separuh seleraku pergi

Sedari pagi aku sudah janji dengan Afif untuk mengantarnya membeli tas yang sudah lama diidamkannya. Aku menyanggupinya karena memang sudah sangat jarang aku memiliki waktu berdua dengannya. Sejak menginjak usia remaja, dia sudah memiliki dunia dan aktivitasnya sendiri.

Habis maghrib, kami pun berangkat. Setelah membeli tas yang dimaksud di kawasan Malioboro, akupun mengajaknya makan malam. Pilihan jatuh ke warung ayam bakar di kawasan Jl. Taman Siswa. Beberapa kali kami pernah makan di situ, masakannya lumayan enak. Warung pinggir jalan yang hanya buka pada malam hari itu, selalu dipenuhi pengunjung.

Selagi asyik menikmati makanan sembari ngobrol dengan anak bujangku itu, tiba-tiba seorang pengamen masuk. Setelah menyelesaikan lagu pertama, diapun melanjutkan ke lagu kedua. Ayam bakar yang terasa nikmat tadi itupun seketika terasa hambar bagiku. Pasalnya adalah karena lagu yang dinyanyikan si pengamen, yaitu Separuh Jiwaku Pergi, milik Anang Hermansyah.

Tidak ada yang salah memang dengan lagu itu. Tapi, sungguh, aku amat sangat muak sekali dengan lagu itu (hiperbolis amat yak!). Muak karena lagu itu sudah amat sangat sering sekali diputar di televisi. Setiap kali menyalakan tivi, selalu lagu itu yang muncul. Ditambah lagi dengan syairnya yang cengeng sangat. Huh!

Bagi yang belum tahu dengan lagu itu, nih sebagian syairnya:
Pernah ku mencintaimu,
tapi tak begini…
Kau khianati hati ini,
kau curangi aku…

Ketika awal-awal lagu itu dikumandangkan, aku sedikit menikmati dan ikut merasa prihatin dengan peristiwa yang menimpa pelantunnya. Tapi, lama kelamaan, aku mulai bosan. Bukan bosan dengan karyanya, tapi bosan dengan kesedihan yang telalu diumbar. Bosan dengan kecengengan yang mengemuka!

Sebetulnya, si pencipta dan pelantun lagu itu tidaklah salah. Toh, dia mencari nafkah melalui ekspresi jiwanya sendiri. Namun, yang menggugahku adalah selera masyarakat kita. Sepertinya kita masih sangat senang dengan karya berisi kesedihan semacam ini. Buktinya, lagu ini nangkring cukup lama di tivi. Bukankah itu karena apresiasi masyarakat kita masih sangat tinggi untuk lagu itu?

Aku jadi ingat beberapa tahun silam, di era Orde Baru, Harmoko sebagai Menteri Penerangan pernah menegur Betharia Sonata yang menyanyikan lagu cengeng. Aku bisa pastikan, bila teguran itu dilakukan pada masa ini, sang menteri sudah jadi bulan-bulanan wartawan dan artis. Dia akan digugat sebagai menteri yang membelenggu kebebasan ekspresi. Heboh luar biasa!

Kalau dihitung, dari 10 lagu yang lagi ngetop, 9 darinya berisikan kecengengan karena cinta. Sangat sedikit lagu yang menggugah semangat. Padahal, sebuah lagu sangat besar pengaruhnya bagi jiwa. Coba saja simak lagu Garuda di Dadaku, siapa yang tidak bergemuruh setiap kali mendengarnya?

Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini
Pasti menang…!

Hah, semoga saja para pencipta lagu kita semakin kreatif saja dengan karyanya dengan menciptakan lagu-lagu yang memberi dampak positif bagi perkembangan jiwa masyakarat, bukan justru melarutkan mereka dalam kesedihan berkepanjangan.

*maaf, curhat gak penting* 😉

Advertisements

2 thoughts on “separuh seleraku pergi

  1. Istilah kata, tahun 80-an, Indonesia diserang barisan lagu cengeng… tahun 90-an akhir Indonesai terserang musisi-musisi Jogja alias Jogja Invation (hore!) dan sekarang… pop melayu nan mendayu serta barisan lagu cengeng.. menggejala lagi…

    Saya kaget (meski belum dan tak ingin mendengar) Anang yang dulu rocker dahsyat itu menyanyi lagu seperti itu…

    Semoga ia tak kehilangan semangat, Uda.. Masih ada hari esok 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s