three cups of tea

“…(di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua engkau teman; dan pada cangkir ketiga engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap berbuat apapun—bahkan untuk mati.” Haji Ali, Kepala Desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan

Itulah kutipan yang mengawali buku berjudul Three Cups of Tea. Buku ini adalah kisah perjuangan Greg Mortenson, seorang pendaki yang gagal menaklukan puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Padahal pendakian Mortenson tahun 1993 tersebut tidak sekedar pendakian melainkan sebuah penghormatan kepada Christa—adik perempuan Mortenson yang meninggal.

Bukan hanya gagal melaksanakan niatnya, Mortenson juga tersesat, mengalami keletihan kronis, bahkan kehilangan 15 kg bobot tubuhnya. Setelah berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama tujuh hari, Mortenson yang menuju Askole, malah tiba di Korphe, desa yang bahkan tak pernah dilihatnya di peta Karakoram. Di sanalah, di gubuk Haji Ali, Mortenson dijamu dengan ramah, dirawat dengan penuh perhatian, dan dilayani bak tamu istimewa.

Di lingkungan nan miskin inilah jalan hidup Mortenson, juga jalan hidup anak-anak di Pakistan Utara, berubah. Ketika memikirkan cara membalas budi baik mereka, jantung Mortenson serasa tercerabut dan napasnya tercekat saat melihat bagaimana anak-anak di sana bersekolah: mereka duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara nan dingin, dengan tertib mengerjakan tugas. Mortenson meletakkan tangannya di pundak Haji Ali dan berkata, “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian. Aku berjanji.”

Buku ini mengisahkan mengenai pemenuhan janji tersebut. Selama satu dekade berikutnya, Mortenson telah berhasil membangun tak kurang dari limapuluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di daerah tempat lahirnya Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.

sonisatiawanAku terbelalak begitu mendengar penuturan tentang buku ini dari Soni Satiawan, seorang narablog berdarah Minang, alumni ITB, mantan mahasiswa Pak Hendra Grandis yang sekarang bekerja di Philiphina. Pada hari Sabtu, 16 Januari 2010 yang lalu, Soni mengunjungiku dan keluarga di Kweni. Ia sengaja datang dari Bandung ke Jogja sebelum menghabiskan masa cutinya demi menemui kami sekeluarga. Aku sungguh merasa terhormat dengan niatnya itu. Dalam salah satu obrolan kami, Soni menceritakan kekagumannya akan buku tersebut.

Akupun penasaran, dan segera mencari buku itu keesokan harinya. Setelah membaca halaman demi halaman, mengikuti kisahnya satu persatu, aku menjadi tahu mengapa Soni mengagumi buku itu. Ya, buku itu memuat banyak kisah tragis sekaligus menginspirasi. Betapa semangat kemanusiaan telah mampu mendobrak dinding perbedaan; agama, suku, ras, bangsa, bahasa, dll. Keramahan warga Korphe telah meluluhkan hati seorang warga Amerika bernama Greg Mortenson untuk kemudian berjuang membangunkan bagi mereka puluhan sekolah.

Seperti yang dikatakan Prof. Dr. Amin Abdullah, pendidikan adalah pintu masuk untuk menyelesaikan segala persoalan yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan, tidak mengenal batas. Pendidikan berbicara mengenai pencerdasan. Pendidikan berurusan dengan kemanusiaan. Mortenson dan wara desa Korphe, telah membuktikan hal ini.

Buku yang ditulis kembali oleh David Oliver Relin ini sangat pantas untuk dibaca, terutama bagi yang menyangsikan kekuatan sebuah persaudaraan. Filosofi tiga cangkir teh itu juga sangat inspiratif. Hal tersebut sesungguhnya, juga berlaku di mana saja. Setiap kali kita memasuki sebuah komunitas, mereka akan “menyuguhkan” tiga cangkir teh secara berurutan; tamu, teman dan saudara. Bila kita berhasil menanamkan kepercayaan kepada mereka bahwa kita adalah orang baik, maka jangankan cangkir pertemanan yang mereka tawarkan, bahkan cangkir persaudaraanpun akan segera mereka suguhkan.

So, mari minum teh persaudaraan dari cangkirku yang ini😀

three cups of tea01

.

.

Sumber bacaan: Kompasiana, shvoong, khatulistiwa

.

.

Ini adalah mirror-post dengan judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

4 thoughts on “three cups of tea

  1. aku akan minum bergelas-gelas cangkir persahabatan dari mu, Uda….bergelas-gelas….asal jangan terakhirnya di tagih bayar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s