mengalahkan itu semua. Ya… mereka telah merajut mimpi untuk dapat melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia untuk kemudian melanjutkan lagi ke Sorbonne Paris. Impian itu terus mereka pertahankan dan selalu menjadi sumber kekuatan tatkala kelelahan jiwa mulai merasuki.

Film ini juga menceritakan bagaimana peran seorang guru dalam kehidupan seorang remaja. Adalah Pak Balia, guru muda yang selalu memanggil murid-muridnya dengan sebutan “para pelopor”, mampu mencuri perhatian para remaja itu. Kelas Pak Balia adalah kelas yang sangat disukai murid-murid. Tampak kebahagiaan dan semangat membara setiap kali Pak Balia berada di kelas mereka. Pak guru itu telah mampu menunjukkan bagaimana cara menghadapi gejolak muda para remaja itu.

Di sisi lain, adalah Pak Mustar, sang kepala sekolah yang memiliki sikap bertolakbelakang dengan Pak Balia. Beliau terlihat begitu angker. Pelajaran disampaikan dengan sangat kaku dan penuh kemarahan. Dengan alasan disipllin, beliau tak segan-segan menghukum muridnya secara tidak wajar dan merendahkan harkat mereka. Akibatnya, segala aturan dan pengetahuan yang beliau berikan, sedikitpun tidak menyantol di benak anak-anak tersebut.

Film ini mampu mengetengahkan sosok ideal seorang guru di tengah kita.

Seperti yang kusebutkan di awal tulisan ini, sosok ayah yang tegar dan inspiratif dicoba disampaikan dalam film ini. Ayah Ikal yang sekaligus juga paman bagi Arai adalah seorang ayah yang luar biasa. Caranya memuliakan dan menghargai jerih payah sang anak patut ditiru. Demi menghadiri pengambilan raport sang anak, beliau rela bersepeda puluhan kilometer sambil tak lupa mengenakan pakaian terbaiknya, yakni safari empat saku. Safari itu beliau kenakan hanya pada momen-momen sangat penting, salah satunya momen pengambilan raport anaknya.

Sikap ayah Ikal ini menyentakkan diriku. Betapa sikapku selama ini sangat jauh dari sosok ayah Ikal. Untuk mengambil raport, aku hanya curi-curi waktu di tengah kesibukan. Tidak ku siapkan secara spesial, apalagi berpakaian istimewa. Terkadang, aku hadir ke sekolah sekedarnya saja. Tidak seperti ayah Ikal yang benar-benar menjadikan momen penerimaan raport sebagai momen paling spesial. Hal itu, telah mempengaruhi anaknya, sehingga sang anakpun bangga terhadap ayahnya.

Tidak hanya itu. Ayah Ikal juga bukanlah tipe penuntut dan cerewet. Tatapan matanya yang teduh telah mampu dimaknai oleh anak-anaknya bahwa beliau sangat bangga dengan mereka. Tidak ada makian apalagi kemarahan membara ketika beliau mendapatkan anaknya mengalami kemerosotan nilai gara-gara kenakalan khas remaja. Tatapan teduh, senyuman tulus dan usapan lembut di kepala sang anak justru mampu membuat hati sang anak tercabik-cabik dan menyadari kesalahannya.

Hal ini menjadi refleksi tersendiri bagiku. Betapa aku harus mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi ketika melihat perilaku buruk pada anakku. Sungguh, aku merasa tertampar dengan film ini.

Film ini sangat baik dan layak untuk ditonton. Beberapa kesalahan editing tidaklah mengurangi esensi film ini. Satu kritikan dariku adalah adegan ketika Arai mengucapkan kata “amin” yang cukup panjang ketika shalat berjamaah yang membuat shalat itu terganggu. Meski itu adalah sebuah fenomena di tengah masyarakat kita, namun ada baiknya adegan itu tidak ditampilkan di hadapan khalayak. Karena, bisa jadi anak-anak yang menontonnya akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Tulisan ini, kupersembahkan untuk Papaku, ayah juara nomer satu sedunia… 🙂

Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

Advertisements

3 thoughts on “ayahku juara nomor satu sedunia

  1. tag line kalimatnya kok gak di tulis, Uda? 🙂

    Bukan seberapa besar mimpimu, tapi seberapa besar cara kamu mewujudkannya 🙂

    again…Uda memang pintar merawi tulisan dari film ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s