passion

Kamis, 14 Januari 2010 kemarin, beberapa jam jelang kepulanganku ke Jogja, aku sempatkan untuk bertemu sahabat lama. Dialah Ahmad Fuadi, sang pengarang novel Negeri 5 Menara. Pertemuan kami berlangsung di Plaza Senayan, Jakarta.

Sesungguhnya, kami tidak pernah bertemu muka sejak berpisah setelah menamatkan pendidikan kami di Pondok Modern Gontor belasan tahun silam. Jagad maya-lah yang mempertemukan kami kembali. Silaturrahmi yang lama terputus itu, akhirnya tersambung kembali dan semakin intens ketika Fuadi mengirimkan naskah novelnya ke emailku.

“Angku, tolong baca naskah ambo ini, dan berikan masukan ya, syukran”, begitu isi emailnya ketika itu. Aku cukup tersanjung menerima kepercayaan itu. Jadilah sejak saat itu korespondensi kami lancar dan berlangsung cukup lama. Dan akhirnya, pada Juli 2009 novel itupun resmi dilempar ke pasaran.

Setelah Idul Fitri kemarin, para alumni Gontor-Yogyakarta berencana akan mengadakan Halal bi halal. Akupun mengusulkan agar acara tersebut diisi dengan diskusi publik tentang novel Negeri 5 Menara dengan Ahmad Fuadi sendiri sebagai pembicara. Semua setuju dan kebetulan sekali Fuadi pun berkesampatan untuk hadir. Namun sayang, beberapa hari jelang acara itu, aku harus pulang ke Padang karena bencana gempa bumi yang melanda kampungku tersebut. Akibatnya, acara yang kugagas terpaksa tak kuhadiri, dan akupun tak berkesempatan bertemu muka dengan Fuadi.

Kemarin, begitu Fuadi mengetahui keberadaanku di Jakarta, dia pun langsung mengontakku dan memaksa untuk bertemu. Maka terjadilah pertemuan itu seperti yang kusebutkan di atas.

“Angku, ambo sudah membuat keputusan besar”, ujar Fuadi memulai pembicaraan.

“Keputusan apa, angku?” tanyaku penasaran.

“Sejak satu Januari kemarin ambo sudah resmi tidak bekerja kantoran lagi”, jawabnya.

“Trus, angku bekerja di mana sekarang?”, tanyaku lagi

“Ambo sudah bertekad bulat untuk sepenuhnya menjadi penulis”, jawabnya tegas.

“Wah, mantap lah itu. Bukankah begitu cita-cita angku sejak dari pondok dahulu lagi?”

“Iya angku, mohon doanya”.

“Pasti, ambo pasti doakan”.

Kujabat erat tangannya, tanda aku mendukung keputusannya yang tidak mudah itu. Jabatan yang disandangnya di kantor terdahulu sebetulnya tidaklah kecil. Gaji yang diperoleh sangat fantastis. Tapi, kebahagiaan yang sesungguhnya baginya ternyata bukan di situ. Ia telah sangat tahu bahwa yang tepat baginya adalah sebagai penulis.

Bagiku, ini menarik, karena sebuah ketekunan, hobby, dan kesenangan bisa dicampur jadi satu dengan kerja; sebuah sarana mencari uang. Inilah yang disebut sebagai PASSION. Passion adalah saat di mana ketika kita mengerjakan sesuatu, kita merasa sangat enjoy dengan pekerjaan tersebut, dan di situlah kita merasa bahwa diri kita ada.

Sayang sekali, banyak orang di dunia ini bekerja asal mendapatkan pekerjaan, atau asal mendapatkan uang. Maka sering terjadi ia bekerja tidak dengan ruh yang sesungguhnya, bekerja tidak didasari semangat dan kegembiraan hidup. Banyak terjadi kemudian, secara materi orang sukses, tetapi tidak berbahagia dengan apa yang ia kerjakan.

Hidup ini sementara, mungkin saatnya kita lebih merenung tentang apa yang kita kerjakan sekarang, sudahkah memberi kebahagiaan dan kepuasan hidup? Sudahkah sesuai dengan hati nurani dan kebenaran yang kita yakini. Di sini, passion akan memberikan tenaga ekstra besar, semangat pantang menyerah, yang memungkinkan seseorang bekerja secara maksimal dan menghasilkan produktifitas tinggi. Karena jika seseorang bekerja dengan passion yang ia miliki, ia tidak lagi memikirkan apakah mendapatkan uang lembur atau tidak, apakah harus pulang sesuai jam kerja atau tidak. Yang ia lakukan adalah bekerja lebih keras karena itu semakin memberikan kesenangan baginya.

Nah, saatnya mulai sekarang untuk mencari passion kita, agar apa yang kita kerjakan sehari-hari tidak lagi menjadi beban. Kerja harus menjadi sebuah kesenangan…… 😀

n5m-01
Ahmad “Alif” Fuadi, yang telah menemukan passion-nya sebagai penulis
kaosN5M-04Horeeee… dapat bingkisan kaos Negeri 5 Menara limited edition dari Ahmad “Alif” Fuadi

Advertisements

One thought on “passion

  1. Aihhhh…kaosnya bikin ngiri! 🙂

    Salut melihat persahabatan uda..betul-betul patut di contoh. Dan mengenai passion? wouw..saya percaya itu sebuah keputusan besar, tidak mudah, butuh tekat yang benar-benar bulat.

    Iya uda..bulat…tidak kotak..apalagi trapesium…

    *dipentung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s