they did it…!

Hari ini, Senin 4 januari 2010, hari pertama dalam minggu pertama di tahun yang baru, aku disuguhi sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan. Sebuah kejadian yang patut direnungi oleh kita semua, sebagai bangsa timur yang memiliki budaya ewuh pakewuh; tahu diri, malu, sopan santun.

Sebelum berangkat ke kampus, aku mampir dulu untuk sarapan lontong sayur Sumatera langgananku di pelataran parkir Pakualaman. Lontong sayur itu sebetulnya tidaklah begitu aduhai rasanya bila dibanding dengan lontong sayur Tek Yan di kampungku, tapi setidaknya keberadaannya cukup berhasil memenuhi rasa kangenku akan masakan khas Minang.

Di pelataran Pakualaman tersebut terdapat beberapa pedagang kuliner lainnya; ada bakso, soto, siomay, rujak es krim, dll. Beberapa waktu yang lalu, tempat itu telah direnofasi, sehingga lebih tertata rapi dan membuat suasana makan menjadi lebih nyaman.

Setelah memesan satu piring lontong tanpa telur plus karupuak lado, aku pun mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk yang nyaman. Mataku pun tertumpu pada sebuah meja yang terletak agak di sudut.

Sejurus kemudian, pesananku pun datang. Dengan sedikit bersemangat, lontong itu sedikit demi sedikit kulahap. Persis pada sendokan kelima, aku mendengar suara tawa manusia yang cukup mengganggu. Kuperhatikan sekejap. Ternyata, sepasang remaja yang sedang bercanda mesra. Posisi dudukku yang ternyata berhadapan dengan mereka–meski beda meja–membuatku dapat melihat setiap gerakan mereka dengan jelas.

Awalnya aku tidak terlalu peduli. Tapi, lama kelamaan tingkah mereka mulai membuatku kesal. Kemesraan yang mereka pertontonkan sudah mulai di luar batas menurutku. Mulai dari cubit-cubitan, suap-suapan, menggelayut mesra, sampai akhirnya sebuah adegan yang tak layak mereka lakukan… Mereka berciuman bibir..!!

Astaghfirullah…! Aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Tak kusangka, di bumi Yogyakarta yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya ini, aku melihat tingkah remaja yang tak pantas. Aku akui kalau gaya berpacaran remaja saat ini sudah mewajarkan tindakan itu. Tapi, melakukannya di tempat umum dan terbuka, apakah juga sudah dianggap wajar?

Oh tidak, aku tetap tidak dapat menerima itu sebagai sebuah kewajaran. Tidak untuk hari ini dan juga tidak untuk hari-hari ke depan. Bukan karena aku sok moralis. Tapi, ini berkaitan dengan harga diri bangsaku, bangsa yang berbudaya dan beragama.

Lantas, apa yang kulakukan terhadap mereka? Tidak ada..! Kecuali segera kuberdiri dengan kasar, meninggalkan makananku yang masih tersisa banyak begitu saja, membayar di kasir, dan buru-buru meninggalkan tempat itu, karena aku mau muntah…!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s