pergilah, nak!

Minggu, 20 Desember 2009 yang lalu, Afif putra sulungku meminta izin untuk ikut kegiatan arung jeram bersama kelompok mahasiswa pecinta alam STMIK AMIKOM Yogyakarta. Akupun mengizinkannya, karena adik bungsuku Evans adalah panitianya. Lucu juga melihat Afif ikut dalam acara itu. Lha wong seluruh pesertanya adalah mahasiswa, hanya dia yang pelajar SMP.

Ini adalah kali kedua baginya mengikuti acara ini. Tahun kemarin dia juga ikut. Tahun lalu, butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengizinkannya pergi. Ada banyak kekhawatiran muncul di benakku dan istri. Kekhawatiran yang sewajarnya bagi orangtua. Khawatir dia akan mengalami hal-hal yang kurang baik, mengalami kecelakaan, dan lain sebagainya.

arung jeram afif 04arung jeram afif 05
Afif dan kelompoknya dalam arung jeram di sungai Elo, Magelang

Tapi, setelah kurenungkan dengan seksama, kekhawatiranku itu sebetulnya tidaklah perlu. Bukankah seorang remaja butuh pengakuan akan eksistensinya? Dia butuh dipercaya bahwa dia mampu melakukan banyak hal. Dia butuh menyalurkan pertumbuhan hormonalnya secara baik. Memacu adrenalin seperti arung jeram, adalah salah satu cara yang tepat untuk itu.

Masa remaja merupakan peralilhan antara masa kanak-kanak ke masa dewasa. Di satu sisi, ia ditarik ke dalam tantangan untuk mematangkan kedewasaannya, di sisi lain, ia masih belum bisa sepenuhnya lepas dari daya tarik masa kanak-kanak. Dan oleh karenanya juga, secara sosial budaya, ia ditarik-tarik oleh kewajiban-kewajiban ala orang dewasa yang (seringkali) belum sepenuhnya dipahami; dan sekaligus juga ditarik oleh ransangan untuk mengeksplorasi diri di tengah kenyataaan sosial yang dihadapinya.

Masa remaja memang masa yang sulit, sarat dengan tekanan, konflik dan persoalan. Hal yang tak kalah sulitnya adalah menjadi orangtua bagi si remaja tersebut. Perubahan sikap, fisik dan psikis mereka yang begitu cepat sering membuat kita terkaget-kaget dengan sendirinya. Mereka sudah bukan anak manis yang mau mengikuti maunya orangtua tanpa membantahnya sedikitpun. Sekarang, mereka sudah butuh argumentasi yang jelas atas sebuah aturan. Kehidupannya sudah tak sepenuhnya kita ketahui. Ada wilayah privasi yang tak boleh dimasuki oleh siapapun.

Anak remaja kami pun sedang mengalami masa-masa seperti itu. Ada hal-hal privat yang mulai dimilikinya. Sepertinya ia butuh pengakuan akan eksistensinya. Gagasan-gagasannya butuh dihargai, meski terlihat berbeda dengan kami, orangtuanya. Menurut para ahli, menghargai gagasan-gagasan mereka itu penting untuk mendorong kemandirian berpikir dalam proses pengambilan keputusan.

Menyadari akan hal itulah, maka kami pun mengizinkannya untuk ikut dalam berbagai kegiatan. Monitoring adalah posisi yang kami ambil. Monitoring yang kami lakukan bukanlah memata-matai, tapi memastikan apakah kegiatan yang dilakukannya itu positif dan tidak melanggar norma agama maupun sosial. Alhamdulillah, sampai saat ini, kegiatan yang dilakukannya masih dalam ranah positif dan menyenangkan. Semoga demikian selamanya… 🙂

Bagaimana dengan Anda? Adakah peristiwa yang paling berkesan dalam masa remaja? Sudilah berbagi.
Dan bagi sahabat blogger yang memiliki anak remaja, sudikah berbagi tips dalam mendidik mereka? Terima kasih ku haturkan sebelumnya.

.

.

Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada: www.hardivizon.com

Advertisements

One thought on “pergilah, nak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s