fatih dan balok

Sore ini aku tinggal berdua dengan si bungsu Fatih di rumah. Ketiga kakaknya pergi ke tempat kursus masing-masing, sementara istriku ikut mengantar. Awalnya kami hanya duduk-duduk santai sambil nonton tv. Tapi, lama kelamaan bosan pun mulai mendekati. Kehebohan yang biasanya terjadi di rumah kami, rupanya tak bisa dibiarkan lama-lama menghilang. Fatih terlihat sekali rasa bosannya dengan suasana yang hening itu. Padahal, dengan formasi lengkap di rumah, dia akan selalu jadi sumber keisengan kakak-kakaknya.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang yahud: (Untuk diketahui, bungsuku ini lidahnya sangat Jawa, tak terlihat sama sekali kalau dia berdarah Minang, hehehe…)

“Pa, mobil-mobilan itu dibikin dari apaan?”
“Ada yang dari kaleng, ada yang dari plastik, ada juga yang dari kayu”
“Kalau dari batu bisa ndak?”
“Bisa saja…”
“Kalau dari kayu, bisa dibikin apa aja?”
“Macem-macem… bisa mobil-mobilan, bisa boneka, bisa balok…”
“Kayak balok yang Papa jual itu?”
“Iya, betul sekali…”
“Mbok Fatih dikasih baloknya, Pa…”

Tuing…! aku tersentak. Oh, aku baru tersadar, ternyata selama ini anakku belum pernah kuberikan balok-balok mainan yang aku jual di toko onlineku. Selama ini rupanya mereka hanya menyaksikan saja mainan-mainan itu keluar masuk rumahku. Pagi diantar pengrajin, sorenya sudah kukirim ke pemesan. Bahkan, dengan semena-mena aku minta mereka berfoto dengan mainan itu sebagai model. Duh… jahat betul diriku ini. 😀

Akupun segera mengeluarkan satu set balok mainan yang kebetulan masih ada stoknya. Kubiarkan Fatih memainkan sepuasnya. Kukatakan padanya kalau itu miliknya, bukan untuk dijual.

Sejenak aku teringat dengan kejadian yang hampir sama pada keluargaku di Duri sekitar 20 tahun yang lalu. Ketika itu, kedua orangtuaku punya usaha sampingan, yakni menjual karpet dan guci keramik import dari Singapura. Barang-barang tersebut diambil langsung oleh salah seorang pamanku di pelabuhan Dumai. Setelah dibersihkan, barang-barang itu dijual kembali di warung kecil yang terdapat di depan rumah kami.

Saat itu, karpet dan guci keramik di kota Duri masih terhitung barang mewah. Namun, karena harganya cukup terjangkau, membuat barang-barang tersebut dengan cepat laku terjual. Bahkan, ketika truk yang membawanya dari Dumai parkir di rumah kami, sudah banyak calon pembeli yang menunggu. Asyik betul melihat semua itu.

Pembeli semakin banyak ketika mendekati lebaran. Kesibukan sudah sangat terlihat dari awal bulan puasa. Mendekati lebaran, semua stok sudah habis terjual. Nah… dua hari jelang lebaran, barulah Mamaku tersadar, ternyata karpet dan guci yang bagus-bagus itu tidak satupun tersisa untuk kami pakai. Huahaha… kami benar-benar menertawakan kealpaan itu. Papaku bahkan bilang: “Rumah orang jadi cantik, kok rumah kita tidak ya? Padahal, barang-barangnya dari tempat kita“.

Peristiwa yang kualami itu sebetulnya jika ditarik ke ranah yang lebih luas, sering juga kita dapati. Sebagai contoh, seorang guru yang telah mendidik ribuan orang, ternyata lupa kesulitan mendidik anaknya sendiri. Atau seorang dokter yang telah menyembuhkan jutaan pasien ternyata lupa menyehatkan dirinya sendiri. Bahkan, seorang penegak hukum, lupa memberi kesadaran hukum kepada anggota keluarganya sendiri.

Hmmm… obrolan dengan si bungsu itu telah menyentakkanku… Selalu saja ada cara Tuhan untuk mengingatkan kita bukan?

.

.

Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

Advertisements

2 thoughts on “fatih dan balok

  1. “Mbok Fatih di kasih baloknya pa” (sambil membayangin fatih) hahahahaha lucu da.

    Fatih lidahnya jawa banget.

    Membaca postingan uda yang ini saya baru tau kalo uda itu seorang pengusaha.. heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s