self acceptance

Pernahkah kita merasa tidak nyaman dengan apa yang kita miliki? Mata sipit, hidung bangir, pipi tembem atau tubuh pendek? Aku yakin, paling tidak sekali dalam hidup, kita pernah merasakan itu. Ingin sekali rasanya memiliki kesempurnaan luar biasa di diri ini. Tapi, siapakah di antara jutaan manusia di muka bumi ini yang sempurna? Tentu tidak ada!

Penerimaan keadaan diri (self acceptance) dengan apa adanya adalah salah satu cara terbaik untuk menjawab persoalan di atas. Menerima keadaan diri dengan penuh keikhlasan dan kesabaran akan sangat mempengaruhi kebahagiaan kita. Kebahagiaan tersebut, tentulah akan sangat berpengaruh pada kecerdasan emosional dan spiritual kita.

Pemberian yang Tuhan anugerahi kepada masing-masing kita itu tidaklah pernah salah. Kita tidak akan pernah dihukum atas kelebihan yang Tuhan berikan kepada kita ataupun sebaliknya. Tapi, hukum itu berlaku pada bagaimana cara kita memanfaatkan pemberian itu.

Sebagai contoh, seseorang yang memiliki wajah cantik memesona, takkan dipertanyakan dan dipersoalkan soal kecantikannya. Bagaimana dia memanfaatkan kecantikannya itulah yang akan jadi obyek hukum. Bila ia memanfaatkannya secara positif, tentulah kebaikan yang akan ia peroleh. Namun, bila ia manfaatkan itu untuk keburukan, alamat kenistaan yang ia terima.

Maka, agar kesyukuran kita terhadap pemberian Tuhan itu semakin membesar, cara yang terbaik adalah menerimanya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kita mintakan kepadaNya agar tetap menjadikan kita sebagai orang yang mampu memanfaatkan segala pemberianNya tetap dalam jalur aturNya.

Nah, tema di atas adalah salah satu dari sekian banyak tema yang aku obrolkan dengan beberapa sahabat nara blog, pada 13 Januari 2010 kemarin. Bertempat di Cilandak Town Squre, Jakarta, aku bertemu dengan Yessy Muchtar, Reva Liany Pane dan Didot Halim setelah sebelumnya mendapat surprise dari Om Nh. Ya, sekali lagi aku melakukan kopdar (ayo jangan ada yang menjuluki aku raja kopdar lagi, nanti tak kopdari juga lho 😉 ).

Aku sangat bahagia dapat bertemu dengan mereka kemarin itu. Diskusi kami cukup bervitamin. Didot dengan pemikirannya yang gilang gemilang, Reva dengan analisanya yang dahsyat , Yessy dengan celotehannya yang aduhai serta Om Nh dengan candaannya yang gak jayus sama sekali. Sayang, Om Nh dan Didot harus pamit duluan, sehingga tinggal kami bertiga menghabiskan sore itu.

Terus terang, seharian kemarin itu aku berada di Citos sejak pukul 10 pagi dan baru pulang sekitar pukul 9 malam. Aku melakukan banyak pertemuan di situ. Karena aku tidak begitu paham Jakarta, maka semua janji yang kubuat hari itu kuminta untuk dilakukan di Citos. Parahnya, tempat pertemuanku itu semuanya bertemakan “kopi”. Wuih… sehari kemarin itu, perutku nyaris dipenuhi kafein. Dasar gak kreatif, hehehe… 😀

Kepada semua narablog yang sudah bertemu kemarin, termasuk yang sudah bertemu di acaranya DM, aku haturkan ribuan terima kasih. Sungguh, aku bahagia sekali… 🙂

citos01Bersama Yessy, Reva dan Om Nh
citos03Bersama Didot, Om Nh, Yessy dan Reva

citos05citos06citos07
Dasar Yessy, orang lagi serius diskusi, dia malah sibuk menyalurkan bakat narsisnya, hahaha… 😀

Tiga foto terakhir, dicomot dengan semena-mena dari facebook-nya Yessy

Advertisements

One thought on “self acceptance

  1. uhuyyyy…..akhirnya kita ketemu juga ya Uda 🙂
    Semoga hubungan silaturahmi ini terus berjalan dan tidak termakan waktu 🙂

    Mau ngikutin apa kata om NH…this is the beauty of blogging, indeed 😉 hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s