ada buya dan tape di kweni

Hari Sabtu, 13 Maret 2010 kemarin, Kweni mendapat kehormatan. Sahabat narablogku datang dari jauh; Jakarta dan Pare-pare. Mereka adalah pasangan Krismariana-Oni (Jakarta) dan Nana Harmanto (Pare-pare). Mereka benar-benar menyengajakan diri untuk datang ke Kweni dalam rangka mengisi liburan yang mereka buat sendiri (hehehe…).

Mereka datang tepat pada pukul 10.00 wib, sesuai dengan janji sebelumnya di sms. Aku yang sedang mengerjakan sesuatu, tentu saja tergopoh-gopoh membersihkan diri ketika mereka muncul dengan tiba-tiba di depan rumah. Apalagi di rumah hanya aku sendiri dan ibu mertua. Para fantastic four dan istriku sedang beraktifitas di sekolah mereka masing-masing. Jadilah suasana rumah nyaris sepi, tanpa keributan dan kehebohan yang biasanya.

Aku senang sekali melihat ketiga sahabatku itu. Meski kami baru bertemu di akhir tahun 2009 yang lalu, namun kerinduan untuk bertemu kembali tetap bergelora. Apalagi kali ini mereka berkenan mengunjungi kediamanku yang jauh dari kata nyaman dan bagus. Dan yang lebih menyenangkan adalah mereka menghadiahiku sesuatu yang sangat aku sukai.

si anak kampoengKris-Oni memberiku sebuah buku berjudul “Si Anak Kampoeng”, sebuah novel karya Damien Dematra berdasarkan kisah perjalanan hidup Buya Syafii Maarif. Buku terbitan Gramedia ini baru saja terbit di bulan Februari 2010 ini. Jadi, masih fresh from the oven. Nah, yang menariknya adalah, ternyata ibu mertuaku punya cerita pribadi dengan Buya di jaman muda mereka dulu. Ketika kuperlihatkan buku itu kepada beliau, ibu tertawa terpingkal-pingkal. Sambil memegang buku tersebut, Ibu bercerita tentang apa yang pernah mereka alami dulu. Apa dan bagaimana ceritanya? Biarkanlah itu menjadi milikku, hahaha… Yang pasti, sampai saat ini aku belum bisa membaca buku itu, karena Ibu meminta untuk membacanya duluan. Ya… sebagai menantu yang baik, tentulah aku mengijinkannya, hehehe… 😀

Nana membawakan oleh-oleh makanan khas Muntilan, yakni tape ketan ijo. Ini adalah makanan khas yang ketika pertama kali kucoba tape ijosaat awal kedatanganku ke Jogja beberapa tahun silam membuatku langsung jatuh hati. Tape ketan ini paling maknyus jika dimakan dengan ditemani kerupuk emping. Cara makannya adalah emping dijadikan sendok untuk mengambil tape tersebut, kemudian sendok emping beserta tape yang ada di dalamnya langsung dimakan secara bersamaan. Wuih… benar-benar top markotop deh… hehehe… 😀

Selang beberapa saat, Fatih pulang dari sekolahnya yang terletak tidak jauh dari rumah. Tak berapa lama kemudian Ajib pun pulang bersama istriku. Dan menjelang Zuhur, Afif bersama Satira muncul di depan rumah. Jadilah sekarang anggota keluargaku lengkap dan bertemu dengan ketiga tamu agungku itu.

Kami terlibat dalam obrolan yang sangat mengasyikkan, mulai dari candaan jayus sampai diskusi yang serius. Sungguh, sebuah kebahagiaan bagiku menerima mereka di rumahku. Obrolan asyik itu benar-benar telah menghanyutkan kami, sehingga kami pun tak menyadari kalau sore telah menjelang. Akhirnya ketiga tamuku itupun pamit.

Terima kasih Oni, Kris dan Nana. Kami sekeluarga benar-benar senang dengan kunjungan kemarin itu. Semoga suatu saat kami dapat membalasnya dengan berkunjung ke Jakarta dan Pare-pare, hehehe… 😀

nana-kris di kweni
Lho… Afif kok gak keliatan? Ouw… dia fotografernya ternyata, hehehe… 😀

.

.

Ini adalah mirror-post dari judul yang sama pada blog: www.hardivizon.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s